3600 detik bersama Ayah

3600 detik bersama Ayah
BAB 11


__ADS_3

"Tifani, lo tuh bisa nggak sih gak usah buat rusuh. Hah? Loh tu cuman numpang disini. Nggak usah sok sok an kayak orang yang punya rumah disini." teriak Tania pada Tifani yang sedang makan.


"Maksud lo apa sih Tan? Sehari aja lo nggak usah ngusik gue bisa nggak sih? Capek gue berantem ama lu terus." jawaban Tifani yang membuat Tania semakin kesal.


"Eh yang ada itu lo yang ngusik idup gue. Lo tau nggak sih, nyadar nggak sih, karna ada lo uang jajan gue ke bagi, Kak Eral juga nggak deket lagi sama gue. Semua nya tu gara gara lo. Dasar anak pungut." ketus Tania yang kemudian membuat Tifani sangat marah. Dia memang sangat posesif dengan kata "anak pungut" karena dia tau jika dia bukan anak pungut, dia anak dari ayahnya dan ibunya yang sudah meninggal. Hanya saja berbeda ibu dengan Tania dan Kak Eral.


Brakkk....Tifani menggebrak meja makan yang terbuat dari kayu yang sangat mahal dan terdapat sebuah pahatan istimewa yang dipesan oleh ayahnya. Sebenarnya desain meja tersebut adalah permintaan dari ibu Tifani sendiri. "Jaga mulut lo ya. Dari tadi gue udah sabar dengerin omongan nggak penting lo. Apalagi pagi pagi gini. Gue nggak pernah minta Ayah buat ngebagi uang lo sama gue, dan lagi gue deket sama Kak Eral dari dulu. Lo nya aja yang nggak pernah mau deket sama Kak Eral makanya dia jauh dari lo. Selama ini lo kemana aja? Kenapa baru sekarang? Gue dirumah ini udah dari kecil. Dari lahir gue udah ada dirumah ini. Ibu gue juga istrinya Ayah, dan gue bukan anak pungut. Gue anak kandung ibu gue." kata Tifani yang suaranya mulai terdengar berat.


"Gimana lo tau kalau lo itu anak Ayah. Bisa aja kan ibu lo hamil sama orang lain tapi dia ngancem Ayah dan nyuruh Ayah buat nikahin ibu lo. Liat aja kelakuan lo, kayak brandalan gini. Buah jatuh itu nggak jauh dari pohonnya. Ngerti?" omongan Tania mulai sinis dan membuat Tifani semakin marah.


Dia paling anti jika ada seseorang yang berani menyebut ibunya orang yang tidak baik, meskipun dia tidak pernah tau bagaimana ibunya. Karena ketika Tifani lahir ada sebuah kejadian dimana dokter hanya bisa menyelamatkan 1 nyawa saja, Tifani atau ibu nya. Dan ibunya memohon pada Ayah Tifani agar bayi yang dikandungnya diselamatkan.


"Cukup ya Tan. Gue dari tadi udah coba sabar sama semua kata kata lo dan sekarang udah nggak bisa lagi. Gue udah pernah bilang jangan pernah sebut sebut ibu gue lagi. Dia orang baik. Kalau dandanan gue kayak berandal emang kenapa? Apa orang yang dandanannya kayak bidadari bisa jamin dia orang yang hebat dan alim? Ha? Sekarang gue tanya ama lo, lo sendiri yakin cewek baik baik? Yakin lo masih bisa jaga harga diri lo. Ha ?"


Plakkkk....Sebuah tamparan mendarat di pipi Tifani. Tamparan dari sebuah tangan yang tak pernah Tifani sangka akan melakukannya. Pak Tommy, ayah Tifani dan Tania. Tifani memegangi pipinya dan tersenyum sembari menahan tangisnya yang mulai pecah. Dia tak pernah menyangka orang yang mendiamkannya selama ini ternyata telah sangat melukainya.

__ADS_1


Tifani tersenyum sinis dan melirik pada Tania. Kini Tania berpura pura menangis dan memeluk ayahnya.


"Bagus jika Anda datang. Tolong katakan pada anak Anda agar bisa menjaga cara bicaranya kepada orang lain. Setidaknya dia sudah pernah diajari oleh orang tuanya." ucap Tifani pada Ayahnya namun dengan menggunakan nada yang rendah. Dia masih sadar jika Pak Tommy tetaplah ayahnya.


"Tifani!! Jaga bicaramu. Seperti caramu bicara dengan ayahmu? Ayah sangat menyesal dulu harus membiarkan kamu lahir. Jadi seperti balasan untuk Ayah? Ha ?" bentak Pak Tommy pada Tifani.


"Ya. Anda ayah saya 4 hari lalu, ketika Anda menanyakan mengenai kuliah saya. Namun sekarang saya semakin tidak percaya jika Anda benar benar ayah saya. Dan lagi, Anda menyesal karena saya lahir, tapi saya yakin ibu saya tidak pernah menyesal melahirkan saya. saya tidak pernah meminta Anda berbaik hati dengan saya jadi saya tidak akan membalas apapun. Jadi jangan pernah berharap saya bisa bersikap baik pada Anda jika Anda sendiri hanya bisa melakukan hal yang membuat saya semakin membenci Anda." Tifani berlalu dan segera membuka hp untuk mengabari teman temannya di base camp. Setidaknya masih ada tempat dimana dia bisa menenangkan diri setelah bertengkar dengan Ayahnya dan Tania. 'Kumpul semua di base camp kan? Gue mau beliin kalian makanan, jadi jangan ada yang pergi keluyuran dulu.' Isi pesan chat di grup WhatsApp Tifani dan teman temannya. Dia langsung ke cafe dan membeli beberapa bungkus makanan yang beranekaragam bentuk dan rasanya. Sampai dia sendiri bingung bagaimana membawanya. Dia lupa jika dia pergi dengan motor dan bukannya mobil. Setelah membayar dia menaruh makanannya disalah satu meja dan memikirkan bagaimana akan membawanya ke base camp.


"Aduhh ****** banget gue ya. Tau gini tadi gue bawa mobil aja kan. Lhah gara gara pikiran kemana mana nih. Aelahh gimana ya, masak hubungin anak anak. Nggak jadi surprise dong. Emm..ya udah lah nggak papa, Kepaksa juga kan. Hmm..." belum sempat dia menulis pesan tiba tiba ada suara yang memanggil namanya. Sontak Tifani kaget dan segera mencari asal suara itu. Vano. Ya akhir akhir ini mereka sering bertemu, mungkin jodoh kali ya..


"Eh iya, kamu ingat nama ku ternyata, aku kira lupa lagi." jawab Vano salting.


"Hehe, nggak kok. Sekarang udah inget. Maaf yang untuk yang kemarin. Salah sebut nama." ujar Tifani canggung.


"Iya nggak papa. Oh ya kenapa kamu? Kok kayak nya bingung banget. Ada masalah apa?" tanya Vano mencoba membuka topik pembicaraan.

__ADS_1


"Emm ini aku tadi kan mau ke base camp beliin temen temen ku makanan, nah makanannya kebanyakan dan sekarang aku nggak bisa bawa soalnya tadi perginya naik motor." suara Tifani tiba tiba semakin lirik dan rada malu.


"Oh gitu. Ya udah aku bantuin bawain ya. Mumpung aku pakai mobil, nanti kamu bawa motor tunjukkin jalannya aja. Biar makanannya aku bawain." ucap Vano menawarkan bantuannya.


"Eh nggak usah. Aku ngabarin temen aku aja buat jemput aku, biar dibawa sama mereka kalau udah sampai." Tifani mulai merasa canggung lagi.


"Udah nggak papa. Nggak usah ngerepotin temen kamu. Sekalian aku juga mau kenalan sama teman teman kamu. Boleh kan? Boleh ya?" kini suara Vano mulai memaksa tetapi tetap lembut.


"Emm gimana ya.." Tifani berpikir sejenak. Ada benarnya, kasian temen temennya juga nanti bolak balik dan pasti mereka masih sibuk beres beres atau nggak tidur. "Ya udah deh. Boleh. Thanks ya mau bantuin." ujar Tifani senang bercampur malu.


"Iya santai aja." jawaban Vano pun memperlihatkan jika dia sangat senang.


'Hai kak. Maaf udah lama banget nggak up. Malam ini udah mulai up lagi. Pliss kasih like dan juga komennya ya. Karena itu sangat saya butuhkan. Happy reading kak.'


Salam authoršŸ

__ADS_1


__ADS_2