3600 detik bersama Ayah

3600 detik bersama Ayah
BAB 19


__ADS_3

'Makan Malam'


"Bi, kalau bibi aku carikan teman mau?" tanya Kak Eral tiba tiba pada Bi Icu yang sedang membersihkan dapur.


"Maksud Aden apa to? Teman apa lho den?" Bi Icu balik bertanya karena merasa bingung.


"Iya ih, kakak ada apa sih. Yang jelas kek kalo ngomong." sahut Tania mulai penasaran juga.


"Emmm, Eral mau nambahin pembantu lagi. Bi Icu nggak keberatan kan?" lanjutnya bertanya pada Bi Icu. Aneh memang, Kak Eral yang menjadi majika tapi dia malah meminta izin pembantunya untuk mencari tambahan pembantu.


"Lho lho, itu ya terserah Aden to. Wong bibi disini juga kerja kok. Kalau ada temennya ya malah syukur. Kalau ndak ya ndak papa." jawab Bi Icu santuy.


"Gitu ya bi..."Kak Eral menjawab tapi dengan nada yang bergumam.


"Emangnya siapa yang mau kakak jadiin pembantu? Masih muda apa udah tua? Cari yang masih muda aja, biar tenaganya lebih kuat. Kasian Bi Icu kan kerja sendirian." ucap Tania tiba tiba yang membuat Kak Eral, Tifani bahkan Bi Icu heran. "Apa? Apa Tania salah bicara?" lanjut Tania karena merasa tak nyaman dengan tatapan heran mereka.


"Ehemm. Nggak. Nggak ada yang salah. Udah lanjutin aja makannya." deheman dan jawaban Kak Eral membuatnya semuanya kembali normal setelah sebentar menjadi hening.


Mereka melanjutkan makan malam. Makan malam hari itu sangat tenang. Entah apa yang merasuki Tania, tapi dia sangat tenang dan diam. Mungkin sedang banyak pikiran. Setelah selesai makan, Bi Icu segera membersihkan meja makan. Malam ini Tifani ingi pergi ke base camp, jadi dia segera solat isya' dan bersiap siap. Tak pernah lupa dia berpamitan dengan orang orang rumah.


"Bi Icu, Fani pergi dulu ya, mau ke base camp." pamit Tifani lada Bi Icu yang baru selesai wudhu.


"Iya Non. Udah solat belum?" teriak Bi Icu pada Tifani yang sudah berlalu menjauh.


"Udah.." Tifani menjawab dengan berteriak juga agar Bi Icu mendengar nya.


"Haduuh haduhh. Anak cewek kok grusa grusu nan. Bok sing kalem to Non." gumam Bi Icu ketika berjalan ke kamarnya.


Tifani berjalan ke depan dan tidak sengaja melihat pintu kamar Tania sedikit terbuka. Dia buka tipe orang yang kepo, tapi entah mengapa dia ingin sekali tau apa yang terjadi pada Tania. Tifani melihat Tania terisak sambil memegangi secarik kertas. Tifani bingung apa yang sebenarnya terjadi pada Tania. Dia juga tidak menyangka, orang sekasar Tania ternyata bisa menangis dan terlihat sangat terpuruk. Setelah banyak pertanyaan muncul dalam pikirannya namun tidak dapat jawaban satupun, akhirnya Tifani pergi meninggalkan kamar Tania.


"Mau ke base camp dek?" tanya Kak Eral tanpa memalingkan wajah dari laptopnya.


"Ha'a. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." pamit Tania pada sang kakak.


"Jangan nginep ya. Pulang aja!" perintah Kak Eral pada adik nya itu.

__ADS_1


"Iya iya Kak. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." ucap nya lagi mengulangi salam.


"Heem wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarakatuh."


Tifani segera ke garasi dan mengeluarkan motornya. Tapi Tifani merasa ada yang aneh dengan motornya. Tidak seperti biasanya, dia rasa motornya itu semakin berat.


"Lhoh kok gini sih. Kayak nya ada yang nggak beres ama ni motor." gumamnya sendirian di garasi. Ia memaju mundurkan motornya untuk mengecek apa benar ada yang salah dengan motornya. Dan memang benar. Akhirnya dia melihat motornya dari segala sisi dan pandangannya terhenti pada ban motornya.


"Aishh pantes. Bannya kempes." Tifani segera mencari pompa disekitarnya dan akhirnya menemukan pompa itu. Namun setelah dipompa terdengar suara berdesis seperti ular. Ternyata bukan kempes, melainkan bocor. Dia gemas dan menendang nendang ban motornya. Dengan segera dia mengeluarkan hp nya dan mengirim pesan pada Mira.


'Gue nggak bisa ke base camp Mir. Ban motor gue bocor. Huaa🥺😭. Paling besok gue baru bawa ke bengkel soalnya udah jam 8, pasti bengkel pada tutup.' isi pesannya kepada Mira.


'Yahh.. Gue sendirian dong.' respon Mira.


'Sorry Mir. Besok deh gue kesana. Buat bantu kalian siap siap. Kan tadi gue nggak kesana.' jawab Tifani kemudian.


'Oke deh Fan.'


Mereka mengakhiri chatting itu dan Tifani kembali masuk ke dalam rumah menghampiri Kak Eral.


"Lhoh nggak jadi pergi neng?" tanya Kak Eral pada Tifani setelag melihat Tifani masuk lagi ke dalam rumah dengan wajah cemberut.


"Hahaha kasian adik Kakak." ejek Kak Eral pada Tifani.


Tifani kemudian menyalakan tv dan menemani Kak Eral melanjutkan pekerjaannya. Dia masih teringat dengan Tania. Apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan Kakak nya itu. Pikirannya campur aduk memikirkan hal yang tidak tidak.


'Apa dia hamil? Ahh nggak mungkin lah. Dia kan diawasi terus sama Ayah sama Kak Eral. Tapi tadi kertas apaan? Jangan jangan catatan tes kehamilannya. Jangan jangan bener lagi.' Pikiran nya berkecamuk hingga tanpa sadar dia mengeluarkan sedikit suara.


"Ah nggak mungkin lah." spontan mulutnya terbuka dan membuat Kak Eral bertanya.


"Apa yang nggak mungkin?" tanya Kak Eral yang membuyar kan lamunan Tifani.


"Ah e-enggak Kak. Lanjutin kerja aja Kak." jawab Tifani dengan gugup.


"Balikin dulu pena kakak. Biar kakak bisa kerja." kata Kak Eral sambil menunjuk pena yang sedang Tifani gunakan untuk menggaruk kepala, hidung hingga lehernya ketika melamun tadi. Dia sadar dan segera memberikan pena itu pada kakaknya.

__ADS_1


"Ehehe maaf Kak. Fani nggak sadar. Ini.." jawab Tifani sambil memberikan pena pada Kak Eral.


"Fani ke kamar dulu ya Kak." lanjutnya.


"Iya. Jangan kebanyakan melamun. Selamat malam adik kakak." ucapnya pada Tifani. Tifani kemudian mencium pipi dan kening Kak Eral.


"Selamat malam Kakak." Tifani berjalan meninggalkan Kak Eral diruang santai.


'Di Kamar Tania'


Tania masih menangis dengan menggenggam secarik kertas dari kampusnya. Ternyata surat tersebut adalah surat bukti pembayaran administrasi yang dia lupa tidak membayarnya.


"Aduhh... Gimana ini yah. Kalau Kak Eral sama Ayah tau, bisa bisa gue diusir dari rumah. Kenapa gue bisa ceroboh banget sih. Biasanya juga nggak kek gini deh." gumamnya sendirian dan berkali kali memukul kepalanya sendiri. Tania adalah orang yang suka shopping dan berfoya foya. Sebenarnya dia mendapatkan jatah tambahan karena dia merengek pada Pak Tommy. Jatah untuk bayar kuliah dan jatah jajannya yang terbilang sangat banyak. Semuanya sendiri sendiri. Tapi entah mengapa dia bisa menggunakan uang kuliahnya untuk berbelanja dan mentraktir teman temannya.


Tania memang memegang kartu ATM nya sendiri tapi notifikasi penarikan selalu akan masuk ke hp Kak Eral. Pak Tommy sengaja melakukan itu karena tidak ingin anaknya seenaknya sendiri menggunakan uang. Termasuk Tifani, tapi bedanya dia lebih memilih untuk tidak menggunakan jatah uang jajannya untuk berbelanja melainkan membantu teman temannya dan bersedekah.


Kemarin lusa Kak Eral menerima pesan penarikan uang dari ATM Tania. Meskipun hanya diambil sebagian, tapi Kak Eral tidak merasa curiga dan mengabaikannya. Dia pikir mungkin Tania hanya membutuhkan separuh untuk membayar uang kuliahnya karena mungkin sudah dibayarkan oleh Ayah.


"Ihh nggak mungkin kan gue minjem uang ke temen temen sedangkan tadi gue belanjain mereka. Ishh kenapa jadi gini sih. Gimana ini.. Huhuhu.." Tania menangis di kamarnya dengan suara lirih agar semua orang tidak mendengar hingga akhirnya dia tertidur.


.


.


.


.


.


Hallo ha readers ♥️ Selamat membaca, jangan pernah bosan ya. Kasih saran atau kritik biar author makin semangat nulisnya. Selamat membaca🍀


.


.

__ADS_1


.


Salam author✨


__ADS_2