
'Di Rumah Sakit'
Pak Tommy masih sedikit lemas karena penyakitnya yang kambuh hingga menyebabkan dia pingsan kemarin. Biasanya dia hanya merasakan sakit kemudian meminum obat dan rasa sakitnya akan berkurang. Tapi hari itu dia merasakan sakit yang sangat hingga menyebabkan dia tak sadarkan diri. Hari ini Kak Eral menemani sang Ayah, Pak Tommy, dirumah sakit.
"Eral, ayah sudah sembuh. Sekarang lebih baik kita pulang ke rumah saja." pinta Pak Tommy pada anak lelakinya itu.
"Enggak, Yah. Eral nggak bakal bawa pulang ayah setelah Dr. Keno kasih izin Ayah untuk pulang." bantah Kak Eral berani pada sang Ayah.
"Kamu sekarang berani bantah Ayah ya. Ayah bakal mengundurkan kamu dari posisi CEO di perusahaan jika kamu membantah Ayah hari ini." ancam Pak Tommy pada Kak Eral. Namun bukannya takut, Kak Eral tetap kekeh pada pendiriannya. Kak Eral memang tipe lelaki idaman. Disamping seorang yang sukses, Kak Eral juga bukan orang yang gila harta. Bahkan untuk menjadikan Kak Eral CEO diperusahaan ayahnya sendiri, Pak Tommy harus melakukan berbagai cara dan bermacam macam rayuan agar Kak Eral mau menyetujui permintaannya.
"Itu terserah Ayah. Yang terpenting sekarang adalah Ayah harus sembuh dulu supaya adik adik juga nggak curiga kalau ayah sakit. Nanti setelah Ayah sembuh, Ayah silakan mau nendang Eral kemana aja." bantahnya lagi semakin tegas. Mendengar anak sulungnya berkata seperti itu, Pak Tommy tanpa sadar meneteskan air matanya dan seketika membuat Kak Eral merasa bersalah. Saat itu juga Kak Eral berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri sang Ayah.
"Yah..maafin Eral yah. Eral nggak bermaksud buat ayah sedih. Eral cuma mau Ayah cepet sembuh. Cuma Ayah orang tua Eral. Maafin Eral yah." Kak Eral memeluk Pak Tommy dengan erat dan mata yang telah basah. Pak Tommy membalas pelukan anak sulungnya dengan air matanya yang telah mengalir dari pelupuk mata sejak tadi.
"Tidak Eral. Ayah tidak apa apa. Kamu tidak salah. Ayah bangga bisa mempunyai anak yang luar biasa seperti ini. Entah rasa syukur yang bagaimana lagi yang harus Ayah lontarkan pada Yang Maha Kuasa karena telah menghadirkan seorang anak yang hebat ini. Jangan pernah menangis nak. Jangan pernah pergi meninggalkan Ayah." jelas Pak Tommy tak ingin membuat anaknya salah paham.
"Ayah...ayah... terimakasih. Maafin Eral, Yah." balas Kak Eral yang sudah tidak bisa berkata kata lagi dan menangis dipelukan sang Ayah. Tanpa mereka sadari, sudah ada sepasang mata yang ikut berkaca kaca melihat kasih sayangnya seorang Ayah kepada anaknya ini. Yang kemudian Pak Tommy menyadari Keno sudah berdiri disana.
"Keno, sejak kapan kamu ada disana? Kemarilah!" panggil Pak Tommy santai sembari melepaskan pelukannya pada Kak Eral dan mengusap air matanya. Keno kemudian menghampiri sepasang anak dan ayah itu.
"Maaf, Pak. Tadi saya tidak sengaja melihat kalian. Jadi sepertinya akan sangat tidak sopan jika saya mengganggu." jelas Keno pada Pak Tommy.
"Ah tidak apa. Hanya sedikit curahan hati saja. Oh ya ini anak saya, Eral. Veraldi Candra Denatta." ucap Pak Tommy sembari memperkenalkan Kak Eral pada dr. Keno.
"Oh.. Saya kemarin sempat berbincang. Pak Veraldi salam kenal. Saya Keno, dokter pribadi Pak Tommy yang kemarin berbicara dengan Anda." jelas Dr. Keno memperkenalkan diri dan menjabat tangan Kak Eral.
"Iya iya. Saya ingat. Saya Veraldi, Panggil saja Eral, toh sepertinya kita seumuran. Tidak perlu terlalu formal pada saya. Berbicara santailah dan buat dirimu nyaman." ucap kak Eral sembari menerima jabatan tangan Dr. Keno. " Oh ya, bisa saya minta tolong untuk jaga Ayah saya sebentar, Dr. Keno. Saya ingin menjenguk pasien lain." pinta Kak Eral pada Dr. Keno dengan sopannya.
"Tentu saja. Panggil saja saya Keno, Eral Mungkin dengan begitu kita bisa lebih akrab." ujar Dr. Keno dengan senyum ramah. Kak Eral mengangguk paham.
"Siapa yang sakit, Eral? Temanmu? Atau siapa? Adik adik mu baik baik saja bukan?" tanya Pak Tommy sangat panik.
"Tidak Ayah. Adik adik baik baik saja. Ini orang lain. Kemarin Eral tidak sengaja hampir menabrak seorang gadis desa. Eral rasa dia baru ke kota dan sepertinya kebingungan. Tidak sepenuhnya salah Eral, dia menyebrang sembarang sambil melamun, ketika Eral ingin menolong tiba tiba dia pingsan. Jadi Eral bawa dia ke rumah sakit." jelas Kak Eral panjang lebar pada sang Ayah.
__ADS_1
"Lalu bagaimana keadaai, Eral? Apa ada cidera yang serius? Perlukah aku kesana bersamamu?" ujar Dr. Keno menawarkan diri.
"Iya, Eral. Bagaimana keadaan gadis itu sekarang?" Pak Tommy makin panik.
"Ah, tidak perlu, Keno. Dia hanya shock saja dan sudah ada dokter yang menangani. Kamu disini saja dengan Ayah ku. Dan Ayah, tidak perlu cemas. Eral akan segera menyelesaikan masalah ini. Jangan khawatirkan apapun. Segeralah sembuh Ayah." sambungannya pada Dr. Keno dan Pak Tommy. Mendengar penjelasan Eral, Pak Tommy merasa tenang dan percaya bahwa anaknya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Setelah berpamitan, Kak Eral menuju kamar sang gadis desa itu. Kak Eral menempatkan gadis itu di kamar VIP yang sepadan dengan kamar Ayahnya.
'Skip Perjalanan ke Kamar Garis Desa'
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu terdengar dari luar dan membubarkan lamunan gadis itu.
"Silahkan masuk." terdengar suara lembut gadis desa yang khas daerahnya itu. Dia tersenyum setelah wajah tampan Kak Eral muncul dihadapannya. Kak Eral kemudian menghampiri gadis desa itu.
"Oh..mas yang bawa saya kesini to..?" logat jawa yang khas daerahnya itu membuat Kak Eral kagum.
"Iya. Saya minta maaf sebelumnya karena tidak sengaja hampir menabrak kamu." permintaan maaf yang terdengar sangat tulus itu membuat gadis itu tersipu.
"Ndak apa apa mas. Itu juga salah saya. Wong saya nyebrang sembarangan sambil ngelamun, jadi ndak sadar pas masnya lewat." jawab sang gadis sopan. Kak Eral sebenarnya lega karena gadis desa itu juga mengaku salah.
"Saya Marwa, mas." jawabnya dengan senyum yang memperlihatkan gigi gingsulnya.
Setelah berbincang lumayan lama, akhirnya Kak Eral tau alasan Marwa bisa s sampai di Kota. Kak Eral turut sedih mendengar cerita Marwa. Tanpa disadari waktu terus berputar dan sesegera mungkin Kak Eral pamit kepada Marwa dan tidak lupa meminta nomor telepon Marwa agar bisa dihubungi ketika ada masalah. Setelah itu dia berpamitan dengan Pak Tommy juga.
'Skip Perjalanan Pulang'
Di Rumah Keluarga Denatta
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." suara lembut Kak Eral dari luar yang mengucapkan salam terdengar ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarakatuh." suara teriakan Tifani yang berlari menghampiri Kak Eral dan menyambar tas kerjanya.
"Kakak dari rumah sakit kan?" pertanyaan Tifani membuat Kak Eral kaget dan berhenti sejenak.
__ADS_1
"D-darimana kamu tau kakak dari rumah sakit?" tanyanya panik.
"Emm dari Bi Icu. Katanya kakak jenguk gadis yang nggak sengaja kakak tabrak. Dia mana kak? Cantik nggak? Kakak suka sama dia nggak?" Mendengar pertanyaan adiknya tentang gadis itu membuatnya lega karena adiknya belum tau jika Ayah sedang sakit.
"Aishh masih kecil kamu itu. Ya nggak mungkin juga baru ketemu bisa suka. Aneh kamu." jawab Kak Eral dengan nada lega.
"Aishh kan bisa aja Kak. Kayak di film film gitu, cinta pandangan pertama. Wkwkwk." ucap Tifani melawak.
"Kuliah dulu yang pinter. Nanti kalau kamu dan Tania lulus baru kakak cari calon. Hahaha." jawab Kak Eral membalas Tifani.
"Yah mana sempat, keburu aku salip duluan." Kata Tifani dengan nada mengejek. "Dimana gadis itu Kak, Fani mau lihat. Dia cantik apa nggak. Siapa tau emang cocok sama kakak." teriak Tifani ketika sang Kakak pergi meninggalkannya sendiri.
.
.
.
.
.
.
Hallo ha readers. Udah Up lagi dong bab 18. Semoga author lebih rajin Up nya ya kak. Jangan lupa like, komen dan vote yaw🥰
Happy reading♥️
.
.
.
__ADS_1
Salam author ✨