3600 detik bersama Ayah

3600 detik bersama Ayah
BAB 16


__ADS_3

Pagi ini adalah pagi yang dinanti teman teman Tifani. Sekarang mereka sedang bersiap untuk pergi bekerja. Lebih tepatnya melamar pekerjaan. Tapi yang pasti akan langsung diterima. Tifani membantu teman temannya untuk bersiap.


"Gue udah rapi belum. Ini udah bener kayak gini kan. Oh ya rok gue nggak kependekan kan ? Terus ini baju gue. Gue nggak keliatan gemuk kan ?' tanya Mira tanpa henti dengan suasana hati yang tak karuan dan kini jantungnya berpacu lebih cepat dari biasa.


"Astagfirullah boncel. Udah udah bener. Lo nggak usah gugup dong, ntar malah nggak bisa interview lagi." kata Tifani sambil menenangkan.


"Emm gue nggak bisa Fan, ini keringet dingin udah basah banget di tangan gue. Kaki gue juga. Astagfirullah. Ayo Mira jangan panik. Oke, jangan panik." ucap Mira sembari menenangkan dirinya sendiri.


"Udah udah, lo udah cantik. Nggak usah cantik cantik ntar digebet ama orang." tiba tiba Arza mengeluarkan suara yang seketika membuat seisi ruangan terdiam dan menoleh pada Arza. Dia yang merasa dicurigai teman temannya kemudian mengalihkan pembicaraan. "Apaan sih kalian. Gue kan cuman ngasih saran. Ntar kalo dia beneran pacaran terus lupa sama kita gimana ? Ya kan." kata Arza masih dalam ekspresi yang lumayan gugup.


"Emm iya juga sih ya. Ntar gue nggak bisa berantem ama si boncel lagi dong." kata Varo percaya. Dia memang tipe orang yang mudah percaya. Jadi tidak heran jika semua teman temannya selalu membohongi dia. Mira melirik Varo dengan tatapan membunuh.


"Udah udah. Yang lain udah siap ? Gerald. Riko. Udah belum ?" teriak Tifani memanggil mereka.


"Udah. Bentar Fan. Nunggu Riko masih pakai celana." jawab Gerald berteriak juga karena mereka masih didalam kamar.


"Ya udah. Kalian udah rapi. Pokok nya jangan gugup ya. Kalian pasti bisa deh. Jangan malu maluin gue didepan Vano. Wkwkwkwk." canda Tifani pada teman temannya.


Mereka akhirnya selesai bersiap. Ketika sudah keluar dari base camp betapa terkejutnya karena sudah ada 2 mobil yang berada didepan base camp. 1 mobil Vano yang biasa ia pakai dan yang satunya adalah mobil dari perusahaan untuk menjemput mereka.


"Wahh daebak. Ini beneran nggak sih kita dijemput. Haha serasa jadi nyonya sehari gua. Wkwkwk." celetuk Mira. Dengan cepat Tifani menutup mulut Mira dengan tangannya dan Arza meremas tangan Mira yang kebetulan disampingnya. "Emmm aww." Mira ingin berteriak kesaktian karena Arza namun tidak bisa karena masih dibekap oleh Tifani.


Seorang pria muda dan gagah keluar dari mobil dengan pakaian yang sangat rapi. Vano Ringgoandi. CEO perusahaan Accurate Sporting Good Industry.


"Kalian sudah siap ? Saya sengaja membawa mobil untuk menjemput kalian agar tidak susah susah menggunakan bus atau taksi. Silahkan masuk, kita segera berangkat." ucap Vano dengan sopan.


"Oh ya baik Pak Vano." jawab Varo sambil tersenyum dengan menunjukkan giginya yang rapi. Para karyawan disana bingung bagaimana dia bisa bersikap seperti kepada CEO yang akan menjadi bosnya juga.


Akhirnya mereka berangkat menuju perusahaan. Tifani ikut dengan mereka karena Mira memaksa nya


Dia tidak ingin menjadi wanita satu satunya dalam Mobil. Akhirnya Tifani setuju dan ikut untuk menemani Mira.

__ADS_1


Sesampainya diperusahaan, mereka semua memandang takjub dan tidak menyangka akan sampai disini. Vano mempersilahkan para calon karyawan nya untuk masuk keruang paling atas, yang tak lain adalah ruangannya. Tifani bahkan geleng geleng kepala. Tak menyangka akan melihat perusahaan yang sebesar ini. Meskipun perusahaan keluarganya yang dikelola ayah dan kakaknya termasuk yang terbesar ke 3, namun dia tak pernah melihat dengan jelas karena ketika dulu perusahaan masih dalam proses penyempurnaan.


Di ruangan Vano Ringgoandi


"Jadi kalian sudah saya tempatkan pada bidang kalian masing masing. Melihat dari kemampuan kalian dan jurusan kalian ketika lulus." Kini Vano akan mengumumkan pembagian pekerjaan mereka. Ketika hendak berbicara tiba tiba pintu terbuka tanpa ada ketukan sebelumnya. Bara masuk tanpa permisi. Dia sedikit kaget karena ternyata ruangan kakaknya ada banyak orang. Namun dengan cepat dia menyembunyikan raut wajah kagetnya dan bersikap seperti sebelumnya. Bara yang selalu kaku. "Oh Bara. Duduk dulu. Akan aku perkenalkan mereka." lanjutnya kemudian Bara duduk di kursi depan Kakaknya, Vano.


"Oke, Gerald. Saya ingat kamu pernah jadi satpam. Benar kan ? " tanya Vano dengan sopan.


"Benar sekali, Van." jawaban Gerald yang sembrono ternyata membuat Bara mengeluarkan sifat tegasnya.


"Pak ! Kalian disini sebagai bawahan. Berani sekali memanggil nama atasan kalian dengan sembarangan!" tegas Bara yang membuat semua orang tegang bercampur benci. Kebencian pada Bara yang secara spontan ada dilubuk hati mereka.


"Emm maaf, Van. Maksud saya Pak Vano, maaf." ucap Gerald memperbaiki ucapannya tadi dengan nada bersalah.


"Sudah tidak apa apa. Kalian boleh memanggil saya dengan santai ketika kita sedang bersama tanpa ada orang lain yang mendengarnya. Tapi untuk pekerjaan kita tetap harus profesional. Oke." jelas Vano dengan nada menenangkan. Gerald pun mengerti dengan kesalahan yang baru diperbuat nya. "Jadi Gerald, saya akan menjadikan kamu kepala keamanan di perusahaan. Nanti kamu akan dibimbing langsung oleh mantan Kepala Keamanan disini."


"Siap, Pak." jawabnya dengan tegas. Teman temannya merasa sangat senang melihat Gerald hari ini.


"Siap Pak, saya bersedia. Terimakasih banyak." ucapnya dengan posisi badan yang benar benar tegap, suaranya terdengar senang dan bercampur haru.


"Kemudian untuk Riko, saya akan menjadikan kamu Kepala Kebersihan di perusahaan. Bagaimana Riko ?"


"Kalau boleh tau pekerjaan saya gimana Ya Van, eh Pak Vano ? Kalau bersihin perusahaan sebesar ini saya nyerah deh Pak. Nggak mungkin sanggup saya." tanyanya yang membuat teman temannya gemas. Tak disangka dia akan melawak didepan orang lain. (Bukan ngelawak sih, emang dia nggak tau. Dia orangnya keren sayangnya agak lemot jadi suka lama kalo nyaut). Vano yang mendengar hanya tertawa dan Bara memutar bola mata malas. Teman temannya serasa ingin nabok mulut si Riko.


"Ahahha Ya tentu saja tidak Riko. Kamu adalah orang yang akan bertanggung jawab penuh atas pekerjaan OB/OG dan semua petugas kebersihan di perusahaan ini. Paham?" jelas Vano dengan sangat baik.


"Oh paham paham Pak. Terimakasih."


"Saya pak ?" ucap Varo sambil mengangkat tangannya.


"Iya untuk kamu, Varo, kamu akan bertugas di bagian administrasi sebagai ketua administrasi."

__ADS_1


"Asiyap. Tapi Pak, saya bakal diajari dulu kan, soalnya kita kan masih baru semua ?" rengek Varo dengan raut wajah sok imut yang membuat teman temannya jijik.


"Tentu saja. tentu saja. Jadi kalian akan aktif bekerja mulai besok. Untuk hari ini, saya akan memberikan sedikit dokumen dan kalian bisa pelajari dulu dirumah."


"Baik, Pak." ucap Gerald, Riko, Arza, dan Varo serentak. Mira yang merasa belum mendapat bagain kemudian menyuruh Tifani untuk bertanya.


"Oh ya Pak Vano, Anda belum menyebutkan pekerjaan untuk Mira." ucap Tifani pada Varo dengan nada yang sangat sopan.


"Iya benar. Jadi, Mira, kamu akan bekerjaa disini." ucap Vano sembari menunjuk sebuah gambar dibrosur.


.


.


.


.


.


Hallo ha readers. Pasti penasaran kan, Mira bakal kerja dimana. Makanya tungguin terus kelanjutan cerita di novel '3600 Detik bersama Ayah' terus ya. Terimakasih


Maaf baru sempet up soalnya author baru selesai ULANGAN dan insyaallah akan up lagi sesegera mungkin. Asal kalian bisa memberi like, komen, subscribe juga boleh😁 Yang terpenting jangan lupa VOTE ya readers. Kita saling menguntungkan deh ya. Aku up cerita dan kalian bantu VOTE cerita di novelku.


.


.


.


Salam Author 🤗

__ADS_1


__ADS_2