
"Oh ya, Fan. Besok gue nggak ikut kumpul dulu ya." tiba tiba Mira membuka pembicaraan di antara mereka.
Tifani yang merasa heran kemudian menanyakan alasan Mira. Karena tidak biasanya dia bolos kumpul. Dia yang paling semangat ketika berkumpul dengan teman temannya. "Kenapa Mir ? Lo mau pergi kemana ?"
"Emm anu Fan. Itu...gimana ya ngomongnya, susah amat si." Mira jadi gugup karena takut ditertawakan oleh teman temannya.
"Mau kemana ? Ngomong aja, nggak usah bingung." sambung Arza menengahi pembicaraan.
"Emm gue mau coba cari kerja. Soalnya udah 6 bulan kan gue lulus dan dari tempat gue ngelamar kerja juga belum dapat kabar gue diterima apa nggak. Jadi gue mau cari cari kerja aja, didekat dekat sini kalau emang ada si." jawabnya yang masih ragu. Teman temannya yang mendengarkan seketika melihat Mira dan menghentikan makan mereka. "Gue nggak mau nyusahin temen temen terutama lo Fan. Gue pengen punya penghasilan sendiri setidaknya 50rb/hari juga nggak papa. Yang penting bisa buat makan gue pas bareng kalian. Gue nggak enak kalian selalu traktir gue." Mira mulai terisak dan tidak melanjutkan makannya.
Vano yang mendengar seketika menghentikan makannya juga. Dia tidak menyangka persahabatan mereka benar benar luar biasa hebatnya. Benar benar luar biasa rasa kekeluargaannya. 'Dimana lagi gue nemu persahabatan yang kayak gini ya. Bahkan kadang sebuah keluarga aja nggak bisa sedekat mereka.' batin Vano ketika memperhatikan perhatian Tifani dan teman temannya pada Mira.
"Siapa yang bilang lo nyusahin kita. Terus siapa yang ngebolehin lo kerja ? Hah ? Jangan macem macem deh lo Mir. Lo nggak inget terakhir kali lo kerja dulu?" Tegur Tifani pada sahabat kecilnya itu.
"Eh boncel, lu nggak pernah nyusahin kita. Kalau ada yang bilang kayak gitu, bawa sini. Biar gua remukin tu mulut. Bisa bisa nya bilang yang nggak nggak sama sodara gue." ujar Varo yang tiba tiba menjadi bijak. Dia memang bukan orang yang pandai, namun untuk peduli jangan pernah diragukan. Dia sosok orang yang kocak namun ketika marah tak ada yang berani mendekatinya. Wajahnya yang babyface seketika bisa berubah menjadi seorang lelaki tampan yang garang.
"Iya bener tu kata Tifani sama Varo." ujar teman temannya melanjutkan. Mira yang mendengar semakin terisak melihat begitu hebatnya persahabatan mereka.
__ADS_1
Disisi lain, Vano yang sedari tadi melihat kejadian itu memendam perasaannya. 'Bagaimana cara mereka bersahabat? Apa yang mereka lakukan hingga sedekat ini ?' pertanyaan yang tak menemukan jawaban kian berputar dikepalanya.
"Ehemm maaf ya bro, lo harus lihat drama kita. Kita ya emang kayak gini. Kita udah bukan temen lagi, kita udah kayak keluarga. Jadi kalau salah satu dari kita ada yang sakit, ya terpaksa kita gerak semua." ucap Gerald pada Vano yang dari tadi sudah memperhatikan teman temannya.
"Emm iya tidak apa. Sebenarnya seperti apa persahabatan kalian? Mengapa hebat sekali." pujinya dengan wajah serius. Kemudian dia terpikir jika perusahaan dan rumah sakit ayah nya sedang mencari pegawai. "Apa pekerjaan kalian saat ini ? Lalu pekerjaan apa yang kalian inginkan ?" tambahnya yang membuat semua orang melihatnya dengan tatapan penuh harap. Dia kemudian melanjutkan kembali perkataannya. "Perusahaan kami sedang membutuhkan pegawai. Apa bisa aku merekrut kalian sebagai pegawai? Aku rasa sudah menemukan orang orang hebat yang bisa mengisi kekosongan pegawai di perusahaan."
"Apa perusahaan itu bernama Accurate Sporting Goods Industry ?" tanya Arza yang lumayan mengetahui beberapa perusahaan ternama. Dia menebak karna mendengar bahwa nama Vano adalah Ringgoandi. Dan perusahaan keluarga Ringgoandi adalah perusahaan terkenal dengan gaji menjanjikan dan sangat sulit untuk diterima kerja disana.
"Iya. Perusahaan itu. Kalian mau menjadi pegawai disana? Aku menanyakan bukan karena rasa kasihan tapi sepertinya kalian memiliki potensi dan kesempatan untuk bekerja di sana. Bagaimana ?" tawarnya pada teman teman Tifani.
Bukannya menjawab, mereka malah bengong dan melongo. Karena tidak menyangka akan bertemu dengan seorang pengusaha yang namanya banyak beredar di surat kabar dan muncul di televisi.
"Eh, mereka belum dapat pekerjaan Van. Ini, Mira seorang mahasiswi lulusan universitas negeri jurusan farmasi. Dia pinter banget. Bahkan dia lulus dalam waktu 3 tahun. Gue sendiri nggak nyangka kalau muka kayak dia bisa pinter banget. Terus Arza, dia orangnya baik. Dia juga jujur. Lo nggak bakalan nyesel punya pegawai kayak dia. Dia pinter ngaji. Lagi, Riko, meskipun kayaknya dia agak ribet tapi dia yang lumayan rajin ketimbang kita berempat. Buktinya dia selalu rapi meskipun cuman diem diem disini. Gerald, ya walaupun agak males tapi dia orangnya ulet. Dia sering kerja jadi satpam. Dia sekalinya kerja bener bener hebat banget. Bertanggung jawab. Dan, Varo.." Tifani menghela napasnya kasar yang kemudian membuat semua orang melihat nya dengan serius dan Varo melirik nya dengan tatapan membunuh. "Haha santai Ro. Dia walaupun keliatannya lemah dan manja, tapi dia orangnya teliti, Van. Sangat teliti. Percaya deh." lanjutnya kemudian.
"Yang diomongin Tifani nggak bener, gue nggak sepinter itu. Cuma lagi beruntung aja. Nyatanya gue aja belum kerja." ucap Mira yang tak ingin dipuji.
"Iya, Bro. Gue juga bukan orang yang kayak gitu. lanjut Varo.
__ADS_1
"Gue juga." sahut Riko dan Gerald bersamaan.
"Percaya aja. Kan Tifani udah percaya ama kita. Berarti kalau kita belum kayak gitu ya kita harus berubah lah. Biar yang diomongin Tifani itu kenyataan. Bukan cuma supaya dapat pekerjaan." ujar Arza menasihati teman temannya. "Maaf, Bro. Kita emang kayak gini. Kita emang belum sepenuhnya kayak yang dikatain Tifani tapi kita bakal usaha. Itupun kalau lo bisa nunggu perubahan kita." lanjutnya kemudian.
"Nah ini ni gue demen. Gue suka gaya lo boy." seru Tifani sambil menjentikkan jari dan kemudian beradu tos kepal.
"Oke. Saya sudah tau. Saya sudah menemukan orang orang yang tepat. Jadi, selamat bergabung. Besok datanglah kekantor membawa surat lamaran. Akan aku tuliskan semua yang dibutuhkan." dengan segera Varo berdiri dan mengambil sebuah kertas untuk diberikan pada Vano. Vano yang kemudian menerimanya dengan segera menuliskan semua yang harus mereka lakukan ketika harus kekantor besok.
"Terimakasih, Vano." ucapnya dengan logat formal pada Vano, yang kemudian mengundang perhatian teman temannya hingga mengejeknya.
"Cieee teh Fani.." ujar Varo membuat semuanya tertawa.
"Apaan sih lo. Gue cuma bilang makasih, ya kan Van.."jawabnya dengan sedikit gugup dan melirik Vano. Vano yang mendengar hanya tersenyum dengan kejadian hari itu.
******
Bruaaakkkk
__ADS_1
Tanpa sengaja Kak Eral menabrak seorang gadis yang umurnya sekira Tania. Gadis desa yang berpenampilan khas dari Sunda. Sesegera mungkin Kak Eral keluar dari mobil dan menghampiri garis tersebut.
"Kau tidak apa ? Ada yang terluka ?" Tanyanya beruntun. Belum sempat menjawab, sang gadis tiba tiba pingsan. Kak Eral yang panik kemudian segera menggendong tubuh gadis itu dan membawanya ke rumah sakit. "Aku mohon jangan meninggal. Aku tidak sengaja. Kamu juga tidak terluka. Bukan kah itu juga salahmu ? Kau kan yang menyebrang tiba tiba ? Tapi aku juga salah karena tidak fokus. Arrrrgghhh..kenapa rumah sakit nya jauh sekali." gumamnya sendirian tanpa ada yang menjawab dan mendengarkannya. Hingga akhirnya mereka sampai dirumah sakit.