
"Biarkan saya pulang dok. Saya sudah merasa sangat sehat. Tidak perlu khawatir kan kondisi saya. Anak saya akan merawat saya dengan sangat baik." ucap Pak Tommy pada dokter nya.
"Tidak bisa Pak Tommy. Anda sudah berulang kali seperti ini tapi nyatanya penyakit anda tak kunjung sembuh malah bertambah semakin parah. Saya tidak bisa membiarkan Pak Tommy pulang untuk sementara waktu." ucapnya sang dokter kekeh. Kali ini dia tidak ingin pasiennya yang istimewa itu semakin sakit.
"Keno, biarkan saya pulang." teriak Pak Tommy pada dokternya yang bernama Keno tersebut. Dia sudah menganggap Keno adalah anaknya sendiri dan juga sebaliknya. Sejak Pak Tommy berusaha menolong Keno waktu itu.
"Ayo lah Pak Tommy, tolong turuti saya sekali ini saja. Saya mohon, Pak Tommy tetap dirumah sakit untuk sementara waktu saja. Saya tidak ingin penyakit bapak semakin memburuk." rayunya pada Pak Tommy sembari memegang tangan Pak Tommy.
"Lalu bagaimana jika nanti anak anak saya menanyakan keadaan saya? Saya harus jawab apa ?"
"Bukankah Eral sudah tau jika Pak Tommy sakit ?" ucap Keno.
"Memang Eral sudah tau, tapi bagaimana dengan Tania dan Tifani. Mereka akan kaget dan khawatir dengan saya. Itu alasan saya tidak memberi tahukan tentang penyakit saya pada mereka. Saya takut mereka akan sibuk dengan pengobatan saya ketimbang kuliah dan pekerjaan mereka." jelas Pak Tommy.
Keno paham maksud baik Pak Tommy. Tapi tetap dia tidak bisa membiarkan orang yang dia anggap seperti ayahnya sendiri setiap hari semakin sakit. Dia bahkan selalu mengeluh setiap Pak Tommy datang untuk meminta obat padanya ketimbang dirawat di rumah sakit.
"Saya paham maksud bapak. Tapi kali ini saya benar benar tidak akan mengizinkan bapak keluar dari rumah sakit. Biarkan nanti Eral yang mengurusi semuanya dan memberi alasan pada adik adiknya. Saya tau Eral sangat kompeten pak. Saya mohon." kini suara Keno semakin lirih agar usulnya disetujui oleh Pak Tommy.
Pak Tommy yang melihat ketulusan Keno tidak bisa berbuat apapun. Akhirnya dia menuruti perintah Keno untuk tetap tinggal di rumah sakit. Keno yang mendengar persetujuan itu sangat senang dan dengan segera menyelesaikan semua pemeriksaan rutin pada Pak Tommy.
******
Di rumah keluarga Denatta
"Ayah kemana kak ? Kok nggak ikut makan malam ?" tiba tiba Tania menanyakan ketidakhadiran sang Ayah.
"Emm anu itu Tan, emm ayah ke luar kota." jawab Kak Eral gugup.
"Lah kok nggak pamitan si sama Tania. Kan Tania mau minta oleh oleh. Yahh.." seru Tania
"Emm kamu ini mikir oleh oleh aja. Nggak usah. Kayak anak kecil aja. Udah lanjutin makan." perintah Kak Eral.
"Ih iya deh. Tapi kan harusnya Ayah bilang. Nggak biasa deh ayah kayak gini. Nggak ada apa apa kan ya. Nggak mungkin lah ya." gumam Tania seorang diri.
"Udah makan Tan, nggak usah mikir yang aneh aneh."
__ADS_1
Tania kemudian melanjutkan makan dengan masih terbawa rasa penasaran yang berkepanjangan.
"Ayah ke kota mana kak ? Proyek apa yang lagi dikerjain ? Bukannya proyek kemarin usah selesai ya ?" tiba tiba Tifani ikut bertanya pada Kak Eral.
"Emm ayah ke Sulawesi. Ini proyek baru jadi secepatnya mau ayah selesain." jawab Kak Eral dengan gugup.
"Ohh gitu.." Tifani hanya percaya.
"Sok peduli banget sama Ayah. Padahal cuma takut aja kalau ayah nggak ada lo pasti nggak bakalan dapat uang. Gitu kan ?" celetuk Tania dengan kasar. Yang kemudian membuat suasana malam itu menjadi tegang. Tifani hanya mendengar dan tidak ingin menjawabnya. Tapi sayangnya Tania masih ingin berdebat dengan Tifani dengan melontarkan beberapa kata ejekan dan sindiran.
"Tifani udah kenyang kak, mau langsung ke base camp." ujar Tifani sembari menyudahi makannya dan akan segera pergi.
"Eh lo nggak terima gue ngomong kayak gitu ? Numpang aja belagu banget si. Kak Eral, kenapa si kakak sok peduli banget sama dia. Bukannya kak Eral juga ngerasa nggak nyaman kan sama dia. Iya kan kak ?" ujar Tania kembali yang menyulut api kemarahan sang kakak.
Brakkk..suara gebrakan meja makan terdengar. Kini gebrakan dari tangan Kak Eral bukan Pak Tommy.
"Cukup Tania. Kakak rasa kamu udah keterlaluan. Kakak sengaja biarin kamu supaya kamu sadar sendiri kesalahan kamu. Tapi nyatanya makin dewasa kamu malah nggak berubah sedikitpun. Kakak kecewa banget sama kamu Tania." ujar Kak Eral menegaskan.
"Kok kakak jadi marah sama aku sih. Harus nya sama si anak tiri itu. Kakak lupa aku ini adik kandung kakak. Dia itu cuman adik tiri Kak Eral. Kenapa Kak Eral sering belain dia ketimbang aku si." Tania mulai kesal dengan penegasan kakaknya dan tidak terima disalahkan.
"Udah kak. Nggak usah belain Tifani. Biarin Tania. Aku juga nggak akan meladeni dia." ujar Tifani kemudian. Tanpa disadari sebuah tangan telah meraih rambut Tifani dan menjambak nya dengan sangat kasar. Bahkan sebuah tamparan hampir terjun ke pipi Tifani. Beruntung Kak Eral dengan sigap menahan tangan Tania dan menyuruhnya untuk melepaskan jambakannya.
Tania melepaskan jambakannya dari rambut Tifani dan dengan kesal dia masuk kamar tanpa melanjutkan makannya. Tifani kemudian pergi menuju base camp dengan hati yang selalu sakit dan berurai air mata.
"Makasih Kak Eral. Tifani keluar dulu. Mungkin malam ini Tifani nggak pulang. Tifani mau di base camp aja. Assalamu'alaikum kak." pamit Tifani.
"Iya sudah, hati hati dek. Maafin Tania tadi. wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarakatuh. Bi, tolong beresin meja makan. Saya mau keluar dulu." perintah Kak Eral pada Bi Icu.
"Baik den."
******
Di base camp
"Besok gue pake baju apa ya ? Gue kan nggak punya baju resmi kayak orang kantoran gitu." gumam Mira ketika menonton televisi bersama teman temannya.
__ADS_1
"Lo mau nyari baju ? Mau gue temenin ?" tanya Arza.
"Emm gimana ya. Menurut kalian gimana ?" Mira malahan bertanya balik.
"Terserah lo aja. Kalo lo pengen tampil rapi ya mending beli aja Mir. Kan lo cuma punya baju santai. Nggak mungkin juga kan lo pinjem baju kita." ucap Riko. Gerald dan Varo sudah tidak ada suaranya. Mereka sudah tidur sejak 1 jam lalu karena ingin mempersiapkan diri untuk besok.
"Gimana Za ? Beli sekarang ?" tanyanya pada Arza kemudian.
"Terserah lo. Kalo mau beli ya ayok." ajak Arza sudah siap mengantarkan.
"Emm ya udah deh ayok."
Bremmmmm. Tiba tiba suara motor Tifani terdengar dari luar. Mereka segera keluar dan melihat Tifani dalam keadaan berantakan setelah bertengkar dengan Tania.
"Fani, Lo kenapa Fan ?" tanya Mira yang khawatir.
"Oh nggak papa kok Mir." jawaban Tifani yang kentara dia habis menangis. Tapi teman temannya tak ingin membuatnya bersedih lagi. Jadi mereka membawa Tifani masuk.
"Oh ya Mir. Ini ada baju buat lo. buat kerja besok ya. Gue udah pilih si tapi nggak tau juga bagus apa nggak. Buat yang lain juga ada. Ini cari sendiri ya. Kalian bagi sendiri. Gue mau bersih bersih. Malam ini gue mau tidur disini." ujar Tifani panjang lebar sembari memberikan wadah baju kepada Mira.
"Emm iya deh. Sana bersih bersih dulu. Oh ya makasih ya Fan." kini ucapan terimakasih Mira dan teman temannya tidak sambil bercanda karena tau keadaan Tifani.
"Iya sama sama. Eh ya dimotor gue ada makanan. Ambil ya." lanjut Tifani.
"Iya Fan." sahut Riko.
.
.
.
.
.
__ADS_1
**Annyeong readers. Maaf masih suka lama up nya. Untuk sementara ini mungkin akan lama up novelnya ya. Soalnya author ada PAT😁. Minta do'anya aja ya semoga lancar PAT nya author. Terimakasih sudah mampir di novel author. Love buat kalian♥️
Jangan lupa vote agar author makin semangat🥰🥰**