3600 detik bersama Ayah

3600 detik bersama Ayah
BAB 12


__ADS_3

Di rumah keluarga Denatta


Pak Tommy merenungkan kejadian yang baru saja terjadi. Dia bahkan tidak percaya bahwa dirinya menampar putri bungsunya itu. Dia meneteskan air mata didepan meja kerja di ruangannya. "Ranti maafkan aku, aku tidak becus menjaga putri kecil kita hingga aku berani menamparnya. Bahkan seharusnya Tanialah yang aku tampar. Tapi setiap melihat Tifani aku selalu teringat padamu, Ranti." kini tangis Pak Tommy semakin meledak hingga dirinya tertidur dimeja kerjanya.


Di base camp


"Kutet, balikin nggak itu hp gue. Gue mau nonton drakor tet. Lu gak usah buat gue marah deh. Hisss." teriak Mira pada Varo yang setiap hari mengganggu nya.


"Nggak mau, salah siapa tadi foto gue pas gue lagi jelek. Ini hp gue sita sampe lu kasih tau kode sandinya dan hapus foto gue tadi." Varo berlaku tanpa mengindahkan ucapan Mira yang mulai baik pitam.


"Lu bener bener ya. Awas lu Kutet. Gue habisin lu ya. Yaaaaa....michyeosso-eo.." Mira mulai mengeluarkan kata kata Korea nya yang membuat teman temannya melongo dan tertawa.


Varo yang mendengar makin tertawa dan mengejek Mira. "Boncel lu ngomong apa sih. Wkwk gak jelas banget."


Teman temannya juga bingung setiap mendengar Mira berbicara bahasa Korea. Mereka hanya menganggukkan kepala dan pura pura mengerti.


Wiiinggggg...sebuah lemparan sendal tepat di muka Varo. Kini giliran Mira yang tertawa kegirangan.


Varo akan menghampiri Mira namun Mira segera berlari dan bersembunyi dibelakang Arza. Arza meletakkan kedua tangannya dipinggang dan memelototi Varo. Varo yang melihat kemudian diam dan bergumam sendiri.


"Udah sini hpnya si boncel. Tidur sono ama Gerald biar diem." ucap Arza seraya meminta hp Mira dari Varo.


"Ihh ngeselin banget lo Za. Bukannya belain gue." Varo berdecih kesal.


"Kan lu cowok, Ya kali gue mau belaian lu. Risi dong. Wkwk." Arza dan Mira terkekeh.


Akhirnya Varo memberikan hp Mira pada Arza dan segera pergi menyusul Gerald yang tengah berada di alam mimpi. Sedangkan Riko, ya dia menata rambutnya didepan cermin setelah bermain game. Dia lah yang paling ribet, dibandingkan dengan Mira yang malah seorang perempuan.


Brummm grennggg


Mereka segera keluar ketika mendengar ada suara motor KLX. Mereka sudah tau dan sangat hafal dengan suara motor Tifani. Setelah sampai diluar betapa terkejutnya mereka ketika melihat sebuah mobil terparkir disana bersandingan dengan motor Tifani. Mereka makin terkejut ketika seorang lelaki necis dan berpakaian formal keluar dari mobil tersebut. Tifani menyapa teman temannya sebentar dan membantu Vano untuk membawa belanjaan nya tadi.


"Sstt..itu siapa?" bisik Mira pada Arza.


"Kalau lu tanya gue terus gue tanya siapa?" Jawab Arza tanpa melihat Mira dan masih menatap Vano.

__ADS_1


"Gilak ganteng bener, kayak gue." celetuk Varo yang membuat Riko ingin menyikutnya.


***


"Eh ngapain bengong disini? Ayo masuk. Ini gue bawa makanan banyak banget." tegur Tifani yang menbuat lamunan teman temannya kembali sadar.


"Ehh iya, Fan. Ngomong ngomong itu siapa? Ganteng banget kayak gue." ucap Varo lagi. Kini siku Riko sudah ada didepan wajah Varo.


"Oh dia temen gue. Ya udah masuk aja dulu. Kita makan sambil ngobrol." ajak Tifani.


"Iya udah deh." jawab teman temannya.


"Gerald. Bangun lo. Ini Tifani bawa hamburger kesukaan lo. Mau nggak?" bisik Varo ditelinga Gerald.


Seketika matanya melebar dan bangun dari tidurnya. "Mana hamburger nya Fan?" Dia berlari menghampiri Tifani dengan wajah bantal.


"Sialan tu anak. Gue yang kasih tau, gue juga yang ditinggalin. Awas aja lu ya." gumam Varo sendiri.


"Baru bangun udah minta. Cuci muka dulu sono." perintah Tifani pada temannya yang tukang tidur itu.


"Oh ya, Kamu nggak lagi sibuk kan? Gimana kalau makan sama kita?" ajak Tifani pada Vano yang masih takjub dengan desain rumah tempat Tifani dan teman temannya berkumpul.


"Emm belum si, istirahat siangku masih ada sekitar 2 jam an lagi." jawab Vano.


"Oke, kalau gitu makan bareng kita aja. Mira ayo bantuin gue ambil piring." ajak Tifani. Namun Mira masih bengong dan melihat Vano tanpa berkedip sekalipun. "Boncel! Lu ya kebiasaan kalo dipanggil harus 3 kali dulu kayak jin."


"Eh maaf, Fan. Iya iya ayo ambil piring." Dia segera sadar dan mengiyakan ajakan Tifani.


Sambil berjalan ke dapur, Mira bertanya semuanya tentang Vano pada Tifani. Sayangnya Tifani tidak mau terlalu menggubris, karena diapun baru mengenal Vano beberapa minggu lalu. Sedangkan di ruang santai dimana mereka akan makan, teman teman Tifani melihat Vano seakan Vano adalah santapan yang sangat lezat, mata mereka bak pandangan membunuh dengan posisi tangan dilipat di dada. Vano yang melihat pemandangan itu agak tidak nyaman hingga memberanikan diri untuk bertanya.


"Ehemm ada apa ya ? Kalian ingin mengatakan sesuatu ?" suara Vano yang tiba tiba terdengar membuat mereka berempat dibuat salah tingkah.


"Emm begini Pak..." Varo angkat bicara yang seketika itu dipotong oleh Vano. (wah bakal mikir keras ini, semoga author nggak bingung nentuin namanya ya..)


"Pak ?" Vano menahan tawanya dengan menutup mulutnya menggunakan tangan yang dikepal seperti menutup mulut orang yang akan batuk. "Saya masih seumuran kalian, jangan panggil saya pak, toh saya juga bukan bos di kantor kalian kan, jadi tolong santai saja dengan saya." lanjutnya.

__ADS_1


"Oke. Nama lo siapa ?" tiba tiba Gerald berbicara dengan bahasa santai. Teman temannya menoleh padanya dengan pandangan heran lagi. Jarang jarang kan si tukang tidur mau bicara sama orang kecuali teman gengnya. "Gue Gerald, ini Varo, dia Arza, dan yang dibelakang lo itu namanya Riko." lanjut Gerald sembari menunjuk tempat duduk teman temannya.


"Oh perkenalkan nama saya Vano Ringgoandi." ucapnya sopan sambil berdiri kemudian membungkukkan badan bak salam nya orang Korea.


"Apa apa. Vano ? wah nama kita hampir sama bro. Kenalin ya gue Varo. Gue yang paling ganteng dari mereka semua." sambut Varo ramah sambil memajukan tangan mengajak Vano bersalaman.


"Oh benarkah ? Iya salam kenal. Semoga kita bisa akrab." Vano menggapai tangan Varo yang mengajaknya bersalaman.


"Ehemm udah pada kenalan ? Mau makan apa ngobrol lagi ?" terdengar suara Tifani dari arah dapur membawa piring dan minuman bersama Mira.


"Mau makan aja teh Fani." ucap Varo yang membuat seisi ruangan menjadi geli.


"Lo pikir gue teh anget ya Ro." jawabnya santai. Teman temannya yang mendengar kemudian tertawa karena tingkah Varo dan Tifani yang barusan terjadi. Vano tiba tiba merasa ada yang berbeda pada pertemanan mereka. Kekeluargaan. Satu kata yang tersimpul didalam pikirannya. Kini rasa penasarannya kian bertambah pada si gadis berandal berhati malaikat ini.


'Sebenarnya siapa dirimu Tifani ?' pertanyaan yang terus muncul dikepala Vano Ringgoandi.


.


.


.


.


.


.


Hai readers.. Terimakasih sudah mampir di sini. Saya harap kalian menyukai cerita dari saya. Jangan lupa vote, like, komen dan silahkan kalau mau boleh di bagikan pada orang orang terdekat kalian. Siapa tau mungkin ada yang memiliki cerita sama dan bisa memberikan saya pencerahan. terimakasih.


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan ๐Ÿ˜‡


.


Salam author ๐Ÿค—

__ADS_1


__ADS_2