3600 detik bersama Ayah

3600 detik bersama Ayah
BAB 8


__ADS_3

"Den ini baksonya." Mang Ugi menyadarkan lamunan Vano.


"Eh iya, Mang. Berapa ?" tanya Vano sambil mengeluarkan uang dari sakunya.


"40rb den." jawab Mang Ugi sambil menunjuk kan 4 jarinya.


"Ini Mang, kembaliannya Mamang ambil aja ya." ucapn Vano ketika memberikan uang 100rb kepada Mang Ugi.


"Ya Allah den nggak usah, udah cukup tadi dari neng Fani den." Mang Ugi berusaha menolak dan tetap memberikan kembalian ke Vano.


"Nggak Mang, mungkin ini rejeki buat Mamang. Jadi diterima saja ya." Vano berlalu agar Mang Ugi tidak berusaha mengembalikan uangnya lagi.


"Masyaallah. Sungguh banyak nikmat yang Engkau berikan pada hamba hari ini Ya Allah. Terimakasih banyak Ya Allah." Mang Ugi menangis tersedu karena hak yang barusan terjadi.


******


Di rumah keluarga Denatta.


"Assalamualaikum Kak Eral. Fani bawain baksonya kakak." Tifani berteriak bahkan sebelum sampai ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam." terdengar samar suara sang kakak dari ruang makan. Tifani pun segera menghampiri kakaknya yang tengah duduk berhadapan dengan laptop itu.


"Nih kak baksonya." sambil menyodorkan kresek berisi bakso.


"Iya makasih. Kebiasaan yang kalo pulang. Belum masuk rumah udah teriak teriak dari luar, kayak lagi dihutan aja." gerutu sang kakak.

__ADS_1


"Iya iya kak, maaf nggak lagi deh." Tifani memegang kedua telinga nya.


"Kamu makan sekalian dirumah aja." pinta Kak Eral pada Tifani.


"Nggak ah kak, aku langsung ke base camp aja deh, bentar lagi Tania juga pulang dan kayak nya Ayah masih diruang kerjanya. Aku nggak mau nanti ribut sama Tania dan ganggu ayah kak. Jadi Tifani ke base camp ya. Tifani juga udah ngabarin anak anak mau datang bawa bakso. Pasti mereka nungguin Tifani." ujar Tifani panjang lebar.


"Iya sudah. Kakak paham maksut kamu. Ati ati kalau ke sana. Jangan ngebut ntar baksonya pecah dijalan." kata Kak Eral terkekeh.


"Nggak ah kak. Ya udah Tifani berangkat dulu. assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh kakakku yang cantik. Wkwkwk." Tifani berlalu keluar rumah.


"Eh dasar ya, punya adik cewek emang ribet. Dua lagi. Haduhh." Kak Eral memegang dahinya.


Tiba tiba Tifani kembali ke dalam rumah.


"Ada apa balik lagi." tanya Kak Eral tanpa menoleh ke adiknya dan masih setia memakan baksonya.


"Belum dijawab udah nelonyor aja tu anak, wa'alaikumsalam waroh matulloh hiwabarakatuh." gumam Kak Eral sembari menggeleng kan kepalanya.


******


Sesampainya di base camp.


"Assalamu'alaikum." teriak Tifani ketika sampai tepat didepan pintu base camp. Teriakan Tifani seketika membangunkan tidur mereka.


"Ya elah, Fani. Lu kebiasaan ya kalo masuk. Udah bagus pake salam tapi nggak ada halus halusnya." celoteh Varo dengan mata masih terpejam.

__ADS_1


"Ehehe maaf maaf, kelepasan gue. Nah si boncel Mira ke mana ?" tanya Tifani pada teman temannya yang masih enggan untuk bangun.


"Si boncel di kamar lah Fan. Ya kali dia tidur bareng kita." Kata Arza yang sudah mulai bangun dan membuka matanya.


"Ya udah deh. Eh udah pada solat ashar belum si? Kok udah enak enakan tidur." lanjut Tifani sembari berjalan ke kamar menghampiri Mira.


"Astagfirullah belum, Fan. Untung lu dateng." sesegera mungkin Arza membangunkan para anak anaknya. "Woy batang, bangun. Kalian belum solat ashar. Ayo bangun." Arza mulai menggoyangkan badan mereka dan mereka hanya berpindah posisi. "Eh bangke lu semua ya. Bangun kagak lu. Gue siram air panas ni ya." kini Arza mulai geram dengan teman temannya.


"Tunggu bentar. 2 menit lagi Za. Gua mau nerusin mimpi gue dulu. Bentar bentar." ucap Gerald yang memang sangat suka tidur.


"Nggak ada 2 menit 2 menitan lagi. Sekarang kalian bangun solat ashar apa mau dipanggang di atas api neraka. Ha!" Arza mulai mengancam teman temannya supaya segera bangun. Dan nyatanya mereka langsung bangun.


"Gue wudhu duluan, Za. Ntar gue aja yang jadi imam." seketika itu Varo berdiri dengan mata yang masih sedikit tertutup dan berlari ke arah kamar mandi.


"Elu bisa kagak si kalau nggak bawa bawa neraka." ucap Riko yang masih memaksa matanya agar mau terbuka.


"Udah ayo buruan. Pada ambil wudhu. Gue panggil Fani dulu. Kita jamaah bareng sekalian ngaji lagi. Setelah itu kita makan." celetuk Arza.


"Emang lu punya duwit mau makan ?" tanya Riko heran.


"Kagak si, Fani kayak nya ke sini bawa kantong plastik jadi pasti itu makanan. Wkwkw." tiba tiba wajah Arza menjadi jenaka sesaat.


"Ya elah elu." Riko memutar bola mata malas. "Eh bangke bangun lu. Susah banget pisah kalau udah nempel ama kasur." teriaknya pada Gerald yang masih belum mau membuka matanya. "Fani bawa hamburger, Rald. Lu bangun solat terus makan apa gue habisin." seketika itu mata Gerald terbuka lebar.


"Ayo kita sholat, gue yang jadi imam." dia beranjak dan segera ke kamar mandi menyusul Varo.

__ADS_1


"Dasar bangke emang. Ya udah ayo lah."


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh kakak kakakku. Terimakasih sudah membaca cerita ku. Aku tunggu dukungan kalian ya♥️


__ADS_2