
Mobil ambulance meraung raung dengan keras tanda ia sedang membawa pasien yang segera membutuhkan pertolongan medis. Sesegera mungkin petugas kesehatan membopong tubuh kekar yang kian keriput karena termakan usia. Pak Tommy, pingsan tepat setelah rapat selesai di kantornya. Para pegawai yang panik berusaha menyadarkannya namun sia sia. Alhasil mereka menelfon ambulance untuk segera menangani Pak Tommy. Sang sekretaris, Rena, yang histeris karena bosnya pingsan tiba tiba kini lemas didalam mobil ambulance karena tenaganya yang hampir habis.
"Ya Allah Pak Tommy, Anda kenapa Pak ? Saya mohon Pak segera lah sadar Pak." gumamnya di dalam mobil ambulance bersama tubuh Pak Tommy yang terbaring di kasur.
"Apakah ibu wali dari Bapak Tommy ?" tanya seorang petugas kesehatan di dalam ambulance yang sedari tadi bersama mereka.
"Em iya Pak. Saya juga sudah menghubungi keluarga Pak Tommy, dan kebetulan anaknya sedang berada dirumah sakit yang akan kita tuju nanti." jelasnya pada petugas kesehatan tersebut.
"Oh baiklah bu." petugas medis tidak menyangka, hanya seorang sekretaris tapi sangat peduli pada atasannya. Mungkin karena telah berjuang dari nol hingga sesukses sekarang. Tanpa ada yang tahu bahwa sekretaris Pak Tommy adalah adik nya sendiri.Banyak hal yang dilalui bersama.
Perusahaan keluarga Denatta adalah perusahaan terbesar ke 3 setelah perusahaan keluarga Ringgoandi dan perusahaan keluarga Farhamnudin. Tak heran jika banyak orang yang mengenali pegawai ataupun bos perusahaan besar tersebut. Diperusahaan besar itu, semua pegawai dan atasan memiliki tanda khas atau ciri khas dari perusahaannya masing masing. Jadi kebanyakan orang dan hampir semua orang mampu mengenali seseorang itu bekerja di salah satu perusahaan besar itu.
******
"Malam ini gue tidur disini aja. Besok bantuin kalian siap siap ke kantor." ujar Tifani pada teman temannya ketika mereka sedang bersantai.
"Lhoh kenapa gitu, Fan. Yaelah kita juga bisa siap siap sendiri kok, Fan. Nggak papa lo pulang aja." sahut Riko kemudian.
"Oh kalian nggak mau gue disini, ya udah gue pulang aja." Tifani berdiri dan mengambil jaketnya berpura pura akan pergi.
"Eh eh, bukannya gitu. Maksudnya ntar lo dicariin Kak Eral sama Ayah lo. Dikiranya kita yang nahan lo disini." tambah Riko yang didukung teman temannya.
"Nggak bakalan. Gue udah izin sama Kak Eral. Kak Eral juga masih sibuk. Apalagi Ayah. Gue juga bosen dirumah mulu. Nanti gue telfon rumah biar Bibi gue nggak nyariin." ujar Tifani meyakinkan.
"Ya udah terserah lo, sana mandi. Mumpung si boncel udah selesai mandi." ucap Arza memerintah.
"Ah ntar aja, kalau mau magrib sekalian deh. Eh lah lo kok tau si Mira baru selesai mandi, wah jangan jangan lo ngintip dia mandi kan lo. Astagfirullah, Za. Istighfar, Za." celetuk Tifani pada Arza yang kemudian melempar sarungnya pada Tifani. Teman temannya yang mendengar dan menyaksikannya turut tertawa terbahak bahak karena ulah Tifani.
"Sembarangan kalo ngomong. Tadi gue bikin kopi di dapur terus liat dia keluar dari kamar mandi. Teh anget." balas Arza yang sedikit kesal tapi juga ingin tertawa.
"Eh enak aja lo panggil gue teh anget." Tifani yang hendak beranjak ditahan oleh Gerald yang kemudian melemparkan handuk pada wajah Tifani.
"Udah. Buru mandi. Ntar solat bareng."
__ADS_1
Tifani dengan rambut berantakan yang sudah berada di wajah kini berjalan ke kamar mandi tanpa memindahkan handuk yang masih berada di kepalanya dan menutupi sebagian wajahnya.
******
"Eral. Ayah kamu ada di ruang ICU. Jadi kita tunggu aja ya." ucap sekretaris Pak Tommy.
"Iya, terimakasih. Ya Allah ayah, kenapa bisa kayak gini si." ucap Eral sambil mengusap wajahnya kasar.
"Kamu ngapain di rumah sakit ? Kamu sakit ?" tanya Rena sang sekretaris.
"Nggak Tan, tadi Eral nggak sengaja nabrak cewek. Dia pingsan, jadi Eral bawa kerumah sakit. Dan Alhamdulillah dia nggak papa. Cuman shock aja."
(Eitss, Tan? Iya sekretaris Pak Tommy adalah Tante dari Kak Eral, Tania, dan Tifani. Rena Arma Denatta. Dia masih keluarga Denatta. Adik angkat dari Pak Tommy)
"Ya udah. Itu dokter nya udah keluar. Ayo tanya keadaan Ayah kamu." ajak Tante Rena.
"Iya, Tan. Ayo. Semoga tidak ada yang serius dengan Ayah." harapnya
"Iya, tan. Aku mengerti."
"Gimana keadaan Ayah saya dok ?" tanya Eral yang masih kaget dengan kejadian ini.
"Pak Tommy sudah tidak apa". Dan Alhamdulillah beliau segera dibawa ke rumah sakit. Penyakit jantung Pak Tommy kumat. Mungkin beliau sedang tertekan dan tidak ada orang yang diajak bercerita. Jadi beliau memendamnya sendirian dan akhirnya kontraksi jantung nya kumat.
"Apa ? Ayah punya penyakit jantung ? Sejak kapan dok ?" Eral semakin kebingungan.
"Maaf saya lupa, saya diminta merahasiakan penyakit beliau dari anak anaknya. Tapi untuk saat ini seperti nya kalian harus mengetahui nya." jelas dokter tersebut.
"Iya dok makasih. Ayah emang nggak pernah cerita apa" sama saya, jadi saya nggak tau Ayah kenapa. Bisa tolong jelaskan semua tentang penyakit Ayah dok ?" pinta Eral pada sang dokter.
"Baik pak, bisa. Mari keruangan saya dahulu." ajak sang dokter sembari menunjuk jalan keruangan nya.
"Baik dok. Mari" sahut kak Eral mengikuti.
__ADS_1
Dokter menjelaskan semua hal mengenai penyakit Pak Tommy. Kak Eral hanya mampu menangis karena tak pernah tau apa yang dialami oleh ayahnya. Kini ia semakin takut akan kehilangan Ayahnya, Dia tidak ingin kehilangan orang tua untuk yang ketiga kalinya.
"Pak Eral mohon bersabar. Ini masih bisa disembuhkan. Jadi tenang saja. Untuk kedepannya mohon bujuk Pak Tommy agar selalu kontrol ke rumah sakit dan menjalani pengobatan sementara." kata Dokter tersebut yang ternyata adalah dokter pribadi Pak Tommy.
"Sementara dok ? memang ayah saya harus diobati lewat apa lagi ?" Kini kak Eral benar benar semakin pusing dan takut.
"Operasi. Satu satunya jalan adalah dengan operasi pergantian jantung atau jantung buatan. Dan operasi ini memang sangat beresiko. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk meraih peluang keberhasilan nya. Mohon kerjasamanya Pak." jelas sang dokter sembari menyalami tangan Eral.
Kak Eral menggapai tangan sang dokter dengan badan yang sudah lemas karena mendengar semuanya. Bagaimana mungkin, dia anak yang paling dekat dengan ayahnya dan ternyata ayahnya mengidap penyakit tetapi dia tidak mengetahui nya. Dia kini merasa bahwa dirinya tidak benar benar dekat dengan sang Ayah. Dia merasa bagaikan seorang karyawan yang bahkan tidak tau kondisi ayahnya sendiri. Kak Eral keluar dari ruangan dokter dan Tante Rena segera menghampirinya.
"Eral, kamu tidak apa apa ?" tanya sang Tante karena melihat Eral berjalan dengan langkah yang berat.
"Tante.." kini Kak Eral mulai terisak dan tertunduk didepan ruang rawat ayahnya.
"Maafkan Tante. Ayah mu melarang Tante memberitahu mengenai penyakitnya. Dia khawatir kalian akan panik dan hanya terpusat untuk memikirkan dia. Padahal Tante tau dia sendiri khawatir dan takut akan penyakitnya. Maafkan Tante Eral." Tante Rena memeluk kak Eral dan mencoba menenangkannya.
.
.
.
.
.
Annyeong **readers ku tersayang š¤ Maaf ya baru sempat up lagi. Semoga kalian tidak bosan nunggu saya untuk up tiap episode di novel saya. Terimakasih yang sudah mendukung karya saya. Semoga semakin baik untuk kedepannya ya kakak.ā„ļø
Author juga mau mengucapkan Minal aidzin walfaidzin, Mohon maaf lahir dan batin. Selamat hari raya idul Fitri bagi yang merayakan. Semoga puasa kita diterima oleh Allah dan dihari lebaran ini dihapuskan dosa dosanya.
Happy readingš
Salam sayang authorš„°**
__ADS_1