3600 detik bersama Ayah

3600 detik bersama Ayah
BAB 7


__ADS_3

Setelah pulang dari kampus, Tifani segera menjalankan motornya ke tempat jualan Mang Ugi. Tukang bakso langganan Kak Eral. Sesampainya di sana Tifani langsung memesan bakso 6 bungkus. 1 bungkus khusus untuk kakak tercintanya dan sisanya untuk teman temannya di base camp.


"Mang Ugi." seru Tifani akrab pada penjual bakso itu


"Eh si eneng. Gimana neng? Mau beli berapa puluh ini? wheheh." candaan Mang Ugi pada Tifani.


"Hehe si Mamang. Pesen 6 bungkus ya Mang. Yang 1 bungkus kayak biasanya pesenan si abang."


"Oalah..siap siap neng. Tidak pakai kol, bawang goreng, mie kecil, sama cuka ya kan?" tebakan Mang Ugi yang sudah pasti benar.


"Yes. thats right. You smart. whehehe" Tifani dan Mang Ugi terkekeh.


******


"Eh Tifani." sapa seorang lelaki yang ternyata adalah Vano.


"Lhoh kamu. Yang dimakam kemarin kan?" tanya Tifani sambil menunjuk Vano.


"Yaelah, dikira hantu kali di makam." candaan Vano sok akrab.


"Eh bukan gitu. maksutnya yang pas ketemu di makam hari itu kan?" pertanyaan Tifani terulang.


"Hehe iya iya. Masih ingat aku kan?" Vano mencoba mencairkan suasana.


"Emm masih deh kayaknya." Tifani menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lhah kok kayaknya si. Hehe"


"Kalau nggak salah kamu Vino kan?" ujar Tifani coba menebak dan mengingat lagi.


"Vino siapa?" Vano kini mulai usil.

__ADS_1


"Kamu lah. Nama kamu Vino kan?" Tifani masih menerka nerka.


"Haha..Aku Vano bukan Vino."


"Masak? Kayaknya kemaren nama kamu Vino deh." Tifani mencoba mengelak.


"Nggak lah, dari dulu nama aku ya Vano."


"Ya deh, aku yang salah. Maaf deh ya." Tifani menggaruk kepalanya lagi.


"Haha nggak papa. Sanss aja kali sama aku." ujarnya akrab.


"Hehe oke."


"Eh kamu ngapain disini?" tanya Vano sembari duduk didepan Tifani.


"Beli bakso." jawabnya singkat


Suasana di tempat jualan itu memang sangat menyenangkan. Pepohonan yang rindang mengayomi tempat itu dan membuat siapa aja betah di sana.


"Neng Fani, ini baksonya" ujar Mang Ugi.


"Eh iya Mang, jadi berapa Mang?" tanya Tifani sembari mengambil uang


"60rb neng." ujar Mang Ugi sembari menghitung.


Tifani memberikan 2 lembar uang 100.000 an pada Mang Ugi. "Ini Mang." sambil menyodorkan uangnya.


"Lhoh kok banyak banget neng, la wong cuma 60rb kok uangnya 200rb." Mang Ugi sebenarnya tak perlu heran karena setiap Tifani membeli bakso pasti uangnya 100rb an dan tidak mau mengambil lagi kembaliannya.


"Udah Mang, ambil aja. Tadi disuruh sama Kak Eral." Tifani menarik tangan Mang Ugi dan memberikan uangnya.

__ADS_1


"Ya Allah neng, semoga Allah membalas segala kebaikan neng ya, setiap hari Mamang dapat uang lebih karena neng beli bakso disini." Mang Ugi berkaca kaca setiap berbicara dengan Tifani.


"Udah lah Mang. Mang Ugi ini udah kayak sodara Fani sendiri. Ya udah ya mang, ini udah tungguin Kak Eral baksonya. Fani pamit dulu." Tifani bersalaman dan memcium tangan Mang Ugi penjual bakso itu.


"Vano yang melihat kejadian itu tiba tiba sangat mengagumi Tifani, Tak disangka wanita yang keliatan nya garang ini mampu membuat hati seseorang kagum dan meleleh.


"Iya udah neng, ati ati ya" Mang Ugi mengelus kepala Tifani. Tifani mengangguk.


"Eh iya, kamu tadi kesini ngapain si. Kalau nggak ada kerja mending beli baksonya Mang Ugi, enak banget. Cobain deh. Aku mau pulang dulu." ujar Tifani pada Vano yang sedari tadi melihat adegannya dengan Mang Ugi.


"Eh nggak ngapa ngapain sih, iya ini aku juga mau pesen kok. Ya kali aku udah ke sini tapi nggak pesen." ucap Vano sedikit gugup


"Oh ya udah deh, aku pulang dulu. Semoga besok ketemu lagi ya." ucapnya yang membuat Vano tertegun.


"Fani pulang dulu ya Mang, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarakatuh. ati ati neng, anak cewek."


"Iya mang."


Tifani melajukan motornya.


"Aden mau pesen berapa porsi?" tanya Mang Ugi yang membubarkan lamunan Vano ke arah Tifani pergi.


"Eh pesen 4 porsi Mang, yang dua jangan pedes"


"Oalah, siyap den, tunggu sebentar ya. Mamang buatkan dulu." Mang Ugi membuatkan pesanan Vano.


'Sebenarnya gimana si Tifani itu. Kok aku makin penasaran sama cewek itu ya. Keliatannya garang, penampilan juga kayak ngeri gitu. Tapi kok buat orang meleleh sama sikap lembutnya ya' Vano berpikir keras ketika melihat sisi lembut Tifani.


Ayo jan lupa like dan comen ya kak🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2