
Aku mau kasih bom episode ni kak🤗 jangan bosen bosen baca yaa..
Happy Reading ♥️
Di kampus Tifani
"Tifani.." panggil seseorang dari kejauhan.
Tifani menoleh dan ternyata Pak Rehan yang memanggilnya. "Oh Pak Rehan, pagi Pak. Ada apa ya pak?"
"Oh iya pagi juga. Tidak ada apa apa. Siang ini kamu senggang?" tanya Pak Rehan ketika sampai di depan Tifani.
"Emm ada apa ya pak?" Tifani mulai bingung dengan dosen nya itu.
"Rencananya saya mau ajak kamu makan siang. Sekalian bahas soal kemarin yang kamu nggak faham itu." Pak Rehan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oalah, soal pembacaan kriteria lewat raut wajah ya pak?"
"Iya benar, gimana bisa nggak?"
__ADS_1
"Emm sebelumnya saya mohon maaf ya pak, soalnya saya udah janji sama kakak saya kalau mau beliin dia bakso terus udah ada janji kumpul sama temen temen." kini Tifani mulai tidak enak dengan dosennya.
"Ohh ya udah tidak apa. Nanti kalau kamu masih kesulitan jangan sungkan tanya saya ya. Saya siap ngajarin." kata Pak Rehan sedikit kecewa namun mengiyakan Tifani.
"Ya sudah pak, saya masuk kelas dulu ya. Soalnya ada tambahan jam. Permisi pak, Assalamualaikum." pamit Tifani sopan.
"Oh iya, semangat. Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarakatuh."
Tifani berjalan meninggalkan dosen tampannya itu. Memang Tifani sedikit merasa kagum dengan dosennya itu. Sayangnya dia tidak tertarik dengan seseorang yang memiliki latar belakang seorang pengajar, entahlah mungkin dia bosan jika harus diceramahi. Pak Rehan masih saja memperhatikan Tifani yabg belum hilang dari pandangan nya. Matanya belum beralih sedikit pun dari sana.
Disisi lain, ada teman Tania yang sengaja mengawasi Tifani di kampus. Dia berada di semester akhir. Dira, teman akrab Tania yang sengaja Tania suruh untuk mengawasi Tifani agar tidak berdekatan dengan pak Rehan. Tania menyukai Pak Rehan, sejak Pak Rehan datang ke rumah keluarga Denatta untuk memberikan tugas kepada Tifani saat dia sedang sakit. Dipertemuan pertama itu, Tania langsung jatuh hati dan bahkan bersikap sok manis pada Tifani. Tifani yang mengetahui hal itu tidak mau ikut campur tangan, dia tidak mau jika harus berhadapan dengan Tania hanya karena masalah lelaki. Dan nyatanya Tifani juga tidak tertarik dengan Pak Rehan. Dia hanya kagum dengan karir dosen muda itu yang sangat hebat.
"Siapa? Pak Rehan? Ngapain mereka ketemu? Terus yang dibicarain apaan?" Tania yang sedang berada di kantin kampusnya beranjak berdiri dan pergi.
"Nggak tau gue. Kayaknya si serius. Tapi setelah itu Tifani langsung pergi si. Gue nggak denger yang mereka bicarain apa soalnya jauh banget dari tempat gue liat."
"Ya udah ya udah. Thanks ya udah kabarin gue. Pokoknya lo awasin terus Tifani. Jangan sampe dia macem macem ama calon suami gue. Kalau ada apa apa langsung kabarin gue. Oke!" ujar Tania sok kepedean bilang Pak Rehan calon suaminya.
"Ya elah elu. Belum juga pacaran udah bilang calon suami. Ngimpi kali ah." jawaban Dira yang sedikit mengejek.
__ADS_1
"Hutss.. udah deh. Yang pasti dia calon suami gue. Inget tugas lo ya."
"Iya iya, siap ibu negara."
"Oke."
Percakapan mereka berakhir. Tania masuk kelas dan Dira juga masuk ke kelasnya. Kebetulan Dira satu kelas dengan Tifani, jadi memang sangat mudah bagi Dira untuk mengawasi Tifani secara langsung.
Di dalam kelas Tifani.
"Oke anak anak. Sorry, karena saya harus memaksa kalian untuk datang pada jam tambahan ini. Because for tomorrow saya tidak bisa hadir, so kalian bisa pulang lebih awal berhubung jam saya besok di jam terakhir. You understand?" ucap seorang dosen Sastra Inggris.
"Yess miss." jawaban serentak dari para mahasiswa.
"Okay, let's start studying today."
Kelas berlangsung dengan lancar hingga jam tambahan itu selesai.
Janga lupa komen ya kak, biar aku tau kurangnya apa.🤗🤗
__ADS_1