3600 detik bersama Ayah

3600 detik bersama Ayah
BAB 3


__ADS_3

Seperti hari hari biasanya. Tifani bersiap untuk pergi kuliah begitu juga Tania. Mereka kuliah di universitas yang berbeda tentunya. Tifani memilih kuliah di universitas negeri yang menurutnya biayanya lebih kurang dibandingkan dengan universitas swasta. Toh Tifani juga anak yang cukup pandai. Dia kuliah di UNNES jurusan psikolog. Sedangkan Tania memilih universitas swasta di UNDIP jurusan hukum. Sedangkan kak Eral sendiri adalah calon pengusaha sukses yang kekayaan nya tak akan habis sampai 11 turunan.


******


"Ayah!! Apa salah Tifani sama ayah sih, sampai ayah nggak pernah mau perhatian sama Tifani. Bahkan saat Tifani sakit, ayah hanya melirik Tifani tanpa menanyakan keadaan Tifani. Sebenernya ayah itu beneran ayah Tifani nggak sih?" teriakan Tifani membuat semua orang rumah kaget dan keluar dari tempat mereka. Tania yang sedang berdandan pun dibuat kaget dengan suara Tifani. Bahkan Kak Eral sedang mandi segera menyelesaikan mandinya dan keluar untuk melihat keadaan di luar kamarnya itu. "Udah cukup ya, ayah diemin Tifani selama ini. Tifani nggak pernah tau salah Tifani bahkan Tifani udah coba buat narik perhatian ayah dan bersikap baik cuman agar ayah mau perhatian sama Tifani. Tifani sengaja hujan hujanan biar sakit dan ayah mau perhatian sama Tifani." sekarang suara tinggi Tifani berubah menjadi suara serak yang diiringi dengan tetesan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.


Tanpa menjawab pertanyaan Tifani, Pak Tommy berpura pura tampak tetap tenang dan melanjutkan sarapan paginya sebelum pergi ke kantor.


"Tania, Eral, segera bersiap dan sarapan. Nanti makannya keburu dingin." ucap Pak Tommy seolah tak melihat Tifani di dekatnya. Hati Tifani makin sakit dengan kelakuan ayahnya itu. Akhirnya dia kembali ke kamarnya melemparkan tasnya dan keluar dari rumah dengan mata sembab, bukan pergi kuliah namun pergi menenangkan diri di tempat biasa dia sering datangi. Makam ibunya.


"Makan dulu jika kamu ingin pergi" perintah Pak Tommy pada anak bungsunya yang baru keluar dari kamar dengan sesenggukan.


Tifani menyunggingkan senyum sinisnya.


"Anda sedang berbicara dengan siapa ?" jawaban Tifani membuat Pak Tommy naik pitam. Namun sayang, sebelum Pak Tommy sempat memarahinya ia sudah masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah gedong itu.


******

__ADS_1


Di makam Ibu Ranti ( ibunya Tifani )


"Assalamualaikum bu, gimana kabar ibu? Maaf kemarin Tifani tidak datang ke sini. Hari ini Tifani akan menemani ibu." Tifani menyentuh makam ibunya dan meneteskan air mata. Tak ada yang lebih membahagiakan kecuali dia bisa bersama ibunya lagi.


"Hai, kau menangis?" tiba tiba suara lembut seorang lelaki terdengar sangat dekat dibelakangnya.


"Memangnya kenapa jika aku menangis, tidak ada larangan untuk menangis di sini." jawab Tifani ketus dengan mengusap air mata nya.


"Oh aku tidak melarang mu menangis, hanya saja bukankah lebih baik jika kamu mendo'akan nya ketimbang menangisinya?"


'Bener juga si ni cowok. Gegara abis berantem apa Ayah jadi lupa deh kasih hadiah buat ibu' batin Tifani.


Tifani menerima nya. "Tifani Ranti Denatta."


"Nama yang indah. Seindah orangnya"


Tifani menunjukkan senyuman khas dirinya ketika Vano memujinya.

__ADS_1


"Oke, boleh aku ikut mendo'akan ibumu ?" tanya kepada Tifani.


"Tentu."


Akhirnya mereka berdo'a bersama di makam ibu Ranti Denatta.


******


Di perusahaan Fila Djaya Prasindo


"Pak Veraldi, ini berkas dari Perusahaan Accurate Sporting Goods Industry. Mereka mengajukan kerja sama dengan kita. Silahkan cek kembali." ucap sang sekretaris sembari memberikan berkasnya.


"Baik, terimakasih."


'Kenapa tiba tiba mereka mengajukan kerja sama, sebenarnya ada apa sih. Udahlah mungkin hanya sekedar bekerja sama' gumam Eral di dalam hatinya. Dia masih bingung dengan keadaan ini.


******

__ADS_1


Hai kak, jangan lupa like dan komen yaa🤗


__ADS_2