3600 detik bersama Ayah

3600 detik bersama Ayah
BAB 4


__ADS_3

Dirumah keluarga Denatta


"Yah, tadi Eral dapat tawaran kerja sama dari perusahaan Accurate Sporting Goods Industry." ucap Eral sembari membuka percakapan dengan Ayahnya di ruang santai keluarganya.


Pak Tommy melotot dan kemudian membalik kan badannya di hadapan Eral "Kamu yakin? Perusahaan dari keluarga Ringgoandi? Kamu bener bener hebat, Eral." puji Pak Tommy sembari menepuk pundak anak lelakinya.


"Memangnya ada apa sih Yah, kok Ayah seneng banget kita dapat kerjasama dari mereka?" kini Eral mulai penasaran dengan sikap ayahnya.


"Ya beruntung saja, mungkin kamu akan dikenal banyak orang."


"Maksutnya yah? ya emang sih bagus untuk perusahaan kita. Soalnya perekonomian mereka emang terkenal hebat si Yah."


"Nah itu tau." Pak Tommy tersenyum puas sembari menyeruput kopinya.


******


Di base camp Tifani


"Fani" teriak salah seorang temannya.


Tifani yang baru datang kemudian segera menghentikan motor KLX nya dan segera menghampiri teman temannya.

__ADS_1


"Hai, ada apa?" jawab Tifani kemudian.


"Beberapa hari ini kok nggak muncul batang idung lo, kemana aja sih lo?" celetuk Mira yang mulai memeluk Tifani melepaskan rasa rindunya. Mereka memang sangat dekat sejak berada di satu geng dengan Tifani. Tifani merasa hanya Mira lah yang mampu membuatnya tenang ketika sedang bermasalah dengan ayahnya.


"Cie kangen gue kan lo" goda Tifani pada Mira.


"Ya jelas lah, disini gue bosen tauk, liat para batang pada ngrokok ama main kartu. Nah gue, sekalinya ikut main kartu si Arza malah ngancem gue mau dilaporin ke elo. Kan ngeselin banget Fan." kini Mira memonyongkan bibirnya seperti bebek.


"Udah udah, bibir udang monyong jangan dimonyong monyongin" tawa teman teman Tifani pun meledak setelah beberapa hari tidak mendengar lawakan Tifani. Semua teman Tifani di base camp tau tentang masalah keluarga Tifani, hanya saja mereka tak ingin menanyakan hal tersebut karena tidak tega melihat Tifani harus mengingat. Mereka juga ingat ketika Tifani menceritakan masalahnya dan berkata bahwa hanya merekalah yang mampu Tifani andalkan untuk menghibur diri ketika datang ke base camp.


"Kalian ini bukannya ngaji malah pada main kartu" Tifani mulai berbicara dengan teman temannya.


"Udah Fan, tadi Arza yang ngajarin kita ngaji" jawab Riko.


"Beneran Ar, udah pada solat ?" Tifani bertanya pada Arza karena memang hanya Arza yang ia percaya untuk mengurus teman temannya.


"Udah kok Fan, makanya kita nyantai disini. Si monyong juga udah solat tadi. Ngajinya juga udah lumayan" Arza melirik Mira yang masih memonyongkan bibirnya.


"Si monyong?" kini Tifani bingung dan seketika menoleh pada Mira. Tawanya pun lepas ketika Mira makin cemberut. "Maksud lo Mira? Whahaha, dikatain monyong. Hahha."


"Ih Fani, apaan sih. Kan tadi mau gue suruh belain gue, kok malah gue yang kena bully lagi."

__ADS_1


" Udah udah udah, perut gue sakit. Maaf Mir, ini ni gue bawain makanan ama cemilan. Bagi gih ama yang laen." Tifani menyodorkan kresek besar penuh dengan makanan.


"Wahh makasih Bu Ustadzah, kita makan dulu ya" ucap Mira kegirangan.


"Ada makanan baru deh lo baik" Tifani geleng geleng melihat kelakuan teman temannya.


Mira kemudian menumpahkan kresek itu ke meja dan berteriak teriak layaknya anak kecil minta susu.


"Woyy batang, mau kagak? Gue punya cemilan dari Fani nih"


Teman temannya yang berada di sudut ruangan dengan cepat meletakkan kartu mereka dan berlari dengan jurus seribu bayangan ke arah Mira. " Eh boncel, bagi dong. Gue ambil snack ini ye." Gerald yang biasanya paling pendiam kini angkat bicara karena makanan kesukaannya datang.


"Ambil aja lah, kan emang ini makanan kesukaan kita masing masing. Kayak kagak tau Fani aja."


"Teh Fani makasih ya" nada imut Varo ke Fani membuat teman temannya jijik seketika.


"Lo pikir gue teh anget, wkwk."


Mereka disana melepas semua masalah. Di base camp inilah saksi persahabatan mereka. Tifani, Mira, Arza, Riko, Gerald dan Varo.


Hai readers, jangan lupa kasih jempol dan komennya.

__ADS_1


Salam dari saya♥️


__ADS_2