3600 detik bersama Ayah

3600 detik bersama Ayah
BAB 17


__ADS_3

Di base camp


"Udah terima nasib aja. Bagus kan bisa kerja dirumah sakit. Itu juga kan impian lo dari dulu." ucap Varo yang tak seperti biasanya. Mira malas berbuat apapun dan memilih untuk tidak meladeni Varo. Dia berjalan kedepan televisi dan menyalakannya. Namun anehnya dia masih melamun tak karuan. Teman temannya, termasuk Tifani tidak ingin tambah merusak suasana hati Mira saat ini.


(FLASHBACK ON)


3 jam lalu di Perusahaan Accurate Sporting Goods Industry.


"Oh ya Pak Vano, Anda belum menyebutkan pekerjaan Mira." Tifani mengajukan pertanyaan pada Vano mewakili Mira yang masih deg deg an.


"Iya, Mira kamu akan bekerja disini." ucap Vano sembari menunjuk sebuah gambar di brosur. Semuanya melihat dan penasaran apa pekerjaan untuk Mira.


"Medical Artho Barwa?" gumam Arza.


"Medical Artho Barwa? Dia akan bekerja dirumah sakit?" teriak Gerald spontan yang kemudian membekap mulutnya sendiri. Mira sangat senang setelah tau ia akan bekerja di tempat impiannya. Rumah sakit. Apalagi ini adalah rumah sakit kelurga Ringgoandi. Semua teman temannya bertepuk tangan. Namun rasa senangnya berubah ketika mendengar penjelasan dari Vano.


"Iya. Kamu akan bekerja di RS MAB. Maaf karna saya tidak bisa memberikan kamu tempat disini. Sebenarnya saya ingin menjadikan kamu kepala perawat di perusahaan. Tapi berhubung Bu Nadin (kepala perawat perusahaan yang lama) tidak jadi mengundurkan diri, jadi saya tidak bisa merekrut kamu. Kamu tidak keberatan Mira?" tanya Vano dengan sopan.


"Ah tentu saja tidak Pak. Saya sangat berterima kasih." jawab Mira dengan mata yang berkaca kaca.


"Baiklah. Untuk kalian interview hari ini sudah selesai. Dan Mira kamu harus interview sendiri dengan CEO Rumah Sakit tempat kamu bekerja nanti." jelas Vano yang membuat Mira penasaran dengan sosok CEO sukses bergelar profesor muda di Rumah Sakit terkenal itu. "Ini orangnya. Silahkan berkenalan. Semoga kalian bisa akrab dan saling membantu satu sama lain." lanjut Vano sambil menunjuk pada Bara. Seketika itu pula Mira lemas dan teman temannya kaget bukan kepalang.


"Dia bosku? Si kasar ini? Belagu dan sombong? Gila apa? Bisa mati berdiri gue kalo kayak gini." gumam Mira dalam hati.


"Bara perkenalan nama kamu dengan sopan." perintah Vano, sang kakak.


Bara berdiri dan membuka kancing jasnya lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


"Ya. Saya Bara Walando Ringgoandi. Adik dari Vano Ringgoandi. Saya CEO di Rumah Sakit MAB. Dan saya sangat tidak suka dengan orang yang lamban, telat dan banyak bicara dalam bekerja. Saya perlu bukti kerja yang nyata dan tidak akan segan segan menghancurkan orang yang berurusan dengan saya." Dan seketika itu ruangan menjadi hening. Kini perasaan Mira campur aduk. Dia bahkan ingin pingsan. Ditengah ketegangan itu, Vano berdehem dan membuat suasana kembali seperti semula.


"Baiklah. Kalian bisa pulang sekarang. Nanti saya dan Bara akan mengirim dokumennya lewat bawahan kami." kata Vano melanjutkan.


"Ini. Pegang ini dan simpan nomer saya. Jangan menghubungi saya kecuali ada keperluan yang mendesak dan penting. Pinta Bara pada Mira sembari memberikan secarik kertas. Mira menerimanya dengan keadaan tangan gemetar dan menunduk kan kepalanya.

__ADS_1


(FLASHBACK OFF)


Kembali ke base camp


"Bisa gila gue dapat boss kayak gitu." gumam Mora sendirian sambil menjambak rambutnya sendiri. Teman temannya hanya memperhatikan dari ruang santai dan menggelengkan kepala.


"Kasian banget si boncel. Ya Allah lindungilah boncel kami dari bos jahanam itu..." do'a Varo yang kemudian diaminkan oleh teman temannya


"Aamiin"


Setelah lama di base camp akhirnya Tifani pamit untuk pulang.


'Skip dijalan'


Di rumah keluarga Denatta


Assalamu'alaikum" suara Tifani dari luar rumah yang membuat Bi Icu kaget.


"Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarakatuh, Astagfirullah anak gadis teriak teriak lho Non." sahut Bi Icu menghampiri Tifani.


"Babatnya nggak ada Non. Nasi goreng ayam aja ya.." kata Bi Icu memberi pengertian.


"Yahh. ya udah deh Bi. Fani mau bersih bersih dulu."


"Iya sudah sana."


Fani berlari ke kamar dan segera mandi. Dia melakukannya dengan cepat karena sangat lapar dan ingin segera makan. Bi Icu pun dengan cepat memasak untuk Tifani.


'Skip makan'


"Orang rumah pada kemana Bi? Kok kayaknya sepi. Bukannya Tania gak kuliah ya?" tanya Tifani pada Bi Icu.


"Oh iya Non. Non Tania pergi sama teman nya katanya mau shop apa itu lo, pokok nya ke swalayan gitu." jawab Bi Icu dengan lucunya.

__ADS_1


"Oh shopping?" sahut Tifani dengan tertawa.


"Oh iya itu Non maksut bibi. Terus Den Eral tadi pamit mau ke perusahaan sama mau ke rumah sakit." kata Bi Icu. Sontak Tifani kaget dan menghentikan makannya.


"Kak Eral kenapa Bi? Dia sakit apa? Rumah sakit mana?" tanyanya beruntun pada Bi Icu. Bi Icu malah ikut panik karena Tifani.


"Sek to Non. Wong Bibi belum selesai kok. Den Eral mau jenguk cewek yang ndak sengaja ditabrak dijalan. Kata Den Eral orangnya ndak papa, cuman kaget gitu lho Non." lanjut Bi Icu.


Tifani menghembuskan nafas lega dan melanjutkan makannya. "Iya udah Bi. Maafin Tifani. Hehe" jawab Tifani sambil nyengir.


"Ihh kalo orang tua ngomong itu didengerin dulu. Wong wadon kok brangasan iki opo to nduk nduk." gumam Bi Icu meninggalkan Tifani di meja makan dan kembali ke dapur.


"Ngomong apa sih Bi. Kok bawa bawa Bang Hasan. Siapa juga itu." jawab Tifani dengan gumaman juga karena dia tidak mengerti bahasa Jawa. Tifani melanjutkan makan dan bersantai dikamarnya.


.


.


.


.


.


.


Hallo ha readers, maafkan author. Author benar benar minta maaf ya. Karena minggu minggu lalu tidak pernah up satu episode sama sekali. Nah sekarang author udah Up nih. Jangan lupa like, komen dan vote nya ya kak.


.


.


.

__ADS_1


Salam author ✨


__ADS_2