
Di malam yang gelap dan dingin dengan ditemani suara kicauan burung malam yang terdengar. Seorang laki-laki muda berjalan di gelap nya malam, lelaki itu berumur dua puluh tahun yang masih sangat muda dan pastinya tampan. Dia berjalan dengan sempoyongan dan tertatih-tatih, perutnya merasa ada goncangan hebat gara gara lapar, sebab ia tidak ada makan dari siang tadi. Nama cowok itu adalah Arkha Ichiro hidoyoshi dari blasteran Jepang. Kulitnya tampak putih susu, hidung mancung dan matanya agak sipit layaknya orang Jepang pada umumnya. Namun, ada sedikit lecet di bagian alis sebelah kirinya, seperti goresan memanjang dan meninggalkan bekas luka dari atas alis sampai bawah mata, tapi untung tidak mencederai mata pemuda itu. Bekas luka itu malah menambahkan ketampanan Arkha dengan gaya seperti itu.
Arkha terus berjalan menelusuri jalan itu dengan tatapan kosong ditambah dengan dinginnya malam, ia merapat kan tudung Hoodie yang melekat di kepalanya.
Tanpa disengaja nya atau pula disenyaja orang itu untuk menabraknya.
Brukkk!
Arkha terjatuh di atas linangan air yang keruh dan juga kotor. Muncratan air itu mengenai baju si penabrak Arkha tadi, sehingga ia marah besar pada Arkha yang telah menyebabkan baju nya menjadi kotor.
" Heyyy!! Apa kau liat baju devisi ku jadi kotor!" Bentaknya sambil menyombongkan diri,
Padahal baru diterima oleh atasannya menjadi devisi menejer sudah berani menyombongkan diri, tapi itulah kenyataannya.
"Siapa kau?" Tanya arkha dingin sembari berdiri lagi walau Hoodie nya juga kotor.
"Heyy!! Kau tak perlu tahu aku siapa? Yang harus kau dengarkan dan ingat selalu, bayar dan ganti rugi secepatnya baju kotorku dengan yang baru! Ini semua kotor karena mu !!" Bentak paman itu geram.
"Siapa nama mu?" Tanya arkha lagi.
Paman itu semakin marah, anak itu tak peduli padanya bahkan mendengarkan nya pun tidak. Dengan hati yang panas ia menarik kerah Hoodie Arkha yang ia gunakan.
Plak…. Satu tamparan mendarat di pipi mulus milik Arkha yang menyebabkan pipinya menjadi memerah bekas tamparan paman itu.
"Apa kau tidak dengar apa yang aku katakan hah?! Kau malah bertanya tentang nama ku, kau memang anak yang tak terdidik! Kau bajingan yang idiot!!" Hardiknya dengan marah api menyala nyala di hatinya membakar kata kasihan.
"Dan sekarang kau berani memukul seoarang pembunuh kejam!" Kata arkha yang masih dingin sembari mengelus pipinya.
Senyuman iblisnya mengambang di wajahnya, membuat si paman itu terkejut dan bergerigidik ngeri melihat senyuman Arkha yang seolah olah akan memangsa nya.
"Heh apa maksudmu?!" Tanya paman itu tak mengerti tapi dalam suara yang membentaknya.
Arkha berjalan mendekati paman itu. Membuat sang paman itu ketakutan sehingga ia mundur beberapa langkah dari Arkha.
"Kenapa kau mundur? Ataukah kau takut padaku? Oh.. bukan. kau takut pada pembunuh kejam! Heh," Ucap Arkha datar tapi diantara katanya itu mengandung sindiran pada paman itu.
__ADS_1
"Aku memang anak yang tidak terdidik. Ayah dan ibuku tidak ada. tolong dimaklumi!" Seriangai Arkha kembali muncul di balik tudung Hoodie nya itu. Entah kenapa ia merasa senang jika ia ingin membunuh manusia yang sudah menyakitinya, jadinya ia tidak merasa kasian lagi terhadap paman tersebut.
Arkha terus maju ke depan dengan sorot mata tajam menatap paman itu yang sedang ketakutan. Kini, paman itu tidak bisa berkutik lagi, ia sudah tidak bisa kemana mana lagi, dibelakangnya sudah ada tembok pembatasan yang menghalangi langkah si paman itu. Badannya bergetar, keringat dingin membasahi tubuh si paman itu.
Arkha bertunduk, ia mengambil sebuah pisau di Sepatu boots nya, lalu memainkannya menggunakan jari tangannya. Dan kembali menatap si paman yang sedang terpojok itu.
Tubuh paman itu tidak bisa bergerak saking ketakutannya. Ia hanya bisa pasrah dengan keadaannya sekarang ini yang sedang di buru pembunuh kejam berhati dingin.
"A-apa yang i-ingin kau lakukan…" ucap paman itu terbata bata akibat bibir yang bergetar.
"Apa yang kulakukan? Heh, sudah jelas ingin membunuh mu!"
Deg... jantung si paman itu seketika tidak berdetak lagi. Ia benar benar menyesali perbuatannya itu. Kini, ia hanya bisa pasrah pada Tuhan.
Sleppp... sebuah tusukan mengenai perut si paman itu, seketika darah segar mengalir, warna merah pekat itu terus mengalir di area bekas tusukan Arkha yang membuat paman itu meringis kesakitan, lalu jatuh tersungkur di tanah sambil memegangi lukanya itu.
Senyuman puas selalu diambangkan Arkha di balik tudung Hoodie nya itu.
Arkha kembali mendekati paman itu yang sedang kesakitan menahan perihnya tusukan pisau. Arkha kemudian bertanya lagi yang ketiga kalinya, tapi sekarang langsung dijawab oleh paman tersebut.
"Na…. Nama…. Ku Gibran, tolong jangan sakiti saya, saya baru masuk di divisi manajer jadi tolong jangan bunuh saya dan saya juga mempunyai istri dan anak yang harus saya nafkahi" jelas paman itu yang bernama Gibran. Berbelas kasihan pada pembunuh? Oh, tentu bukan jalan keluarnya, itu tidak akan pernah dikabulkan seorang psycopat seperti Arkha.
Tanpa diinsyafi Arkha lagi ia kembali menusuk paman itu dengan satu tusukan lagi tepat di jantungnya yang membuat si paman yang bernama Gibran itu harus melepaskan nyawanya di tangan Arkha.
" Aghh!!!"
Senyuman puas itu ambang kan di bibirnya yang sedikit tebal itu menghiasi wajah indahnya, Arkha. Malam ini, Arkha tidak terlalu bernafsu menyiksa korbannya, biasanya Arkha selalu menyiksanya terlebih dahulu sebelum ia membunuhnya.
Sedikit ditorehkan Arkha di kepala Gibran dengan ukiran khasnya yaitu depan namanya dan juga depan nama orang yang dibunuhnya dan akhirnya jadi torehan AG di kepala Gibran dengan sedikit menciri kan bahwa dialah yang sudah membunuhnya.
"Ck, ajalmu sudah sampai!" ucap Arkha pada gibran yang telah tewas ditangannya.
Arkha kembali berjalan menelusuri trotoar yang agak sepi ini dengan tatapan kosong kedepan. Jalanan yang dilewati Arkha ini sepi dan sunyi sekali tidak banyak bangunan di sana.
"Tolong! Lepaskan aku! Jangan!"
__ADS_1
Tiba-tiba Arkha mendengar seseorang yang baru saja berteriak.
Arkha menoleh ke sumber suara. Sumber suara itu berasal dari rumah kosong. Cowok itu sedikit penasaran dengan keadaan didalam rumah kosong itu. Kemudian, ia mendekati rumah kosong itu.
Di ruangan itu tidak ada penerangan disana, semuanya gelap gulita dan tidak ada sesuatu yang mencurigakan disana. Saat Arkha ingin keluar dari rumah kosong itu terdengar sesuatu yang aneh di antara sudut ruangan itu.
"@#*@#"
Suaranya terdengar aneh tapi, dengan adanya suara itu mampu si cowok itu berdiam di ambang pintu. Rasa penasarannya semakin menjadi jadi ketika sebuah kata terdengar lagi.
"Hey! Kau tolong aku! Aku…"
Suara itu hilang lagi seperti dibungkam seseorang. Arkha yakin ada sesuatu yang tidak beres di rungan ini. Cowok itu pun mencari stop kontak untuk menghidupkan lampu, barangkali listrik nya masih bisa dipakai.
Click… Arkha menekan tombol stop kontak. Seketika saja ruangan yang tadinya gelap menjadi terang kembali. Cowok itu memutar badannya melirik ke belakang. Benar saja dugaan Arkha, disana ada seorang gadis yang sedang di ikat di kursi dan mulutnya di bungkam dengan telapak tangan seorang preman.
Tentu saja hal yang dilakukan Arkha membuat marah para gangster itu yang sengaja mematikan lampu dan bersembunyi di pojokan ruangan itu agar tidak di ketahui Arkha. Tapi kini, Arkha sudah mengetahuinya dengan jelas.
"Sialan, bocah ini" gerutu salah satu dari para gangster itu.
"Kau sungguh berani anak muda!" Kata seorang gangster yang bisa dikatakan boss gangster dari yang lainya, umurnya sekitaran tiga puluhan ke atas tapi masih terlihat muda.
Arkha mendelik ke boss gangster itu. Ia tidak menghiraukan ucapan para gangster tadi.
"Apa nyawamu ada sembilan? Jadi kau berani sekali masuk ke markas kami!" Tanya salah satu anak buah gangster itu sedikit mengejek keberanian Arkha.
"Nyawaku ada sepuluh" jawab Arkha enteng. "Jadi tolong lepaskan gadis itu" tunjuk Arkha pada gadis yang sedang di sekap itu.
"Kau! Kau berani sekali dasar bocah!!" Teriak anak buah gangster itu dan langsung berlari ke arah Arkha ingin memberi Arkha sedikit pelajaran.
Arkha tidak tidak bergeming. Ia masih diam di tempat dengan santainya ia menghindari pukulan anak buah preman itu.
Bruk!
Arkha berhasil membuat anak buah gangster itu terbanting kebelakang dengan kepala yang membentur tembok.
__ADS_1
Semua tercengang melihat Arkha dan anak buah gangster itu. Bisa bisa bocah tengik itu berhasil mengalahkan anak buahnya.
Boss gangster itu bangkit dari duduknya. "Kenapa kalian semua diam?! Cepat serang bocah tengik itu!!" Serunya dengan marah.