A Psycopath Loves You

A Psycopath Loves You
03. Kehidupan baru


__ADS_3

Sesampainya di sebuah rumah yang nampak besar tetapi sangat berantakan karena tidak terurus. Cowok itu membuka pintu rumah itu yang sudah sangat berdebu namun tetap kokoh.


Klik!


Arkha menyalakan lampu. Terlihat seisi ruangan itu penuh debu dan berantakan. Arkha tidak mengurusnya, ia berjalan masuk ke dalam sebuah kamar yang akan dijadikan nya tempat tidur.


Huft! Arkha membuang nafas kasar. Bagaimana tidak? Rumah yang akan Arkha tempati tidak ada satupun barang yang bisa dipakai, seperti halnya kasur itu, sudah terlalu berdebu dan ranjang yang sudah terlalu tua menurut Arkha. Jika saja ia ada waktu, ia pasti akan memilih apartemen, daripada harus tinggal dirumah ini.


Drezz.. drezz…


Arkha mengambil handphonenya di saku celana belakangnya. Di layar ponsel cowok itu tertera nama sahabatnya.


"Arkha. Apa kamu sudah sampai?" Tanyanya di seberang telpon. "Lebih baik kamu tinggal di apartemen saja, Arkha. Soalnya rumah itu sudah…"


"Terlambat!" Arkha memutuskan sambungan secara sepihak.


Huft... Sekali Arkha kembali membuang nafas kasar. Bagaimana lagi ia sudah sejauh ini berjalan untuk sampai ke rumah ini. Nyatanya rumah ini sudah tidak bisa dipakai lagi, jika Arkha kembali kekota untuk menyewa apartemen, itu sudah terlambat hari sudah semakin larut dan badan Arkha sangat terasa remuk. Terpaksa Arkha harus tidur disini dahulu, demi melepaskan lelah.


Pagi harinya. Arkha tidak terbangun dari tidur lelapnya. Beberapa saat kemudian barulah ia mengerjapkan matanya. Ia terbangun dan segera bangkit, lalu mengibaskan debu yang menempel di jaket Hoodie nya. Lalu, berjalan beberapa langkah ke arah jendela dan menghirup udara segar tanpa polusi. Matanya terpejam seakan akan menikmati keadaan. Walaupun di dasar lubuk hati yang paling dalam ia dirundung kesepian dan kesedihan.


Matanya terbuka. Tapi tatapannya tetap kosong seakan ia hanya melihat kegelapan. Huh… ini sudah yang beberapa kali ia membuang napasnya menetralkan kemarahan dan kesedihan yang ia rasakan saat ini.


Niat Arkha berada di kota crossover, kota di tempati Arkha sekarang di negara X. Dan mencari dalang dari kematian keluarganya. Arkha hanya ingin balas dendam atas kematian keluarganya. Keluarganya dibunuh, harta kekayaan yang dimiliki keluarga Arkha diambilnya begitu saja. Beruntung Arkha saat itu sedang tidak ada di kejadian pembunuhan. Ia saat itu berada di rumah sahabatnya, Sheza. Arkha baru usia tujuh tahun harus kehilangan keluarganya yang ia sayangi. Rasa dendam selama ini ia pendam harus terbalas, bagaimana pun cara nya.


Huhf… sekali lagi Arkha membuang nafas kasar. Ia kemudian pergi ke kota mencari tempat yang layak ia tinggali.


Sesampainya di kota. Arkha melihat orang yang sedang bergerombolan, karna penasaran Arkha menghampirinya. Ternyata orang orang tersebut sedang melihat acara televisi yang dimana di temukan seorang pria dengan dua luka tusuk yang menyebabkan ia harus kehilangan nyawanya.


Arkha menghela napas panjang lalu tersenyum miring, entah kenapa ia merasakan sensasi lain dan ingin meneror kota ini. Hingga akhirnya lamunannya terhenti ketika ia mendengar orang yang sedang berbisik-bisik.


"Ishh.. ngerti banget ya. Ternyata di kota kita ada seorang pembunuh"


"Katanya pembunuh itu berinisial AG kan. Idih.. kita harus berhati hati mulai dari sekarang. Jangan keluar malam malam lagi"


Bisikan bisikan terdengar dimana mana membicarakan tentang pembunuhan itu. "Aku tidak akan membunuh kalian jika kalian tidak memulainya" gumam Arkha sembari berjalan.


Arkha tidak ingin membunuh jika orang itu yang tidak memprovokasi nya duluan. Sebenarnya jika ia sudah membalas dendam atas kematian orang tuanya, ia tidak ingin lagi membunuh. Arkha akan memulai kehidupan barunya tanpa membunuh orang lagi.


"Hey! Kau yang kemarin kan?" Tanya seorang lelaki menghampiri Arkha. Bagaimana lelaki itu tidak mengenal Arkha, Arkha saja masih memakai pakaian kemarin.

__ADS_1


Arkha menoleh kearah lelaki itu, " ya" jawab Arkha singkat.


"Terimakasih untuk malam itu" kata lelaki itu.


"Aku Herdy" ucap lelaki itu memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangan.


"Arkha" jawab Arkha tanpa membalas uluran tangan lelaki yang bernama Herdy, Arkha malahan pergi menjauh.


Herdy menarik kembali tangannya, "kau mau kemana? Aku bisa membantumu" tawar Herdy.


Arkha berhenti lalu, menoleh kearah Herdy, ada sedikit kerutan di wajah tampan Arkha. Seakan akan bertanya 'membantu pakai apa? Kau saja berjalan kaki tidak pakai motor atau mobil'.


"Aku akan mengambil motorku dulu di parkiran" ucap Herdy mengerti maksud kerutan di wajah tampan Arkha.


Herdy segera berlari ke arah sebuah bangunan tinggi, beberapa saat kemudian keluarlah Herdy dengan motor besar berwarna hitam yang sangat keren. "Ayo naik aku akan mengantarmu kemana pun kau pergi, sebagai tanda terima kasihku. Lagian aku tidak ada pekerjaan hari ini" jelas Herdy seraya menyerahkan helm ke Arkha.


Arkha menerima helm itu, ia memang membutuhkan bantuan alat transportasi yang bisa membawanya kemana mana. Arkha segera naik ke atas motor besar berwarna hitam itu, lalu motor itu meleset di jalan raya yang padat akan transportasi lainnya.


Sesampainya di toko sepeda motor. Memang ini yang ingin dikunjungi oleh Arkha. Herdy memarkirkan motornya, sedangkan Arkha masuk kedalam toko itu.


Melihat kedatangan Arkha yang mirip anak berandalan para pelayan toko itu pun tidak ada satupun yang berani melayani Arkha. Padahal Arkha hanya memakai baju Hoodie hitam selutut dan dalaman kaos hitam, sedangkan celananya hanya jeans hitam dengan sedikit robekan di lututnya, padahal terlihat sangat tampan dan cool.


Salah satu pelayan mendekati Arkha dengan lirikan sinis. "Mau beli apa? Maaf jika tidak keberatan lebih baik kamu cari diluar saja, kebetulan kami menyediakan jasa cicilan. Haha" katanya nya cetus sekaligus mengejek.


"Hah.." pelayan itu ternganga lebar mendengar jawaban Arkha. Bagaimana mungkin seorang cowok berandalan ini menginginkan motor terbaru yang sangat mahal itu, apalagi motor itu hanya beberapa orang yang bisa membeli di negara X.


"Apa kau sanggup membelinya. Cih.. bahkan seorang tuan Angkarya saja tidak mau membeli motor yang sangat mahal itu, ia hanya membeli mobil Lamborghini untuk anaknya. Dan kau seorang berandalan menginginkan motor itu. CK, apa kamu mempunyai uang untuk itu" ucap pelayan itu menghina.


Arkha mendelik pelayan itu lalu, tersenyum miring. Ia ingin sekali membunuh pelayan itu disini tetapi ia urungkan karna ia tidak mau berakhir begitu saja sebelum ia balas dendam, "ku pastikan kau akan mati!" Batinnya berdecak seraya mengepalkan tangannya.


Herdy baru saja menghampiri Arkha, "hey kau! Apa kau tidak mendengar apa katanya?! Cepat beritahu kami dimana motor itu. Jangan seenaknya merendahkan!!" teriak Herdy marah, ia tidak terima jika Arkha diniha seorang pelayan rendahan seperti perempuan itu.


"Ck ck. Dia sama saja seperti anak berandalan itu. Tapi apa dia sanggup membeli itu?" Ejeknya lagi.


"Lagi lagi kau menghinanya! Kamu bekerja disini sebagai pelayanan yang melayani pelanggan bukan menghina pelanggan!" Herdy benar benar marah atas perlakuan pelayan itu.


"Kamu benar, aku pelayan. Tapi hanya melayani pelanggan yang mampu membelinya. Haha, dia itu tak sanggup membelinya, dia itu hanya beromong kosong! Yang ada hanya mempermalukanku nantinya!"


Seorang pria dewasa memakai stelan jas rapi masuk kedalam toko tersebut. Pelayan perempuan itu geleng geleng kepala lalu pergi sambil berdecak.

__ADS_1


"Pak mau beli apa?" Tanya pelayan perempuan itu dengan ramah sembari menghampirinya.


Wajah Arkha merah padam. Darahnya mendidih meluap meluap, ia semakin geram dengan pelayan itu. Sorot matanya tajam menatap gerak gerik pelayan perempuan itu.


"Heh, ternyata dia hanya melayani orang yang terlihat kaya saja. Baiklah aku akan ikut dalam permainan membosankan seperti ini" Arkha tersenyum sinis menatap pelayan perempuan itu.


"Hey, kau manajer disini kan, cepat beritahu kami! Kami tidak banyak waktu" seru Herdy pada orang berjas hitam kebetulan lewat.


Orang berjas itu berhenti dan menoleh. "Apa yang bisa aku bantu?" Tanyanya ramah padahal dalam hatinya sangat jengkel.


"Baik, ikuti aku" kata manajer toko itu.


Pelayan perempuan itu mendekat lalu, berbisik di telinga manajer. "Pak! Bisakah anda mempertimbangkannya? Coba lihat kedua orang itu dulu. Dia tidak mungkin bisa membeli motor itu pak. Aku takutnya dia menodong anda ketika anda disana sendiri, orang itu tidak baik, pak. Mungkin mereka preman!"


Walaupun pelayan perempuan itu berbisik tetapi bisikan nya terdengar Arkha. Arkha tersenyum sinis lalu merogoh sakunya mengeluarkan kartu hitam premium tanpa batas. Seketika saja mata pelayan perempuan itu membulat melihat kartu di tangan Arkha.


"Aku akan membelinya menggunakan ini. Jadi kau tidak usah khawatir tentang aku tidak bisa bayar, bahkan aku bisa membeli negara ini. Kau paham!" Arkha tersenyum sinis pada pelayan yang menganga dan membulatkan matanya.


Tak hanya pelayan perempuan itu yang terkejut tetapi Herdy di sebelah Arkha saja sama terkejut nya, ia tak menyangka cowok yang lebih muda darinya mempunyai kartu hitam premium tanpa batas itu.


"Bisa. Mari ikut saya ke atas, motor itu ada di sana" jelas manajer itu.


Arkha dan Herdy pun mengikuti arahan manajer itu hingga sampai di atas. Sedangkan pelayan perempuan tadi, ia masih saja ternganga apalagi ketika ia mengingat telah memperlakukan cowok itu sangat tidak baik.


"Aku membuat kesalahan besar"


Disana banyak berbagai variasi motor motor keren dan semuanya bercap glod yang artinya memiliki jumlah terbatas dan harganya pun tak ternilai. Tetapi yang dipilih Arkha hanya motor berwarna hitam dan disisi motor itu berwarna merah yang sangat diinginkan Arkha.


"Wahhh… keren sekali. Akhirnya aku bisa melihatnya yang asli. Terimakasih, Yah..." gumam Arkha berbinar-binar, tetapi ada sedikit muram diraut wajahnya.


Gumaman Arkha ternyata terdengar Herdy. "Apa kau sangat menginginkannya?" Tanyanya.


"Ya. Dari dulu" jawab Arkha singkat.


Entah kenapa Herdy teringat akan adiknya dulu. Adiknya sangat menginginkan motor besar berwarna hitam dan disisi nya berwarna merah, Herdy pernah melihat di buku gambar adiknya yang menggambar motor persis seperti motor yang dibeli Arkha. Herdy menghela nafas panjang, tidak seharusnya ia mengingat adiknya yang sudah meninggalkannya bersama kedua orang tuanya.


"Padahal aku sudah berjanji akan membelikanmu motor itu. Tetapi aku tidak menepati janji itu" gumam Herdy.


Arkha terlihat sangat senang membeli motor itu, sampai di halaman ia langsung menungganginya dan menjalankannya.

__ADS_1


"Sampai jumpa lagi jangan lupa mampir ke sini. Tuan Arkha!" seru manajer pada Arkha yang menjauh. Kemudian manajer itu masuk kedalam tokonya.


...Jangan lupa tinggalkan jejak seperti like komen dan vote ya 🤗...


__ADS_2