A Psycopath Loves You

A Psycopath Loves You
19. Terima atau tolak?


__ADS_3

Motor besar itu melaju di jalan beraspal, berlenggang tanpa ada yang menghalangi jalannya. Arkha tersenyum miring berhasil lolos dari kejaran para polisi menyebalkan itu.


Pada saat tadi. Setelah mobil Arkha berbelok dan menghampiri Passa yang sedang memakai motornya. Mereka bertukar posisi, Passa yang melanjutkan perjalannya dan Arkha yang memakai motor tersebut lalu berbelok untuk mengantarkan Sheza. Jadi, kedua polisi bodoh itu telah tertipu oleh taktik kecil Arka.


"Arkhaaaa berhenti!!! Huhuhu… kamu membuatku takutt…" teriak Sheza seraya mengeratkan pegangannya di pinggang Arkha.


Astaga! Bahkan Arkha lupa dengan keberadaan gadis di belakang ini saking senangnya. Arkha memperlambat laju motornya.


Sesampainya di kampus Baleon, Arkha memberhentikan motornya. Sheza segera turun. Untung saja ia memakai jelana panjang, kalau tidak bagaimana ia bisa naik di motor besar itu.


"Lain kali kau tidak usah mengantarku pakai motor itu. Lebih baik aku naik bis saja" sungut Sheza sambil melangkah terhuyung-huyung. Sementara Arkha hanya terkekeh dan kembali pergi.


Bertepatan dengan Arkha menyalakan motornya dan berpaling pergi, sebuah mobil putih memasuki halaman kampus tersebut. Shakira yang duduk dibelakang tak sengaja melirik ke sebelahnya dan seketika matanya membulat melihat seorang cowok tampan dan juga motor kerennya itu.


"Arkha!" Teriak Shakira dari dalam mobil. Dan tentu saja suaranya tidak terdengar oleh Arkha.


Setelah mobil itu berhenti. Shakira segera turun menatap motor Arkha yang sudah menjauh dari kampus tersebut. Hati Shakira sangat sedih, padahal niatnya hanya ingin mengembalikan mantel cowok itu saja.


Shakira kembali melangkah pergi masuk ke dalam kampus tersebut. Ia sempat berpikir untuk apa Arkha kemari. Namun, ketika ia ingat dengan gadis kemarin itu. Ia barulah paham, bahwa hubungan mereka ternyata sangat dekat dan itu tidak bisa memungkinkan ia untuk masuk ke kehidupan Arkha lebih jauh.


"Aku ternyata memang tidak bisa seperti yang lainnya. Bahkan, aku juga tidak bisa lepas dari perjodohan itu. Apa lebih baik aku menerima perjodohan itu saja?" Gumam Shakira sambil melangkah pelan.


"Sha! Kok, kamu diantar pak Egi? Tumben sekali, biasanya tuh nggak. Dan lagi kenapa kemarin malam kamu tidak datang, apa kamu tahu aku dan Valda mencemaskanmu? Kamu ada masalah ya, Sha? Ceritakan padaku, Sha!" Cecar Divya ketika bertemu Shakira dilorong, seperti biasanya ia merangkul pundak temannya itu.


Shakira yang tidak ada mood sama sekali hanya diam tidak menyahuti temannya itu. Bahkan ia berjalan hanya menunduk saja tanpa melihat jalan di depan.


Divya merasa ada yang aneh dengan gelagat Shakira tersebut jadi bertanya lagi. "Kamu kenapa mukanya kok cemberut gitu, sih? Jangan gitu lah pagi-pagi gini. Yang hepi sedikitlah!" Divya masih membujuk.


"Kalau kamu jadi aku, kamu ngambil tindakan seperti apa, Div?" Pertanyaan Shakira sontak membuat Divya melongo dan terheran-heran.


"Maksudmu? Gini ya, Sha. Ceritakan dulu ke aku masalah yang kamu hadapi sekarang. Biar aku memberi solusinya"


"Ke tempat biasa yuk!"

__ADS_1


Divya menyetujui permintaan Shakira. Mereka pun duduk di sebuah kursi yang jauh dari mahasiswa lainnya, tempatnya agak ke belakang jadi sangat aman untuk curhat-curhatan di alam bebas.


Shakira lebih dulu duduk di kursi tersebut dan diikuti Divya.


"Kamu kan tahu Div, kalau aku dijodohkan sama Valda. Menurutmu aku harus bagaimana?" Ucap Shakira memulai obrolannya.


"Yaa.. kalau aku sih aku terima aja, Sha! Lagian kan Valda itu baik, ramah ke semua orang bahkan ke ayahmu kan? Bahkan, dia tajir dan…"


"Aku tahu lanjutannya!" Potong Shakira, Divya hanya nyengir kuda.


"Ahh.. tapi aku ngak ada perasaan sama sekali ke Valda, Div!" Shakira menunduk.


"Mungkin kamu harus membuka hatimu, Sha! Lihatlah dia yang berjuang mendapatkan hatimu, Sha. Pasti dia sangat mencintaimu. Kalau aku jadi kamu, aku sangat bahagia bisa mendapatkan Valda Zeondra yang jadi idaman para mahasiswi lain!"


Shakira diam sambil mengingat betapa berjuangnya dia untuknya dan untuk pernikahan tanpa latar belakang perjodohan.


Shakira bangkit berdiri. "Aku ke toilet bentar. Kamu duluan aja, Div!"


Divya memperbolehkan dengan anggukannya, namun jauh di lubuk hatinya ia sangat senang dengan keputusan itu. Ia tersenyum penuh kemenangan.


Di sebuah ruangan basement yang gelap namun bersih. Ruangan tersebut ada sebuah kursi beserta lemari rak yang menjadi meja tersebut dan beberapa lemari rak yang banyak buku tersusun rapi disana. Di atas meja tersebut bertumpuk buku-buku tebal dan sebuah lampu yang menjadi penerang ruangan tersebut. Ruangan itu sudah pasti terawat terlihat dari letaknya buku yang masih tapi tanpa ada debu dan juga bau wangi yang menambahkan suasana basement itu. Di kasur berwarna putih tersebut telah terbaring seorang pria dengan beberapa balutan perban dan satu infus di lengannya.


Perlahan lahan kelopak mata pria tersebut terbuka. Samar samar ia menyapu ruangan tersebut. Ia ingin bangkit duduk, namun keadaan tidak memperbolehkan, rasa sakit itu seketika menjalar di seluruh tubuhnya membuatnya harus kembali berbaring.


Ia rada-rada ingat terakhir kali sebelum ia ada di ruangan aneh ini. Saat itu ia mengikuti seorang teman yang ia cari cari dan kemudian ia tiba-tiba diserang seorang sosok hitam yang menakutkan, saat itu ia hampir terbunuh olehnya jika tidak ada orang yang menolongnya. Namun, yang jadi pertanyaan siapa yang menolongnya itu?


"Ahh… dimana aku?"


"Ternyata kau sudah sadar. Baguslah…" ucap seorang pria berbaju rajut hitam membentuk kekekaran tubuhnya. Pemuda itu duduk di sofa tanpa diketahui pria yang berbaring tadi. Pemuda berbaju rajut hitam tersebut menutup bukunya dan berjalan menghampiri pria itu.


Pria yang berbaring itu agak kaget dengan kehadiran pemuda tersebut. Ia kira hanya dirinya di ruangan itu.


"Kau… bukankah..?" Pria yang tak lain adalah Herdy menganga melihat pemuda berbaju rajut itu, pasalnya ia tidak nyakin dengan penglihatannya. Mungkinkah setelah ia di tusuk sosok kemarin penglihatannya jadi minus?

__ADS_1


"Ya. Aku yang mencoba membunuhmu beberapa saat lalu" ucapnya datar tanpa rasa bersalah di setiap kata diucapkannya.


Herdy masih ingat wajah datar yang menyerangnya kemarin. Wajah yang membuatnya mengerang kesakitan dan hampir tewas. Ingin bangkit dan lari, tapi Herdy tak punya kekuatan banyak untuk melakukan itu. Ia diam namun matanya awas menatap semua gerak pria misterius tersebut.


"Mau apa kau!?" Tanya Herdy dengan suara agak keras. Ia sangat takut dengan kejadian malam tersebut akan terulang kembali.


"Tidak ada!" Jawabnya santai.


"Sebentar lagi dia akan datang. Kau akan tahu semuanya!" Jawab Pria tersebut sambil mematikan sambungan teleponnya.


"Siapa? Aku masih banyak pekerjaan yang belum selesai. Jika aku tidak menyelesaikannya, mereka tak segan-segan memperlakukanku.."


"Maka dari itu berhentilah mengoceh jika tidak mau kau kujadikan mangsa selanjutnya!"


Seketika mulut Herdy bungkam. Ia ciut dengan tatapan dingin itu. Jika diam lebih baik kenapa tidak bisa ia lakukan? Herdy kembali berbaring dengan tenang. Tapi percayalah, hatinya tak keruan dengan apa yang barusan terjadi. Banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan tapi ia tahan, sebab pemuda itu sangat menakutkan.


Pemuda itu memeriksa luka di perut Herdy dan mengganti perban karna Herdy yang banyak bergerak menyebabkan pendarahan pada luka dalam tersebut.


"Awww…" ringis Herdy ketika pemuda itu mengencangkan perbannya dengan kasar.


"Makanya jangan terlalu banyak gerak!"


Herdy mendengus. Bukankah dia juga yang menyebabkan luka tersebut. Kenapa dia yang kesal? Tapi Herdy tak berani mengeluarkan kekesalannya, ia berharap orang yang dikatakan pemuda tersebut secepatnya sampai di tempat ini. Ia ingin tahu semuanya.


Sementara di parkiran basement perusahaan besar. Terlihat pria berseragam rapi dengan dasi melingkar di leher pria berumur tersebut. Pria berumur itu sedang menelpon bawahannya dan terlihat dari raut wajahnya ia sangat marah.


"Kemana dia? Kenapa kau tidak becus sekali, hah? Ini yang pertama kalinya kamu gagal dalam misi! Jangan biarkan dia lolos setelah mengkorup uangku! Bedebah sialan!!!" Wardy sangat geram atas apa yang sudah dilaporkan bawahannya.


Wardy melonggarkan dasi nya sedikit tergesa. "Aku tidak mau tahu, pokoknya kalian cari dia dan bawa dia ke hadapanku! Berani sekali dia lari dariku!"


"Ku beri waktu sehari lagi, jika kamu tidak membawanya ke hadapanku kau akan tahu akibatnya!"


Pria berumur itu siap mematikan sambungannya secara sepihak namun, ia tak jadi karena ada yang kurang jadi ia mengatakan lagi. "Oh, jika kalian tidak bisa membawanya ke hadapanku tak apa. Tapi singkirkan dia!"

__ADS_1


Dia menyeringai sambil mematikan sambungan telponnya. Kemudian, merapikan kembali dasinya. Lalu, masuk kedalam mobil yang dikendarai oleh supir pribadinya.


... JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN FAVORIT NYA YA. SATU LIKE DARI KALIAN SANGAT BERHARGA....


__ADS_2