A Psycopath Loves You

A Psycopath Loves You
08. Kedatangan Sheza


__ADS_3

Motor hitam itu terus melaju di jalanan beraspal itu, guyuran hujan tak di hiraukan Arkha yang menerpa tubuhnya sehingga pakaiannya sepenuhnya basah. Ia terus melaju dan membelah genangan air itu. Sorot matanya tajam menatap kedepan. Duarr… kilat menyambar nyambar, membuat Arkha terus melajukan motornya agar cepat sampai.


Kini, Arkha telah mengganti pakaiannya, ia duduk di depan televisi besar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Arkha menyalakan televisi itu dan disana menayangkan sebuah berita terbaru di kota itu.


Arkha menghela napas panjang. Kemudian, ia mengangkat kakinya menyilang. Sungguh, ia tidak mengerti dengan keadaan kota itu. Sekali menemukan seseorang terbunuh saja sudah sangat heboh seperti itu, lalu kejadian tiga belas tahun yang lalu itu kenapa tidak ada berita sama sekali? Keluarga Ichiro terbunuh oleh seseorang yang sekarang ini belum ada tanda tanda tentang identitasnya. Oleh karena itu, Arkha sendirilah yang mencari tahu tentang kejadian itu. Mengandalkan polisi jelas tidak bisa, bahkan kasus itu sudah lama tertutup entah siapa yang sudah menyogok mereka.


"Cih, aku benci polisi!"


***


Malam berganti siang, bulan berganti matahari. Di salah satu kamar, terlihatlah seorang cowok meringkuk dibalik selimut, dalam tidur yang amat tenang. Seperti tidak ada beban dalam hidupnya, namun siapa sangka jika ketenangan itu tersimpan beribu kepiluan dan kemarahan dihatinya.


Drezzz… drezzz… tiba-tiba terdengar sebuah getaran di atas nakas dari benda pipih berwarna hitam. Dering dari handphone itu membuat cowok itu terbangun dari lelapnya tidur, dan mimpi indah yang menemaninya.


Arkha si cowok itu, ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mengangkat telpon entah dari siapa itu.


Arkha membulatkan matanya tak percaya apa yang di katakan orang itu, lalu ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas ke bawah menemui orang tersebut.


Saat di bawah. Arkha berhenti, ia tak percaya melihat siapa yang datang. Seorang cowok muda yang tengah berdiri sambil membawa koper dan tas punggung seraya tersenyum manis melihat kedatangan Arkha yang sangat ia tunggu-tunggu.


"Arkha! Lama tak berjumpa" cowok itu melambaikan tangannya kearah Arkha yang sedang berjalan mendekat dengan pelan.


"Sheza?"


Ada raut penasaran di wajah tampan Arkha, ia mengerutkan keningnya seakan tak percaya atas kedatangan cowok itu. Bukan! Dia hanya seorang gadis yang memotong rambutnya seperti seorang pria, memang sekilas mirip pria tapi jika dinampakkan ia gadis manis sahabatnya Arkha. Nama gadis itu ialah Sheza Gildeon.


"Arkha senang bertemu kau lagi, apa kabarmu, Ar? Lama tidak berjumpa ternyata kau sudah segant.." ucap cewek mirip cowok itu hampir keceplosan.


Arkha tetap diam dengan mulut menganga tak percaya bisa bertemu kembali dengan sahabatnya itu. Dua tahun ini mereka tidak bertemu karna Sheza bersekolah ke luar negri di kampus universitas yang paling populer. Dan setelah Sheza pergi kuliah, Arkha juga pergi dari rumah sahabatnya itu untuk merintis bisnis sendiri. Arkha tidak mau terlalu menyusahkan keluarga Gildeon yang sudah menampungnya bahkan membesarkannya. Tapi, kadang kadang ia juga menjenguk tuan Gildeon karna Sheza berpesan padanya tuk menjaga kan ayahnya ketika dia pergi.

__ADS_1


"Kau tidak senang aku datang?" Gadis itu cemberut, " kau bahkan tidak menyambut kedatangan ku, kamu tahu ini sangat berat" sungut gadis itu seraya memperlihatkan koper nya.


Arkha menjadi salah tingkah, ia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa menyambut sahabatnya itu. Arkha pun dengan cekatan langsung mengambil alih koper itu. Tetapi saat Sheza melihat mata sipit Arkha, ia terharu kepada sahabatnya itu. Mata Arkha merah dan berkaca kaca, Sheza yakin kalau sahabatnya itu merindukannya.


"Masuk" ajak Arkha menuntun sahabatnya itu.


"Itu juga yang ku inginkan" sungut Sheza. Gadis itu mengiring di belakang Arkha.


"Arkha..!" Teriak Sheza memeluknya dari belakang, tangisnya pecah saat Arkha berpaling dan juga memeluknya. Sheza sangat merindukan sosok Arkha yang selalu mengajarinya pelajaran yang sulit walau Arkha sebenarnya tidak tamat sekolah sejak insiden itu terjadi. Tapi kepintaran Arkha jauh melebihinya yang sekolah.


"Kau sudah besar" ucap Arkha melepaskan pelukan rindu mereka.


"Aku merindukanmu, Ar!" rengek Sheza.


"Aku juga merindukanmu sebagai sahabatku, Za" balas Arkha. Cukup membuat Sheza tersenyum.


Click… Arkha membuka pintu kamar apartemen nya, lalu menyuruh sahabatnya itu masuk.


Sebelum ke kota ini, Arkha sempat menghubungi Passa dan memintanya untuk mengabari sahabatnya bahwa ia akan pindah ke kota Crassover dimana tempat Sheza di lahirkan. Karena Arkha tidak pernah memberitahukan kalau ia tidak tinggal bersama keluarga Gildeon lagi, ia tidak mau sahabatnya terbebani karnanya, jadi ia hanya mengatakan kalau ia pindah kota hanya untuk membalas dendam keluarganya. Lalu Arkha juga meminta alamat rumah Sheza yang sempat diceritakannya dulu kalau dia pernah tinggal disana, tetapi ternyata rumahnya tidak bisa ditinggali lagi. Tahu tahunya sekarang gadis itu malah pulang dan mendatanginya ke apartemennya, sungguh sangat percaya diri.


"Sudah ku bilang jangan ikuti aku" ucap Arkha sambil meletakan koper Sheza di sisi sofa, sementara Sheza ia memilih duduk di sofa itu melepaskan penat.


Sheza langsung menoleh. Memang benar, saat Passa mengatakan kalau Arkha akan pindah kota, ia langsung minta izin libur kepada dosennya dan beralasan ayahnya sedang sakit. Untung saja pak dosen itu membolehkannya ijin satu pekan.


Sheza takut jika Arkha kenapa-napa nantinya. Niat gadis itu kemari juga ingin membantu Arkha untuk menemukan pembunuh kejam itu.


"Kenapa? Apa tidak boleh?" Tanya Sheza. Arkha hanya menggeleng.


"Itu sangat berbahaya" ucap Arkha memperingati.

__ADS_1


Walau gadis itu tahu jika ia menghadapi orang yang sangat berbahaya. Tetapi, ia tidak mudah untuk menyerah, ia sudah bertekad untuk membantu sahabatnya itu menemukan pelaku sebenarnya.


"Aku tahu, Arkha. Tapi… aku tetap membantumu. Lihat penampilan ku sekarang sudah mirip pria kan? Aku akan tetap bersamamu meringkus pelaku kejahatan itu"


Sekarang Arkha baru sadar jika penampilan sahabatnya itu, yang dulu seorang gadis manis dan sekarang menjadi gadis yang mirip seorang lelaki. " Aku tidak mengizinkan mu," tukas Arkha.


"Kenapa Ar? Aku tahu itu sangat berbahaya, tapi aku juga sadar jika kamu membutuhkanku" ucap gadis mirip pria itu sungguh percaya diri.


Arkha bergeleng, sahabatnya itu memang sangat keras kepala. Jadi, Arkha hanya pasrah. Tetapi jika sesuatu yang menimpa gadis itu, Arkha tidak ingin tanggung jawab.


"Aku tidak ingin tanggung jawab jika kamu kenapa-napa"


"Tidak masalah" sahut Sheza santai, "Arkha, apa kamu tahu jika aku sudah menguasai ilmu bela diri sama seperti mu? Tidak kan? Maka dari itu, kamu tidak usah khawatir terhadap ku"


Arkha menghela nafas, sungguh sahabatnya itu sangat keras kepala jika menyangkut hal tentang ini. Apa Sheza mengetahui sesuatu tentang kematian keluarga? Itu pasti akan Arkha selidiki.


"Lalu, dimana kamu tinggal?" Pertanyaan ini yang ingin ditanyakan Arkha dari awal gadis itu datang.


Arkha sangat takut jika gadis itu tinggal bersamanya dan tidur di kamarnya, pastinya ia disuruh tidur di sofa, sebab biasanya seorang lelaki mengalah dengan perempuan.


"Di kamarmu lah…" jawab Sheza enteng. Cukup membuat Arkha menganga.


Apa yang ada dipikirkan Arkha ternyata benar, jika gadis itu menginginkan tidur di kamarnya itu. " Itu tidak bisa!" Kilah Arkha yang langsung di pelototi gadis itu.


"Masih ada kamar kosong" Arkha kembali pasrah, ia menghela napas panjang. Sungguh repot jika berurusan dengan seorang gadis seperti Sheza ini. Dan apa dia bilang tadi? Tinggal bersamanya? Arkha tidak habis pikir bagaimana hari harinya nanti.


Selesai membereskan semua barang bawaannya, Sheza segera keluar dari kamar yang akan ditempatinya. Meski tidak seperti yang ia harapkan, yah Sheza mengharapkan bisa sekamar bersama Arkha lagi seperti kecil dulu. Namun, Sheza sadar bahwa itu tidak bisa lagi karna mereka sudah sama sama besar dan dewasa. Tapi, Sheza tetap tidak ikhlas jika ia berpisah dengan Arkha sahabatnya.


Dretttt… drettt… tiba tiba handphone di dalam tas nya bergetar tanda ada yang menelpon. Sheza yang masih dibang pintu segera mengambil tasnya di atas kasur tadi, dan mengangkat panggilan tersebut.

__ADS_1


"Hallo Yah.." sapa Sheza pada orang yang menelpon, yang ternyata dari ayahnya.


__ADS_2