A Psycopath Loves You

A Psycopath Loves You
02. Mengantar pulang


__ADS_3

Semua anak buahnya menyerang Arkha dengan bertubi tubi. Berbagai cara yang mereka lakukan agar bisa mengenai tubuh Arkha. Jangankan membuat kulit Arkha tergores, tersentuh pun tidak. Tapi malahan sebaliknya, semua anak buahnya Jatuh tersungkur hanya dengan beberapa gerak yang Arkha keluarkan mampu membuat anak buah gangster itu terjatuh dan kewalahan.


Boss gangster menjadi geram melihatnya. Kemudian ia mengeluarkan sebuah pisau di saku bajunya dan melemparkan.


"Hiatt!! Enyahlah!! Kau ke neraka dasar bocah!!"


Pisau itu meleset cepat kearah Arkha, tetapi tiba tiba pisau itu berhenti dan tertahan di antara dua jari telunjuk dan jari tengah Arkha. Pisau itu diambil cowok itu, lalu memainkannya seperti biasanya memutar-mutarkan pisau tersebut dan bermain jari jarinya di mata pisau.


Boss gangster itu kembali ternganga. Ia benar benar habis pikir mengapa bocah tengik ini begitu kuat? Dan mampu menahan serangan nya tadi cuman dengan dua jarinya saja?


Boss gangster itu mengeluarkan senjata terakhirnya yaitu menodongkan pisau ke gadis yang di sekap itu. "Jangan macam macam kalau tidak akan ku bunuh dia!!" Ancamnya.


Ancamnya Boss gangster itu tidak membuatnya takut, ia malah tersenyum tipis. " Terserah jika kau mau" ucapnya datar.


Deg! gadis itu cukup terkejut dengan ucapan Arkha barusan. Apa dia niat menolongku atau tidak? Kenapa dia sangat santai mengatakan itu, bagaimana jika benar benar dilakukannya? Gadis itu berbicara dalam hati.


"Sial!" Boss gangster itu mengumpat, bagaimana bisa ia di permainkan bocah tengik seperti Arkha.


"Kenapa? Kenapa kau tidak membunuhnya?" Tanya Arkha santai dengan ekspresi mengejek.


Boss preman itu tidak bergeming, ia masih memikirkan cara agar bisa lolos dari bocah dihadapannya itu. Tangannya bergetar, ia sangat ketakutan terhadap bocah itu.


"Siapa namamu?" Tanya Arkha sembari berjalan mendekat dengan pisau yang masih ia genggam.


"Mundur!! Kalau tidak kau akan tahu akibatnya!!" Bentak boss gangster beralih mengangkat pisau di hadapan Arkha.


Arkha menghela napasnya ia benar benar marah jika pertanyaannya harus ia ulang kembali. "Katakan!! Siapa namamu!!" Kali ini suara Arkha lebih nyaring dan menatap boss gangster itu dengan tatapan elang.


"B-bran..Branson.." jawab boss gangster itu terbata bata.


"Pergi!! Jika tidak ingin pisau ini mengorok lehermu!!"


Ancaman Arkha membuat boss gangster itu semakin ketakutan. Kakinya tidak bisa bergerak, bibirnya bergetar walaupun ia seorang gangster, tetapi ia merasa sangat takut dengan seorang Arkha.


Arkha maju lagi beberapa langkah dan ancang-ancang untuk menggorok leher boss gangster itu.

__ADS_1


"Ja-jangan… a-aku akan pergi.." sahut boss gangster yang bernama Branson.


Arkha memberi celah agar boss gangster itu bisa lewat. Arkha tidak ingin membunuh boss gangster itu di depan gadis yang sedang di sekap itu. Sebenarnya ia sangat marah dan ingin sekali meng*rok lehernya itu.


Boss gangster ataupun Branson itu segera melangkahkan kakinya untuk pergi, meninggalkan anak buahnya sedang pingsan. Walaupun sulit untuknya mengerakkan kakinya yang sedang bergetar ketakutan.


Arkha melirik ke cowok yang masih muda kira kira berumur dua puluh lima tahunan, lebih tua lima tahun darinya. Lelaki itu terlihat kesakitan entah gara gara Arkha atau ia juga di sekap disana.


"Apa kau tidak pergi?" Tanya Arkha dingin.


Lelaki itu menatap Arkha, lalu segera bangkit berdiri, sembari menahan sakit di perutnya,


"terima kasih" kata lelaki itu sembari pergi terpincang-pincang.


Arkha menghela napas panjang dan segera melepaskan ikatan gadis belia itu.


"Terimakasih.." ucap gadis itu senang.


Arkha tidak menyahut, ia hanya mengangguk saja. Cowok itu segera pergi dari markas gangster itu tetapi langkahnya terhenti ketika gadis belia itu menghalangi langkahnya.


"Emm.. boleh aku tahu namamu siapa?" Tanya gadis itu canggung.


"Kau sangat hebat tadi. Bisakah kau mengajariku jika ada waktu, Arkha?" Kata gadis itu sembari mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Arkha.


Arkha diam saja. Setelahnya cowok tampan dengan jaket Hoodie berwarna hitam itu berhenti tepat di hadapan gadis belia. Sehingga membuat gadis itu terkejut, dan menabrak badan cowok itu.


"Tidak ada waktu" jawabnya seraya tersenyum miring membuat gadis itu terpana melihat ketampanan Arkha dengan senyum miring itu.


Gadis itu ingin bicara tapi sepertinya suaranya tidak keluar. Seketika saja ia menunduk tidak bisa lebih lama menatap Arkha.


Puk... Arkha menepuk kepala gadis yang menurutnya sangat menarik itu. Gadis itu semakin gemetar bukan karna takut tapi adanya gejolak yang berbeda darinya, jantung yang berdetak cepat.


"Siapa namamu?" Tanya Arkha pada gadis itu, membuat dia mendongakkan kepalanya menatap Arkha lagi.


"Shakira Alizia Alwanda… kamu bisa panggil Shakira" ucap gadis itu bersemangat.

__ADS_1


Arkha kembali tersenyum miring.


"Ya. Rumahmu dimana?" Tanyanya lagi.


Gadis itu memberitahukan alamat rumahnya yang ternyata sejalan dengan alamat rumah yang akan di tempati Arkha.


"Mari ku antar"


Mereka berdua berjalan beriringan tanpa ada suara lagi diantara mereka, semua hening. Hingga pada akhirnya sebuah suara Membuat mereka saling menatap.


Krukk...krukk.. perut Arkha berbunyi. Baru sekarang Arkha seharian tidak makan. Yang membuatnya kenyang hanyalah kesenangan pada saat ia membunuh paman tadi, rasa laparnya tiba tiba menghilang saja.


Gadis itu menoleh kearah Arkha, lalu ia mengambil sesuatu dari kantong belanjanya. " Nih.. kau pasti laparkan?" Shakira memberikan roti sandwich pada Arkha.


Arkha melirik Shakira sekilas lalu, melirik roti sandwich yang ditangan gadis itu. " Tidak usah" tolak Arkha kemudian.


Shakira bingung padahal jelas jelas ia mendengar suara rintihan perut cowok itu, tapi kenapa malah menolak pemberiannya? Shakira bingung. Setelahnya ia membuka bungkus roti sandwich itu.


"Makanlah.. ini tanda terima kasihku" ucap Shakira sembari menyuapkan roti itu kemulut Arkha.


Arkha tercengang. Tapi ia tidak bermaksud menolak. "Ya. Aku bisa sendiri" Arkha mengambil roti sandwich yang berada di tangan Shakira.


Berhasil! Shakira tersenyum senang melihat Arkha mau memakan pemberiannya itu.


Akhirnya mereka sudah sampai Di kompleks perumahan elite, tepatnya di rumah dengan nuansa elegan yang sangat mewah.


"Terimakasih Arkha. Kamu sudah mengantarkan ku pulang" ucap Shakira dengan seulas senyum.


Arkha hanya mengangguk sambil memamerkan senyum miring yang membuat gadis itu terpana.


Beberapa detik kemudian barulah gadis itu sadar, jika Arha sudah berjalan jauh dari pagar rumahnya. Shakira pun berlari mengejarnya karna ada sesuatu yang ingin ia berikan dan katakan.


"Arkha!!"


Arkha berhenti sejenak. Lalu menoleh kearah gadis yang sedang berlari kecil. Kesal! Memang saat ini Arkha sangat kesal selalu saja langkahnya terhenti gara gara gadis itu, sebenarnya Arkha sangat lelah dan ingin sekali melepaskan lelah ini. Arkha membuang napasnya kasar.

__ADS_1


"Engg… ini buat kamu semua sebagai tanda terima kasih" gadis itu menyerahkan kantong belanjanya. "Good night" setelah mengucapkan nya Shakira langsung berlari pergi masuk kedalam rumahnya dengan detak jantung yang tidak beraturan dan pipi memerah.


...Oh ya! jangan lupa tinggalkan jejak seperti like, komen dan vote ya! 🤗...


__ADS_2