A Psycopath Loves You

A Psycopath Loves You
06. Ku pastikan kau akan mati!!!


__ADS_3

Di sebelah kanan mengarah ke jalan gang sempit dan sepi tak berpenghuni. Arkha memasukan motornya kesini dan memarkirkan motornya di pinggir jalan gang kumuh itu. Karna mobil itu tidak bisa lewat, terpaksalah ia turun dari mobilnya dan menyusul Arkha yang sudah masuk ke dalam.


Perempuan itu berjalan mengendap-endap di belakang Arkha, di tangannya tergenggam sebuah pisau lipat baru dibelinya. Tanpa aba-aba lagi ia menusukan pisaunya itu ke bahu bagian kiri Arkha. Tetapi bukan Arkha namanya jika kalah begitu saja, Arkha sudah tahu taktik seperti itu. Maka dari itu ia bisa menghindar serangan dari belakang dengan mudahnya, Arkha memelintir tangan perempuan itu kebelakang dan pisau di tangan perempuan itu terjatuh di tanah.


Perempuan itu meringis kesakitan, dan meronta ronta meminta dilepaskan Arkha. Arkha melepaskan pelintiran nya dengan mendorong gadis itu sampai membentur tembok gerbang rumah.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya perempuan itu bergetar.


"Apa yang kulakukan?" Arkha mengulangi pertanyaannya perempuan itu, " heh, dasar naif! Seperti yang ingin kau lakukan padaku barusan, maka itulah yang ingin kulakukan sekarang! Apa kamu mengerti?!"


Seketika saja jiwa berani perempuan itu menciut mendengar itu. Sebenarnya ia menginginkan Arkha terbunuh di tangannya. Gara gara Arkha, pekerjaan yang selama ini musnah begitu saja. Setelah Arkha pulang dari toko tadi, manajer nya langsung saja memarahi dirinya bahkan sampai memecatnya. Karna di sulut emosi Reyna pun memutuskan untuk mengikuti kemana Arkha dan di saat waktunya tiba ia akan membunuhnya. Tetapi waktunya itu ternyata bukan sekarang dan bukan dirinya yang membunuh melainkan dirinyalah yang akan terbunuh.


"A.. aku tidak sengaja melakukannya" kilah Reyna bergetar.


Arkha masih diam menatap mangsanya dengan mata elangnya dan senyum iblis nya.


"Reyna…?" Arkha membaca papan nama perempuan itu.


Arkha sedikit terkejut mengetahui ternyata orang yang berniat membunuhnya itu adalah pelayan di toko itu tadi, meski Arkha sendiri sangat menginginkan melihat perempuan itu meregang nyawa di depannya, namun bukan Arkha namanya. Arkha harus menahan hawa nafsu psikopat nya itu, agar tidak semua orang yang ia jumpai ia bunuh. Tetapi, ternyata perempuan itu malah ingin membunuhnya secara diam diam. Dan itu kesalahan fatal. Perempuan itu sudah membangunkan singa lapar.


"Jika kau katakan hanya tidak sengaja. Maka aku akan bilang tidak sengaja juga. Tidak sengaja menggoreskan pisau kecil ini ke lehermu!"


Arkha berjongkok dan mengambil pisau kecil dari sepatu boots nya. Kemudian, Arkha memperlihatkannya kepada perempuan itu.


"Mau pakai ini atau punyamu?" Tanya Arkha.


Perempuan itu menggeleng kan kepalanya, ia sungguh merutuki nasibnya yang sudah membangunkan singa lapar dan sekarang ia yang menjadi santapannya, Ratna tidak mau hal itu terjadi padanya. Karna ada celah yang diberikan Arkha, ia pun berlari dari sana sejauh mungkin. Tetapi Arkha tidak meloloskannya begitu saja, ia melemparkan pisau kecil itu tepat mengenai kaki kiri mangsanya, sehingga mangsanya terjatuh tiarap di tanah.


Reyna tidak menyangka itu. Yang ada di pikirannya hanyalah bisa lolos dari iblis itu, ia pun tidak memperdulikan kaki kirinya yang sudah berlumuran darah dan terasa nyeri yang sangat amat. Ditambah pisau kecil itu masih berada di kakinya, tertusuk hingga sampai ke tulang tulang rasanya. Dengan sekuat tenaga Reyna pun merangkak sedikit demi sedikit.


Arkha yang melihat itu tertawa iblis dan menghampiri perempuan itu. Dan setelahnya mencabut pisau yang tertancap di kaki perempuan itu dengan kasar, membuat perempuan itu berteriak keras.


"Agh! Dasar baj*Ngan!" Sempat sempatnya perempuan itu mengumpat menahan nyeri di kakinya akibat pisau yang tercabut secara paksa itu.


Darah segar terus mengalir di kakinya, membuat kaki kirinya tidak bisa digerakkan lagi.


"Kamu tidak bisa lolos dariku, anj*ng nakal" kata Arkha mengejek perempuan itu, ia hanya bisa menahan geli melihat nasib perempuan itu yang akan mati di tangannya sebentar lagi.

__ADS_1


Reyna tidak peduli lagi. Ia merayap sekali lagi walaupun tenaganya sudah melemah, tetapi ia harus berusaha keluar dari sana, meski itu sangat tidak memungkinkan.


Arkha membiarkan saja perempuan itu merayap di tanah, Arkha geli sendiri melihat itu. Inilah hal yang paling ia senangi ketika orang ketakutan melihat dirinya seperti iblis mematikan.


"Apa sudah selesai kerja kerasnya anj*Ng nakal" tanya Arkha menyunggingkan senyum iblis.


Reyna tidak memperdulikan apa kata Arkha, ia tetap merayap. Hingga sampailah ia di depan gerbang masuk gang kumuh yang sebentar lagi akan menyaksikan kematian perempuan itu disana. Reyna tersenyum melihat mobilnya yang ia parkir tidak jauh dari gerbang itu. Ia hanya perlu berlari dan masuk ke dalam mobilnya itu, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar lolos dari iblis mematikan.


Tetapi tidak dengan Arkha, ia kembali mendekati perempuan itu yang kini hendak berdiri. Dengan pisau kecil yang di punyanya, Arkha pun menusukkan pisaunya itu dari belakang punggung perempuan itu sambil lalu yang mampu membuat perempuan itu tersungkur kembali.


"Aku tidak membiarkanmu lolos begitu saja. Aku tidak menyuruhmu membangunkan iblis yang ada diriku, jika kau sudah membangunkan nya, maka kau harus mati! Agar iblis ku akan tidur kembali" ucap Arkha memberitahukan dengan nada dingin tanpa ekspresi, benar benar seperti iblis.


"Maka dari itu. Ku pastikan kau akan mati!!"


Setelah mengatakan itu, Arkha pun menusukan pisau lipat yang dibawa perempuan itu ke leher mangsanya dan menggorok lehernya. Hingga mangsanya tidak bisa hidup lagi. Perempuan itu mati seketika di tempat.


Arkha melihat itu pun puas dengan permainan ini. Maka dari itu ia pun mengakhiri dengan menorehkan huruf A sebagai namanya dan R sebagai nama mangsanya di dahi sang perempuan itu.


***


Sekarang ini Herdy sudah berada di kamar apartemen nya. Ia tak menyangka rapat nya tadi sangat memojokan dirinya sebagai orang yang memakan uang itu, ia dituduh korupsi. Padahal ia tidak melakukan itu, sebagai kena tuduh ia pun sebentar lagi akan di pecat atasan nya. Dan mengganti rugi semua kerugian tersebut. Tapi masalahnya ia tidak mempunyai uang cukup untuk mengganti rugi semua itu.


Pikirannya berkecamuk, bahkan ia sudah beberapa kali menghempaskan benda yang ada di dekatnya dengan penuh frustasi.


Di Villa atas bukit. Tepatnya di sebuah ruangan gelap dengan diterangi beberapa lilin di berbagai pojok ruangan. Disana telah duduk seorang lelaki bertopeng dan berbaju jas hitam sedang duduk di atas kursi dengan kaki disilangkan nya. Sedangkan satu orang lelaki sedang duduk di lantai dan menundukkan kepalanya dengan hormat.


"Apa kamu tidak bisa mengalahkan bocah tengik itu?! Dasar tidak berguna! Bocah saja kau tidak bisa mengurusnya. Lalu kau di sebut apa, hah!?" Lelaki bertopeng itu marah marah ke lelaki yang duduk menunduk itu.


"Maaf tuan. Kami sudah memberinya pelajaran, tetapi tetap saja kami tidak sepandan dengan bocah itu" ucap Branson tetap menuduk takut.


Ya, lelaki yang sedang menunduk itu adalah Branson yang dimarahi Tuan bertopeng karna tidak bisa membawa gadis itu kehadapannya, dan malah bertemu Bocah tengik yang tak bisa mereka urus.


"Aku tidak ingin mendengar omong kosong kalian! Cepat cari bocah itu sampai ketemu! Aku yang akan memberinya pelajaran!" Perintah tuan bertopeng.


"Dan jika kau dan anak buahmu tidak bisa menemukannya, maka kamu tahu akibatnya!" Ancaman tuan bertopeng membuat Branson seketika gemetar ketakutan, ia langsung saja pamit undur diri dan mencari keberadaan Bocah itu.


Sial sekali ia, sudah dipukuli oleh bocah itu dan sekarang malah dimarahi tuannya. Branson keluar dari bangunan setengah jadi yang sekarang ini menjadi markas barunya, sebab markas yang dulu itu sudah diketahui bocah tengik seperti Arkha.

__ADS_1


***


Matahari mulai menghilang dan digantikan sang rembulan tuk menjaga kota itu dari kegelapa cmn malam. Mobil putih yang di kendarai Valda baru saja menepi di halaman sebuah club' malam, tempat yang biasanya ia datangi. Cowok itu pun turun dari mobilnya dan melepas kacamata hitamnya, lalu melemparkannya ke dalam mobil begitu saja. Kemudian, ia segera masuk ke dalam club' itu dengan langkah agak tergesa.


"Sorry. Aku terlambat" ucap Valda pada seorang gadis yang tengah duduk di bangku bundar yang sedang meneguk sisa minumannya.


Valda segera duduk bersebrangan dengan gadis itu.


"kamu tahu, kalau aku sudah menunggu lama dari tadi setelah pulang sekolah" ucap Gadis itu, terlihat dari baju yang ia kenakan sekarang masih sama dengan terakhir kali mereka bertemu, gadis itu memang tak pulang dan mengganti bajunya.


"Kan sudah kubilang, Divya. Aku akan ke club' nanti malam saja" sahut Valda ketus.


"Baiklah baiklah, aku tidak terlalu mempermasalahkan itu. Ku Ingin tahu bagaimana reaksi Shakira ketika kamu mengantarnya pulang"


"Divya, itu tidak semudah yang kamu kira. Katamu, Shakira tidak di jemput siapa siapa. Tapi, pas ku ajak bareng, dia nolak dan bilang dia akan dijemput. Lalu, seorang cowok menghampiri ku dan mengacaukan semuanya. Dia membawa Shakira naik ke motornya, lalu pergi tanpa memperdulikan ku. Aku akui, cowok itu memang melebihi ketampananku, tapi bukan begitu juga caranya merebut Shakira dariku. Dan Lo pernah bilang kalau Shakira tidak pernah dekat sama cowok lain selain aku. Lalu, itu siapanya Shakira, Divya?!" Valda melampiaskan kekesalannya kepada gadis di depannya itu, lalu ia mengambil cangkir dan menuang minuman beralkohol dan segera ia teguk hingga tak tersisa.


Gadis itu mendengarkan apa yang dikatakan cowok itu, "tunggu! Kamu bilang dia dijemput seorang cowok pakai motor?" Valda menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya, membuat Divya berpikir lagi.


"Apa motor cowok itu?" Divya bertanya karna ia curiga dengan cowok yang di maksud Valda. Divya menduga jika Arkha lah yang menjemputnya karna Divya rasa Arkha dekat dengan Shakira.


"Motor besar berwarna hitam dan di pinggirnya berwarna merah. Memang, aku akui itu sangat keren menambahkan ketampanannya. Tapi aku penasaran apa hubungan dia sama Shakira?" Jawab Valda, sontak membuat mata Divya membulat.


Benar dugaannya, Arkha lah yang menjemputnya. Tetapi, Divya juga penasaran hubungan apa Shakira dengan cowok itu? Jika mereka ada hubungan, kenapa Shakira tidak pernah bilang kepadanya? Memang iya jika Shakira mempunyai hubungan dengan cowok itu, maka rencana mereka akan hancur tidak terlaksanakan dengan mulus.


"Jika Shakira punya hubungan dengan cowok itu, pasti cerita sama aku. Dan ini dia gak pernah cerita sama aku kalau dia dekat dengan Arkha…"


"Arkha? Oh, jadi nama cowok itu Arkha?" Valda memotong pembicaraan Divya.


"Arkha, bahkan namanya terdengar keren" ucap Valda dalam hati mengagumi.


"Kamu gak tau namanya? Heh, Dasar Naif!" Ucap Divya sinis, lalu menuangkan minuman ke dalam cangkir Valda. Sehingga cowok itu meneguknya lagi.


Valda menghentakkan cangkirnya di atas meja dengan kasar. "Cih, ber*debah gi*la! Emang kamu kira aku suka menanyai namanya? Aku bukan tipe orang yang seperti itu, dan asalkan kamu tahu aku tidak peduli siapa namanya!" Umpat Valda kesal dan mulai mabuk.


"Sudahlah, jangan diperpanjang lagi"


"Apa rencana kita selanjutnya? Aku tidak mau rencana itu tidak berhasil hanya karena keberadaan cowok itu" tanya Valda kemudian.

__ADS_1


"Saat ini aku tidak ada punya rencana. Tetapi, kemungkinan besok besok akan aku rancang. Saat ini mari kita bersenang-senang!" Divya mengangkat cangkirnya, lalu mereka bersulang dan diiringi tawa mereka.


__ADS_2