
Di bangunan tinggi dan luas bertingkat dengan catnya berwarna putih dan gerbang menjulang, serta halaman yang luas di mata Arkha. Apa ini yang disebut sekolahan? Arkha bahkan terkagum-kagum dengan apa yang ia lihat sekarang.
Sheza yang di sebelahnya melirik ke arahnya, rasa bersalah tiba tiba muncul di hatinya. Seharusnya ia tidak memperbolehkan Arkha mengantarnya ke kampus barunya, ia tahu kalau Arkha sangat menginginkan sekolah.
"Arkha? Kamu tidak apa-apa?" Tanya Sheza memastikan.
Arkha menoleh, lalu turun dari mobil membukakan pintu untuk Sheza. Kali ini penampilan Sheza berubah, tidak seperti pertama kali dia datang menemui Arkha.
Rambut pendek bergelombang, baju kemeja putih tanpa kancing atas yang memperlihatkan benda kesayangan Sheza dari peninggalan ibundanya, yaitu liontin putih dengan bandul sederhana tapi terkesan mewah dan rok skort warna hitam menambahkan kesan kecantikan seorang Sheza.
Sheza keluar dari mobil dengan disambut cowok tampan itu. "Tetaplah berpenampilan seperti ini," pinta Arkha membuat Sheza langsung menatap wajah Arkha dengan tatapan sulit diartikan.
"Arkha, itu tidak bisa karna aku menyukai penampilanku yang kemarin" tolak Sheza.
"Masuklah ini sudah waktunya belajar," ucapan Arkha mampu membuat Sheza salah tingkah apalagi Arkha mengacak rambutnya. Walau Sheza tahu kalau itu kebiasaan buruk Arkha dari kecil, tapi entah kenapa ia merasa gugup dan salah tingkah.
"I-iya. Lagian tadi aku juga mau masuk. Jangan lupa jemput Aku, Ar! Kalau tidak mau suruh boss Passa saja. Oh ya, satu lagi biarkan aku ikut geng kalian!" Ucap Sheza sambil pergi ke kampus barunya dan melambaikan tangannya.
Arkha membalas lambaian tangan itu, kemudian ia masuk kedalam mobil dan keluar dari halaman kampus tersebut.
Sementara di dalam mobil tak jauh dari tempat Arkha tadi, seseorang memperhatikan Arkha sampai cowok itu benar benar pergi.
"Cih, dia lagi dia lagi! Berd*bah sialan itu!" Decak orang tersebut mengepalkan tangannya.
****
Di jalan tempat pertama kali mereka bertemu. Herdy menunggu Arkha siapa tahu lelaki itu melewati jalan itu ataupun singgah disana. Namun, sampai seterik ini pun ia tidak menemukan Arkha. Hanya tahu nama, bagaimana ia bisa mencarinya?
Tiba-tiba matanya tertuju pada orang yang bergerombol di salah satu bangunan di seberang jalan itu. Karna penasaran, Herdy pun menghampiri kasak kusuk itu.
"Ahhh… bagaimana ini?"
"Apa yang terjadi?"
"Bagaimana dengan sendra?"
Orang orang itu berbisik pelan, tapi mampu masuk ke alat pendengar Herdy. Pemuda itu terus melangkah hingga sampai paling depan, barulah ia tahu apa yang tengah terjadi di bank itu. Sebuah perampokan bank dan seorang laki-laki jadi sendra mereka.
Laki laki sendra itu berbalik ketika seorang perampok bank itu menyuruh nya. Sontak membuat Herdy terkejut siapa orang yang di sendra itu. Seorang laki-laki bercelana jeans sobek di lututnya dan baju kaos putih dengan dibalut jaket parka, dialah orang yang ia cari dan ia tunggu.
"Arkha!" Gumam Herdy, ia ingin masuk menolong Arkha, tapi ia juga memikirkan keselamatan nya.
Tanpa pikir panjang ia menelpon polisi bahwa di bank telah terjadi perampokan. Hanya itu yang bisa dilakukan Herdy untuk menolong Arkha.
"Apa sudah semua?" Tanya salah satu perampok, ia adalah ketua mereka, sebut saja Holas. Yang sedang turun dari tangga membawa tas besar di bahunya.
"Sudah semua boss!" Jawab teman satunya yang bernama Topher. Dia yang bertugas dibawah mengambil semua uang dil
laci meja.
"Bagus!" Holas bersiap pergi.
Wandi, si perampok yang menodongkan pisau ke leher bagian urat nadi Arkha melepaskannya setelah diberi perintahkan Holas.
__ADS_1
Kemudian, Arkha menurunkan tangannya membenarkan otot ototnya yang lumayan kaku. Ingin sekali Arkha melepaskan satu tinjuannya ke rahang pria itu agar dia tahu siapa dirinya, Arkha bahkan menahannya sampai sekarang. Mata iblis Arkha melirik pria itu dengan tatapan tajam.
Sementara ketiga perampok itu bersiap siap melarikan diri dan memasukan beberapa kabat uang kertas berwarna merah ke dalam tas ranselnya, tanpa mengetahui tatapan sendranya saat ini.
"Apa!" Bentak pria kurus berkumis tipis membentak Arkha, namanya Topher.
Arkha mengerutkan keningnya tapi tetap menatap nya tajam dan mengangkat satu alisnya menantang.
Cih! Dasar berd*bah tidak tahu diri, apa gunanya polisi jika begini. Hanya dengan satu ancaman dan sebuah pisau lipat di leher sendra sudah tidak ada yang berani menelpon pihak keamanan maupun polisi, padahal diluar sana banyak orang orang yang jadi penonton. Naif sekali! Bahkan jika semua orang mengerubuti tiga orang perampok berbadan kekar itu pasti sudah kalah dengan puluhan orang orang karyawan maupun penonton di luar.
"Dunia sungguh kejam!" Arkha bergumam.
Ngiung… ngiung… ngiung…
Tiba-tiba dari jauh terdengar suara keras dari mobil polisi, seketika karyawan di dalam bank itu heboh mendengar suara tersebut, pasalnya mereka sudah diancam jangan ada yang berani memanggil polisi, tapi kenapa polisi malah datang? Siapa yang sudah menelpon?
"Cih, siapa yang berani menelpon polisi? Dasar bodoh!" Teriak Holas marah ke arah para karyawan yang sedang ketakutan.
"Apa kalian semua ingin mati!" Topher menyambung juga dengan sangat marah.
Para perampok itu kembali menyandera salah satu karyawan wanita yang lumayan muda.
"Kami tidak berani! Tolong selamatkan aku, aku tidak menelpon polisi!" Karyawan wanita muda itu bergetar ketakutan.
"Kami tidak berani? Pantaskah kau menyebutkan itu?" Tanya Arkha langsung berbalik dengan ekspresi datarnya.
"Sialan! Dasar gila!! Apa kau tidak tahu kami ini siapa?! Jangan harap keluar hidup hidup!" Holas jadi semakin marah, ia naik pitam. Siapa yang sudah berani melawannya maka dia akan mati.
Bukannya Arkha tidak tahu siapa mereka, bahkan kelompok mereka juga salah satu musuh the lion king Arkha. Yang selama ini mereka cari ternyata hanya berandalan yang merampok bank, mereka kira orang kuat tapi ternyata sangat lemah. Tadi, saat Arkha disendra. Arkha merasakan getaran di tangan panyandra itu, itu membuktikan kalau dia sangat gugup untuk melakukannya.
Orang orang mulai membisikan keberanian Arkha, tapi banyak juga yang mengasihani Arkha yang terlalu bodoh melawan geng tersebut. Padahal yang patut di gunjingkan itu mereka sendiri, takut itu perlu tapi tidak seharusnya berdiam diri tanpa melawan, setidaknya melawan untuk keselamatan daripada memohon dan membungkuk bungkuk. Cih! Arkha bahkan ingin membunuh orang seperti itu.
"Kalian itu hanya pengecut! Bersenjata pisau di leher sendra, tapi nyatanya kalian tidak ada keberanian menggoreskannya!"
"Apa!!!"
"Dasar sialan! Apa kau kira aku tidak berani membunuh anak kecil, hah!" Geram Wandi, ya.. dialah yang tadi menodong anak muda itu menghinakan pisau lipatnya. Ia merasa terhina atas ucapan Arkha barusan, jika ia ingin membunuhnya sudah ia lakukan sendiri.
Perampok itu melayangkan pisaunya ke arah Arkha, namun Arkha lebih cepat mengelak serangan kecil itu. Lalu, Arkha menangkis tangan Wandi, sehingga pisau kecil itu terlempar jauh. Dan setelahnya Arkha, menumbuk perut si perampok tersebut dengan lutut kakinya sangat keras hampir membuat si perampok itu muak darah.
Si perampok itu seketika jatuh lunglai ke lantai. Ia tidak ada kekuatan untuk berdiri lagi. Sementara orang orang yang menyaksikan aksi heroik Arkha, menganga takjub.
Kakinya dihentakkan nya di atas badan Wandi yang ingin bangkit berdiri sambil menatapnya tajam. Arkha memang tidak bisa di lawan siapapun, tapi percayalah Arkha juga mempunyai kelemahan.
"Anak muda kau berani sekali melukai temanku, apa kau juga mempunyai keberanian melawanku?" Tanya Holas dengan arogan.
"Aku tidak ada waktu!"
Bertepatan dengan ucapan Arkha, seorang polisi wanita muda masuk mengarahkan pistol ke arah Arkha dan dua perampok itu secara bergantian, sebab saat wanita itu masuk dia melihat Arkha yang menyiksa Wandi, si perampok.
"Angkat tanganmu!" Seru polisi muda ke arah Arkha, Arkha hanya mengikuti instruksi polisi si*lan itu.
Kemudian para polisi lainnya juga masuk ke dalam bank tersebut, para karyawan yang disandera akhirnya bisa bernapas lega dengan adanya pertolongan itu.
__ADS_1
Sementara Herdy yang di luar juga bernapas lega, tetapi ia masih tidak mengerti kenapa polisi wanita itu malah mengarahkan pistolnya ke Arkha?
Kedua perampok itu langsung dibawa para polisi ke dalam mobilnya dan dibawa ke kantor polisi. Sedangkan Wandi, perampok yang ingin dibunuh Arkha tadi di bawa ke rumah sakit.
Sementara Arkha masih ditahan wanita muda itu, seragam yang bagus untuk wanita itu. Tapi, lebih baik matanya lebih dibersihkan lagi, agar dia bisa melihat yang mana yang benar yang mana yang salah. Arkha berdecak kesal.
"Kau melakukan kekerasan, ikut aku ke kantorku!" Perintahnya. Arkha hanya berdelik.
"Kenapa? Tidak merasa salah? Kau hampir membunuhnya, itu adalah pelanggaran!" Polisi wanita itu terus mengoceh membuat telinga Arkha panas mendengarnya.
Dengan kemarahannya, Arkha mengayunkan pisau perampok yang sempat ia ambil tadi keleher polisi wanita itu, tentu saja hal itu mengejutkan polisi muda yang bernama Lery.
Dengan jarak yang sangat dekat Arkha membisikkan sesuatu ke telinga polisi muda itu, lalu tersenyum miring ketika melihat perubahan wajah Lery. Tentu saja karna polisi muda itu takut akan pisau Arkha yang siap menggores kulitnya.
Lalu, dengan santainya Arkha melewati polisi wanita itu keluar dari bank dengan wajah tak bersalah dan seperti biasa berhawa dingin dan berwajah lempeng.
Tubuh Lery mati rasa, ia tidak bisa menebak apa yang ada dipikirannya. Degup jantungnya berdetak kencang, kakinya lemas tak bisa menopang berat tubuh nya lagi, Lery terjatuh ke lantai. Bisikan, hembusan nafas hangat membuat Lery bergerigidik ngeri.
"Dia pasti boss perampok itu!!"
Herdy yang melihat Arkha keluar dari bank tersebut langsung mengikuti langkah Arkha. Sampai ketika Arkha memasuki parkiran bawah tanah yang sedikit gelap.
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki bergema sampai di ujung lorong gelap tersebut. Herdy berhenti, ia celingukan mencari keberadaan Arkha yang menghilang ketika ia lengah sedetik saja.
Dalam kepanikannya, Herdy memutuskan untuk kembali pulang. Tetapi ketika ia berbalik, ia sangat terkejut di depannya telah berdiri sosok laki laki berbalut pakaian hitam dan tudung hitam.
Sosok laki-laki tersebut langsung menyerang Herdy dengan bertubi-tubi, sementara Herdy hanya bisa mengelak serangan tersebut dan menerima tiap goresan-goresan pisau dari sosok tersebut.
Darah segar mengalir di sepanjang luka, Herdy jatuh tersungkur di jalan tersebut. Matanya menatap nanar mencoba melihat sosok laki laki tersebut, barangkali jika ia benar benar tewas di tangannya, ia tidak penasaran lagi siapa yang telah membunuhnya.
Di balik tudung hitam itu, si sosok tersenyum puas melihat mangsanya tidak dapat bergerak lagi. Permainan usai begitu saja, tidak ada seru serunya baginya. Ia mendengus kesal sambil berbalik pergi.
Ketika si sosok berbalik, dengan sisa tenaganya Herdy menahan kaki laki-laki bertudung hitam tersebut agar dia tidak bisa mengejar Arkha. Herdy sangat takut jika lelaki tersebut malah mengejar Arkha, dan menyerangnya sepertinya tadi.
"Tolonggg…" bibir pemuda itu bergetar dan tidak bisa melanjutkan perkataannya.
Ternyata mangsanya belum mati, dan itu berarti permainan belum benar benar selesai. Hasrat sosok bertudung hitam itu kembali, ia tersenyum miring melihat mangsanya merengek-rengek minta dibebaskan. Ia menggenggam erat pisaunya dan ingin kembali menyakiti mangsanya itu.
"Tolong jangan bunuh dia… kumohon… bunuh saja aku..."
Hampir mata pisau itu mengenai mangsanya lagi, si sosok menghentikan nya ia menatap mangsanya dengan heran. Apa maksud perkataannya? Ia kira, si mangsa itu akan merengek-rengek minta dibebaskan, tapi ternyata malah sebaliknya.
Sosok itu tidak jadi menyiksa Herdy, moodnya hilang seketika, lalu ia berbalik ingin pergi dan membiarkan korbannya meregang nyawa sendiri, atau berupaya keras agar bisa hidup. Namun, saat ia berbalik hampir saja jantungnya meledak karena di depannya sudah ada seorang pemuda dingin dengan wajah tampan sedang menatap ke arahnya dengan tatapan berbeda.
"Sudah selesai?" Pemuda itu bertanya seolah-olah tak takut padanya.
"Ya!" Hanya itu yang keluar dari mulut sosok itu.
__ADS_1
"Bawa dia menjauh! Jangan sampai tertinggal jejak!!" Perintahnya dan segera pergi.
Sosok itu berdecak, tetapi ia segera mengangkat tubuh Herdy dan membawanya ke mobil menuju markasnya, hanya itu tempat aman dari garis polisi.