A Psycopath Loves You

A Psycopath Loves You
13. Ingin mobil itu!


__ADS_3

Brakk!!


Shakira membanting pintu masuk ruang baca ayahnya dengan seribu kekesalan. Sementara pria berkacamata yang sedang mengotak atik notebook terlonjak kaget atas kedatangan putrinya yang tiba-tiba muncul sambil membanting pintu.


"Shakira!" Bentak papinya masih dalam keadaan kaget, kemudian pria tua itu kembali duduk di kursinya sembari mengelus dadanya pelan.


"Papi, bisakah papi meluangkan waktumu untukku. Bahkan papi tidak tahu keadaan tranportasi milik putrinya, apa papi tidak memperdulikan ku lagi?" Shakira menghadap ayahnya, hatinya masih diliputi kekesalan.


Wardy menoleh ke anak satu satunya itu seraya melepaskan kaca matanya, "putri papi kenapa? Apa ada masalah? Duduk dulu, cerita sama papi," ucap papinya lembut.


Shakira duduk setelah Wardy menyiapkan kursi untuk anaknya itu.


"Mobilku mogok, pih!" Sungut Shakira masih dalam keadaan kesal.


"Sabar dulu sayang, gak usah bentak bentak gitu bicara sama papi" tegur Wardy lembut.


"Iya. Mobil aku mogok tadi di tengah jalan, pih. Sangat menyebalkan! Pokoknya aku mau mobil baru!"


"Kenapa ngak sama pak Egi supir pribadimu? Dan kemana kamu keluar malam malam?"


"Gini pih, tadi kami janjian sama Divya teman aku itu, mau dinner malam ini, tapi sayang batal begitu saja gara gara mobil aku mogok. Padahal aku sudah janji temu sama dia dan Valda, Pih! Gara gara mobil itu tuh jadinya aku gak jadi dinner sama Divya dan Valda!"


"Dinner sama Valda?" Tanya Ayahnya memastikan, Shakira hanya mengangguk mengiyakan. "Kenapa tidak minta jemput sama dia?"


"Anuu… itu pihh, terlanjur kesal jadi aku batalkan begitu saja" sahut Shakira sedikit berbohong pada ayahnya


Meskipun itu hanya alasan agar ia ada alasan untuk mengambil mobil yang dipinjamkan ke cowok itu.


"Ooohhhh… jadi itu alasan kamu marah marah sama, papi?" Shakira hanya mengangguk di tatap papinya.


"Kalau kamu gak jadi dinner sama Valda, gak pa-pa biar papi yang nyuruh Valda kerumah buat makan malam, gimana? Papi senang kalau kamu yang berinisiatif mau dinner bareng Valda, tunanganmu"


"Dia bukan tunanganku, pih. Dia hanya teman! Sebatas teman ingat itu, pih!"


Jika menyangkut kata kata pertunangan, Shakira tidak bisa menahan hasratnya untuk memarahi orang yang mengatakan itu.


"Iya iya.." Papinya hanya bisa mengalah dan menggeleng melihat kelakuan putrinya.


"Pokoknya papi ambil mobil yang ditangan Valda itu, pih. Untukku, aku menginginkan mobil itu"

__ADS_1


"Tapi Sha.."


"Pokoknya harus, pih! Shakira tidak mau tahu!"


Shakira menghentakkan kakinya dan beranjak pergi dari ruangan tersebut dengan beribu kekesalan. Tapi, ia sedikit lega sudah menumpahkannya.


Sementara di ruang baca.


Wardy menatap pintu yang di banting Shakira dari luar tanpa ekspresi. Kemudian ia berdecak. Bukannya ia tidak mau menuruti anak manjanya itu, tapi ia masih memiliki muka di depan calon menantunya. Mobil itu sudah di berikan untuk menantunya sebagai hadiah, masa sekarang ia mengambil kembali mobil tersebut hanya untuk mengabulkan permintaan anak manjanya. Bagaikan menjilat ludah sendiri! Sangat menjijikkan!


Drettt… drettt…


Getar telpon di atas meja mengalihkan perhatian Wardy. Ia lekas mengambil handphone itu dan menerima panggilan tersebut dengan ekspresi wajah langsung berubah.


"Astaga mengesalkan sekali!" Kemudian ia menutup sambungan telponnya dengan disertai decakan.


Wardy segera berdiri lalu meraih jas sembari berjalan ia memasang jas tersebut. Lambat lambat ia mengendarai mobilnya agar tidak diketahui orang rumah, setelah keluar dari halaman Wardy segera melajukan mobilnya di malam buta itu.


Seorang pak tua terbangun di bangunan belakang rumah tersebut, ia mengucek kedua matanya, "rasanya aku mendengar suara mobil keluar? Ahhh… mungkin aku salah dengar, mana mungkin tuan Angkarya tidak memberitahu ku kalau dia ingin pergi." Kemudian pak tua itu merebahkan punggungnya lagi dan tertidur.


Mobil yang di kendarai Wardy menepi di salah satu bangunan besar namun berbau klasik, kemudian ia masuk ke salah satu ruangannya yang sudah di tentukan untuknya.


"Wahhh… ternyata kamu datang, War! Kukira tidak." Sambut besannya ketika wardy memasuki ruangan tersebut.


Wardy segera duduk di tempat yang sudah di sediakan dengan senyum di paksakan. Beberapa makanan sudah di sediakan di atas meja tersebut, bau bau masakan sangat sedap tapi bagi Wardy itu tidak ada apa-apa nya dibanding restoran ternama di kota Crassover. Yaa… sekarang ini mereka berada di restoran klasik dengan makanan tradisional negara X.


"Lama tidak berjumpa, Simons" Mereka berjabat tangan masing masing.


"Sebelumnya, mari makan dulu walau sudah larut malam" ucap Simons.


"Sangat lama ngak ke sini sejak terakhir kali kita bertemu, rasanya masakannya sangat enak dan mengingat masa remaja dulu" kata Wardy mencicipi hidangan tersebut. Memang benar apadanya, kalau saat remaja dulu Wardy dan simons sering mengunjungi tempat ini.


"Ya. Sangat enak bukan? Lebih enak dari masakan restoran kelas atas lainnya, apalagi ini buka dua puluh empat. Jadi, bisa kapan saja menikmati masakan dengan bumbu tradisional"


Wardy terkekeh mendengarnya. "Membahas tentang makan jadi ingat apa yang ingin kamu bahas di pertemuan ini?"


"Oh hampir lupa, hahah… nanti saja membahasnya. Kita santap makan malamnya dulu"


Simons mengangkat gelas kecil, lalu mereka bersulang membuka makan malam mereka dan merayakan pertemuan mereka.

__ADS_1


Di waktu yang bersamaan, Branson masuk ke dalam bangunan klasik dengan cat hitam pekat dengan bertulisan 'kuliner asli'. Pria dewasa itu masuk ke dalam restoran klasik tersebut sambil menenteng beberapa kertas berisi dokomen dokomen penting ber-map coklat.


Branson berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan yang sudah diberitahukan sebelumnya.


"Bagaimana proyek yang kita bahas pekan lalu, apakah sudah selesai? Kudengar dari bawahan ku kalau sebentar lagi bakal selesai. Aku tak sabar melihatnya" tanya Simons setelah selesai menyantap makanannya, lalu menyuruh karyawan yang bekerja disana untuk membersihkan meja makan tersebut.


"Oh, soal itu!" Ada keraguan di wajah Wardy menjawab pertanyaan itu. Sementara Simons malah mengerutkan keningnya semakin penasaran.


Pekan lalu, mereka memang bekerja sama membangun proyek tersebut lewat telpon, sebab mereka sama-sama memiliki kesibukan masing-masing jadi tidak ada waktu senggang untuk bertemu membicarakan tentang proyek kerjasama tersebut.


"Maaf, tapi kami sudah berusaha semaksimalnya membalikkan kerugian itu, namun salah satu karyawan ku malah mengambil semua keuntungannya. Jadi, aku memutuskan untuk menutup proyek itu" jawab Wardy gugup.


Sementara di luar. Branson siap membuka pintu itu. Namun, ketika ia mendengar siapa yang ada di dalam ruangan itu ia mengurungkan niatnya.


"Benarkah?"


Wardy mengangguk kaku.


"Jadi proyek itu dibatalkan?"


Wardy kembali mengangguk.


"Tidak ingatkah kau, jika proyek itu menguntungkan? Kenapa harus ditutup? Jika ada yang berkhianat kenapa tidak di musnahkan sekalian?" Simons terkekeh sambil menyatukan jari tangannya membentuk sebuah piramida.


"Ya.. aku tahu, aku juga sudah menyuruh bawahanku" senyum Wardy agak aneh kali ini. "Tapi… dia harus mengganti rugi semua itu dengan berkali kali lipat. Hehe.." ia terkekeh kecil dan diikuti oleh besannya itu.


Di luar Branson masih mendengarkan perbincangan antara keduanya. Ia heran kenapa Angkarya ada di sini dan membahas tentang proyek kerjasama dengan tuan Simons.


"Secepat itu sudah bertindak? Astaga!"


"Hama seperti dia harus secepatnya di musnahkan. Aku tidak mau lagi ada korban seperti ku. Untung aku bisa mengatasinya, kalau tidak aku akan jadi gelandangan. Hahah!"


Simon melihat dari wajah Wardy ada sedikit keraguan ia pun bertanya, "apa sebaliknya dijual saja proyek setengah jadi itu" Simons menyarankan, takutnya hama yang dimaksud Wardy itu tidak bisa mengembalikkan kerugian yang besar itu.


Wardy menimang-nimang keputusan itu terlebih dahulu, Simons yang melihat itu kembali bersuara. "Kalau sudah terjual, kita bisa membagi dua hasil itu. Ingat kalau jual dengan harga berkali-kali lipat!"


Seketika mata Wardy berbinar binar mendengar berkali kali lipat. "Kau benar. Akan ku cari orang bodoh membeli proyek setengah jadi itu!"


Di luar Branson masih mendengarkan percakapan mereka sampai selesai walau kadang ia hanya mendengar samar samar. "Orang bodoh…? proyek setengah jadi? Apa itu?" Tanyanya kebingungan sendiri.

__ADS_1


Branson yang merasa ada seseorang yang hendak keluar, ia pun segera pergi dari tempat itu bersembunyi di balik tembok.


Wardy keluar, dan itupun tak luput dari perhatian Branson.


__ADS_2