A Psycopath Loves You

A Psycopath Loves You
17. Kiriman dari orang yang tak dikenal


__ADS_3

Di sebuah bangunan besar terlihat klasik, namun mewah berwarna keemasan. Villa itu jauh dari kota tersebut, bahkan beda negara.


Seorang pria setengah tua berlari tergesa-gesa setelah menerima laporan dari bawahannya. Ia menaiki tangga menuju lantai atas tempat ruang baca. Hingga sampai di depan pintu tersebut ia langsung saja mengeloyor masuk tanpa mengetok pintu terlebih dahulu membuat pria yang sedang duduk santai sambil menghirup kopi panas miliknya di kursi komputer nya terkaget-kaget atas kedatangannya.


" Uhuk… kenapa kamu masuk tanpa permisi?" Tanyanya tersedak sambil meletakkan cangkir kopi ke atas meja, lalu berjalan duduk di sofa, begitu pula dengan pria tadi.


"Maaf tuan," ucapnya.


"Aku dapat laporan bahwa kartu hitam tiga belas tahun yang lalu, telah aktif dan sudah terpakai. Apa ini pertanda kedatangan tuan kita. Berarti tuan kecil kita sudah besar!" Jelas pria yang datang tadi.


Pria satunya mengangguk sambil berpikir. "Bukankah mendiang tuan besar dulu berpesan jika kartu itu telah dipakai maka kirim sejumlah uang yang banyak ke rekening tersebut. Dan setiap bulannya, hasil dari keuntungan semuanya" dia mengatakan sambil mengingat-ingat, matanya memancarkan kesenangan dan kebahagiaan mendengar berita tersebut.


"Kamu benar! Aku sangat senang, tuan kita kembali hadir. Semoga dia bisa diandalkan"


"Di mana dia berada sekarang?"


"Kota Crassover negara X,"


Ting!


Arkha mendapat notifikasi dari handphonenya, seseorang sudah mengirimnya sejumlah uang yang sangat banyak ke kartunya. Terlihat jelas kerutan di dahi Arkha menatap layar ponselnya. Pastilah Arkha bingung siapa yang sudah berbaik hati mengirimkan uang yang banyak. Padahal kartu itu baru kemarin tadi membukanya saat di bank tadi dan tidak ada yang tahu nomornya.


Arkha menduga keluarga Gildeon lah yang mengirim sejumlah uang tersebut, tetapi apa dia tahu nomornya, jika ia berarti sejak lama. Atau mungkin dia memang sudah tahu.


"Ahhh… sudahlah" Arkha kbali meletakkan ponselnya dan fukos mengendarai mobilnya menuju kampus baru Sheza.


Hati kecil Arkha sangat sedih ketika melihat kampus tersebut. Ia rindu masa masa sekolahnya dulu. Karna kejadian mengenaskan itu ia berhenti sekolah.


Katanya keluarganya dibunuh karna sudah memprovokasi organisasi bawah yang sudah membuat perusahaan mereka bangkrut. Jadinya mereka balas dendam hingga membunuhi keluarga Arkha. Bahkan mereka dengan kejinya merampas semua aset aset berharga milik keluarga Ichiro tanpa ada celah sedikitpun atas perbuatannya. Namun, siapa orang organisasi tersebut? Arkha terus menyelidiki nya.


"*T*enanglah, Ar. Masih ada kami, jangan terlarut dalam kesedihan nanti orang tuamu juga ikut sedih melihatmu. Jika kamu terus begini bagaimana kamu bisa membalaskan dendam orang tuamu" ucap tuan Gildeon sambil membelai punggung kecil Arkha saat itu.


Untung saja ada keluarga Gildeon yang sudah menguatkan mentalnya dan terus menyemangati nya untuk hidup, sebab Arkha saat itu ingin mengakhiri hidupnya. Di dunia ini tanpa keluarga mana bisa? Itulah yang dipikirkan Arkha saat kecil.


Tapi, jika dipikir lagi. Misalnya ia mati, maka orang yang sudah membunuh keluarga akan tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Arkha mencuci tangannya di wastafel paling ujung, ia terus mencuci tangannya itu. Sesekali ia menengok ke pantulan dirinya di cermin besar itu. Arkha berhenti menggosok, ditatapnya lekat wajahnya dari pantulan cermin itu. Tak ada perubahan di wajahnya, ekspresi nya tetap datar, hanya gaya yang berubah. Arkha menyentuh bekas luka cakaran di matanya itu, yang sampai sekarang kejadian mengerikan itu masih tercetak jelas di ingatan nya. Arkha menggosoknya pelan, ingin rasanya ia menghilangkan bekas luka itu, namun ia tidak bisa menghilangkan flek hitam itu, Arkha malu dengan wajahnya.


Jika ia keluar pasti orang orang pada melihat ke arahnya dengan tatapan aneh dan bisikan bisikan pedas menusuk hatinya. Arkha sadari bahwa ia memang anak nakal yang biasanya dikatakan orang di sekitarnya, namun ia tidak bermaksud mencoreng wajahnya dengan hal yang tidak berguna sama sekali.


Arkha mengambil salepnya dari kantong jaketnya dan mengoleskannya sedikit. Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menutupi flek hitam tersebut.


"Arkha!!" Teriak Sheza dari kejauhan ketika ia melihat sosok lelaki yang telah dicari carinya.


"Aku kira boss Passa yang menjemput ku" ucap Sheza ketika sudah dekat.


"Dia sibuk, dan lagian aku tidak ada pekerjaan" sahut Arkha datar.


"Oh begitu… Apa kamu sudah makan siang tadi, Ar?" Tanya Sheza sambil berjalan beriringan.


"Tentu saja belum" sahut Arkha enteng.


"Oh, astaga! Seenteng itu kau mengatakannya? Sini ikuti aku kamu harus makan, nanti sakit! Bagaimana caramu nanti menghadapinya jika kamu sakit sakitan" omel Sheza seraya terus menarik lengan Arkha, sementara Arkha hanya mengikuti langkah kaki gadis itu kemana ia membawanya.


Tapi, apa yang dikatakan gadis itu ada benarnya. Misalkan ia sakit sakitan bagaimana ia akan menjalani kehidupan selanjutnya. Tetapi, sekarang ini tubuh Arkha kadang merasa tidak enak, dan kadang perutnya mual-mual serta kepala pusing ketika ia dalam keadaan lelah atau stres. Entah efek dari apa itu.


Mereka sampai di cafe terdekat. Sheza langsung memesan minuman serta makanan lezat untuk Arkha. Tak berapa lama pesanan Sheza sudah ada di depan mata.


"Ini sudah sore" kata Arkha membantah, membuat mata Sheza membuat dan langsung saja mengeluarkan suaranya mengomeli Arkha kembali.


***


Tok!


Tok!


Tok!


Seorang gadis berdiri di depan pintu sambil mengetok pintu tersebut. Sudah sekian kali ia mengetok pintu tersebut belum ada juga tanda tanda si empunya membukakan pintu tersebut.


Dengan kesalnya ia masuk saja ke dalam kantor tersebut. Biarlah ia dimarahi karena asal masuk, toh dia juga yang tidak membukakan pintu atau barang menyuruhnya masuk saja.

__ADS_1


Ruangan itu kosong tidak ada pemuda itu. Bahkan juga tidak ada tanda tanda kembaliannya. Sea si gadis itu meletakkan dokumen ke atas meja Herdy. Lalu meninggalkannya dengan hati yang bertanya tanya.


"Kemana dia? Apa dia tidak ada kesini setelah aku beritahukan kemarin, atau selesai rapat? Ohh…. Entahlah aku hanya menduga-duga saja. Apa dia ada dirumahnya sekarang? Oh, berhentilah penasaran dengan cowok itu!"


Sea keluar dari ruangan tersebut.


Selesai makan siang yang tertunda bagi Arkha. Mereka bersiap siap pulang, tetapi Sheza kebelet ingin ke toilet jadi terpaksa Arkha harus menunggunya di parkiran kampus tersebut.


Drettt… drerttt… tiba tiba handphone bergetar, Arkha pun mengambilnya dengan cekatan lalu menerima panggilan tersebut yang ternyata dari Passa.


Arkha diam memahami situasinya sekarang. Sambil terus mendengarkan penjelasan dari Passa. Kalau begini terus ia semakin benci polisi. Baginya polisi itu tak ada gunanya sama sekali jika dia terus berpikir begitu.


Arkha memutuskan sambungan telpon dan bersiap masuk ke mobil karna Sheza sudah kembali. Namun, ketika gadis itu berlari menghampirinya, seseorang dengan tak sengaja maupun disengaja pria tersebut untuk menabrak gadis itu, sehingga Sheza terjatuh.


"Awww…" ringis Sheza sembari bangkit berdiri dan dibantu pria tadi.


"Aku tidak sengaja, tadi aku sangat buru-buru" jelasnya ucap pria tersebut.


"Tidak apa, lagian kakiku tidak lecet kok," bantah Sheza, meski kakinya terasa sakit tapi ia masih bilang tidak apa-apa.


Arkha hanya diam saja. Kemudian, ia pergi juga tuk menghampiri sahabatnya setelah mengenali siapa Pria itu, Arkha berdecak.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Oh ya, aku lupa. Bukankah kamu anak baru itu?" Tanya pria itu kembali berbalik, dan hanya diangguki oleh Sheza.


"Perkenalkan aku Valda Zeondra, pemilik kampus ini" ucap Valda dengan senyum sumringah nya ia memperkenalkan di depan gadis itu seraya mengulurkan tangan.


Sheza membalas uluran tangan itu dan menjabatnya serta membalas senyuman cowok itu. "Aku Sheza Gildeon, sennag bertemu denganmu"


Setelah berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri masing-masing, Valda berbalik ingin mengambil mobilnya. Niatnya ingin cepat cepat pergi mencari Shakira dan meminta maaf meski ia rasa sangat memalukan, tapi itu harus dilakukannya demi memperlancar pernikahan.


Namun lagi lagi ia tak jadi pergi, di depannya tengah berdiri sosok lelaki yang tak disukainya, Valda menatap nyalang ke arah Arkha yang tengah menatapnya dingin. Kemudian, tanpa basa-basi Arkha menarik Sheza menjauh dari pria berbahaya tersebut.


Sheza hanya mengikuti langkah Arkha dalam diam. Namun, jauh di lubuk hatinya ia merasa senang.


Valda juga acuh, ia segera mengambil mobilnya di parkiran tak jauh dari Arkha memarkirkan mobilnya. Tetapi, Valda tidak segera menjalankannya melainkan memperhatikan mobil Arkha yang mulai keluar dari area parkir tersebut.

__ADS_1


"Bukankah kemarin pria itu memakai motor besar? Wahh… gila ternyata aku kalah saing dengan berandalan itu" Valda berdecak sambil memukul setir mobil nya.


"Tunggu! Jika gadis yang bernama Sheza itu orang penting dia, berarti Shakira tidak ada hubungan apa-apa sama cowok itu! Wahh… menarik sekali!" Terka Valda tersungging aneh dan ia segera keluar dari parkiran tersebut menuju tempat biasa ia tuju, mencari Shakira pastilah itu sangat melelahkan. Jadinya ia menunda tugasnya itu dulu.


__ADS_2