A Psycopath Loves You

A Psycopath Loves You
16. Boronan tampan


__ADS_3

Lery, si polisi wanita muda yang berbadan sexy tengah duduk di kursinya, ia berpangku tangan menatap layar notebook nya dengan pikiran kemana mana, ia tidak mood mengerjakan tugasnya, pikirannya juga kalut gara-gara bertemu sosok pemuda tampan yang sekarang ini jadi buronan polisi muda itu. Bahkan, bisikan lembut ditelinganya tadi masih terdengar jelas. Polisi itu memang benar benar tidak fokus, sesekali ia memutar polpen dan sesekali ia menggigit polpen itu.


"Ck! Apa yang kau pikirkan, Lery? Fokus Lery, fokus! Bahkan aku kehilangan jejaknya tadi, jika ketemu awas saja kau!"


Lery mendengus kesal sambil memukul-mukul keningnya agar ia fokus dari awal lagi. Tapi lagi lagi banyangan pemuda itu dan hembusan nafas hangat itu masih terasa menyentuh kulitnya ketika ia berbisik. Otak Lery benar benar kacau sekarang, ia yang disuruh mengetik proposal tentang kasus pembunuhan itu pun tidak terkerjakannya.


"Tunggu! Padahal jarak waktu tidak terlalu lama saat aku keluar mencarinya, dia sudah hilang dan aku kehilangan jejak. Kemana dia? Apakah cowok itu ke parkiran bawah?" Lery menduga-duga.


Kemudian, ia menatap serius layar notebook nya. Ia berniat akan fokus kali ini. Sampai ketika seseorang menelponnya. Lery berdecak kesal, ketika ia sudah berfokus dengan tugasnya ada-ada saja yang menelponnya. Polisi wanita muda itupun mengangkat telpon dari seorang dokter kenalannya. Jika bukan karena penasaran kenapa dokter Su'er menghubunginya, Lery sudah mematikan telpon itu.


Lery bangkit berdiri, ia sangat tergesa-gesa keluar dari kantornya. Apa yang sudah di katakan dokter itu tidak masuk akal, ia melihat sendiri bahwa perampok itu sekarat di tendang pemuda tadi.


"Tidak! Itu tidak mungkin! Siapkan mobil!" Perintahnya pada Fren, kemudian teman sepekerjannya itu langsung mengambilkan mobil dan mereka langsung menuju rumah sakit.


***


Di koridor kelas. Seorang gadis cantik dengan rambut panjang bergelombang tergerai indah dan drees mewah di tubuhnya. Pandangan matanya tak kalah cantiknya dengan drees mewah itu, alis matanya lentik dan bibirnya merah merona membuat para lelaki terpesona oleh kecantikannya. Ya, di Shakira Alizia Angkarya. Seorang anak tunggal keluarga Angkarya, putri cantik bak bidadari.


"Sha!" Panggil seseorang di belakang gadis tersebut.


Gadis itu menoleh, disana seorang pemuda tak kalah tampannya berjalan santai menghampirinya. Kemudian, laki laki itu langsung menggandeng Shakira sambil tersenyum paling manis.


"Kemana?" Tanya Shakira ketika Valda si pemuda tampan itu menariknya membawanya ke suatu tempat.


"Valda! Mau kemana? Hey! Jawab aku, Val!" Teriak Shakira meronta-ronta, tetapi Valda masih setia menggenggam tangan mulus gadis itu.


Hingga sampai ke tempat yang telah di siapkan untuk gadis itu. Ruangan yang sudah dihias sedemikian rupa sehingga menghasilkan kesan indah, bunga berwarna putih di atas meja tersebut diambil Valda lalu menghirup aroma segar dari wangi bunga tersebut.


"Aku menyiapkan ruangan khusus untukmu, apa kau menyukainya?"


Shakira diam tidak menjawab. Ia hanya mendelik desain ruangan itu, memandangi pun tidak apalagi mengatakan menyukainya.


"Sha, sebentar lagi pernikahan kita akan digelar. Aku mau diantara kita bukan hanya sekedar perjodohan yang melatar belakangi pernikahan, tapi hubungan yang membuat kita saling menyukai dan mengerti satu sama lain" jelas Valda, namun Shakira tidak menghiraukannya.


Valda meraih tangan Shakira dan menggenggamnya erat sambil menatap dalam kedua manik mata indah gadis cantik di depannya itu, "maukah kamu menjadi kekasihku? Agar kita bisa jauh lebih dekat"


Shakira tercengang, tapi bukan berarti ia menyukai cara romantisnya itu. Gadis itu tercengang karna ia merasa bahwa pria itu sangat bodoh yang mengira dirinya menyetujui perjodohan itu dengan senang hati. Salah besar, bahkan Shakira menolak mentah-mentah perjodohan konyol itu.


"Aku mengerti perasaanmu, Sha. Maaf! Aku terlalu dadakan mengatakan ini, tapi percayalah aku sangat senang bisa menikahmu. Gadis cantik idaman para pria menjadi milikku, kamu diciptakan sangat sempurna yang hanya pantas untukku!" Lanjut Valda, tapi Shakira tetap diam.


Shakira melepaskan tangannya, lalu menatap mata pria itu dengan tatapan dingin. "Maaf, aku tidak mengerti maksudmu! Dan satu hal yang perlu kamu ketahui, aku tidak menerima perjodohan itu!" Shakira langsung berbalik dan pergi meninggalkan pria tampan itu disana dengan beribu kekesalan dihatinya sampai sampai ia menggetakkan giginya.


Tak!


Tangkai bunga putih itu patah di genggamannya seiring gadis itu melangkah keluar, tak pernah menduga jika gadis itu bisa sedingin itu padanya. Valda sungguh sangat marah ia menghempaskan bunga itu kelantai sampai kelopak kelopak indah itu berhamburan. Kemudian, ia melangkah menginjak kelopak yang berserakan itu. Hatinya sangat kesal, ia sangat marah sampai sampai wajahnya memerah.

__ADS_1


"Tunggu saja! Bagaimana reaksimu nanti saat dipermalukan," gumamnya sambil terus melangkah.


Tap!


Tap!


Tap!


Bunyi langkah kaki bersepatu high heels berwarna coklat itu menggema di sepanjang koridor. Rambut panjang bergelombang nya tertiup angin kebelakang membuatnya semakin terlihat sangat berdemage.


Dan sangat kebetulan, seorang gadis cantik berambut pendek sedikit bergelombang, berpakaian sederhana serta sepatu boots tinggi berwarna hitam di bawah lutut, melewati nya. Aroma khas farmum yang jarang dijumpai pun tersebar sampai ke Indra penciuman Shakira.


Shakira tertegun seketika, matanya tak lepas dari gadis itu ketika dia melewati Shakira. Memang benar, wajah gadis itu terasa familiar. Tapi, Shakira tidak mengingat dimana mereka pernah bertemu sebelumnya. Shakira berbalik, memastikan bahwa ia salah lihat. Namun, entah kenapa ia terdorong untuk menyapa gadis itu.


"Emm, Hay! Kurasa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Shakira menghentikan langkah kaki gadis berambut pendek itu.


Seketika gadis itu berbalik dengan senyum ramahnya, tidak mungkin ia bersikap seperti sudah lama sekolah disini.


"Emmm, Hay juga! Tapi kurasa…" perkataan gadis itu seketika tertahan ketika ia melihat wajah gadis yang menyapanya tadi. Gadis itu tersenyum simpul, sangat anggun dimata Shakira. Entah kenapa Shakira jadi iri melihat sosok gadis itu.


"Kamuuu…!" Tunjuknya.


"Apa benar kita pernah bertemu?" Shakira hanya ingin memastikan itu.


"Ohh benarkah?"


"Ya"


Gadis itu nampak berpikir dari mana ia menjelaskan pertemuan mereka. Sampai suatu ketika gadis itu bicara lagi, ia yakin jika dari situ pasti gadis yang bernama Shakira itu akan tahu.


"Apahh!!! Jadi kau…"


***


Di dalam bangunan kuno di pinggiran kota Crassover yang sudah tak layak di tempati, banyak sarang laba laba disana sini akibat belum sepenuhnya dibersihkan, terdengar obrolan jelas dari kedua orang yang ada di salah satu ruangan tersebut.


Obrolan itu dari seorang Pria kurus yang masih memakai baju khas pasien dan perban di tangannya. Dan seorang pria berbadan tegap yang sedang mengetik sesuatu di laptopnya.


"Bagaimana?" Tanyanya.


"Diam dan disini saja, aku yang akan mengeluarkan mereka. Tugas kalian belum selesai, bahkan kalian tidak membawakan uang itu untukku!"


"Baiklah… aku akan bersembunyi disini, tapi setelah lukaku sembuh aku akan menghajar anak itu!" Geramnya.


Pria tegap yang tak lain adalah Branson itu segara menghentikan kesibukannya, ia menoleh kearah pria kurus itu dengan tatapan heran bercampur penasaran.

__ADS_1


"Jadi ini juga kelakuan anak itu" Branson bertanya seakan akan ia tahu kalau anak yang dimaksud itu juga anak yang menghajarnya semalam.


"Iya, aku kira dia hanya pecundang yang takut akan bentakan kami, jadi aku memilihnya menjadi sendraku. Awalnya dia hanya diam tapi setelahnya dia mengamuk dan mengajari" jelas Wandi.


Branson berhenti mengetik. "Jika memang anak itu berarti dia masih berada di sekitaran itu" tebak Branson dan langsung mengambil telponnya untuk menghubungi Myron.


"Tetap disini dan jangan kemana mana kalau tidak mau tertangkap para polisi, masalah Holas dan yang lainnya serahkan saja padaku. Oh, kalau bisa bersihkan tempat ini agar lebih terasa nyaman. Bau apek sekali," ucap Branson dan segera berbalik pergi.


Wandi mengangguk tapi ia juga berdecak. Di mana otak pria itu, tahu saja ia baru keluar dari rumah sakit dan itupun kabur lewat. Bagaimana ia bisa membersihkan tempat sebesar ini.


Akhirnya Lery sampai dirumah sakit itu. Ia masuk tergesa-gesa menemui dokter su'er dan diikuti Fren dibelakangnya.


"Dimana dia?" Tanyanya.


"Lihatlah sendiri, Lery" dengus Su'er"


Lery masuk kedalam kamar tersebut dan tidak mendapati pasien disana. Ia sangat geram, setahunya perampok itu sekarat tapi kenapa ia bisa kabur secepat itu.


Drett…Drett…


Tiba tiba ponsel di tangan Fren berdering. Dengan cepat Fren mengangkat telpon tersebut dari atasannya.


"Apah!! Yang benar saja kenapa begini!" Pekiknya ketika mendengar kabar dari atasannya.


Fren segera menarik Lery masuk kedalam mobilnya. Setelah berterimakasih ke dokter Su'er.


"Ada apa lagi Fren?" Tanya Lery.


"Nanti kami akan tahu sendirinya" sahut Fren membuat Lery penasaran.


Sesampainya di kantor polisi. Fren dan Lery masuk dengan tergesa-gesa menui atasannya. Kemudian mereka diperintahkan menuju sel penjara.


Di sel tahanan tempat kedua perampok itu telah kosong tak tersisa. Bahkan kunci gembok sel tersebut masih utuh, lalu bagaimana mereka bisa keluar?


Lery semakin dibuat pusing. Ketiga perampok itu telah lolos. Padahal mereka belum diintegrasikan. Lery memegangi kepalanya yang sakit. Begitupula dengan Fren, ia sama halnya dengan Lery.


"Kenapa?" Hanya itu yang jadi pertanyaan keduanya.


Sangka utama yang ada di kepala Lery hanya anak muda yang berani menodongkan pisau kelehernya beberapa saat yang lalu itu, bahkan dia dengan santainya melewati seorang polisi berpangkat sepertinya. Dialah Arkha, orang yang jadi tuduhan Lery atas hilangannya ketiga perampok itu.


"Pasti dia!!"


Lery segera belari untuk melacak keberadaan Arkha, si pemuda tersebut.


......jangan lupa like jempolnya, isi kolom komentar biar aku rajin update nya, terus kalau bisa difavoritkan ya.........

__ADS_1


__ADS_2