
Pagi hari…
Di sebuah apartemen luas yang memiliki fasilitas mewah, disitulah tempat tinggal seorang Arkha. Saat ini cowok itu sedang menggosok gigi di kamar mandinya, ia menatap dirinya di pantulan cermin. Lalu, tersenyum iblis dengan tatapan dingin, sangat naif jika ia disebut baik. Arkha bukan laki laki baik bahkan tidak bisa dikatakan sama sekali, ia kejam keji dan memiliki sifat Psycopat.
Arkha mencoba untuk tersenyum, tapi malah senyum mengerikan. Ternyata ia memang benar benar tidak bisa dikatakan baik'. Arkha memijat-mijat pipinya dan menarik-narik nya mencoba tuk tersenyum. Tapi, lagi lagi malah sangat mengerikan.
"Ternyata aku tidak bisa seperti yang lainnya,"
Arkha menyentuh alisnya yang tergores cakaran saat ia di kamp pelatihan khusus yang letaknya sangat jauh dari kata kota, bahkan sangat jauh dari kota Minic, tempat tinggal Arkha dulu. Kamp itu berada di tengah hutan belantara yang tidak pernah di jamak oleh manusia, dan entah untuk apa gunanya bangunan kuno itu.
Saat itu ia masih kecil dan tidak tahu apa apa, ia diculik orang berseragam serba hitam saat Arkha di rumah keluarga Gildeon. Ia dilatih dengan keras bagaimana caranya berkelahi, menyelamatkan diri, bahkan membunuh. Bahkan pekerjaan keras ia yang melakukannya, entah apa yang diinginkan orang serba hitam itu, Arkha tidak tahu. Dan sialnya, hanya Arkha yang anak dibawah umur di bangunan kuno itu, sisanya orang dewasa dan juga remaja, yang sekitaran sepuluh orang.
Jika Arkha tidak menuruti perintahnya, maka Arkha akan dipukul menggunakan cambuk atau dimarahi habis-habisan sampai Arkha melakukan perintahnya, jika tidak tak segan segan orang yang ada di kamp pelatihan khusus itu membunuhnya.
Awal awal ia disuruh berburu di Padang binatang buas yang sangat kelaparan, bagaimana caranya hidup Arkha saat itu juga tidak tahu. Saat itu Arkha berumur lima belas tahun. Yaa… Arkha lima tahun berada di kamp pelatihan khusus tersebut. Ia hanya bisa bersembunyi dengan satu pisau sebagai alat berburu. Tubuh Arkha yang banyak luka luka, ia paksakan untuk berjalan di malam hari. Niat Arkha hanya ingin kabur dari 'kamp kematian' tersebut.
Ketika di malam hari, Arkha keluar untuk mengambil untuk mengambil air di danau. Saat itu ada seekor serigala yang sedang lapar, sementara Arkha tidak mengetahui keberadaan hewan tersebut. Hewan itu berlari kencang siap menerkam Arkha, ketika itu ia mengaum mengejutkan Arkha dan membuat Arkha langsung berlari secepatnya menghindari hewan tersebut.
Arkha remaja itu terus berlari menembus dedaunan dan semak semak belukar, ia takut bahkan sangat takut. Tetapi, ia masih kuat berlari zikzak menghindari terkaman binatang buas.
Pisau di saku celananya ia keluarkan, dengan tatapan tajam ia berbalik berlari lalu menggorok leher hewan tersebut saat ia siap menerkam Arkha. Namun sayang, hewan itu tidak mudah mati. Dengan ganasnya hewan tersebut menyerang Arkha dengan cakarnya padahal Arkha sudah menggorok leher hewan tersebut.
Arkha terus menerus menghindari serangan dari hewan tersebut, mereka bergulat di hutan gelap dengan diterangi bulan purnama yang menembus dedaunan. Cahaya remang remang itulah yang membantu penglihatan Arkha, sampai pada akhirnya Arkha kelelahan dan saat itulah sebuah cakaran mengenai kulitnya berkali kali hingga mengeluarkan darah segar. Seketika sekujur tubuh Arkha mati rasa dibuatnya, dan ketika itu juga jiwa psycopat nya mengeluar. Lima tahun di kamp pelatihan khusus itu, membuat Arkha memiliki sifat Psycopat yang sangat jarang dimiliki manusia biasa.
Arkha tersenyum iblis dengan tatapan tajam menusuk retina mata serigala tersebut menggunakan pisaunya. Darah muncrat kemana mana, bahkan sampai mengotori pakaian Arkha dan mencuis di wajahnya yang mulus itu.
Serigala itu kesakitan dan dengan asal ia menyerang Arkha menggunakan cakarnya hingga mengenai atas pada alis sampai di bawah mata, untung pada saat itu mata Arkha terpejam dan cakar itu tidak sampai merobek kelopak mata Arkha. Darah mengalir di pelupuk mata Arkha, cowok itu kesakitan ia memegangi matanya, rasanya sangat sakit dengan ditambah luka luka di sekujur tubuhnya yang tiba-tiba menjalar.
Sebelah mata Arkha terpejam, ia mulai kehilangan kesadaran. Ia terhuyung huyung ke belakang sambil memegangi sebelah mata kirinya. Semenatara serigala itu mengaum sekali lagi sebelum ia melanjutkan serangannya terhadap Arkha.
__ADS_1
Mata dibayar mata, itu yang pantas diucapkan serigala dengan lolongan kerasnya.
Serigala itu meloncat dan menindihi Arkha, dia siap memangsa Arkha saat itu juga. Karna kekurangan penglihatan Arkha tidak bisa melawan lagi, ia pasrah. Tapi, Arkha tidak mau mati konyol dimakan serigala dan dagingnya terkoyak koyak. Dengan sisa kemampuannya, Arkha melayangkan pisau satu satunya ke pucuk kepala serigala tersebut sebelum taringnya menyentuh lehernya, Arkha bisa bebas tapi serigala itu masih bisa bertahan.
Serigala itu kembali mendekat, jiwa ingin memakan manusia masih menyelimuti dirinya. Arkha mendekat tanpa ada rasa takut, jiwa psychopath nya benar benar menguasai jiwanya. Senyum iblis muncul di wajah tampan Arkha yang berdarah darah, dengan ekspresi datar ia melayangkan pisau itu dan menusuk nusuk tubuh serigala tersebut sampai ia puas dengan apa yang ia lakukan.
Akibatnya serigala itu mati ditangan Arkha. Arkha tersenyum puas melihatnya, darah segar masih mengucur di seluruh tubuhnya dan rasa sakit menjalar di sekujur tubuhnya apalagi di bagian mata sebelah kiri. Arkha berjalan terhuyung-huyung melanjutkan perjalanannya, tetapi baru beberapa langkah ia seketika tumbang dan benar benar kehilangan kesadaran.
Namun, siapa tahu jika kejadian itu ada yang menontonnya. Bahkan orang itu tersenyum licik kearah Arkha yang tumbang. Kemudian, orang serba hitam itu pergi ditelan gelapnya malam.
Saat Arkha terbangun, Arkha sudah ada di ruangan serba putih dan berbau khas obat obatan herbal. Yaa… Arkha saat ini berada di rumah sakit milik keluarga Gildeon, Arkha menyentuh mata sebelah kirinya yang masih terperban.
Sakit, itu yang Arkha rasakan. Ia menyapu ruangan itu dengan mata sebelah kanannya, lalu membuang nafas kasar. Huft, untung saja ia beruntung bisa lepas dari serigala lapar itu.
Click!
Seorang gadis cantik masuk kedalam ruangan tersebut dan berlari menghambur ke pelukan Arkha sambil menangis sesenggukan.
"Dan kenapa kamu menghilang selama itu, aku mencemaskanmu, Ar"
"Oh ayolah, aku juga sudah membunuhnya kan?"
"Dasar bodoh! Kamu menaruhkan nyawamu, Ar! Bagaimana kalau kejadian itu malah sebaliknya?"
"Aku tidak akan terbaring dirumah sakit" sahut Arkha enteng membuat gadis itu memelototi nya.
"ARKHAAAA!!!!"
Hampir saja Arkha terperanjat mendengar teriakan di luar kamar mandi, Arkha segera mengoleskan salep ke mata bekas cakaran itu, agar bekas cakaran itu tersamarkan.
__ADS_1
Click!
Arkha membuka pintu kamar mandi dan seketika menampilkan sosok gadis menyeramkan yang sedang memelototinya dan berkacak pinggang.
"Sampai kapan kamu berdiam di dalam kamar mandi, hah?! Padahal nyata nyata kau tidak mandi" Sungut Sheza dan segera masuk ke dalam kamar mandi tersebut.
Sementara Arkha jangan ditanya, ia hanya memasang wajah tak bersalah nya. Kemudian dengan santainya ia melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
Bayangan mengerikan tadi masih terbayang di kepala Arkha betapa kejamnya dunia membuat ia memiliki sifat Psycopat. Arkha masih bertanya tanya untuk apa Kamp pelatihan khusus itu, tidak lebih pantasnya ia sebut 'kamp kematian'. Semenjak kejadian ia membunuh serigala itu, Arkha tidak lagi di ke 'kamp kematian' lagi. Untung sekali ia pingsan di tempat itu dan dilarikan ke rumah sakit.
"Tapi… siapanya yang menyelamatkan ku saat itu? Berarti ada orang yang melihatku saat itu"
Sheza sudah siap dengan pakaian bersih dan rapi. Sekarang ia siap untuk pergi ke kampus baru, Sheza menghampiri Arkha yang sedang mengolesi selai pada roti bakar yang baru di masaknya.
"Kemana?" Arkha berinisiatif bertanya walau ia tidak perlu jawaban.
"Kampus baru, Ar" jawab Sheza sembari mengambil roti bakar yang baru cowok itu letakan di atas piring putih.
"Bukankah kamu kuliah di luar negri?" Tanya Arkha.
"Iya. Tapi aku ingin pindah ke sini. Semua berkat ayahku. Dulu z dia yang memasukan ku kesana, tapi berkat bujukanku ayah mau mengeluarkanku dari kampus itu dan lanjut kuliah di sini saja. Niatku hanya ingin kumpul kembali dengan ayah dan kau!" Jelas Sheza
Arkha hanya mengangguk mengerti. "Boleh ku antar?"Arkha bertanya tanpa menatap lawan bicaranya, ia sangat sibuk. Sementara Sheza ia hampir keseledak roti yang dimakannya itu mendengar tawaran Arkha.
"Uhuk! Ehem! Apa maksudmu? Kamu ingin mengantarku?" Tanya Sheza tidak mengerti dan dijawab Arkha dengan anggukan kecil.
"Arkhaa! Kenapa harus bertanya kalau kamu yang mau, dasar aneh!" Celutuk Sheza kesal dengan sikap menyebalkan Arkha.
Arkha selesai mengolesi selai di rotinya, ia segera duduk berseberangan dengan gadis itu. Sheza hampir tersedak melihat damage Arkha saat dia menghempaskan pantatnya ke kursi, sangat sangat berdamage.
__ADS_1
Arkha mendongak menatap wajah Sheza, dengan segera gadis itu mengalihkan pandangannya sambil gelagapan di tatap Arkha.
...Jangan lupa like', komentar di bawah dan tekan favorit ya. Satu like dari kalian sangat berharga....