A Psycopath Loves You

A Psycopath Loves You
18. Berita menakjubkan


__ADS_3

Pagi harinya. Arkha bangun lebih awal dari kemarin-kemarin nya. Segera saja ia menyiapkan sarapan pagi, dan setelah selesai ia bergegas membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Sheza yang melihat aktivitas pagi Arkha seperti seorang istri itu pun mengulum senyum.


"Peppt… lucu sekali dia. Beruntung kali aku bisa mencicipi masakan seorang pria selain ayahku"


Sheza berjalan ke dapur melihat masakan Arkha yang baru dimasaknya tadi, terlihatlah menu masakan lezat mengunggah selera.


Sheza menyendok makanan tersebut dan siap mencicipinya. Namun, baru saja sendok itu menyentuh mulutnya, Arkha sudah kembali dan berdehem keras menegur Sheza dengan tatapan tajam nya.


"Eeee… anuu.. aku hanya lewat dan tak sengaja melihat masakanmu, jadinya aku berniat mencicipinya. Hehe.. sungguh.." bukannya meletakkan kembali sendok itu, Sheza malah melanjutkan mencicipinya. Masakan itu sungguh lezat dan gurih dimulutnya.


"Pergi, mandi sana! Lalu sarapan!" Suruh Arkha masih dengan tatapan dinginnya.


"Iya-iya" Sheza mengikutinya saja sambil meletakkan kembali sendok tersebut.


"Aku baru tahu kamu bisa masak, siapa yang mengajarimu? Ku rasa masakannya terasa familiar dengan racikan bumbunya" tanya Sheza.


"Ayahmu," jawaban Arkha sangat singkat padat dan jelas, Sheza hanya mengangguk mengerti. Pantas saja ia merasa familiar dengan bumbu masakan itu.


Sementara di dalam sebuah rumah besar bertingkat berwarna putih bersih di komplek paling elit. Disitulah seorang gadis cantik berada, dia masih setengah sadar. Matanya mengerjap, lalu segera bangun mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya. Kemudian barulah bangkit dari tempat tidurnya.


Sebelum ke kamar mandi Shakira menyempatkan diri tuk menjenguk ikan ikan kecilnya serta memberinya makan terlebih dahulu. Shakira tersenyum manis melihat ikan ikan kecil berwarna-warni tersebut mengerubuti umpan yang ia berikan tadi.


"Semakin hari semakin lincah saja kalian, hmm"


Kini, Shakira sudah memakai pakaian rapi. Ketika ingin keluar, mata Shakira tertuju pada mantel maroon milik Arkha. Gadis itu meraihnya, dan meletakkannya di dalam tasnya, ia berniat untuk mengembalikannya ke pemiliknya jika bertemu nanti.


Shakira segera pergi ke meja makan untuk sarapan pagi bersama kedua orang tuannya.


"Pagi Mami Papi!" Sapa Shakira dan menarik kursi di sebelah Mami Deva.


Mami Deva tersenyum tipis menanggapinya, Shakira merasa heran dengan sikap Maminya pagi ini. Bahkan Papinya juga begitu.


"Kenapa dengan mereka?" Tanyanya tak mengerti.


Shakira mengambil piring dan lauk pauknya sendiri, biasanya Mami-nyalah yang mengambilkan untuknya.


Setelah selesai sarapan segera saja Shakira pergi. Berlama-lama di meja makan itu membuat hati Shakira tersentil.


"Harus diantar pak Egi kamu, Sha! Dan jangan membahas!" Perintah Papi Wardy tanpa menoleh.


Shakira segera berbalik dan berjalan beberapa langkah mendekat. "Kenapa pih? Bukannya… oh, aku lupa!" Shakira ingin membahas tentang kemarin, tapi rupanya ia lupa kalau ayahnya menolak keras pengambilan itu.


"Kamu masih menyuruhku mengambil alih mobil tersebut. Aku masih punya wajah, nak! Seharusnya kamu mengerti perasaan Papi" ucap Wardy.


Shakira ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan, sebab maminya lebih dulu berucap bahkan mencibirnya.

__ADS_1


"Katanya sudah punya pacar lebih baik dari Valda. Tapi, mana?"


"Kamu saja tidak mau menerima perjodohan itu, Sha. Kalau kamu mau mobil Lamborghini itu, dilanjutkan saja pertunangannya" sambung Mami Deva.


Shakira menganga tak percaya. Papi maupun Mami nya sama sama tidak tahu perasaannya, ia menganggap Valda itu sebatas teman saja.


"Mami sama Papi ternyata sama saja!" Teriak Shakira kesal. Kemudian ia berlari keluar rumah tanpa berhenti, bahkan pak Egi pun tidak bisa menghentikannya. Shakira benar benar benci perjodohan itu, yang untung mereka tapi ia. Ia tidak mendapatkan apa-apa. Harusnya meraka paham dan sadar akan perbuatan mereka.


Shakira terus berlari, kemudian berhenti tersengal-sengal meluruskan nafasnya. Hatinya sangat sakit, hanya karna masalah perjodohan itu mereka bertengkar.


Di kejauhan mobil pak Egi mendekat. Dan berhenti tepat di samping nona nya. Shakira menoleh, sebelum dibukakan pintu ia langsung masuk saja sambil membanting pintu tanpa sebuah kata kata.


Pak Egi yang paham akan masalah hati Nona itupun diam saja, ia segera melajukan mobilnya.


***


Lery berjalan agak tergesa-gesa seperti takut ketinggalan pesawat, kadang kadang ia juga berlari. Hatinya senang sudah mendapatkan apa yang ia cari.


"kita akan bertemu lagi berandalan. Siap siap saja kau! Heh, membuatku kesal saja" gumamnya penuh percaya diri akan penangkapannya itu.


Semalaman ia mencari informasi tentang cowok itu dan akhirnya berbuah juga. Ia mendatangi tempat cctv bank yang mengarah ke parkiran. Ternyata cowok itu ada di parkiran dan pergi menggunakan mobil hitam. Untung saja plat mobil itu terlihat di kamera saat ia berbalik pergi. Kemarin, ia juga meminta rekaman cctv di rumah sakit itu. Dan ternyata mobil hitam itu juga ada disana. Itu membuktikan bahwa cowok itu telah bersengkongkol dengan para perampok itu.


"Ohh… mobil itu bergerak di jalan dekat air mancur bundaran. Ayoo, kita cegat di pos satu pengamanan, jalan disitu juga agak sepi!!" Seru Fren yang sudah mendapat petunjuk.


"Bagus! Ayoo kita kesana secepat mungkin!" Lery segera pergi berangkat melalui jalan pintas agar lebih cepat sampai di pos satu.


Cowok itu membanting setir sebelah kanan berbelok menjalani gang agak sempit dan kemudian sampai di jalan belakang menuju kampus Baleon, jalan ini agak sepi tapi jika malam jalurnya para mobil mobil besar.


"Arkha, kenapa jalan sini?" Tanya Sheza disebelah Arkha merasa heran.


"Aku ingin bermain sebentar" jawab Arkha santai, membuat Sheza melotot.


Bermain sebentar? Bukankah kata itu yang terdengar aneh. Sheza menatap Arkha waspada, takutnya pemuda itu akan berbuat yang tidak-tidak.


Merasa ada yang menatapnya, Arkha menoleh sebentar. "Ada apa?" Tanya Arkha heran.


"Anuu.. " Sheza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung menjelaskan, segera saja ia membuang pikiran negatif nya jauh jauh, mana ada seorang Arkha melakukan kejahatan pada sahabatnya sendiri.


Sementara di pos satu. Lery dan Fren menuggu kedatangan mobil tersebut. Lery agak kesal merasa di bodohi waktu, ia cepat cepat pergi kesini agar tidak terdahulu cowok itu, tapi nyata cowok itu tak muncul muncul.


"Astaga! Dia menikung jalan!" Pekik Fren yang masih setia dengan layar tabletnya. Lery segera mendekat ikut melihat.


"Jalan belakang menuju kampus Baleon, tapi jalan itu sulit diakses jadi aku tidak tahu sampai dimana dia sekarang. Tapi tunggu, bukankah jalan itu buntu karna ada kerusakan di jembatan kayu kemarin?"


"Itu kesempatan emas. Kita lewat jalur ini dan langsung menjegatnya disana. Ayo kita kesana lagi!" Lery buru buru pergi. Ia sangat semangat menangkap pemuda itu.

__ADS_1


Sesampainya di jalan sepi itu. Lery segera turun bersama Fren ditangan keduanya tergenggam erat pistol masing-masing.


Dari kejauhan terlihat mobil hitam yang melaju kencang di jalan ini. Kedua tersenyum lebar, musuh sudah di depan mata. Fren siap menarik pelatuknya jika mobil itu tidak berhenti.


Tiba-tiba mobil hitam itu berhenti tak jauh dari mereka. Fren tersenyum puas karena ia tak susah susah membidiknya dan membuang satu pelurunya.


Lery dan Fren berjalan pelan mendekat kemobil itu. "Turun dari mobil br*ngs*k!" Kemarahan Lery tak tahan juga, ia bahkan membentaknya.


Tak ada pergerakan di mobil itu. "Turunkan kaca mobilnya!" Kali ini Fren yang memerintah.


Dua polisi menyebalkan itu m mbuat Arkha tertawa.


Kaca mobil perlahan terturun dan memperlihatkan sosok pria tampan dengan senyuman manisnya. "Ada apa ini? Kenapa kalian memberhentikan jalanku?" Tanyanya.


Lery ternganga. Tapi bukan berarti ia takjub dengan wajah tampan itu. Perlahan-lahan ia menurunkan senjatanya.


"Hey! Turun dari mobil cepat! Apa kau tidak mengerti sama sekali? Kamu buronan kami!" Bentak Fren marah.


Pria di dalam mobil itu malah tertawa terbahak bahak. "Apa kalian g*la. Sejak kapan aku jadi buronan, bahkan masuk penjara pun aku tidak pernah" jawabnya santai.


"Yang bilang kamu pernah masuk penjara siapa? Kamu sudah bersengkongkol dengan para perampok itu, dan kau juga berani menodongkan pisau ke polisi bahkan kau melakukan kekerasan disana!" Fren tidak habis pikir dengan pria di dalam mobil itu.


"Kalian benar benar g*la! Apa kamu tidak bisa membedakan orang?" Tanya pria di mobil.


"Turun dari mobil berd*bah!" Fren siap menarik pelatuknya saking kesalnya. Tetapi, Lery mencegatnya.


"Geledah mobilnya! Dan kau turun dari mobil!" Perintah Lery.


Dengan sangat terpaksa pria tersebut keluar dari mobil itu. "Kalian membuang waktuku saja" gerutunya sebal. "Dan jangan sentuh batangku!" Sambungnya lagi.


Fren membuka bagasi mobil. Tidak ada apa-apa disana. Kemudian, ia menggeledah bagian depan, tapi juga tidak apa-apa. Ia berhenti, berpikir untuk apa ia disuruh menggeledah mobil ini. Namun, saat ia berhenti mencari. Matanya tertangkap benda aneh di bawah kursi mobil tersebut. Benda kecil berbentuk kotak berwarna hitam. Fren langsung mengambilnya dan mempertanyakan itu.


"Untuk apa ini?" Tanyanya pada pria tersebut.


"Untuk apa kamu bertanya kalau kau sudah tahu itu benda apa, huh sangat membuang waktuku saja!" Gerutunya.


"Ikut aku ke kantorku!"


"Tapi, itu tidak ada hubungannya dengan kalian!"


"Tetap saja!"


"Kau salah orang!"


"Tetap saja kau harus diintegrasi!"

__ADS_1


"Baiklah baiklah"


......jangan lupa tinggalkan jejak ya.. seperti like, komen dan difavoritkan ya........


__ADS_2