
Keluarga Hyo-Rin kini sudah berada dibandara untuk mengantar kepergian Hyo-Rin dan Ji-Hwon ke Korea.
"Eomma jangan menangis" kata Hyo-Rin pada ibunya yang kini sudah menangis tersedu-sedu dipelukkan Hyo-Rin.
"Eomma h-hanya merasa sedih akan berpisah denganmu" kata ibu Hyo-Rin dengan sesenggukan.
"Eomma tenang saja. Aku pasti akan sering mengunjungi kalian disini" ucap Hyo-Rin menenangkan ibunya.
"Itu memang harus" kata ibu Hyo-Rin lagi.
"Maaf kita harus berangkat sekarang" ucap manajer Ji-Hwon tiba-tiba, membuat Hyo-Rin harus melepaskan pelukannya dengan ibunya.
"Aku harus berangkat sekarang. Jaga diri kalian baik-baik disini" kata Hyo-Rin sambil memeluk satu persatu anggota keluarganya.
"Kau juga nak. Jaga dirimu baik-baik, dan sering-seringlah menghubungi kami" kata ayah Hyo-Rin sambil mengelus puncak kepala Hyo-Rin.
"Kami pamit dulu" pamit Ji-Hwon yang diangguki oleh keluarga Hyo-Rin.
Setelah itu Hyo-Rin, Ji-Hwon, dan manajernya masuk kedalam bandara. Meninggalkan keluarga Hyo-Rin yang sejujurnya masih sedikit tidak rela akan kepergian Hyo-Rin, namun mau bagaimana lagi, Hyo-Rin sudah memutuskan semua itu.
.
.
.
"Setelah ini kita akan kemana?" Tanya Hyo-Rin saat mereka baru tiba di Korea.
"Kita akan langsung kerumah keluargaku, dan membahas mengenai pernikahan kita" jawab Ji-Hwon yang diangguki oleh Hyo-Rin.
Setelah itu, Ji-Hwon dan Hyo-Rin langsung menaiki mobil jemputan Ji-Hwon, dan pergi menuju rumah keluarga besar Ji-Hwon untuk membahas mengenai pernikahan mereka.
__ADS_1
Ting tong...
Ji-Hwon menekan bel rumah keluarga nya saat mereka sudah tiba. Dan beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda, yang di duga adalah ibu Ji Hwon. Ia kemudian melihat ke layar kaca sebelum membukanya. ketika melihat Ji Hwon, ia berbicara melalui speker yang tersambung ke depan rumah mereka itu.
"jika kau datang hanya sendirian lebih baik kau kembali saja ke rumahmu." kata ibu Ji-Hwon dengan tegas.
Ji-Hwon terkekeh pelan mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya dan kemudian dia menarik Hyo Rin yang tepat berada dibalik punggungnya agar pindah disampingnya.
"Baiklah kalau begitu aku akan kembali ke rumahku saja." kata Ji-Hwon pada ibunya.
Baru saja ingin menarik tangan Hyo-Rin untuk kembali tiba-tiba pintu rumahnya langsung dibuka lebar dan keluarga besar Ji Hwon menjadi gempar akan kedatangan Hyo Rin yang tidak mereka sangka.
Ibu Ji-Hwon dengan segera menarik Hyo Rin agat secepatnya masuk ke dalam rumahnya, tanpa memedulikan Ji-Hwon yang masih berdiri didepan rumah sambil memasang ekspresi melongonya. Bukankah seharusnya mereka menyambut kedatangannya dengan baik?. Sebenarnya siapa anak yang sebenarnya, Ji-Hwon atau Hyo-Rin?. Ji-Hwon kemudian menggelengkan kepalanya sambil tertawa sejenak.
Begitu Hyo-Rin masuk kedalan rumah, dia langsung dikelilingi oleh seluruh keluarga Ji-Hwon. Bahkan nenek Ji-Hwon langsung memeluk erat Hyo-Rin seakan-akan mereka sudah kenal lama. Hyo-Rin pun membalas pelukkan nenek Ji-Hwon dengan hangat. Setelah itu, seluruh keluarga Ji-Hwon langsung berlomba-lomba bertanya pada Hyo-Rin perihal hubungannya dengan Ji-Hwon.
Ji-Hwon yang melihat Hyo-Rin sudah kebingungan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari keluarganya, akhirnya berjalan menghampiri Hyo-Rin dan duduk disebelah gadis itu.
"Eomma..." Panggil Ji-Hwon pada ibunya. Dia ingin mengatakan agar berhenti bertanya pada Hyo-Rin.
Mereka kembali tidak menghiraukan panggilan Ji-Hwon, justru mereka segera mendorong Ji-Hwon agar menjauh dari Hyo-Rin. Ji-Hwon yang sudah terlanjut kesal pun ahirnya berteriak.
"AKU AKAN MENIKAH!" Teriak Ji-Hwon dengan begitu keras membuat seluruh orang yang berada ditempat itu langsung terdiam.
"AKHH Halmeoni!" Pekik Ji-Hwon karena neneknya tiba-tiba saja memukul punggungnya dengan kencang.
"Aigoo dasar anak bodoh! Kenapa kau baru ingin melakukan hal ini sekarang?!" Kata neneknya sedikit kesal.
Seluruh keluarga Ji-Hwon tertawa melihat Ji-Hwon yang meringis sambil memegang punggungnya. Namun tak bisa berbohong kalau mereka juga senang mendengar Ji-Hwon yang memutuskan akan menikah. Nenek dan ibu Ji-Hwon pun lantas memeluk Hyo-Rin sambil meneteskan air matanya.
"Terimakasih nak. Karena kehadiranmu akhirnya membuka hati Ji-Hwon, hingga dia bisa ingin menikahimu" kata nenek Ji-Hwon dengan tulus, yang dibalas dengan anggukan beserta senyuman hangat dari Hyo-Rin.
Seluruh keluarga Ji-Hwon yang lain pun juga ikut menatap Hyo-Rin sambil tersenyum hangat kepada Hyo-Rin yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga mereka.
"Jadi cuman Hyo-Rin yang dipeluk?" Tanya Ji-Hwon sambil berpura-pura merajuk
__ADS_1
"Kau memang cucukku yang baik" kata Nenek Ji-Hwon sambil memeluk Ji-Hwon.
Setelah berbincang-bincang sedikit, keluarga Ji-Hwon pun menyuruh mereka untuk beristirahat dulu karena baru saja melewati perjalanan panjang, dan berkata akan menyiapkan makan malam besar untuk merayakan hari ini.
Beberapa jam kemudian, saat Hyo-Rin dan Ji-Hwon akan turun untuk makan malam, mereka disuruh untuk kembali naik dan bersiap-siap untuk berganti pakaian lagi, karena keluarga Ji-Hwon mengatakan akan makan malam diluar.
Ji-Hwon sedikit pusing karena hal itu. Jujur saja jadwalnya saat ini sangat padat, namun dia tidak akan mungkin bisa untuk menolak keluarganya. Ji-Hwon tau setelah ini dia pasti akan lebih disibukkan oleh keluarganya karena acara pernikahannya. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Ji-Hwon selalu menolak ketika disuruh menikah.
Hyo-Rin kembali masuk kekamarnya untuk bersiap-siap, namun begitu dia masuk kedalam kamarnya, dia kaget melihat baju yang begitu indah sedang tergantung di kamarnya, serta kehadiran beberapa maid yang siap mendandani dia bak seorang Princess.
Keluarga Ji-Hwon sudah berkumpul diruang keluarga sambil menunggu Hyo-Rin yang sedang bersiap. Ji-Hwon kembali mengingatkan mereka agar tidak kembali mencerca Hyo-Rin dengan banyak pertanyaan lagi.
Tak beberapa lama setelah itu, ketukkan heels dari arah tangga membuat seluruh orang yang ada disitu menatap kearah Hyo-Rin dengan tatapan terpesona. Sedangkan Ji-Hwon yang masih belum menyadari keberadaan Hyo-Rin, terus memanggil ibunya.
"Eomma... eomma dengar apa yang kukatakan tadi kan?" Kata Ji-Hwon pada ibunya yang masih terus menatap kearah Hyo-Rin.
Ji-Hwon masih terus saja merenge-renge mengingatkan ibunya agar mendengarkan apa yang dia katakan, namun beberapa saat kemudian ia sempat bingung dia mengerutkan keningnya karena ibunya tidak menjawabnya dari tadi.
sesaat ia pun sempat melirik ke arah pandang ibunya. namun kembali merenge-renge lagi kepada ibunya, namun hanya beberapa detik saja ia kembali menoleh ke arah tangga dengan mata yangbseakan berbinar-binar dengan mulut yang sedikit menganga. Ji-Hwon kini menatap Hyo-Rin tanpa berkedip sekalipun karena terlalu terpesona akan kecantikan Hyo-Rin malam ini. Dia sampai tidak bisa berkata apa-apa saking terpesonanya.
Setelah tersadar dari keterpesonaannya, sepertinya Ji-Hwon lebih tidak sabar lagi untuk menggandeng calon isterinya itu. Ji Hwon pun bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Hyo-Rin, calon istrinya itu. Tangan Ji-Hwon bergerak mengambil sesuatu yang menempel di gaun Hyo-Rin, lalu mendekatkan wajahnya kearah telinga Hyo-Rin sambil berbisik.
"Kau begitu cantik malam ini" bisik Ji-Hwon tepat disamping telinga Hyo-Rin, membuat tubuh wanita itu meremang.
Keluarga Ji-Hwon tertawa melihat apa yang dilakukan Ji-Hwon saat ini. Bagi mereka ini adalah hal langkah, karena Ji-Hwon tidak pernah melakukan ini sebelumnya.
"Haduhh dasar anak nakal" kata nenek Ji-Hwon yang melihat tingkah Ji-Hwon.
"Ayo kita keluar lebih dulu. Biarkan mereka menyusul" lanjut nenek Ji-Hwon mengajak anggota keluarha lain untuk keluar lebih dulu.
Setelah itu mereka pun akhirnya memutuskan untuk keluar terlebih dahulu meninggalkan Ji-Hwon yang masih menatap Hyo-Rin dengan tatapan memuja.
Setelah keluarga Ji-Hwon telah jeluar satu persatu, Ji-Hwon langsung merangkul posesif pinggang Hyo-Rin membuat wanita itu menegang karena perlakuan pria itu.
"Apakah kau sudah siap, Calon Nyonya Choi?" Tanya Ji-Hwon dengan pandangan menggoda.
__ADS_1
Ji-Hwon terkekeh kecil karena melihat wajah Hyo-Rin yang sudah berubah memerah sekarang.