
Begitu Ji-Hwon keluar dari kamar Hyo-Rin, dia dengan cepat berlari kearah rooftop rumah sakit itu. Begitu sampai, dengan nafas yang terengah-engah, Ji-Hwon memegang dadanya sendiri. Jantungnya serasa ingin meledak saat bersama Hyo-Rin tadi.
Ji-Hwon merasa bingung dengan dirinya sendiri yang bisa merasa sangat nyaman saat bersama dengan Hyo-Rin. Padahal baru beberapa jam yang lalu sejak pertemuannya dengan gadis itu, namun sudah memberikan dampak yang besar bagi dirinya.
Disisi lain, Hyo-Rin yang kini sedang sendiri diruang rawatnya memegang perutnya yang terasa begitu mulas mulai dari saat dirinya yang ditinggal berdua dengan Ji-Hwon oleh keluarganya. Dia tidak bisa mengendalikan perasaanya saat melihat sikap Ji-Hwon yang menurutnya begitu romantis.
Kembali lagi ke Ji-Hwon. Setelah pria itu berhasil menenangkan debaran dijantungnya dia memutuskan untuk kembali kekamar Hyo-Rin. Dia tersenyum begitu melihat wanitanya itu sudah terlelap tidur. Tunggu tunggu, sejak kapan Ji-Hwon mulai mencap Hyo-Rin sebagai wanitanya?. Sudahlah daripada memusingkan itu, Ji-Hwon memutuskan untuk tidur dikursi samping tempat tidur Hyo-Rin. Pria itu tertidur sambil memegang erat telapak tangan Hyo-Rin.
Keesokan harinya Hyo-Rin terbangun saat merasakan ada beban berat yang menimpa tangannya. Dia terkejut begitu melihat Ji-Hwon yang sedang tertidur. Merasakan ada pergerakan dari tempat tidur, Ji-Hwon perlahan mulai membuka matanya.
"Kau sudah bangun dari tadi?" Tanya Ji-Hwon setelah meregangkan tubuhnya sebentar.
"Hm tidak juga. Ngomong-ngomong kapan aku bisa pulang?" Kata Hyo Rin.
"Apa kau sudah merasa benar-benar pulih?" Ji-Hwon bertanya lagi.
"Ya. Aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang. Jadi bisakah kita pulang hari ini?" Bujuk Hyo-Rin pada Ji-Hwon.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menanyakan pada dokter dulu, kalau dia sudah mengizinkanmu pulang, maka kita akan pulang siang ini juga." Putus Ji-Hwon.
Setelah mendapat persetujuan dari dokter, akhirnya Ji-Hwon dan Hyo-Rin memutuskan untuk pulang hari ini juga.
Ketika mereka akan keluar dari rumah sakit, para reporter yang berada di rumah sakit ini sejak semalam langsung berlari kearah mereka berdua. Untung saja para pengawal yang ditugaskan oleh Ji-Hwon dengan cepat menghalangi mereka semua. Ji-Hwon langsung merangkul Hyo-Rin yang berjalan disampingnya lalu menutupi wajah Hyo-Rin dengan tubuhnya, setelah itu mereka berdua masuk kedalam mobil Ji-Hwon.
Begitu mereka sampai didepan rumah Hyo-Rin, Ji-Hwon langsung menggandeng tangan Hyo-Rin dan membawanya masuk kedalam. Hyo-Rin yang menyadari perlakuan Ji-Hwon berusaha menyembunyikan rona merah dipipinya.
Saat mereka masuk kedalam, kedatangan mereka langsung disambut dengan hangat oleh keluarga Hyo-Rin. Kedua orang tua Hyo-Rin meminta Ji-Hwon untuk menginap dirumah ini selama dia masih di Indonesia.
"Nak Ji-Hwon, menginaplah disini selama kau masih berada di Indonesia" ucap ayah Hyo-Rin pada Ji-Hwon.
Mendengar kata-kata ayahnya itu, Hyo-Rin sontak saja menoleh kearah ayahnya itu dengan pandangan terkejut. Dia jelas tidak ingin Ji-Hwon tinggal disini, selain karena tidak ingin terlibat masalah lagi, keberadaan Ji-Hwon disisinya juga tidak baik untuk kesehatan jantungnya, walaupun tak bisa dipungkiri bahwa Hyo-Rin senang berada dekat dengan pria itu.
"Tidak usah Mr. Kim, saya bisa menyewa hotel didekat sini" tolak Ji-Hwon halus.
"Tinggal di hotel tidak aman untukmu nak. Para wartawan pasti akan lebih mudah mengejarmu. Tinggalah disini agar lebih aman" timpal ibu Hyo-Rin.
"Apa yang dikatakan orang tua nona Hyo-Rin benar. Akan lebih aman jika kau tinggal disini. Aku akan menyewa hotel disekitar sini untukku" kali ini manajer Ji-Hwon yang membuka suara.
Ji-Hwon yang mendengar semua itu akhirnya menuruti permintaan mereka untuk tinggal di rumah Hyo-Rin beberapa waktu sampai dia pulang ke Korea.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan tinggal untuk sementara waktu disini jika Hyo-Rin mengizinkan" ucap Ji-Hwon sambil menatap kearah Hyo-Rin seolah meminta persetujuan.
"Ak-"
"Tentu saja diizinkan. Iya kan Hyo-Rin?"
baru saja Hyo-Rin ingin menjawab, ibunya tiba-tiba saja memotong ucapannya. Hyo-Rin pun akhirnya hanya menganggukan kepalanya saja. Dan sudah diputuskan kalau Ji-Hwon akan tinggal bersama Hyo-Rin sementara ini.
Karena ke dua adik Hyo Rin yang masih harus bersekolah, akhirnya keluarga Hyo Rin pun juga harus kembali ke Bali. Dan berakhirlah Hyo-Rin dan Ji-Hwon yang kembali berduaan saja.
Untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan, dan ketidaknyamanan nanti di dalam rumah, Ji Hwon berinisiatif untuk mengajak Hyo Rin untuk menemani dia berlibur beberapa hari selagi ia berada di Indonesia. Karena dia tidak punya kenalan atau kerabat yang ada di indonesia. Dan Hyo-Rin pun menyetujui ajakan dari Ji-Hwon.
Melihat kondisi yang saat ini dialami
Oleh mereka berdua, Ji-Hwon akhirnya memutuskan untuk pergi berlibur ketempat yang tidak terlalu ramai. Dan ya mereka memutuskan akan pergi kepulau Lombok. Tempat yang terkenal karena keindahan pulaunya, namun juga tidak terlalu ramai seperti di Bali ataupun beberapa tempat liburan lainnya.
Saat ini Ji-Hwon ingin menenangkan pikirannya sejenak. Menjauh dari hal-hal yang berbau kamera, ataupun pertanyaan dari reporter yang selalu mengikutinya. Dia juga ingin Hyo-Rin menenangkan pikirannya juga, karena Ji-Hwon tahu wanita itu pasti sangat terpukul dengan masalah yang datang padanya belakangan ini. Saat ini yang mereka butuhkan adalah ketenangan, tanpa ada gangguan dari pihak luar.
Hyo-Rin dan Ji-Hwon baru saja mendarat di Lombok. Dan hingga sampai malam Hyo-Rin tetap tidak bisa memejamkan matanya. Hyo-Rin ingin menikmati suasana pulau ini yang membuatnya merasa begitu tenang dan nyaman.
Sudah lama Hyo-Rin tidak merasa setenang ini. Tubuh dan pikirannya seakan kembali disegarkan. Tidak ada kebisingan, tidak ada pekerjaan yang harus dipikirkannya, tidak ada wartawan yang akan mengejarnya, juga tidak akan ada yang memandang sinis kearahnya.
Ji-Hwon yang baru saja keluar dari kamarnya, melihat Hyo-Rin yang sedang berjalan disekitar pantai. Dengan cepat pria itu berlari menghampiri Hyo-Rin.
"Sedang apa disini?" Ji-Hwon bertanya begitu dia berada disamping Hyo-Rin.
Hyo-Rin sempat terkejut melihat Ji-Hwon yang tiba-tiba saja sudah berada disampingnya, namun sedetik kemudian wanita itu tersenyum kearah Ji-Hwon. Senyum yang membuat Ji-Hwon terpana karena baru menyadari betapa cantiknya wanita disampingnya ini. Kali ini suasana canggung tidak meliputi mereka berdua, sehingga mereka berdua dapat berbicara dengan santai dan membahas banyak hal.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Ji-Hwon mendadak.
"Ini kau sudah bertanya" ucap Hyo-Rin sambil terkekeh kecil, membuat Ji-Hwon mengerucutkan bibirnya.
"Bukan itu maksudku" ucap Ji-Hwon sedikit kesal.
"Haha, baiklah apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Hyo-Rin lagi.
__ADS_1
"Aku sebenarnya penasaran mengapa kau tidak membalas komentar yang kutulis padamu waktu itu. Padahal saat wartawan mewawancaraiku, aku sempat memberikan kode padamu agar kamu membalas komentarku" ucap Ji-Hwon panjang lebar sambil tersenyum kearah Hyo-Rin agar Hyo-Rin tidak merasa canggung dengannya.
“Karena hanya orang bodoh, dan orang tidak waras saja yang pasti akan menanggapi ocehan seseorang yang sedang mabuk.” Jawab Hyo Rin tanpa berpikir.
"APA?!" Pekik Ji Hwon dengan suara lantang.
Pria itu kemudian berpindah tempat ke depan Hyo Rin, kini mereka saling berhadap-hadapan denggan Hyo-Rin yang terus berjalan maju dan Ji-Hwon terus berjalan mundur.
“jadi apakah aku salah satu orang bodoh dan tidak waras itu? “ tanya Ji Hwon lagi.
“Ah bukan itu maksudku. “ ucap Hyo-Rin dengan cepat agar Ji-Hwon tak salah paham dengan perkataannya.
Hyo-Rin segera berjalan mendahului Ji Hwon. Namun Ji Hwon terus mengejarnya seakan-akan ingin Hyo Rin menjelaskan kepadanya maksud dari kata-kata wanita itu tadi.
Setelah berhasil mengejar Hyo-Rin, Ji-Hwon langsung memegang tangan Hyo Rin. Dia sedikit membungkukan tubuhnya mencoba mensejajarkan tingginya dengan tinggi wanita didepannya ini. Ingin melihat wajah Hyo rin yang sama sekali tidak mau melihat Ji Hwon karena merasa malu.
“Hei Kim Hyo Rin.. lihat aku dan katakan padaku." Ji-Hwon mencoba mengangkat dagu Hyo-Rin dengan ibu jarinya agar Hyo-Rin mau menatapnya.
"Apa aku orang bodoh yang kau maksud itu..?” Tanya Ji-Hwon lagi sambil tertawa seakan tidak percaya dengan apa yang Hyo Rin katakan padanya.
“Wah.. Aku tidak percaya ini Kim Hyo Rin." lanjut Ji-Hwon sambil menepuk tangannya sendiri.
Mendengar Ji Hwon yang beberapa kali menyebut namanya, membuat Hyo Rin segera menatap tepat kearah iris mata hitam milik Ji Hwon. Rasanya sudah lama tak ada yang memanggil namanya seperti itu.
Masih dengan posisi berjalan mundur dan berhadap-hadapan dengan Hyo Rin, tiba-tiba saja Ji Hwon memekik karena tersandung sesuatu dan hampir saja jatuh ke belakang jika saja tangannya tidak segera di raih oleh Hyo Rin. Wanita itu langsung menarik tubuh Ji-Hwon ke arahnya.
Keduanya sama-sama terdiam karena posisi mereka sekarang yang hanya berjarak sekitar dua centimeter saja. Hyo-Rin bahkan dapat merasakan aroma mint yang keluar dari nafas Ji-Hwon saking dekatnya posisi mereka.
Hyo-Rin memundurkan sedikit wajahnya tanpa mengubah posisi mereka sambil menutup kedua matanya. Ji-Hwon yang melihat Hyo-Rin memejamkan matanya tanpa sadar mengecup kelopak mata wanita itu.
*Cup
Hyo-Rin sontak saja membuka matanya sesaat setelah Ji-Hwon mengecup matanya. Hyo-Rin tiba-tiba saja mengubah ekspresinya menjadi datar dan dingin.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Hyo-Rin datar.
Ji-Hwon yang mendapat pertanyaan seperti itu dari Hyo-Rin terkejut dan juga bingung harus memberikan jawaban apa atas pertanyaan yang wanita itu lontarkan padanya.
__ADS_1
Ji-Hwon hanya menampilkan cengiran sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Dan bukannya menjawab, Ji-Hwon justru bertanya balik kepada Hyo-Rin.
"Bukankah ekspresimu tadi seolah memintaku untuk menciummu?" Tanya Ji-Hwon dengan ekspresi tanpa dosanya, untuk menutupi rasa malunya karena tidak sadar akan tindakannya tadi. Dan hal itu membuat Hyo-Rin melongo seketika karena pertanyaan pria itu.