
Saat ini Hyo-Rin dan seluruh anggota keluarga Ji-Hwon sudah berada disalah satu restoran ternama yang ada di Korea. Sambil menunggu pesanan mereka datang, tiba-tiba ibu Ji Hwon bertanya pada Hyo-Rin.
"Hyo Rin, kau ingin konsep pernikahan yang seperti apa nanti?" Tanya ibu Ji-Hwon, membuat Hyo-Rin menoleh kearahnya.
"Emm, sebelumnya saya ingin mengatakan sesuatu kepada kalian. Bisakah?" Kata Hyo-Rin gugup.
"Tentu saja. Apa itu nak?" Tanya Ibu Ji-Hwon.
Hyo-Rin memilin tangannya sendiri karena rasa gugup pada dirinya. Dia tidak tahu bagaimana harus mengatakan hal ini kepada anggota keluarga Ji-Hwon. Ji-Hwon yang tahu kegugupan Hyo-Rin lantas memegang sebelah tangan Hyo-Rin seolah menyalurkan kekuatan, membuat Hyo-Rin tersenyum kecil kearah Ji Hwon.
"Sebenarnya saya sudah pernah menikah sebelumnya" Hyo Rin menjeda sedikit perkataanya untuk melihat ekspresi keluarga Ji-Hwon, namun mereka tetap diam seolah menunggu lanjutan cerita Hyo-Rin. Hyo-Rin pun menghembuskan nafas pelan lalu melanjutkan kata-katanya.
"Saya bercerai dengan suami saya setahun yang lalu. Selama kurang lebih tujuh tahun pernikahan kami, kami belum dikaruniai seorang anak. Saya merasa bersalah karena tidak bisa memberikan keturunan untuk mantan suami saya itu. Dan akhirnya kami memutuskan untuk bercerai, karena menurut kami itu satu-satunya jalan terbaik. Jujur, saya mengatakan ini karena tidak ingin ada yang disembunyikan mengenai masa lalu saya, dan saya juga tidak ingin menipu kalian semua dengan terlihat baik dihadapan kalian. Saya takut hal yang sama akan terjadi setelah saya menikah dengan Ji-Hwon nantinya" kata Hyo-Rin panjang lebar, sambil menundukkan kepalanya.
Keluarga Ji-Hwon yang mendengar perkataan Hyo-Rin merasa terkejut. Namun hal itu sama sekali tidak mengubah keinginan mereka untuk menikahkan Ji-Hwon dan Hyo-Rin. Mereka mencoba untuk mengerti kondisi Hyo-Rin dan tidak menuntut wanita itu.
Mereka tahu berat bagi Hyo-Rin untuk menceritakan masalah ini pada orang lain, namun Hyo-Rin tetap menceritakannya. Hyo-Rin pasti merasa tertekan selama itu.
Ibu Ji Hwon yang berada disamping Hyo-Rin langsung memegang kedua tangan Hyo-Rin sambil mengusap tangan wanita itu yang masih bergetar, mencoba memberi kekuatan sambil tersenyum hangat kearah Hyo-Rin.
"Kau pasti merasa sangat tertekan selama ini. Maafkan kami karena tidak pernah mencari tahu tentangmu" kata Ibu Ji Hwon pada Hyo-Rin yang masih menundukan kepalanya. Ibu Ji-Hwon sambil menahan air mata yang sudah akan menetes karena tidak sanggup melihat kesedihan Hyo-Rin.
"Kau sudah melakukan hal yang benar nak. Jangan menundukan kepalamu dihadapan kami, karena kau tidak melakukan kesalahan apapun" Nenek Ji-Hwon berkata lembut membuat Hyo-Rin mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Jadi, apa kau akan tetap menikah dengan Hyung-ku, Nunna?" Celetuk adik laki-laku Ji-Hwon mencoba untuk mencairkan suasana.
Orang-orang yang ada diruangan termasuk Hyo-Rin itu seketika tertawa kecil mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut adik Ji-Hwon itu. Hyo-Rin pun menganggukan kepalanya pertanda menyetujui perkataan adik Ji-Hwon itu.
"Sudah-sudah lebih baik kita makan dulu, nanti dilanjutkan lagi pembicaraannya. Yang penting Hyo-Rin tetap akan menikah dengan Ji-Hwon" kata ayah Ji-Hwon bertepatan dengan pelayan yang membawakan pesanan mereka.
Setelah acara makan malam selesai, mereka semua pun akhirnya kembali kerumah. Ji-Hwon mengantar Hyo-Rin ke kamar wanita itu.
"Aku masuk dulu" pamit Hyo-Rin.
Saat dia akan membuka pintu kamarnya, Ji-Hwon tiba-tiba saja menarik Hyo-Rin kedalam pelukannya. Dari tadi dia sudah menahan diri untuk tidak memeluk Hyo-Rin karena tadi masih ada keluarganya. Ji-Hwon ingin menguatkan wanita dihadapannya ini sejak tadi dengan pelukannya, namun karena ada keluarganya akhirnya Ji-Hwon hanya memegang tangan Hyo-Rin.
"Sekarang kau tidurlah. Sudah malam" kata Ji-Hwon setelah melepas pelukannya.
Setelah mengatakan itu, Ji-Hwon berjalan menuju kamarnya sendiri, meninggalkan Hyo-Rin yang masih terdiam karena perlakuan pria itu tadi.
Keesokan harinya, Hyo-Rin sudah bangun pagi-pagi sekali untuk membantu menyiapkan sarapan pagi bagi Ji-Hwon dan keluarganya.
"Ini masih pagi nak, lebih baik kau duduk saja dulu" kata ibu Ji-Hwon pada Hyo-Rin yang sedang memasak.
"Tidak apa-apa Nyonya Choi. Saya bisa melakukannya" kata Hyo-Rin, yang akhirnya disetujui oleh ibu Ji-Hwon.
__ADS_1
Saat ini mereka tengah menikmati sarapan yang dibuat oleh Hyo-Rin tadi sambil berbincang-bincang mengenai pernikahan Ji-Hwon dan Hyo-Rin. Mereka rasanya sudah tidak sabar menunggu hal itu.
"Kau ingin konsep pernikahan yang seperti apa?" Tanya Ji-Hwon pada Hyo Rin.
"Aku ingin pernikahan yang sederhana saja. Kalau bisa hanya dihadiri oleh keluarga kita saja" jawab Hyo-Rin.
"Tapi kenapa?" Tanya Ji-Hwon tidak setuju dengan usulan Hyo-Rin.
"Aku hanya takut para penggemarmu akan semakin marah karena pernikahan kita ini. Pasti akan banyak yang tidak setuju dengan pernikahan kita, apalagi jika mereka mengetahui kalu aku ini seorang janda. Dan aku juga tidak ingin karirmu menjadi meredup karena hal ini" kata Hyo-Rin menjelaskan.
Mendengar hal itu keluarga Ji Hwon menjadi agak sedikit sedih, karena mereka benar-benar ingin mempersiapkan pernikahan Ji Hwon dan Hyo Rin dengan mewah. Namun mereka kembali mencoba untuk mengerti Hyo Rin saat ini dan berusaha menerima keputusan Hyo Rin. Namun sepertinya Ji Hwon tidak sepenuhnya menerima keputusan Hyo Rin itu.
"Oke aku setuju jika kau tidak ingin membuat pesta pernikahan kita dengan besar-besaran. Tapi apakah kita harus merahasiakannya juga?" Protes Ji-Hwon
"Kita pasti akan memberitahu hubungan kita kepada publik, namun tidak sekarang. Biarkan mereka mengetahuinya pelan-pelan. Aku tidak ingin karirmu hancur karenaku. Aku lebih memilih tidak menikah sama sekali, daripada melihatmu mengorbankan karirmu demi aku" jawab Hyo-Rin membalas protesan Ji-Hwon.
Mendengar Hyo Rin berbicara seperti itu, ntah kenapa Ji Hwon merasa agak sedikit kesal. Ia kemudian berdiri melipatkan kedua tangannya seperti orang yang sedang meminta maaf kepada Hyo Rin, karena tak ingin berada disitu lagi mendengar kelanjutan dari percakapan Hyo Rin. "Maaf aku butuh waktu sebentar untuk menjernihkan dan menenangkan pikiranku" ungkap Ji Hwon dengan ekspresi yang serius sambil berjalan keluar dari ruangan itu.
"Biarkan saja dia tenang sebentar. Mungkin dia butuh waktu sejenak untuk menenangkan dirinya. Dia tidak pernah sekesal itu sebelumnya apalagi saat membahas tentang jodohnya" kata nenek Ji-Hwon diikuti dengan tawa dari keluarga besarnya.
"Dasar anak nakal, sepertinya uncle kalian ini sudah mulai dewasa kalo berbicara soal hubungannya dengan imo (sebutan untuk tante)." kata kakak Ji-Hwon kepada Ji-Hwon dan kedua anaknya.
__ADS_1
"Na Ri, Ye Jun, ayo kita keluar bermain ditaman" sambung kakak Ji-Hwon sambil mengajak kedua anaknya untuk bermain, agar mereka tidak terlibat percakapan orang dewasa.