
"Apa kita akan langsung pulang sekarang?" Tanya Ji Hwon pada Hyo Rin, saat mereka sudah kembali ke kamar mereka.
"Apa kau sibuk hari ini? Kalau kau tidak sibuk, bagaimana jika kita pulang saat sore saja? Sebenarnya aku masih sangat rindu dengan eomma dan halmeonni" ucap Hyo Rin takut-takut.
"Ya sudah kalau begitu. Kita pulang nanti sore saja" putus Ji Hwon, membuat Hyo Rin tersenyum senang.
"Terima kasih Ji Hwon! Kalau begitu aku akan menemui mereka dulu" kata Hyo Rin antusias, lalu keluar dari kamarnya.
Hyo Rin menghampiri ibu dan nenek mertuanya itu. Dia melihat mereka sedang merangkai bunga di ruang tamu. Dengan cepat dia duduk disamping neneknya lalu memeluknya dari belakang, dan menghirup dalam aroma neneknya. Hal itu cukup membuat sang nenek terkejut.
"Halmeoni, aku sangat merindukan aroma tubuhmu dan ibu" kata Hyo Rin, lalu bergantian memeluk ibu mertuanya yang juga berada di sampingnya.
"Dasar anak ini" kata neneknya sambil tersenyum melihat tingkah manja menantunya ini.
"Apa Ji Hwon menyusahkanmu, sayang?" Tanya ibu Ji Hwon, sambil mengusap kepala Hyo Rin.
"Ah tidak eomma. Ji Hwon sangat baik padaku. Hanya saja akhir-akhir ini aku sangat merindukan kalian, itulah kenapa aku masih ingin berlama-lama disini" jawab Hyo Rin yang masih terus memeluk ibu mertuanya.
"Syukurlah kalau begitu. Kalau anak itu macam-macam, kau laporkan saja pada eomma ya?" Kata ibu Ji Hwon lagi.
"Tentu eomma" balas Hyo Rin sambil tersenyum.
Saat mereka tengah asik berbincang, tiba-tiba saja Ye Jun dan Nari datang menghampiri ketiga orang itu, dan berdiri di depan mereka dengan antusias.
"Imoo, ayo kita main di taman lagi" ajak kedua anak itu sambil menarik kedua tangan Hyo Rin.
Semua keluarga Ji Hwon juga ikut ke taman, dan memperhatikan bagaimana interaksi Hyo Rin dengan Ye Jun dan Nari. Ji Hwon yang baru saja turun dari kamarnya, kemudian ikut menghampiri mereka.
"Hyo Rin, aku akan ke super market sebentar untuk membeli cemilan. Apa kau ingin menitip sesuatu?" Tanya Ji Hwon pada Hyo Rin.
"Tidak, kau hati-hati ya di jalan" jawab Hyo Rin, yang diangguki oleh Ji Hwon.
Hyo Rin kemudian menghampiri keluarga Ji Hwon yang masih duduk bersantai di bangku taman.
"Eonnie, aku ke dalam sebentar untuk mengambil minum" ucap Hyo Rin kepada kakak perempuan Ji Hwon.
Saat Hyo Rin kembali dengan minumannya, dia tidak mendapati Ye Jun dan Nari disitu. Dia kemudian bertanya pada kakaknya.
"Eonnie, apa kau melihat Ye Jun dan Nari?" Tanya Hyo Rin.
"Sepertinya mereka masih bermain" jawab kakaknya.
__ADS_1
Hyo Rin mengedarkan pandangannya di seluruh taman, dan melihat pagar yang sedang terbuka. Hyo Rin kemudian bergegas keluar rumah untuk mencari kedua anak itu, yang diikuti oleh seluruh keluarganya.
Ketika dia hampir sampai di depan pagar, dia melihat Ye Jun yang sedang ingin menyebrangi jalan untuk mengambil bolanya yang sedang menggelinding.
Hyo Rin bergegas menghampiri Ye Jun. Saat Hyo Rin semakin dekat dengan Ye Jun, anak itu dengan segera berlari ke tengah jalan untuk mengambil bolanya, dan tanpa anak itu sadari, ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya. Hyo Rin yang melihat itu, dengan cepat berlari sekencang-kencangnya untuk menyelamatkan Ye Jun.
Saat itu, Ji Hwon juga berada disana. Dia sedang berdiri di seberang Hyo Rin, saat melihat mereka, Ji Hwon langsung tersenyum dan berniat melambaikan tangannya untuk memanggil mereka, namun tiba-tiba senyumnya luntur, saat menyadari ada mobil yang melaju kencang ke arah Ye Jun. Wajahnya terlihat semakin ketakutan saat melihat Hyo Rin yang ingin menyelamatkan Ye Jun.
Ji Hwon juga sontak ikut berlari untuk menyelamatkan Hyo Rin dan Ye Jun. Hatinya semakin berdegup kencang saat mobil itu semakin mendekat.
"Tidak... Tidak Hyo Rin... Tolong jangan lakukan itu" Ji Hwon berkata didalam hatinya dengan rasa takut yang semakin menjadi-jadi."
"YE JUNNN!!!"
"HYO RINNN!!!"
BRUKKKK
Semua yang ada disitu sontak membeku melihat apa yang baru saja terjadi di depan mereka. Mobil itu menabrak Hyo Rin dengan kencang, bertepatan saat Ji Hwon dan Hyo Rin berteriak bersamaan.
Langkah Ji Hwon terhenti. Matanya memandang kosong kearah Hyo Rin yang masih memeluk Ye Jun, bahkan saat dia sudah tertabrak. Semuanya terjadi begitu cepat, tanpa sempat Ji Hwon menyelamatkan mereka.
Dengan perlahan, Ji Hwon berjalan ke arah mereka. Langkahnya tertatih-tatih, bahkan pandangannya berubah menjadi kosong. Begitu dia sampai di depan Hyo Rin, dia langsung berlutut dan meneteskan air matanya.
"HYO RIN BANGUN! KIM HYO RIN!! BANGUNNN!!" Ji Hwon berteriak kencang lalu memeluk erat tubuh Hyo Rin yang sudah berlumuran darah itu.
Ji Hwon seakan menjadi orang bodoh dengan terus berbicara tidak jelas di depan tubuh Hyo Rin. Air matanya terus mengalir dengan deras.
"Ayo bangun Hyo Rin... Kau tidak bisa tidur disini... Kau bisa tidur di kamar kita nanti... Ayo bangun Hyo Rin... Kumohon jangan lakukan ini padaku" Kata Ji Hwon lirih sambil terus menangis dan mengguncang tubuh Hyo Rin, berharap wanita itu akan terbangun.
Keluarga Ji Hwon yang melihat itu, kemudian segera berlari ke arah mereka. Nenek Ji Hwon langsung memeluk Ye Jun yang terlihat masih shock dengan kejadian tadi.
"Ji Hwon sadarlah! Ayo, kita harus segera membawa Hyo Rin ke rumah sakit" Kata kakak Ji Hwon sedikit berteriak dan mengguncang tubuh Ji Hwon.
Ji Hwon segera tersadar. Dia kemudian dengan cepat berdiri, mengangkat tubuh Hyo Rin dan membawanya masuk ke mobil. Pikirannya sangat kacau sekarang.
Adik laki-laki Ji Hwon yang melihat kefrustasian kakaknya itu, dengan segera mengambil kunci mobil, dan mengatakan pada Ji Hwon, agar biar dia saja yang menyetir.
Mereka pun segera membawa Hyo Rin menuju ke rumah sakit. Di dalam mobil, Ji Hwon masih terus menangis sambil memeluk tubuh istrinya yang sudah tak berdaya sama sekali. Dia bahkan tidak memperdulikan pakaiannya yang saat ini sudah berlumuran darah.
"Hyo Rin kumohon sadarlah. Aku tidak kuat melihatmu seperti ini. Kumohon, bangun dan lihat aku sekarang" Mohon Ji Hwon pada istrinya itu.
__ADS_1
***
Tubuh Hyo Rin didorong menggunakan brankar, menuju ke UGD. Untung saja tadi ibu Ji Hwon sudah terlebih dahulu menelepon rumah sakit, sehingga begitu mereka sampai, Hyo Rin langsung segera ditangani.
Sedari tadi, Ji Hwon tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Hyo Rin. Dia terus mengikuti Hyo Rin, sampai seorang perawat menahan Ji Hwon yang juga akan ikut masuk ke dalam UGD.
"Maaf pak, anda tidak boleh masuk kedalam" kata perawat itu.
"Tidak. Aku harus melihat keadaannya" tolak Ji Hwon, yang tidak ingin meninggalkan Hyo Rin.
"Maaf pak, ini sudah menjadi kebijakan rumah sakit" kata perawat itu lagi.
"Sudahlah Ji Hwon. Biarkan mereka menangani Hyo Rin dulu" kata kakak Ji Hwon sambil memegang pundak Ji Hwon.
Suster itu kemudian langsung menutup pintunya. Bertepatan setelah itu, tubuh Ji Hwon luruh ke lantai.
Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Ji Hwon segera berdiri, dan menatap dokter itu dengan khawatir.
"Dok, bagaimana kondisinya?" Tanya Ji Hwon khawatir.
"Kondisinya cukup parah. Kita harus melakukan operasi untuk menyelamatkannya. Anda harus menandatangani dulu surat persetujuannya." kata dokter itu, membuat tubuh Ji Hwon membeku.
"Tapi, dia akan selamat kan dok?" Kata Ji Hwon.
"Kami tidak bisa menjamin, tapi kami akan berusaha sebaik mungkin" jawab dokter itu.
"Kumohon dok, tolong selamatkan dia, lakukan apa saja untuk menyelamatkannya. Aku akan membayar berapapun untuk itu. Kumohon..." Mohon Ji Hwon, sambil memegang tangan dokter itu penuh harap.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin" kata dokter itu lagi, lalu menutup pintunya.
Tubuh Ji Hwon kembali luruh kelantai. Dia menyesal tidak berhasil menyelamatkan Hyo Rin tadi. Ji Hwon terus menangis histeris.
Ibu Ji Hwon yang melihat itu, ikut berlutut dan memeluk putranya itu, yang terlihat sangat hancur, karena kecelakaan Hyo Rin.
"Kendalikan dirimu nak. Dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk Hyo Rin. Kau harus kuat, agar Hyo Rin juga bisa kuat melewati masa kritisnya" kata ibu Ji Hwon, menenangkan putranya.
"Eomma..." Ji Hwon menangis dipelukan ibunya.
"Eomma... Ini semua salahku. A-andai saja a-aku bisa lebih cepat menyelamatkannya, dia pa-pasti t-tidak akan seperti ini. Ini semua salahku, eomma" Ji Hwon berkata sambil sesenggukan.
"Tidak nak. Jangan salahkan dirimu. Apa yang terjadi pada Hyo Rin saat ini, karena takdir nak" Dia mengangkat dagu putranya sambil menghapus air mata Ji Hwon
__ADS_1
"Eomma, tolong selamatkan Hyo Rin. Dia, dia istriku eomma. Bagaimana aku harus melanjutkan hidupku, jika dia tidak ada disisiku" ucap Ji Hwon lalu kembali menenggelamkam kepalanya dipelukan ibunya.
Semua yang ada disitu juga merasa sedih. Mereka juga bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Ji Hwon. Ditambah lagi dengan Ji Hwon yang terus menggumamkan nama Hyo Rin tanpa pria itu sadari. Mereka berharap dokter bisa menyelamatkan Hyo Rin saat ini, karena mereka juga tidak siap harus kehilangan menantu mereka itu.