Accidental Of Love

Accidental Of Love
Be With You


__ADS_3

Setelah kejadian tadi, kini Ji-Hwon dan Hyo-Rin sama-sama terdiam. Sedari tadi tidak ada yang membuka pembicaraan. Suasana canggung meliputi kedua orang ini. Ji-Hwon sendiri bahkan bingung bagaimana cara membuka pembicaraan dengan Hyo-Rin. Selain karena merasa kikuk, Ji-Hwon juga tidak tahu bagaimana caranya untuk berbicara dengan wanita itu, karena Ji-Hwon sama sekali tak mengetahui bahasa Indonesia. Mungkin saat ini Ji-Hwon akan berbicara dengan bahasa inggris saja.


Baru saja hendak membuka mulutnya, suara keributan yang berasal dari ruang rawat Hyo-Rin, membuat kedua orang itu mengalihkan pandangan mereka kearah pintu.


Ji-Hwon pun berjalan kearah pintu untuk melihat siapa yang membuat keributan. Baru saja membuka pintunya, orang-orang yang berada diluar itu langsung menerobos masuk kedalam.


"Eomma?! Appa?! Imo?!" Hyo-Rin memekik terkejut melihat siapa yang mengunjunginya saat ini.


"Eonnieee" teriak dua orang gadis dibelakang ayah dan ibu Hyo-Rin.


"Ae Ri? Yoo Ra?" Hyo-Rin lebih terkejut lagi saat menyadari bahwa adik-adiknya juga berada disini.


Ae Ri dan Yoo Ra langsung saja berlari dan memeluk kakak mereka itu dengan begitu erat sambil menangis dengan kencang.  Ha Jun yang melihat interaksi ketiga saudarinya itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Ji-Hwon yang melihat orang-orang itu menjadi sangat bingung, karena dia masih belum mengetahui siapa mereka semua. Ekspresinya berubah menjadi seperti orang bodoh yang kehilangan kata-kata.


Ditengah kebingungannya, tiba-tiba kedua orangtua Hyo-Rin langsung menghampirinya. Ibu Hyo-Rin memegang kedua tangan Ji-Hwon sambil mengayunkannya dan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada Ji-Hwon karena sudah menolong putri mereka.


Ji-Hwon terkejut mendengar ibu Hyo-Rin yang bisa berbicara bahasa Korea. Setelah berhasil mengendalikan keterkejutannya, Ji-Hwon pun balas megang tangan ibu Hyo-Rin dan meminta maaf atas segala kekacauan yang terjadi pada Hyo-Rin akibat ulahnya yang menanggapi komentar Hyo-Rin.


Dan baru pada saat itulah Ji-Hwon menyadari bahwa yang sedang berbicara dengannya adalah orangtua dari Hyo-Rin, Ji-Hwon juga menebak bahwa kedua gadis dan pria yang sedang berbincang dengan Hyo-Rin adalah adik dari wanita itu.


Setelah mendengar cerita dari ayah Hyo-Rin, Ji-Hwon baru mengetahui bahwa ayah Hyo-Rin adalah warga negara asli Korea. Namun semenjak bertemu dengan ibu Hyo-Rin yang berkewarganegaraan Indonesia, mereka memutuskan untuk  menikah dan tinggal di Korea, sampai beberapa tahun kemudian ibu Hyo-Rin mengandung Hyo-Rin.


Menginjak usia kandungan kelima bulan, kondisi ibu Hyo-Rin mulai menurun, sehingga ibu Hyo-Rin memutuskan untuk melahirkan Hyo-Rin di Korea. Tapi karena ayah Hyo-Rin tidak ingin meninggalkan istri dan anaknya sendiri di Indonesia, dia akhirnya memutuskan untuk pindah kewarganegaraan ke Indonesia, dan hingga saat ini mereka semua menetap di Bali, terkecuali Hyo-Rin yang kini sudah pindah ke ibu kota.


Itulah mengapa semua anggota keluarga mereka bisa fasih berbahasa Korea, karena memang sudah diajarkan sejak kecil. Ji-Hwon seketika merutuki kebodohannya yang tidak tahu bagaimana harus berbicara dengan Hyo-Rin tadi. Jika dia tahu Hyo-Rin bisa berbahasa Korea, pasti dia sudah mengajak Hyo-Rin berbicara sedari tadi.


Selang beberapa waktu kemudian Ji-Hwon mulai berjalan keluar ruangan, karena melihat Hyo-Rin yang saat ini sudah ditemani keluarganya. Dia juga ingin memberikan waktu bagi Hyo-Rin dan keluarganya untuk berbicara secara khusus.


Begitu Ji-Hwon keluar dari ruangan ternyata orangtua Hyo-Rin juga ikut keluar. Ji-Hwon menatap bingung kearah orangtua Hyo-Rin.


"Nak, kami ingin meminta maaf atas sikap Hyo-Rin. Anak itu pasti tidak sadar saat mengirim video itu karena dalam kondisi mabuk" ucap ibu Hyo-Rin pada Ji-Hwon dengan menunjukkan wajah bersalahnya.


"Tidak apa-apa bu. Saya bisa memakluminya. Lagipula saya juga merasa terkesan dengan apa yang Hyo-Rin lakukan" kata Ji-Hwon sambil tersenyum hangat pada kedua orangtua Hyo-Rin.


"Syukurlah jika kamu tidak marah. Hyo-Rin sebenarnya tidak pernah mabuk-mabukkan seperti itu. Dia adalah wanita yang baik. Tapi semenjak perceraiannya setahun lalu, sikap Hyo-Rin tiba-tiba saja berubah seratus delapan puluh derajat."


Jelas ibu Hyo-Rin yang tidak bisa lagi menahan air matanya saat mengingat apa yang dialami putrinya setahun terakhir ini.

__ADS_1


Ji-Hwon cukup terkejut mengetahui bahwa Hyo-Rin sudah pernah menikah sebelumnya. Memang salahnya yang tidak mencari asal-usul wanita itu sebelumnya. Namun walaupun mengetahui Hyo-Rin adalah seorang janda, tetap saja tidak menghilangkan keinginannya untuk menjalin hubungan dengan wanita itu.


"Oh ya nak, kami juga ingin berterima kasih karena kau sudah menolong Hyo-Rin melewati ini semua." Kali ini ayah Hyo-Rin yang membuka suara.


"Sama-sama. Saya sangat merasa senang jika bisa menemani Hyo-Rin melewati masa sulitnya saat ini. Karena ini juga terjadi sebagian karena ulah saya." Balas Ji-Hwon.


Setelah itu pun kedua orang tua Hyo-Rin beserta juga dengan Ji-Hwon kembali masuk kedalam ruang rawat Hyo-Rin.


Ae Ri dan Yoo-Ra yang sedang asik berbincang dengan Hyo-Rin mengalihkan pandangan mereka ketika menyadari ada yang terus menatap kearah mereka sedari tadi.


"Aaaaaa Choi Ji Hwonnnn!!!" Kedua gadis itu kompak berteriak saat baru menyadari bahwa Ji-Hwon sedang berada disini.


Orang-orang didalam ruangan itu sangat terkejut mendengat teriakkan melengking dari kedua gadis itu. Namun sayangnya kedua gadis itu tidak memperdulikan keterkejutan orang-orang disekitar mereka. Mereka justru dengan cepat berlari dan mendekat kearah Ji-Hwon.


"Oppaa, kenapa kau mau menjaga kakak kami yang sedikit gila itu? Lebih baik dengan kami yang jelas-jelas waras" tanya Yoo-Ra pada Ji-Hwon.


"Ehh?" Hanya itu yang keluar dari mulut Ji-Hwon karena tidak tau harus menjawab apalagi.


Kedua orangtua Hyo-Rin yang melihat kelakuan kedua putri mereka, sontak saja memukul keras punggung kedua putrinya itu.


"Apa maksud kalian mengatakan kakak kalian gila hah?!" Omel ibu Hyo-Rin dan hanya dibalas cengiran polos oleh Ae-Ri dan Yoo-Ra.


Ji-Hwon yang melihat interaksi keluarga Hyo-Rin pun tersenyum. Menurutnya hal-hal kecil seperti inilah yang membuatnya bahagia.


Suasana yang tadi terasa canggung perlahan mulai mencair karena hal itu.


"Oppa, boleh kita befoto bersama?" Tanya Yoo-Ra pada Ji-Hwon.


"Tidak usah Yoo-Ra" potong Hyo-Rin sebelum Ji-Hwon sempat menjawab.


Bukannya tidak ingin Yoo-Ra berfoto, hanya saja wanita itu masih merasa trauma terhadap hal yang berkaitan dengan Ji-Hwon, Hyo-Rin juga tidak ingin terlalu merepotkan Ji-Hwon. Sedangkan Yoo-Ra yang mendengar perkataan kakaknya itu langsung menundukkan kepalanya sedih.


"Tentu saja boleh. Ayo kita berfoto bersama" Ji-Hwon segera berkata saat melihat ekspresi sedih diwajah Yoo-Ra.


Yoo-Ra langsung saja tersenyum senang saat Ji-Hwon mau berfoto dengannya. Mereka semua pun segera mengambil posisi berfoto, dengan Yoo-Ra yang berada digendongan Ji-Hwon. Ae-Ri yang melihat hal itu merasa sedikit iri dengan Yoo-Ra. Ji-Hwon bahkan memanggil salah satu penjaga didepan ruangan Hyo-Rin agar dapat memotret mereka.


Waktu kini sudah menunjukan pukul sembilan malam. Ji Hwon meminta agar orang tua Hyo-Rin beserta semuanya untuk kembali pulang dan beristirahat di rumah. Awalnya orang tua Hyo Rin sempat tidak setuju dengan permintaan Ji Hwon karena merasa bertanggung jawab akan putri mereka. 


Namun Ji Hwon berusaha memberi pengertian pada mereka bahwa dia yang akan menjaga Hyo-Rin. Ji-Hwon berkata bahwa dia tidak akan meninggalkan Hyo Rin sendiri karena dia juga tidak bisa menginap di Hotel,  karena pastinya semua orang akan terus mengepungnya dimana-mana. Setelah mendengar penjelasan Ji-Hwon, mereka pun akhirnya pamit pulang dan berjanji akan kembali besok pagi.

__ADS_1


Kini yang tersisa diruangan hanyalah Ji-Hwon dan Hyo-Rin. Suasana kembali berubah menjadi canggung. Namun karena saat ini Ji Hwon tidak kebingungan lagi bagaimana ia harus berkomunikasi dengan Hyo Rin dalam bahasa yang Hyo Rin mengerti akhirnya dia memberanikan diri untuk menyapa Hyo Rin lebih dulu,


“apakah kau mau makan sesuatu?” tanya Ji Hwon.


“ah silahkan saja jika kau ingin makan lebih dulu,  aku masih belum lapar. “ jawab Hyorin gugup.


_Kryukk_


Perut Hyo-Rin tiba-tiba saja berbunyi. Hyo-Rin yang merasa malu langsung membuang wajahnya kesamping. Dia yakin wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus sekarang. Ji-Hwon yang melihat itu berusaha untuk menahan tawanya.



“Baiklah kalau begitu aku keluar dulu sebentar.” Kata Ji-Hwon lalu pergi keluar.


"Ahh kau sangat memalukan Kim Hyo Rin" ucap Hyo-Rin sambil menutup wajahnya sendiri, saat Ji-Hwon telah keluar dari ruang rawatnya.


Beberapa menit kemudian Ji Hwon kembali dengan membawa beberapa makanan untuk mereka makan bersama.  Ia segera meletakkan semua makanan itu didepan Hyo-Rin dan memberikan sendok pada Hyo Rin.


"Makanlah dulu. Kau pasti sangat lapar sekarang" suruh Ji-Hwon.


Dengan malu-malu Hyo Rin berusaha mengambil nasi yang berada di depannya dan menyisakan bubur untuk Ji-Hwon. Dia benar-benar merasa kelaparan saat ini, karena selama dua hari terakhir ini Hyo-Rin hanya makan sedikit makanan. Dengan perlahan ia mulai memakan makanannya. Namun ternyata karena memar-memar disudut bibirnya  membuat dia sulit untuk mengunyah makanannya.


Ji-Hwon yang melihat Hyo-Rin kesusahan untuk makan berinisiatif untuk menyuapi Hyo-Rin. Ji-Hwon mengambil sendok ditangan Hyo-Rin lalu menukar nasi dipangkuan Hyo-Rin dengan bubur miliknya agar Hyo-Rin tidak kesusahan dalam mengunyah.


Hyo-Rin terkejut melihat apa yang dilakukan Ji-Hwon saat ini.


"E-eh tidak apa-apa. Aku bisa makan sendiri" ucap Hyo-Rin gugup.


"Biar aku suapi" kata Ji-Hwon sambil tersenyum, sehingga membuat Hyo-Rin tanpa sadar menganggukan kepalanya.


Melihat ekspresi Hyo Rin yang memakan makanannya dengan wajah yang kesakitan,  tanpa sadar tangan Ji Hwon pun bergerak memegang pipi Hyo Rin dan mengusapnya pelan berharap rasa sakit Hyo Rin bisa sedikit berkurang. 


"Apa sakit sekali?" Tanya Ji-Hwon khawatir.


"Su-sudah lebih baik" Hyo Rin bahkan menjawab dengan terbata-bata saking gugupnya.


Pandangan keduanya tiba-tiba saling bertabrakan. Tak ada yang bersuara sama sekali, suasana menjadi begitu hening. Jantung keduanya berdegup sangat kencang seolah sedang lari marathon


Hyo-Rin yang sudah mendapatkan kesadarannya kembali segera memalingkan wajahnya kearah samping. Ji-Hwon yang juga merasa salah tingkah segera merapikan tempat makannya.

__ADS_1


"Aku akan membuang sisa makanannya dulu" ucap Ji-Hwon lalu berjalan dengan cepat keluar dari ruang rawat Hyo-Rin.


__ADS_2