
Ji Hwon keluar dari kamar mandi, dengan tubuh yang sudah lebih segar dari sebelumnya. Di sana dia melihat istrinya masih saja berkutat dengan tulisannya.
Ji Hwon berjalan menuju ranjang, dan mengambil posisi seperti sebelumnya. Dia kemudian kembali merentangkan sebelah tangannya di samping Hyo Rin agar wanita itu bersandar di lengannya, setelah tadi memastikan kembali bau tubuhnya.
"Ayo, waktu membacamu sudah habis. Sekarang saatnya kau untuk istirahat. Ini sudah hampir pukul satu, Hyo Rin "kata Ji Hwon sambil mengambil ponselnya yang tadi digunakan Hyo Rin untuk membaca, dan meletakannya diatas nakas.
"Ayolah, aku hampir menyelesaikan bacaanku. Sebentar lagi ya" bujuk Hyo Rin, yang mendapat gelengan tegas dari Ji Hwon.
"Tidak Hyo Rin. Kali ini tidak ada lagi tawar menawar" kata Ji Hwon tegas, lalu menyandarkan kepala Hyo Rin di lengannya.
"Ya sudah, kalau begitu kau yang harus membacakan ceritanya sampai aku tertidur" kata Hyo Rin yang mengambil kembali ponsel Ji Hwon, dan diberikannya pada suaminya itu.
Ji Hwon kemudian lebih merapatkan kepala Hyo Rin ke dada bidangnya, agar wanita itu bisa lebih cepat tertidur. Setelah itu, Ji Hwon mulai membacakan ceritanya, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Hyo Rin.
Ji Hwon terus membacakan cerita itu, sampai Hyo Rin benar-benar terlelap, baru setelah itu dia ikut menyusul Hyo Rin ke alam mimpi. Keduanya tertidur dengan posisi saling berpelukan.
***
Ji Hwon sudah terbangun lebih dulu. Dia kemudian menyiapkan sebaskom air hangat, dan mengelap bagian luar tubuh Hyo Rin, agar wanita itu bisa lebih segar.
"Kau sudah bangun?" Tanya Ji Hwon saat baru kembali dari kamar mandi..
"Ya" jawab Hyo Rin.
"Kalau begitu, sekarang kau harus memakan sarapanmu" kata Ji Hwon, lalu menyuapi Hyo Rin dengan begitu telaten.
"Kau mau ke taman sebentar? Mungkin itu bisa membantumu mendapat inspirasi untuk tulisanmu" ajak Ji Hwon, setelah selesai menyuapi Hyo Rin.
"Tentu saja aku mau" balas Hyo Rin antusias.
Mereka kemudian pergi ke taman belakang yang ada di rumah sakit itu. Walaupun hanya duduk di bangku taman, setidaknya Ji Hwon bisa membuat Hyo Rin merasa lebih senang, dan tidak terkurung di ruang inapnya.
Beberapa saat kemudian, suara ponsel Ji Hwon, membuat Hyo Rin yang sedang menikmati suasana taman, menjadi teralih dan menatap ke arah ponsel Ji Hwon.
"Siapa?" Tanya Hyo Rin penasaran.
__ADS_1
"Eomma menyuruh kita untuk kembali ke kamar. Mereka sudah menunggu disana" kata Ji Hwon, setelah menjawab panggilan di ponselnya.
"Ya sudah, ayo kita masuk sekarang" ajak Hyo Rin.
Sesampainya mereka dikamar, mereka langsung disambut oleh seluruh keluarganya, terutama kedua keponakannya itu. Ye Jun yang masih shock melihat Hyo Rin, segera berlari dan menubruk tubuh imoo-nya itu.
"Imoo, maafkan aku. Imoo jadi begini karena aku" kata Ye Jun sambil terus menangis dipelukan Hyo Rin.
"Iya Hyo Rin. Aku juga belum sempat berterima kasih padamu, karena sudah menyelamatkan putraku. Terima kasih Hyo Rin" kata kakak Hyo Rin--ibu Ye Jun.
"Tidak apa-apa eonnie. Jangan merasa bersalah, dan Ye Jun, jangan menangis, imoo senang bisa menyelamatkanmu" kata Hyo Rin sambil tersenyum, dan memeluk ibu dan anak itu.
Seluruh keluarga Ji Hwon yang berada disitu, tersenyum haru. Mereka merasa bersyukur bisa memiliki menantu, yang begitu baik hati seperti Hyo Rin. Sejak kedatangan Hyo Rin, kehidupan Ji Hwon dan kedua keponakannya bisa lebih berwarna.
"Eomma, selagi kalian disini, aku ingin menitip Hyo Rin sebentar. Aku akan membelikan buah-buahan untuknya" kata Ji Hwon.
"Iya, kau pergilah. Biar kami yang menjaga Hyo Rin disini." Kata ibu Ji Hwon, setelah itu Ji Hwon keluar dari ruangan Hyo Rin.
***
"Hyo Rin, apa kau baik-baik saja?" Tanya Hyun Jin cemas, masih dengan posisi memeluk Hyo Rin.
Hyo Rin yang sedang dipeluk oleh Hyun Jin hanya terdiam. Dia masih merasa terkejut, ditambah lagi dengan kondisinya yang lemah, sehingga tidak memungkinkannya untuk mendorong tubuh Hyun Jin.
Melihat hal itu, Ji Hwon dengan segera melepaskan belanjaannya, dan berjalan menghampiri kedua orang itu. Dia langsung menarik paksa tubuh Hyun Jin, agar pelukannya pada Hyo Rin bisa terlepas.
"Tolong jaga sikapmu di depan keluargaku" kata Ji Hwon dengan dingin, berusaha sebisa mungkin mengontrol emosinya.
"Lagipula, ada perlu apa anda datang kesini, Mr.Lee?" Lanjut Ji Hwon.
"A-ah Ji Hwon--" Hyo Rin baru saja akan menjelaskan pada Ji Hwon, namun kata-katanya segera dipotong oleh Ji Hwon.
"Kumohon Hyo Rin..." Ji Hwon menjeda kata-katanya, sambil menutup matanya.
"Apa aku sedang bertanya padamu?" Lanjut Ji Hwon, yang kini beralih menatap tajam kearah Hyo Rin.
__ADS_1
Hyo Rin yang menyadari suaminya sedang diliputi oleh emosi, akhirnya mengurungkan niatnya untuk menjelaskan pada Ji Hwon.
"Ayolah Ji Hwon, tadi aku hanya mendengar dari manajermu, kalau kau menunda pemotretan hari ini, karena kenalanmu sedang berada dirumah sakit--" Kata Hyun Jin yang mencoba menjelaskan, namun lagi-lagi dipotong oleh Ji Hwon.
"LALU APA KAU KENAL DEKAT DENGANYA? SAMPAI KAU HARUS REPOT-REPOT MENJENGUKNYA, BAHKAN SAMPAI MEMELUKYA, SIALAN?!" bentak Ji Hwon dengan kencang, bahkan Ji Hwon sampai mencengkram kemeja yang dikenakan Hyun Jin saking emosinya.
"Tentu saja. Aku sudah mengenal Hyo Rin sangat lama. Lagi pula siapa kau, sampai harus membatasi Hyo Rin berhubungan dengan siapa saja?!" Tanya Hyun Jin yang ikut tersulut emosi.
"AKU--" ucapan Ji Hwon terhenti saat Hyo Rin menahan sebelah tangannya.
Ji Hwon kemudian melepaskan cengkramannya pada kemeja Hyun Jin. Dia kemudian menutup matanya, dan menghembuskan nafas perlahan, mencoba mengontrol kembali emosinya. Dia harus menahan emosi dan perkataannya, dengan tidak mengatakan statusnya dengan Hyo Rin di depan Hyun Jin. Semua itu dia lakukan agar Hyo Rin tidak merasa sedih.
"Sebenarnya ada apa ini nak? Siapa pria ini?" Tanya ibu Ji Hwon, menyela perdebatan sengit antara Hyun Jin dan Ji Hwon.
"Maafkan aku eomma. Sebenarnya dia adalah mantan suami ku" jelas Hyo Rin, karena merasa tidak enak dengan keluarga Ji Hwon.
Ji Hwon yang mendengar perkataan Hyo Rin, kemudian berdecih sambil tersenyum sinis. Dia merasa kesal sekaligus tidak terima, saat Hyo Rin yang mengakui Hyun Jin di depan keluarganya, sedangkan dirinya tidak diakui oleh Hyo Rin di depan mantan suaminya itu.
"Cihh. Apa kau harus sebangga itu mengakui pria itu sebagai mantan suamimu?" Tanya Ji Hwon sinis, lalu keluar dari kamar Hyo Rin, sambil membanting pintu kamar Hyo Rin dengan sedikit kencang.
"Do Hyun, tolong kau susul Hyung-Mu, Nunna tidak ingin terjadi sesuatu dengannya" suruh Hyo Rin dengan nada khawatir, pada adik iparnya.
"Baik Nunna" kata Do Hyun, lalu bergegas menyusul Ji Hwon.
"Dan untukmu, lebih baik kau pergi dulu dari sini" kata Hyo Rin, mencoba mengusir Hyun Jin, karena dia merasa tidak enak dengan keluarga Ji Hwon.
"Baiklah aku akan pergi. Jaga kesehatanmu" kata Hyun Jin, setelah itu pamit pergi.
"Eomma, maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu, kalau Hyun Jin akan datang kesini untuk menjengukku" kata Hyo Rin meminta maaf, setelah kepergian Hyun Jin.
"Tidak apa-apa nak. Kami mengerti. Itu bukan salahmu" kata ibu mertuanya, sambil memeluk Hyo Rin.
"Eomma, bisakah aku pulang lebih cepat dari sini? Aku tidak ingin kejadian ini kembali terulang besok atau lain hari" pinta Hyo Rin kepada ibu mertuanya.
"Tentu nak. Eomma akan bertanya pada dokter, jika dia sudah mengizinkanmu pulang, kita akan segera pulang dari sini" jawab ibu Ji Hwon, membuat Hyo Rin tersenyum senang.
__ADS_1
"Terima kasih eomma" kata Hyo Rin lalu kembali memeluk ibu mertuanya itu.