
Cana sudah bersiap dengan teman-temannya. Menurut Cana, pekerjaan ia yang sekarang sangat menyenangkan. Sebab ia bisa melihat berbagai properti mewah pencuci mata. Walaupun ia bekerja di bidang ini, Cana sama Sekali tidak tertarik untuk membeli unit mewah manapun. Baginya, melihat saat launch visit saja sudah cukup.
Acara itu berjalan cukup meriah. Berbagi tamu undangan kerap hadir memenuhi ruangan. Terlihat beberapa orang sibuk menjadi pemandu untuk melihat-lihat interior ruangan setiap unit kamar yang disediakan.
"Gimana tadi makan siang sama pak Agha?" Tanya Kayna yang sedang duduk disebelah Cana.
"Gitu deh. Gue dilabrak sama pacarnya." Jawab Cana
Kayna langsung menoleh, "Pacarnya? Terus Lo diapain?" Kayna penasaran.
"Gue nampar dia." Sedikit meringis, ketika Cana mengingat perbuatannya tadi.
"Kok bisa?!"
"Dia bilang gue kegatelan sama Pak Agha. Dia bilang gue murahan dan mau hartanya aja." Jelas Cana sedikit kesal mengingatnya.
"Bagus deh Lo tampar dia!" Jawab Kayna pada Cana, yang sedang memperhatikan tiga orang di sudut ruangan.
Tiga laki-laki yang tengah berbincang serius. Zadi yang sedang menceritakan prospek baru dengan klien lain. Sedangkan Agha dan Gaha hanya menyimak.
Cana menyipitkan matanya. Ia memang tidak salah lihat kan, Itu adalah Gaha. Apakah Zadi dan Agha teman dekatnya? tanya Cana pada dirinya sendiri.
...****************...
Muncul notifikasi pada ponsel Cana. Ternyata itu pesan dari ibu tirinya.
📩 Message From 08********434 :
Kenapa belum transfer?! Lupa sama janji kamu? Kalau kamu belum transfer juga, saya tidak akan segan-segan menyingkirkan ayah kamu.
Cana membuang nafas kasar. Ibu sambungnya ini memang selalu meminta uang pada Cana. Mengapa ayahnya tidak pernah percaya dengannya. Sudah berkali-kali ia menjelaskan tentang sifat buruk ibu sambungnya ini, Namun ayahnya tetap membelanya. Cana seakan tidak mengenal ayahnya yang sekarang. Ia benar-benar telah kehilangan sosok ayah, semenjak ibunya tiada.
Cana ingat betul. Bagaimana ia bertengkar hebat dengan ayahnya, karena ingin menjual rumah yang penuh kenangan bersama ibunya.
"CANA NGGAK MAU NGEJUAL RUMAH IBU YAH!" Bentak Cana pada ayahnya.
Tangan ayahnya mencengkram dagu Cana dengan kuat. "Ibu kamu udah nggak ada! Dan Ayah nggak butuh pendapat kamu untuk jual rumah tua ini!"
Cana yang tengah histeris langsung menatap nyalang ayahnya. "Cana nggak ngerti sama pikiran ayah! Wanita itu udah bener-bener nyuci otak ayah. Ayah berubah! Cana nggak kenal ayah yang sekarang!" Ucap Cana meninggalkan ayahnya di ruang tamu sendirian.
Cana tak kuasa menahan buliran bening yang sudah menumpuk di matanya. Air mata itu lolos tidak sengaja membasi pipinya. Lalu, usapan lembut seseorang membuyarkan lamunannya.
"Kamu kenapa?"
__ADS_1
Cana buru-buru mengusap air matanya. "E-eh, Saya nggak papa pak. Ada yang perlu dibantu?"
Melihat Cana yang sepertinya sedang banyak pikiran, Agha mengurungkan niatnya untuk bertanya perihal tadi siang saat Cana tiba-tiba pergi meninggalkannya.
"Kalau kamu capek, istirahat. Jangan dipaksa." Kata Agha, melanjutkan langkahnya menuju mushola.
"Gha, gue balik duluan ya." Zadi menghampiri Agha.
"Gue juga pamit Gha." Pandangan Gaha dan Cana bertemu sekilas. "Zaa, gue mau nebeng." Lalu, Gaha mengejar Zadi untuk ikut pulang bersama.
Cana sedang bersiap untuk pulang. Sedangkan Agha masih duduk didepan Mushola sendirian. Saat Cana hendak melewatinya, Agha menghadangnya.
"Pulang bareng saya." Ucap Agha sedikit memaksa.
"Maaf pak, saya nggak bisa. Naik kereta aja."
"Saya bukan lagi tanya kamu bisa atau engga. Dan saya juga nggak terima penolakan." Kata Agha langsung menarik pelan tas selempang Cana untuk ikut ke mobilnya.
Cana jadi tak kuasa menahan senyumnya. Lucu sekali atasannya ini. Tidak berani menggenggam tangannya, tapi malah memegang tali tas selempang nya untuk menuntun jalan.
...****************...
"Tadi siang kenapa pulang duluan?"
"Jangan panggil bapak! Kita lagi nggak di kantor kan?"
"Tapi, nggak sopan kalau saya panggil pake nama doang kan? Apalagi bapak lebih tua dua tahun dari saya."
"it's oke Can. Dua tahun itu nggak jauh. Saya nggak masalah sama sekali." Ucap Agha yang masih fokus menyetir.
Cana berpikir keras. Lalu, muncul ide, "Bang Agha? Kak Agha? Om Agha?" Seketika tawa keduanya terdengar nyaring.
"Can, kamu udah kayak adik saya kalau manggil bang Agha."
Cana masih tertawa, "Iya sih pak. Kalau manggil kak Agha juga bapak kan udah nggak semuda itu, iya kan?"
Agha menatap Cana, apa dia setua itu?
"Oke, kalau Mas Agha. Gimana?"
Karena terdengar tidak terlalu buruk, Agha mengangguk.
Agha memang modus!
__ADS_1
"Sorry ya Mas, tadi saya pulang tanpa pamit."
Agha reflek menoleh, terkejut dengan panggilannya yang sudah berubah.
"Is there any problem?" Tanya Agha serius.
Cana menghela nafas pelan. "No. Ngga ada apa-apa pak, e-eh mas maksudnya."
Mendengar itu agha langsung tersenyum di tempatnya. Entahlah, Agha juga tidak tahu mengapa ia sangat suka Cana memanggilnya dengan sebutan 'Mas'.
Lagu the fault in our star dari troye sivan ini terdengar nyaman untuk menemani mereka melalui macetnya jalanan sore ini.
"Oh, the lights,
They light up in lights of sadness
Telling you, it's time to go." Cana ikut bergumam pelan menyanyikan sedikit bait lagu itu.
"Kalau kamu tau lagunya, pasti tau juga dong filmnya?" Tebak Agha, yang sebenarnya tau saat Cana ikut menyanyikan lagu itu.
Cana mengangguk. "Enak ya mereka, walaupun sama-sama sakit. Tapi, mereka saling support dan saling mencintai."
Agha menatap wajah Cana dengan lekat.
Cana langsung menunduk, bukan karena ia menghindari tatapan Agha. Tapi, kepalanya mendadak sakit dan pusing. Ia merasa ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya, Cana mimisan lagi.
"Can, kamu mimisan!" pekik Agha.
Agha langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan. Mengambil kotak tissu di jok belakang, Lalu tangan kirinya membantu menopang kepala Cana. Dan tangan kanannya sibuk menyumpal hidung Cana dengan tissu.
"Mas, aku baik-baik aja, nggak usah panik ya." Bohong Cana, berusaha menenangkan Agha.
Agha berdecak, "Nggak papa gimana? Kamu mimisan sebanyak ini, tapi masih bisa bilang kalau kamu baik-baik aja?"
"Aku beneran nggak papa mas. Kecapean aja kayaknya." Memejamkan matanya, Cana hanya bisa menahan nyeri kepalanya yang kian bertambah.
"kita ke rumah sakit ya?" Cana menggeleng.
"Aku mau tidur aja ya, Mas. Darahnya juga udah berhenti." Agha langsung menarik kursi Cana kebelakang, agar ia bisa tidur dengan nyaman.
Untuk pertama kalinya Agha merasa sangat khawatir dengan perempuan lagi, selain adik dan bundanya.
Tatapan Agha pada Cana tidak bisa dibohongi, ia sangat menghawatirkan gadis itu. Melihat wajah tenang Cana saat tertidur, membuat Agha merasa lega.
__ADS_1