
"Sudah saya bilang, hancurkan dia perlahan. Anak itu penyakitan! Sebentar lagi juga mati!" Ucap Siska pada seseorang.
"Tan! Tapi, aku juga nggak mau dia sama Agha!"
"Kamu tenang aja, Len. Agha tidak akan semudah itu menerima Cana. Apalagi kalau mengingat kejadian waktu itu."
Elena mengangguk. Ia sangat benci dengan Cana. Ia bahkan sudah mengenal Cana, jauh sebelum mereka bertemu di restoran beberapa hari lalu.
Siska yang merupakan adik dari ibu Elena pun, kini tengah sibuk merencanakan sesuatu untuk menghancurkan keluarga suaminya sendiri.
...****************...
"Sus! Tolong, sus!" teriak Agha.
Gaha yang ternyata sedang bertugas di rumah sakit itu pun, langsung menghampiri sahabatnya.
"Gha! Cana kenapa?!" Gaha khawatir.
"Gue nggak tau! Buruan tolong dia!"
,
Zadi dan Kayna saling pandang. Kayna sudah menangis sejak tadi. Ia tidak bisa melihat cana harus seperti ini, lagi.
Agha mondar mandir didepan ruangan itu. Ia kalut, takut kalau hal buruk akan ia rasakan kembali. Rumah sakit adalah tempat yang paling Agha hindari, dari dua tahun lalu. Saat ayahnya jadi korban tabrak lari, dan meregang nyawa di tempat ini, membuatnya trauma.
"Lo tau Cana begini, dari kapan?" Agha menatap Zadi dingin.
__ADS_1
"Udah lama. Dia emang punya asma akut."
"Apa hal yang biasanya bikin dia kambuh?"
"Gue nggak tau. Bisa jadi, dia slalu begini setiap hari. Tapi, dia nggak pernah bilang." Jawab Zadi.
Perkataan Zadi tadi terus terngiang dikepala Agha. Ia pun langsung mencari tentang penyakit itu di google. Pintu ruangan Cana pun terbuka.
"She is oke." Ucap Gaha melirik Agha.
"Saya boleh masuk, dok?" Gaha menggangguk pada Kayna.
"Rasanya sama kayak dua tahun lalu gue berdiri disini." Ucap Agha tiba-tiba.
"Gha. Jangan sedih gini, Almarhum pasti marah liat Lo kayak gini lagi." Kata Zadi.
Gaha menepuk pundak Agha pelan, "Sekarang Cana baik-baik aja, Gha. Lo keliatan khawatir banget tadi."
Hening. Agha langsung duduk dan menyandarkan kepalanya ditembok.
...****************...
Agha masih duduk di tepi ranjang Cana. Ia terus memandangi wajah Cana yang masih belum sadarkan diri. Kayna dan Zadi sudah pulang tadi, Agha meminta mereka untuk melanjutkan pekerjaan mereka di kantor.
"Na. Kamu Nggak liat saya sepanik apa, tadi?"
"Saya juga nggak ngerti, kenapa bisa sekhawatir itu sama kamu. Padahal dari awal, kita malah kayak tom and Jerry."
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak pernah cerita, kalau kamu sakit? Being sick alone is not good, Na!" Agha terus mengoceh sendirian.
"Then, I have to invite other people to get sick?" Agha yang sedang menyandarkan kepalanya di ranjang Cana pun, spontan bangun.
"it's not good for other people to get sick too, Mas!" Ucap Cana yang masih terdengar lemas.
Agha hanya memandang Cana tanpa bersuara.
"Saya panggil dokter dulu, ya?"
"Nggak usah. Aku udah baik-baik aja, mas."
Agha mengalah, ia kembali duduk.
"Jangan gini lagi, saya nggak suka."
"Mas, kamu udah berapa kali bilang soal itu di mobil tadi." Ucap Cana tersenyum. "Maaf, mas."
"Nggak usah minta maaf! ini bukan lebaran!" ketus Agha.
"Maaf, jadi ngerepotin kamu gini. Kamu mending pulang, ganti baju terus istirahat."
"Saya mau nemenin kamu, disini."
"Aku bukan anak TK yang harus di tungguin, mas!"
Agha hanya tersenyum, "Iya ...iya. Saya pulang dulu, ya. Nanti malem saya kesini lagi."
__ADS_1
"Siap, Pak Abqari!" Jawab Cana dengan meletakkan tangannya di kepala.