AghaCana

AghaCana
Bab 3


__ADS_3

Happy reading 🤍


Agha sudah malas untuk makan siang. Ia terlalu lelah hari ini. Banyak sekali hal-hal yang tidak sesuai harapannya. Salah satunya, meeting pagi tadi yang jadi berantakan. Agha menghempaskan badannya di sofa dan sedikit melonggarkan dasinya, yang lumayan menyesakkan. Sesekali, ia mengecek ponselnya, menunggu notif dari Elena, teman kecilnya.


Orang itu mengetuk pintu ruangan Agha. "Pe-permisi Pak."


"Masuk!" sahut Agha cepat.


"Saya Cana pak. Katanya bapak minta saya datang kesini, ada keperluan apa ya Pak?" tanya Cana pura-pura tidak tahu.


"Kamu nggak merasa bersalah sama saya?! Karena kamu nggak disiplin, itu merugikan saya!" Jawab Agha penuh emosi.


"I-iyaa Pak ... Mohon maaf sekali lagi ya Pak. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Cana, merasa bersalah.


"Bisa-bisanya kamu semudah ini minta maaf?! Kamu tahu?! Tadi, saya hampir kehilangan klien saya!" Sahut Agha dengan raut wajah yang sudah merah padam menahan emosi.


"Pak, saya mohon. Jangan pecat saya, ya. Saya nggak ada kerjaan lain selain disini. Kalau saya nggak kerja, nanti nggak bisa bayar kos-kosan lagi." Nego Cana.

__ADS_1


Persetan dengan rasa malu, Cana tidak peduli sekarang. Yang terpenting adalah Cana bisa mempertahankan posisinya untuk tetap bekerja disini. Cana sudah berusaha menahan kesal dan tangisnya sejak awal masuk ruangan ini.


"Buat apa saya peduli tentang kamu?!" ucap Agha acuh. "Sekarang, kamu boleh keluar!"


Cana menarik nafas dalam-dalam, mencoba ikhlas. "Baik Pak. Sekali lagi, saya minta maaf. Saya pamit pak."


Cana sudah benar-benar pasrah sekarang. Cana berjalan ke ruangannya dengan lesu. Kayna yang melihat itu pun langsung menghampirinya.


"Ehh, bentar deh. Pucet banget muka Lo! Dipecat?" Tanya Kayna.


"Gue nggak papa Kay, perasaan Lo aja kali." Jawab Cana meyakinkan.


"hmm ... Gitu deh. Gue mau ke toilet dulu ya." Jawab Cana.


"oke deh. Jangan lama-lama."


                     ****************

__ADS_1


Zadi sedang berada di ruangan Agha, ia sempat berbincang sebentar soal pekerjaan. Sebenarnya Zadi ingin menanyakan soal Cana, yang tadi datang ke ruang ini. Ia takut, Cana benar-benar dipecat oleh Agha.


"Ghaa, tadi Cana udah kesini?" Tanya Zadi


"Udah, kenapa?"


"Terus, gimana? Lo jadi pecat dia?"


"Gue sih maunya begitu, nanti deh gu__"


Tiba-tiba ponsel Zadi berdering, ia langsung memberikan kode pada Agha untuk mengangkat telpon tersebut.


"Halo, Za. Tadi gue nggak sengaja liat pesan di hp Cana. Kayaknya, nyokap dia masih suka neror nggak jelas." Kata Kayna


Zadi mengerenyit, "Maksud, Lo? Cana diancam, lagi sama Tante Siska?"


"Dia masih belum cerita. Tolong bantu jagain dia, ya."

__ADS_1


Samar-samar Agha mendengar percakapan Zadi di telpon. Tapi, Agha tidak minat ikut campur urusan orang. Agha lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang masih menumpuk. Sedangkan Zadi, ia langsung keluar meninggalkan Agha tanpa pamit.


Dua tahun setelah ibunya tiada. Ayah Cana, menikah lagi dengan Siska. Mereka pindah ke Bandung, dengan membangun bisnis kecil-kecilan. Namun, di hati Cana memang tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibunya. Ia sangat membenci Siska. Saat Cana masih SMA, Siska sering menyiksanya. kepribadian Siska yang sangat berbeda jauh saat didepan ayahnya, membuat Cana muak, dan memilih untuk kuliah di Jakarta. Sampai saat ini pun, ia jarang sekali pulang ke Bandung.


__ADS_2