AghaCana

AghaCana
Bab 19


__ADS_3

Sudah selarut ini, tapi Agha masih di kantornya. Agha tampak gelisah. Ia hanya membolak-balikan berkasnya. Pikirannya terus mengarah pada Cana. Ia sudah mengirim pesan kepada Cana, namun tidak ada balasan sejak tadi siang.


"Halo, Ga. Kenapa?" Tanya Agha


"Cana udah pulang. Dia ninggalin note buat Lo. Nanti gue kirim."


Gaha menutup telponnya.



Gaha send a picture


Setelah membaca note dari Cana, Agha memasukkan asal ponsel dan rokoknya ke dalam tas. Perasaannya tidak karuan. Bukannya senang, Agha malah merasa ada yang aneh. Pesan yang tidak dibalas, ponsel Cana yang tiba-tiba mati, dan siapa yang membawa Cana pulang?


Setibanya di rumah sakit, Agha berlarian menyusuri rumah sakit. Ia mencari ruangan Gaha.


"Ngapain kesini?" Gaha kebingungan melihat temannya datang selarut ini.


Agha mengambil nafas dalam. "Lo yakin nggak ketemu Cana? handphone dia nggak aktif."


"Lo kenapa bisa sekhawatir ini sama dia?"


"Gue juga nggak tau."


"Mendingan Lo pulang, istirahatin badan Lo."


Agha mengeluarkan rokoknya.


"GHA! Ini rumah sakit! Ayo diluar aja sekalian pulang." Gaha menyeret Agha keluar rumah sakit.

__ADS_1


...****************...


Bangunan bertingkat dua dengan empat pilar besar dibagian depan serta terdapat ukiran cantik dibagian atas memberikan kesan klasik pada rumah ini. Rumah ini dibeli setahun lalu oleh Pak Iwan, Ayah Cana.


Semalam Siska yang memaksa Cana untuk ikut pulang ke Bandung. Cana juga tidak tahu dapat informasi dari mana ibu tirinya itu kalau dia sedang di rumah sakit.


"Cana! Ayo, turun sarapan!" Ucap Iwan yang sudah menunggu di ruang makan.


Pagi ini Cana terlihat menggemaskan memakai piyama Tedy bear keyasayangannya. Ia menuruni tangga sambil melihat sekelilingnya. Kalau dipikir-pikir ia juga sangat rindu suasana rumahnya ini.


"Sejak kapan rumah kita banyak hiasan dindingnya gini?" Ucap Cana sembari melihat sekelilingnya.


"Kamu jarang pulang."


"Aku lebih betah disana. Orangnya baik-baik nggak kayak disini." Jawab Cana yang mendapatkan lirikan tajam dari Siska.


"Dan nggak usah deket lagi sama temen-temen kamu. Tinggal disini dan jangan balik lagi ke Jakarta!"


"Ayah kenapa? Kenapa tiba-tiba kayak gini? Cana kerja biar bisa bayarin semua utang ayah. Supaya Ayah bisa lepas dari perempuan jahat kayak Dia!"


Cana hendak bangkit dari kursinya. Namun ...


"Jauhin Agha!" Satu nama itu membuat Cana membeku di tempatnya.


"Ayah tau Mas Agha dari mana?!"


Ayahnya tidak menjawab.


Cana mengobrak-abrik semua barang yang ada di kamar untuk mencari ponselnya yang semalam disita oleh Siska. Siska yang mendengar suara berisik dari kamar Cana pun langsung mendobrak pintu dengan keras.

__ADS_1


Siska menarik bahu Cana, "KAMU GILA, YA?!"


"Dimana handphone aku!" Tanya Cana.


"Kenapa? Mau ngabarin Mas Kamu itu?!"


Cana berdecih. "Aku nggak ada hubungan apapun sama Mas Agha! Dia cuma atasan aku!"


"Terserah! Intinya jauhin dia!"


"Tiba-tiba banget ngomongin Mas Agha, Tan?!"


Bukannya menjawab Siska malah meninggalkan Cana begitu saja.


...****************...


Cana sedang melukis bunga-bunga yang ada di halaman rumahnya. Ternyata ayahnya masih suka menanam bunga-bunga kesukaan ibunya.


"Teh Cana, Bibi cuma mau kasih ini." Bi Sumi memberikan dokumen tebal itu pada Cana.


"Ini apa, Bi?"


"Bibi juga nggak tau, Teh. Tadi Bapak yang nitip."


"Makasih ya, Bi."


Saat Cana membuka dokumen itu. Isinya adalah riwayat penyakit ibunya. Penyakit yang 99% akan menurun padanya.


Cana kembali meneliti dokumen itu. Ayahnya bahkan sudah menyiapkan pengobatan Cana dengan dokter terbaik di Singapura. Cana merasa miris dengan dirinya yang selemah ini.

__ADS_1


__ADS_2