AghaCana

AghaCana
BAB 7


__ADS_3

Happy reading gaes....🤍


Sedari tadi Cana tengah asik ngobrol dengan pak Hasim, supir kantornya. Ponsel Cana terus berdering. Namun, Cana enggan untuk mengangkatnya. Dibelakang, Agha memperhatikan Cana yang terlihat gelisah.


Sebentar lagi, mereka akan sampai ke tempat meeting. Agha hanya fokus dengan berkasnya, dan ikut menyimak dua orang itu dalam diam. Agha baru tahu bahwa Cana secerewet ini.


"Pak, saya nanti tunggu diluar aja, ya?" Tanya Cana pada Agha.


"Terserah kamu."


"Kenapa nggak ikut masuk, Bu? Kasian bapak sendirian didalam." Tanya Pak Hasim penasaran.


"Pak ... Panggil Teh Cana aja, ya. Saya masih dua puluh lima tahun, Pak. Emangnya, muka saya ibu-ibu banget ya, pak?." Cana langsung cemberut.


Pak Hasim hanya tertawa kecil mendengar perkataan Cana tadi. Namun,  siapa sangka, ternyata Agha ikut tersenyum tipis. Bahkan hampir tidak terlihat.


Setelah sampai, Agha langsung masuk ke dalam. Ia sudah menanyakan ulang, soal Cana yang tadi tidak ingin ikut ke ruangan meeting. Tapi, Cana tetap tidak ingin masuk. 


                      ****************

__ADS_1


Hujan deras dan angin kencang, menjadikan Jakarta siang ini lumayan teduh. Agha yang baru selesai meeting langsung menemui Elena. Tadi, Agha memang sempat janji akan makan siang bersama dengan Elena.


"Hai, Gha. Udah meetingnya?" Ucap Elena sambil memeluk Agha,


"Makan di resto temen aku, yuk! Dia buka resto bebek goreng gitu. Kamu pasti suka."


Agha Yang sedikit risih dengan pelukan mendadak dari Elena pun, langsung melepaskannya. Sebenarnya, bukan hanya Elena yang Agha ingin temui. Tapi, juga Cana. Agha mencari Cana. Dimana anak itu? Jangan-jangan dia sedang asik makan siang duluan? Pikir Agha.


"Pak, Cana kemana?" Tanya Agha pada Pak Hasim.


"Loh ...  Teh Cana memang nggak kirim pesan ke bapak, untuk izin pulang duluan?" Jawab Pak Hasim, yang membuat Agha langsung mengecek ponselnya.


Assalamualaikum Pak. Maaf, saya harus pulang duluan karena ada perlu mendadak.


Agha terdengar membuang nafasnya dengan kasar. Ia bukan ingin marah pada Cana. Agha hanya khawatir, diluar hujan sangat deras, ia tidak mau disalahkan kalau sampai asisten penggantinya itu sakit.


Tunggu. Khawatir? Iyaa, Agha khawatir dengan Cana, karena merasa bertanggung jawab membawa ia pulang dengan selamat. Tidak lebih.


Mobil Agha pun melaju membelah hujan,  yang turun sangat deras di ibukota. Agha membiarkan Elena bercerita sendirian, sedangkan Agha, ia malah sibuk dengan pikirannya tentang Cana. Ada urusan apa dia sampai harus izin pulang lebih awal? Namun, Agha enggan membalas pesan asisten pengganti Zadi itu.

__ADS_1


"Pak, ini kayaknya punya Teh Cana, ya?" Pak Hasim langsung memberikan foto kecil itu pada Agha.


Elena menengok ke arah Agha. Pasti yang dimaksud adalah perempuan, yang tadi sempat bertemu dengannya di depan ruang meeting.


Agha melihat foto itu dengan lekat. Sepertinya, itu foto Cana dan ibunya. Cana kecil yang sedang memakai topi kelinci, terlihat sangat menggemaskan. Ia sedang digendong oleh ibunya, di halaman rumah yang penuh bunga. Lalu, Agha menyisipkan foto itu di belakang casing handphone nya.


📩 message From Zadi


Bro, gimana meeting hari ini? Lancarkan?


Lo lagi makan siang sama Cana, kan?


^^^Agha^^^


^^^Lancar, tapi temen Lo kabur.^^^


^^^Gue lagi makan siang sama Elena^^^


______________________________

__ADS_1


Kira-kira, Cana ada urusan apa sampe ninggalin Agha? 👀


__ADS_2