
Cana sudah sepuluh menit hanya diam didepan gerbang rumah Agha. Ia sudah coba menelpon Agha, tapi tidak diangkat. Sepertinya Agha masih terlelap.
Cana pun memberanikan diri masuk kedalam rumah Agha.
"Assalamualaikum ..." Tidak ada jawaban. Cana baru ingat kalau Zadi bilang bunda sedang pergi dan Ghina ada di sekolah.
Cat rumah yang didominasi warna abu dan putih ini memberikan kesan bersih dan nyaman bagi Cana. Rumah yang penuh dengan foto-foto keluarga Agha yang harmonis. Terlihat ada foto anak cowok sedang memegang piala, Cana tebak itu pasti Agha.
Ada foto anak laki-laki sedang tersenyum, sampai deretan giginya yang ompong terlihat semua. Anak itu sedang memegang mainan mobil remot. Cana tiba-tiba tertawa. Ia reflek mengambil ponselnya dan memotret foto itu yang sangat menggemaskan baginya
Cana melihat ke pintu yang terdapat gantungan nama dari kayu bertuliskan 'Agha Abqari'.
Pintu itu terbuka sedikit. lalu, Cana masuk perlahan.
"Assalamualaikum pak." Terlihat ada Agha yang masih terlelap ditutupi selimut.
Bubur ayam yang ada di meja pun sama sekali belum tersentuh. Cana hanya duduk dibawah lantai samping kasur Agha. Ia hanya diam memperhatikan wajah Agha yang masih sedikit pucat.
"Kamu ganteng mas kalau nggak marah-marah gini." gumam Cana pelan.
Tidak ingin terlalu lama di rumah Agha, Cana akhirnya membangunkan Agha.
"Pak ... Pak Agha... Bangun pak. Di makan dulu buburnya."
Agha menggeliat dalam tidurnya, mencoba membuka mata perlahan. Ia ingin duduk, namun Cana mencegahnya.
"Sandaran aja ya. Sini saya bantu." Cana sangat cekatan membenarkan posisi Agha agar tetap nyaman.
__ADS_1
Agha mengerenyit menatap Cana. "Ada apa kesini? Bisa tau rumah saya darimana?"
"Saya diminta Zadi untuk minta tandatangan bapak di beberapa berkas ini." Ucap Cana memberikan berkas itu pada Agha.
Agha ingin bangkit mengambil pulpen yang ada di mejanya, Tapi Cana lebih dulu menyodorkan pulpen padanya.
"Kalau lagi sakit itu, jangan banyak gerak pak."
Agha menoleh, "kamu udah nggak marah sama saya? Dan udah berapa kali sayang bilang, jangan panggil bapak."
"Sssttt... Sakit aja masih bisa bawel ya mas!"
Agha memberikan berkas yang sudah ia tanda tangani. Lalu, Cana menyodorkan sendok berisi bubur ke arahnya.
"Aaaa.... Ayo makan dulu." Agha langsung membuka mulutnya.
"Kenapa senyum-senyum sih mas?! Aku itu lagi marah ya!"
Senyum Agha makin lebar, "Kamu lucu kalau marah kayak tadi. Udah berapa hari saya dicuekin kamu tanpa alasan."
Cana hanya diam. Lalu, "Sorry. Jujur, aku nggak enak sama Bu Elena. Aku takut dibilang pelakor karena deket sama cowok orang."
"Naa, aku sama dia nggak ada apa-apa. Kita sekedar sahabat aja, nggak lebih." Jelas Agha.
"Naa? Na, Cana maksudnya?" Cana terkekeh. "Lucu."
"Iya kayak orangnya kan?"
__ADS_1
"Apa sih mas! Balik ke topik ya.Tetep aja mas. Kita kan emang nggak ada apa-apa, tapi kemarin kayaknya Bu Elena ngiranya aku yang ganjen sama kamu."
Sekarang Agha paham alasan Cana waktu itu pergi meninggalkannya saat makan siang bersama, dan alasan Cana yang menghindarinya kemarin.
"Aaaa... Suapan terakhir. Abis kamu minum obat aku pulang ya." Kata Cana sembari mengambil obat dan air putih.
"Nggak bisa disini dulu temenin saya?"
Belum sempat Cana menjawab, seorang perempuan berjalan tergesa-gesa kearah Agha.
"Gha! Kamu sakit apa? Kenapa bisa gini sih? Aku udah bilang jangan capek-capek dan terlalu maksain kerja kan?!"
Cana langsung berdiri.
"Maaf pak, saya pamit pulang." ucapan Cana tadi langsung direspon oleh Elena.
"Pulang sana! Agha butuhnya saya, bukan kamu! Agha biar saya yang jagain."
Saat hendak pergi ,lengan baju Cana ditarik oleh Agha, Agha mencegahnya pulang.
"Pak, saya harus kasih berkas ini ke Zadi sekarang." Cana berusaha melepaskan tangan Agha dari lengan bajunya.
Elena yang melihat itupun langsung menghentakkan tangan Agha dengan keras. Sampai tangan Cana membentur meja yang ada dihadapannya.
"Drama banget sih mau pulang doang!" Kata Elena.
"Len!" pekik Agha yang sudah lelah dengan sahabatnya ini.
__ADS_1
Suara mobil Cana yang meninggalkan pekarangan rumahnya dapat didengar oleh Agha dari kamar.