
"Na, tunggu!"
Cana menoleh kesamping, "Ada yang bisa saya bantu pak?"
"Saya tunggu di ruangan saya, segera." Ucap Agha meninggalkan Cana.
Kayna yang penasaran pun langsung mendekati Cana.
"Ada apa Lo sama pak Agha? kalian keliatannya makin deket."
"Gue, nggak ada apa-apa."
"Awas aja, kalau ketauan bohongin gue!" ucap Kayna sambil melotot penuh ancaman.
Dari jauh Cana mendengar seseorang meneriakkan namanya.
"Cana! Canaaa!" panggil teman kantornya dengan setengah berlari, "Ada yang nyariin kamu di bawah."
"Siapa?"
"Saya nggak tau."
Cana pun segera berlari kebawah. Saat sampai dibawah, ia terkejut. Melihat ibu tirinya ada di kantornya.
Cana menarik ibunya, menjauh dari loby.
"Tante mau apa kesini?! Dan tau saya kerja disini dari siapa?!" Cana sedikit marah.
"Cana ... Cana. Kamu dari dulu masih bodoh ya! Berapa kali saya harus bilang. Kamu, dan ayah kamu itu dibawah pengawasan saya!" Ucap Siska, ibu tirinya.
Siska mencengkram erat dagu Cana.
"Mana uangnya?!" Bentak Siska keras.
Cana berusaha melepaskan cengkraman itu, ia hampir menangis menahan emosinya.
"Tan! Jangan bikin malu aku disini!" Cana menatap tajam ke arah Siska. "Pasti saya akan lunasin semuanya!"
__ADS_1
"Sekarang saya nggak butuh di lunasin pake uang. Saya butuh kamu pulang ke Bandung!" Lalu Siska mendorong tubuh Cana hingga terjatuh.
"Deal! Sekarang Tante pergi!" Mata Cana sudah berkaca-kaca.
Setelah itu Siska melenggang pergi begitu saja.Yang Cana tahu, Wanita itu memang memberikan banyak pinjaman untuk ayahnya saat membangun bisnisnya dulu. Tapi sampai sekarang Cana masih tidak mengerti apa alasan ayahnya bisa mempertahankan wanita itu.
Saat ini, Cana sedang menangis di toilet. Tangisan yang sedari tadi ia tahan. Cana memukul dadanya pelan. Lehernya seperti tercekik karena kesulitan bernafas. Asmanya kambuh, tapi Cana lupa membawa inhealernya. Dengan nafas yang semakin berat, Cana berusaha menelpon seseorang.
"K-kay, tolong-in gue..."
Kayna panik, "Lo dimana?!"
"T-toilet ba-wah." Cana meremas ujung jilbabnya, dadanya semakin sesak.
...****************...
Zadi dan Agha yang sedang berbincang santai di ruangannya pun, dikagetkan dengan ponsel Zadi yang tiba-tiba berdering.
"Zaa.. Za! Tolongin Cana!"
"Cana kenapa?! Kay? Dia kenapa?!" Zadi panik.
"Hallo! Cepet bilang, Cana kenapa?!"
Kayna kenal suara itu.
"Pak, Cana kambuh. Dia di toilet bawah sekarang!"
Mendengar itu, Agha langsung melempar asal ponsel Zadi. Ia langsung berlari keluar ruangan, yang disusul oleh Zadi dari belakang.
Kayna sampai di toilet bawah lebih dulu. "Cana! Lo dimana?"
"Kay..." Cana keluar dari toilet, dengan wajah yang sangat pucat dan bibir yang membiru.
"Pelan-pelan." Kayna memapah Cana keluar toilet, untuk duduk di kursi.
Tak butuh waktu lama. Agha dan Zadi datang dengan keringat yang bercucuran. Agha langsung duduk dihadapan Cana.
__ADS_1
"Na. Hei, are you oke?" akhirnya Agha berani menggenggam tangan Cana.
Cana hanya memandang Agha, ia berusaha mati-matian menahan tangisnya.
"Ini pake dulu, pelan-pelan." Ucap Kayna, memberikan Inhealer itu pada Cana.
Cana menerima itu. Ia langsung berusaha mengambil semua oksigen yang dapat ia hirup, Tapi tidak ada perubahan. Cana meremas roknya kuat. Hal itu tidak luput dari pandangan Agha.
"Zaa! Siapin mobil gue! kita ke rumah sakit sekarang!" Ucap Agha keras, penuh penekanan.
Beberapa karyawan kini mengerubungi Cana didepan toilet. Mereka penasan dengan apa yang sedang terjadi.
"MINGGIR! INI BUKAN TONTONAN!" Teriak Agha.
Agha masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi, sambil terus menggenggam tangan Cana dan mengusap nya dengan lembut. Entahlah, Agha juga tidak mengerti. Mengapa hatinya ikut hancur melihat Cana seperti ini.
...****************...
"Na, Maaf ya. Saya izin pegang kamu kali ini."
Setelah itu Agha mengangkat badan Cana untuk dibawa ke mobilnya.
Selama perjalanan Agha terus melafalkan doa. Posisi kepala Cana yang bersandar dipundak Agha, membuat Agha dapat mendengar jelas bagaimana susah payahnya Cana untuk tetap hidup.
"Can. Bertahan, ya? Kita udah mau sampe." Ucap Agha dengan suara paling pelan dan lembut.
"Mas, maaf ..." Kata Cana pelan, sebelum ia pingsan.
Agha terkejut. Ia menyandarkan kepala Cana di pahanya. Ia terus menepuk lembut pipi Cana.
"Na, bangun! Na, ayo bangun! Kamu pasti baik-baik aja kan?! Jangan bikin saya khawatir."
Kayna menoleh ke jok belakang. "Za. Ayo, buruan! Cana pingsan!" Mendengar itu, membuat fokus Zadi berantakan.
Agha mengusap cairan bening di ujung matanya, mengusap air mata yang sudah ia tahan di pelupuk matanya.
"Na. Ayo bangun! Saya nggak suka liat kamu begini!"
__ADS_1
Tangan Cana yang semakin dingin, membuat Agha ketakutan. Trauma kehilangan begitu menghantuinya. Padahal ia juga tidak tahu mengapa ia bisa setakut ini sekarang.