Air Mata Alena

Air Mata Alena
1. Gosip Murahan


__ADS_3

Sebuah rumah berlantai dua serta bercat putih berdiri dengan kokoh rumah tersebut dikelilingi oleh bangunan yang berjejer disekitarnya. Suasana sekitar tampak sepi dari aktivitas warganya, karena sudah larut malam dan semua orang lebih memilih istirahat.


Namun lain halnya dengan sorang gadis yang memakai kacamata serta memliki rambut sebahu, gadis tersebut terlihat mengendap-endap di pelataran rumah berlantai dua seperti tengah memantau situasi.


Diketahui gadis itu merupakan putri dari pemilik rumah tersebut, gadis itu bernama Alena dia sudah biasa pulang larut malam. Bahkan, karena kebiasaannya itu dia menjadi bahan gunjingan warga sekitar.


Gadis itu selalu mengabaikan omongan mereka semua, karena baginya apapun yang dia lakukan tidak akan mengubah pandangan orang lain terlebih lagi bagi mereka yang tidak menyukainya atau membencinya.


Kembali ke Alena.


Gadis tersebut mengitari seluruh sisi rumah tersebut. Dia memeriksa jendela yang ada untuk mencari celah agar bisa masuk. Setelah beberapa saat akhirnya usahanya membuahkan hasil ada jendela yang kebetulan belum di kunci, dengan perlahan Alena masuk kedalam rumah melalui jendela tersebut, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara.


Bukan tanpa alasan gadis tersebut mengendap-endap seperti itu, ini semua karena menghindari ibunya yang galak. Satu hal yang tidak dimengerti oleh Alena ibunya bisa bersikap ramah kepada orang lain tapi jika bersama Alena beliau seperti membencinya.


Sebenarnya ibu Amira sendiri merupakan ibu yang penyayang terhadap semua orang termasuk anak-anaknya dan selalu memperhatikan anak-anaknya termasuk Alena, tapi semua berubah semenjak ibu Amira termakan gosip murahan mengenai anaknya dan beralih jadi membenci Alena.


Semua itu bermula ketika Alena pulang malam diantar oleh bosnya kebetulan saat itu ada tetangga yang melihat, tanpa mengetahui bagaimana keadaan yang sebenarnya tetangga itu menjadikannya bahan gosip dan hal tersebut sampai ditelinga keluarganya. Sang ibu sampai murka mendengar itu semua, awalnya ingin bertanya baik-baik kepada Alena dan menunggu waktu yang pas, akan tetapi setelah memergoki sendiri membuatnya berpikir jika perkataan tetangga itu benar adanya.


Alena mempunyai saudara yang lain akan tetapi tidak ada yang peduli dengannya, mereka semua memilih menutup mata atas kejadian yang menimpanya. Hanya Satya yang selalu memperhatikannya, akan tetapi belakangan ini kakaknya itu sibuk dengan pekerjaannya hingga jarang ada di rumah.


Senyum puas terpancarkan dari wajahnya, senyum yang jarang sekali dia perlihatkan kepada orang lain. Permasalahan yang dia alami membuat gadis tersebut menjadi sosok yang tertutup, tidak ada yang tahu dibalik tingkah cueknya tersimpan luka yang begitu dalam.


Senyuman itu lenyap seketika tatkala dia mendengar sebuah bentakan dari arah belakang.


"Darimana saja kamu? Jam segini baru pulang!"


Gadis tersebut berbalik ke arah suara tersebut alangkah terkejutnya dia melihat ibunya bersedekap dada, matanya menatap marah.


Amira seorang ibu dengan lima anak, dia harus membesarkan anaknya sendirian tanpa figur seorang suami yang mendampinginya. Dia merupakan seorang ibu yang keras kepada anak-anaknya. Hidup menjadi janda bukanlah sesuatu yang enteng, dirinya harus kuat menghadapi hinaan setiap orang yang tidak menyukainya karena predikat janda yang dia sandang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebelumnya ibu Amira terbangun karena merasa tenggorokan kering dan berniat untuk mengambil minum di dapur. Samar-samar dia mendengar suara krasak-krusuk dari ruang tamu membuatnya lebih waspada terlebih lagi belakangan ini banyak kasus pencurian. Sesampainya diruang tamu dia melihat siluet tubuh manusia, karena penasaran dia mendekati bayangan itu. Setelah tiba di sana alangkah terkejutnya dia melihat anaknya pulang larut malam dan berjalan layaknya seorang pencuri dirumahnya sendiri.


Alena meremas bajunya untuk mengurangi rasa takutnya sambil terus menunduk.


"Alena kamu dengar tidak!"


Alena masih terdiam membisu, dia mengangkat kepalanya dan pandangan mereka bertemu. Dapat dilihat dengan jelas jika saat ini Amira sang ibu menahan amarahnya.


"Mampus aku. Kenapa itu nenek sihir masih bangun sih," batinnya.

__ADS_1


Tentu saja Alena hanya mampu membatin, dia tidak mungkin berbicara langsung didepannya. Kalau sampai dia mengatakannya ibunya akan benar-benar marah besar.


"Alena!! Jangan bilang jika gosip diluar sana itu benar, kalau kamu berhubungan dengan om-om dan melemparkan tubuhmu kepada pria hidung belang yang kurang kasih sayang di luar sana!"


Alena masih diam mematung dalam hati dia berusaha kuat agar tak menangis dihadapan ibunya. Ucapan ibunya itu bagaikan belati yang menusuknya, teramat sakit saat orang yang diharapkan akan memberikan dukungan lebih memilih percaya kepada orang lain dibandingkan dengan anaknya darah dagingnya sendiri.


Merasa diabaikan anaknya membuat ibu Amira geram hingga lisannya tidak sengaja mengeluarkan kalimat pedas yang tidak pantas dikeluarkan oleh seorang ibu kepada anaknya.


"Alena! Jaga perilaku mu, jangan membuat keluarga malu mempunyai anak pembangkang seperti kamu."


Masih belum puas dengan perkataannya sang ibu menambahkan lagi kalimat yang mengiris hati anaknya.


"Cih dasar anak tidak tahu di untung. Mati saja, sana memalukan. Aku tidak sudi mempunyai anak sspertimu," ujarnya sinis.


Terdengar decakan malas dari mulut ibunya. Jangan lupakan sorot mata merendahkan yang ditujukan pada Alena.


Deg


Sakit itulah yang dirasakan oleh Alena saat kalimat itu keluar dari mulut ibunya, sebisa mungkin dia menahan air mata yang hendak menetes.


Sekian lama bertahan akhirnya runtuh sudah tembok pertahanan nya air mata yang sedari ditahan perlahan menetes. Sudah terlalu sering kalimat menyakitkan itu ditujukan pada Alena, tetapi rasanya jauh lebih sakit jika kalimat hina itu keluar dari mulut ibunya sendiri.


Dengan menahan gejolak perasaannya Alena menghapus air matanya dan menjawab kalimat sarkas ibunya.


"Sejak kapan ibu perduli denganku? Bukankah selama ini tidak ada yang memperdulikan ku."


"Toh juga kalau aku mati mungkin orang yang paling bahagia atas kematian ku adalah ibu," ujarnya tersenyum getir.


Mendengar ucapan Alena ibunya menjadi naik pitam dia membentak dengan suara keras tak peduli jika tetangga ada yang mendengarnya.


"Dasar anak kurang ajar! Berani sekali kamu bicara seperti itu dengan ibumu!" Bentak sang ibu.


Merasa belum puas dengan kalimat tersebut ibu Amira melayangkan tangannya ke pipi putrinya tanpa belas kasihan.


Plakkk


"Sudah disekolahkan tinggi-tinggi bukannya bikin orang tua bangga malah bikin malu. Kalau tidak bisa bikin bangga keluarga lebih baik kamu mati saja! Dasar tidak berguna."


Alena menyentuh pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari ibunya. Tenaganya cukup kuat sehingga terlihat dengan jelas bekas nya bahkan saking kuatnya Alena sampai tersungkur ke lantai.


Sakit memang namun, rasa sakit yang dia alami sekarang tidak seberapa dengan rasa sakit hatinya atas segala perilaku buruk yang dia terima selama ini dari ibunya dan juga gunjingan tetangganya.

__ADS_1


Gadis itu bangkit dan menatap perempuan yang mengaku sebagai ibunya ini dengan tajam.


"Tampar aku bu, tampar!! Kalau perlu bun*uh aja sekalian biar ibu puas." Alena berteriak sambil menampar pipinya sendiri.


Alena menghapus air matanya dengan cepat dia tidak mau menunjukkan kelemahannya dihadapan orang lain meskipun itu didepan keluarga sendiri.


"Tadi bilang apa? Ibu ...." Alena tersenyum sinis memandang ke arah ibu Amira.


Alena berjalan menghampiri ibunya, sorot mata tajamnya tidak pernah lepas dari tatapan mata gadis itu. Dia berjalan mengelilingi ibunya layaknya seorang psikopat yang menertawakan korbannya.


Alena tertawa terbahak-bahak merasa lucu, dia menertawakan kehidupannya yang malang.


"Hahaha sejak kapan aku punya ibu. Bagiku ibu sudah mati." Alena tertawa miris.


Untuk sepersekian detik suara Alena berubah menjadi tawa yang miris.


Bagaimana bisa seorang yang mangaku sebagai ibu begitu tega menampar anaknya dan lebih percaya dengan orang lain daripada dirinya. Dia tidak habis pikir ibu macam apa yang tega menyakiti darah dagingnya sendiri.


"Alena kam—"


"Apa tidak terima?" Sela Alena.


"Mana ada orang yang menyebut dirinya seorang ibu tapi lebih mempercayai gosip murahan, tega menampar anaknya dan parahnya lagi dia menuduh anaknya darah dagingnya sendiri j*l*ng," ujarnya penuh penekanan.


Ibu Amira terpaku tidak biasanya anak itu bicara lebih keras padanya bagaimanapun perlakuannya kepada anak itu. Selama ini gadis itu selalu diam setiap kali dia membentaknya.


"Kalau seperti itu lebih baik sekalian saja aku jadi j**ang betulan supaya kalian puas."


"Alena! Jangan macam-macam kamu!" Ibu Amira berteriak dengan keras.


Ibu Amira terkejut mendengar ucapan anaknya dia tidak menyangka jika gadis itu akan menjadi kupu-kupu malam seperti yang dikatakan oleh orang-orang.


"Terserah aku. Itu mau kalian 'kan? Aku diam bukan berarti aku bodoh, tidak mengetahui ulah kalian! Aku akan dengan senang hati mengabulkannya supaya bukan fitnah lagi."


"Baik bukan, aku sudah membebaskan kalian dari dosa fitnah. Meskipun aku harus rela bergelimang dosa."


Alena berlari ke kamarnya mengabaikan ibunya yang masih terpaku dengan perkataannya.


Bersambung....


Hello guys selamat datang di karya kedua ku, semoga terhibur semua ya.

__ADS_1


__ADS_2