Air Mata Alena

Air Mata Alena
Part. 16


__ADS_3

"Oh iya, Pak Alena ke sini gak sendirian, tadi minta tolong dianterin sama kakak. Berhubung kak Satya lagi free dan Alena pengen banget ke sini yaudah sekalian minta anter," terang Alena.


Pak Yoga sontak menoleh ke arah kursi tamu dan benar saja ternyata Alena tidak sendiri melainkan bersama seorang pria dan juga salah satu karyawannya. Pria tua itu memperhatikan dengan seksama wajah anak muda itu, dan dia menemukan kemiripan dengan Alena.


Satya pun maju menghampiri pak yoga, dia pun menyalami pria itu dengan ta'dhim. Pak Yoga tersentuh dengan perilakunya, jarang sekali ada anak muda yang memiliki sopan santun sepertinya.


"Pak, terimakasih atas bantuannya menjaga Alena. Dengan adanya bapak adik saya tidak bersedih lagi dengan kehilangan ayah kami," ujar Satya tulus.


"Alhamdulillah, Nak. Bapak seneng dengernya kalau kamu udah ketemu sama kakak mu, setidaknya ada yang melindungi kamu pas bapak gak ada."


"Alena juga mau bilang makasih sama bapak karena udah rela belain Alena dari ibu," ujar Alena.


Rere yang tidak mau mengganggu drama keluarga ini lebih memilih keluar sebentar, tanpa sepengetahuannya Denis mengikuti gadis itu. Denis pun juga tidak ingin menghancurkan momen haru mereka.


Saat ini Rere memilih duduk di teras yang kebetulan di sana ada kursi serta meja kecil. Gadis itu duduk dengan tenang sambil memandangi beberapa bunga yang berjajar rapi di depan rumah.


"Ngapain di sini?" Ujar seseorang tiba-tiba.


"Astaga, bapak ngagetin aja," ujar Rere sewot. Gadis itu merasa kesal karena kesenangannya diganggu oleh orang yang tidak lain adalah anak bosnya.


"Ck jangan panggil gue bapak, gue gak pernah nikah sama nyokap Lo. Lagian gue masih muda kali, belum bapak-bapak," sahut Denis tak kalah sewot.


"Tau lah, Pak. Lagi bete."


Gadis itu berkata dengan raut wajah kesal ditambah dengan tangannya bersedekap dada. Entah kenapa hari ini dia begitu kesal tanpa sebab, seingatnya hari ini bukan waktunya dia pms tapi kenapa emosian seperti ini.


Denis hanya mengangkat bahu tidak peduli dengan karyawannya itu, lalu duduk di samping gadis itu karena di tempat itu memang ada dua kursi dengan meja kecil ditengahnya.


Meninggalkan dua manusia itu sekarang saat ini pak yoga, Alena serta Satya sedang terlihat serius. Berkali-kali Alena menatap sang kakak yang berada di sampingnya meminta pendapat, Satya mengangguk memberikan persetujuan.


Alena menarik nafas dalam-dalam mengusir keraguannya serta kegugupannya, dia menatap lekat pak yoga.


"Pak, ada yang mau Alena bicarakan dengan bapak."


"Ada apa, Nak? Kenapa tegang seperti itu."


"Pak, sebelumnya Alena mau minta maaf jika sudah ngecewain bapak," ujar Alena.


"Nak Satya, sebenarnya ini ada apa?"

__ADS_1


Ditanya seperti itu Satya juga menjadi bimbang, dia memang yang menyarankan untuk bercerita dengan keluarga ini, tapi melihat raut wajah penasarannya pun membuat Satya merasa kasihan sekaligus seperti berhadapan dengan ayahnya.


Satya menatap sang adik yang berada tepat di sampingnya meminta persetujuan. Alena mengangguk mantap dia merasa mereka harus tahu sebenarnya masalah diterima atau tidak terserah.


"Pak, sebelumnya saya juga minta maaf. Karena secara tidak langsung ini terjadi jarena saya lalai menjaga adik saya," ujar Satya.


"Jadi, sewaktu—"


Drt drt drt


Satya pun mengambil ponselnya di saku melihat siapa yang menelponnya. Tertera nama Dirga di sana membuat Satya mengernyit heran, jarang sekali pria itu menelponnya kalaupun ada perlu pasti akan menghampiri ke rumah.


"Siapa, Kak?" tanya Alena penasaran.


"Kak Dirga, tumben sekali anak ini nelpon," jawab Satya.


"Yaudah angkat aja dulu siapa tahu penting."


"Maaf pak sebentar saya angkat telfon dulu." Satya pun melangkah meninggalkan ke dua orang itu, terlebih pak yoga yang terheran-heran.


Di depan pintu Satya berpapasan dengan Denis dan juga Rere yang kebetulan mau masuk ke dalam. Denis melihat Satya yang tengah serius pun tidak mau mengganggu urusan pria itu.


"Hallo, Ga. Ada apa tumben Lo nelpon?"


"Sat, Lo sama Alena gak?" sahut Dirga diseberang sana.


"Iya, dia ada sama gue. Kenapa?"


"Sekarang lo sama Alena samperin gue di kantor polisi sekarang."


"Hah kantor polisi! Lo ngapain di sana, Ga Lo baik-baik saja 'kan?" Tanpa sengaja Satya berteriak kaget saat mendengar temannya itu berada di kantor polisi.


"Buruan kesini, ini tentang adek Lo. Ntar gue jelasin di sini," sahut Dirga.


Tak lama kemudian sambungan diputuskan sepihak oleh Dirga.


Alena yang mendengar teriakan sang kakak pun lantas menghampiri Satya yang masih sibuk dengan pemikirannya. Alena pun menepuk pundak sang kakak hingga membuat Satya berjingkat kaget.


Alena menatap wajah khawatir kakaknya dengan intens. Gadis itu duduk di sebelah sang kakak.

__ADS_1


"Kak, kak dirga kenapa?" Tanya Alena penasaran.


"Dek, kita ke kantor polisi sekarang. Dirga bilang ada sesuatu yang mau dibicarakan di sana tentang kamu," tutur Satya.


"Baiklah, kita ke dalam dulu."


Alena pun mengangguk menyetujui, mereka berdua pun masuk ke dalam menghampiri yang lain. Sampai di dalam pun mereka berdua diberondong pertanyaan-pertanyaan dari mereka bertiga terlebih lagi saat mendengar kantor polisi. Dengan sabar Satya menjelaskan semuanya kepada mereka untuk mengurangi rasa khawatir mereka.


Sesaat setelah keributan itu Satya bergegas pamitan kepada mereka semua,


"Pak, Satya mau pamit dulu. Nanti kalau ada waktu mampir ke sini lagi," ujar Satya.


"Baiklah, kalian hati-hati dijalan. Bapak do'a kan urusan kalian cepat selesai," ujar Pak Yoga.


"Kak, Denis ikut!"


"Gimana, Dek?"


"Yaudah gak apa-apa, Kak. Biar Denis sama Rere ikut sekalian," putus Alena.


Mereka ber empat pun keluar secara bersamaan meninggalkan rumah bercat putih itu menuju kantor polisi.


Selama perjalanan tak henti-hentinya Satya dan Alena berdoa untuk mengurangi kekhawatiran mereka.


Jalanan ibukota yang padat membuat perjalanan mereka terhambat, perjalanan yang biasanya bisa ditempuh selama 30 menit sekarang menjadi satu sampai dua jam an. Beruntungnya mereka menaiki motor sehingga bisa menyalip kendaraan yang lain meskipun harus mendapat omelan dari pengendara lain.


******


Di kantor polisi.


Saat ini Dirga sedang berada di dalam kantor menunggu kedatangan temannya, sedari tadi pria itu tidak henti-hentinya berjalan ke sana kemari dia tidak sabar menunggu kedatangan Satya dan adiknya Alena. Mata laki-laki itu mengamati pintu masuk, bahkan setiap orang yang datang pun seperti dia absen.


Kemarin laki-laki itu berbohong kepada Satya jika akan bertemu klien padahal dia waktu itu mendapatkan kabar dari orang kepercayaannya yang selama ini mencari pelaku kejahatan yang menimpa Alena. Dia memberikan titik terang jika sang pelaku sedang berada di Jakarta. Makanya dia menghubungi Satya dan Alena untuk membuat laporan supaya mereka bisa diringkus secepatnya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2