Air Mata Alena

Air Mata Alena
8.


__ADS_3

Pak Yoga hanya menatap kebingungan perempuan dihadapannya ini tanpa berniat memberitahu maksudnya dan malah mengalihkan pembicaraan.


"Sekali lagi saya tanya? Bagaimana sosok Alena dimata ibu?"


"Kenapa bapak malah kembali bertanya," ujar Ibu Amira kesal.


"Jawab saja jangan protes!" Tegas Pak Yoga.


Ibu Amira semakin geram dengan Pak Yoga dengan kesal dia menjawab pertanyaannya. Karena terlalu kesal perempuan tersebut sampai tidak sadar jika dia menjelek-jelekkan anaknya dihadapan orang lain.


"Alena itu anaknya bandel susah dibilangin, suka pulang malam, urakan dan dia suka sekali diantar pulang sama om-om dari yang kudengar dari warga dia suka gonta-ganti pacar," cerocosnya.


Pak Yoga hanya tersenyum melihat kebodohan perempuan dihadapannya ini. Dia tidak habis pikir dengan perempuan ini, bagaimana mungkin dia begitu leluasanya membeberkan aib anaknya didepan orang lain tanpa beban seperti itu.


"Kenapa bapak begitu penasaran dengan Alena anak saya, apa jangan-jangan bapak ingin bersama anak saya dan bermalam dengannya?" tuduh Ibu Amira.


Ibu Amira begitu enteng menuduh Pak Yoga tanpa memperdulikan bagaimana perasaan orang tersebut yang sakit hati atas tuduhan tak berdasarnya.


Brakkkk


Benar saja selang beberapa saat Pak Yoga sudah terbakar emosi mendengar tuduhan itu hingga menggebrak meja.


"Jangan sembarangan kalau bicara!" Teriaknya menggelegar.

__ADS_1


Teriakan tersebut membuat anak sulung Pak Yoga bernama Denis terganggu dan menemui biang onar yang mengakibatkan ayahnya murka seperti itu.


Awalnya dia tidak perduli dengan tamu ayahnya namun ketika mendengar nama Alena disebut-sebut membuatnya penasaran, apalagi setelah ayahnya murka.


Dengan penasaran Denis menghampiri ruang tamu, sesaat dirinya dibuat membeku, matanya membola sempurna dia tahu betul siapa tamu ayahnya. Perempuan itu ialah orang yang paling bertanggungjawab dengan luka batin yang dialami oleh kakak angkatnya. Ya, semenjak Alena menceritakan semuanya Pak Yoga sering mengajaknya berkunjung kerumah dan mereka sering bertemu. Saking seringnya membuat hubungan mereka semakin dekat dan Pak Yoga sudah menganggap Alena seperti anaknya sendiri.


Saat sudah sampai diantara mereka Denis langsung menyela pembicaraan mereka."Ayah kenapa dia datang kesini?"


"Dia ingin mencari kakakmu," jawabannya.


"Mencari kakak? Bukankah kakak sudah pulang dari kemarin malam," ujarnya kebingungan.


Belum selesai dengan keterkejutannya ibu Amira dibuat kebingungan oleh mereka.


"Kak Alena lah siapa lagi," jawaban Denis.


"Jangan sembarangan kau bocah! Dia itu anak ku selamanya akan menjadi anak ku," geram Amira.


"Hahahaha!!"


Suara tawa Pak Yoga menggelegar.


"Anak, apakah anda tidak tahu malu nyonya. Setelah apa yang kau lakukan selama ini kepada darah dagingmu sendiri apakah kau masih pantas disebut dengan ibu?"

__ADS_1


Ibu Amira semakin geram dengan perilaku Pak Yoga yang menurutnya berbelit-belit.


"Jangan berbelit-belit cepat katakan! Apakah anak itu menjelekkan saya, ibunya sendiri."


Wanita tersebut berteriak sambil bersedekap dada membuat Denis sudah muak dengan perempuan didepannya ini. Belum sempat Pak Yoga membuka mulut Denis sudah terlebih dahulu menyela ucapan ayahnya.


"Tante jangan ganggu kak Alena lagi. Lepaskan dia, biarkan kakak pergi dengan pilihannya asal tante tahu kak Alena itu menderita ditempat itu," ujar Denis.


"Apa maksudnya ini."


"Pak Yoga tolong jelaskan," tuntut Ibu Amira.


Pak Yoga menatap perempuan yang duduk dihadapannya ini.


"Aku yakin ibu tidak bodoh untuk mengartikan kalimat anak saya." Laki-laki itu bangkit dan berjalan menuju pintu.


"Silahkan ibu keluar dari rumah saya. Saya hanya minta tolong sama ibu, tolong rubah sifat ibu. Anak itu sudah menderita dengan gunjingan tetangga kalian jangan ibu tambah lagi dengan ucapan ibu yang menyakiti Alena," tuturnya.


Bukannya Pak Yoga tidak ingin memberitahu yang sebenarnya beliau hanya ingin perempuan itu mencari sendiri letak kesalahannya selama ini. Sebenarnya dia cukup tau bahwa yang Alena butuhkan disini hanyalah kasih sayang ibunya dan juga dukungannya.


Tanpa banyak kata lagi ibu Amira keluar dari rumah tersebut. Dia membanting pintu dengan keras membuat Pak Yoga dan Denis berjingkat kaget.


"Dasar nenek lampir!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2