
Selama perjalanan pulang Alena tidak bersuara sama sekali, pandangannya kosong, sedangkan pikirannya saat ini menerawang jauh memikirkan perkataan ibunya.
Ucapan demi ucapan yang selama ini dilontarkan ibunya terekam dengan jelas di memorinya, bagaimana ibunya membentak, memukulnya dan membandingkan dengan saudara-saudaranya yang dianggap lebih sempurna dibandingkan dirinya.
Tangan yang seharusnya untuk merangkul dan menggenggamnya ketika sedang terpuruk selalu di gunakan ibunya untuk menampar anaknya sendiri. Dan itu terjadi tanpa alasan yang jelas.
Air matanya lolos begitu saja tatkala mengingat kembali perkataan ibunya dan perilaku yang dia dapatkan selama ini, rasanya sakit sekali jika kalimat menyakitkan itu keluar dari mulut seorang ibu. Dia merasa seperti tidak pernah diinginkan kehadirannya atau mungkin memang begitu keadaannya.
Alena menghela nafas berat. Tanpa sadar tangannya memijit kepalanya yang tiba-tiba berdenyut sakit.
Pemandangan itu tidak lepas dari penglihatan Dirga, sedari tadi diam-diam sudut mata pria itu melirik kearah Alena dan memperhatikan setiap hal yang dilakukannya.
Dirga menepikan mobilnya sejenak, dia menatap intens wajah sembab Alena tanpa sepengetahuan sang empunya pastinya, karena saat ini gadis tersebut sepertinya sedang bergulat dengan hati dan pikirannya sehingga tidak menyadari jika dirinya memperhatikannya sedari tadi.
"Al," panggilnya pelan.
"Emmm iya kak." Gadis itu tersentak dengan cepat dia mengusap air matanya kasar, dia tidak mau pria di hadapannya ini menyadari keadaannya. Biarlah dia pendam sendiri tanpa ada siapapun yang mengetahui keadaan yang sebenarnya.
"Kenapa berhenti, Kak?"
Tanpa menjawab laki-laki tersebut keluar dari mobil lalu membuka pintu di sisi Alena.
"Kita keluar sebentar."
Alena menurut, dia mengikuti langkah Dirga yang menuntunnya ke sebuah tempat yang tidak terlalu ramai. Alena menatap Dirga dengan penuh tanya, namun tidak digubrisnya.
"Duduk dulu di sini, gue tinggal bentar."
Tanpa menunggu jawaban laki-laki itu beranjak pergi meninggalkan Alena yang tengah kebingungan.
Tanpa menunggu waktu lama Dirga sudah kembali dengan membawa minuman yang dibelinya di warung yang tidak jauh dari tempat mereka saat ini.
"Nih, minum dulu biar lega." Dirga menyodorkan minuman kaleng ke arah Alena.
"Em ... Makasih kak."
Laki-laki itu mengangguk.
"Loe gak apa-apa 'kan?" Tangannya terulur mengusap lembut kepalanya.
Alena menepis pelan tangan Dirga, "Em ... Alena gak apa-apa kak."
Dirga tidak mempermasalahkan hal itu dan memandang lekat wajah gadis tersebut, terlihat dengan jelas mata yang memerah serta wajah sembab menandakan kalau suasana hatinya sedang tidak baik. Ditatap seperti itu Alena menundukkan wajahnya.
Dengan perlahan tangan Dirga mengangkat dagu Alena lalu mengusap bekas air mata tersebut dengan lembut. Alena kembali ingin menghindar namun urung terjadi, karena pria tersebut mengucapkan kalimat yang mampu menenangkan hatinya.
"Gue tahu hati dan perasaan loe sudah lelah selama ini, ditambah perilaku nyokap yang kayak gitu gue yakin sekarang loe lagi hancur. Kalau boleh, gue mau kok jadi teman curhat lo dan menghapus rasa sakit di hati lo sekarang."
Dengan suara tercekat Alena berkata, "Aku baik-baik saja kak."
"Gue tau lo bohong," ujarnya serius.
"Gue bisa lihat dari sorot mata loe yang sendu. Cerita sama gue apa yang loe rasain sekarang, gue tahu loe gak bakalan cerita sama Satya karena takut kakak loe kepikiran 'kan?" Tukasnya.
Air mata Alena kembali luruh, memang benar selama ini dia tidak berani bercerita kepada kakak nya, dia tidak mau menambah beban pikiran kakaknya.
__ADS_1
"Kenapa semua ini harus aku alami... Apa salahku, Kak." Lagi dan lagi air matanya meleleh. Dengan sigap Dirga merengkuh pundak rapuh Alena dan mengusapnya perhatian.
"Aku hanya ingin sebuah kebebasan, tapi kenapa begitu sulit bahkan disaat sudah dekat dengan mudahnya mereka semua merenggutnya. Aku .lelah, Kak. Kalau saja aku tidak ingat kak Satya mungkin aku...."
"Shutttt jangan berpikir yang aneh-aneh," sela Dirga seakan-akan mengetahui arah pikiran Alena.
Dirga melepas pelukannya beralih menatap mata sayu Alena, menatap mata itu dirinya merasakan sesuatu yang membuatnya tidak mampu berpaling.
"Kita sayang sama loe, Al. Terlebih lagi Satya kakak loe, jadi jangan pernah berpikiran untuk ngelakuin hal itu lagi."
Masih segar di ingatan Dirga bagaimana gadis itu berusaha mencelakai dirinya sendiri dengan cara mencoba menenggak racun, beruntungnya waktu itu mereka mengetahui dengan cepat dan bisa menggagalkan rencana Alena. Tidak terbayang bagaimana paniknya mereka saat itu, meskipun berhasil digagalkan, namun carian tersebut sudah berhasil masuk ke dalam tubuhnya meskipun sedikit dan beruntungnya nyawa gadis malang itu masih terselamatkan. Semenjak saat itu baik Satya maupun dirinya tidak pernah meninggalkan gadis tersebut sendirian.
"Kalau udah ngerasa capek cari gue ataupun Satya ceritain semua yang loe rasain. Meskipun gue gak bisa bantu banyak paling tidak gue masih punya bahu untuk loe bersandar Al." Sambil menepuk bahunya.
Alena merasakan kesungguhan dibalik kalimat Dirga dan itu tidak pernah dia dapatkan dari keluarganya meskipun kakaknya sendiri. Karena Alena tidak mau membebani pikiran kakaknya.
"Kenapa kakak begitu baik sama Alena? Aku kotor kak. Bahkan aku tidak lebih baik dari sampah."
"Shutttt jangan menilai rendah dirimu Alena. Loe hanya korban nafsu bejat mereka dan itu bukan berarti loe sama seperti mereka," ujarnya.
"Tap...."
"Shuttt." Dirga mengarahkan telunjuknya di bibir Alena.
"Gue gak mau lihat kamu nyalahin diri sendiri. Kenapa gue ngelakuin itu semua karena gue pernah berada di posisi kalian."
"Gue punya adik seumuran loe, cantik banget anaknya periang sebelum peristiwa menyakitkan itu menimpanya." Dirga tersenyum miris.
"Maksudnya? Jangan bilang kalau dia...."
"Benar adek gue, Seira. Dia diperkosa teman cowoknya dan karena tekanan sekelilingnya yang menghujat dirinya sebagai perempuan tidak benar. Dia memilih mengakhiri hidupnya bersama janin di perutnya."
Ingatannya kembali berputar ke beberapa tahun silam saat dia menemukan tubuh Seira adiknya sudah terbujur kaku dengan mulut berbusa, disampingnya ada sebotol racun yang dia minum dan juga sepucuk surat yang mengatakan permohonan maafnya kepada dirinya dan calon anaknya.
Sakit sudah pasti, Dirga merasa tidak becus menjadi kakak. Dia sudah berusaha mencari pelakunya untuk dimintai pertanggungjawaban, namun nihil dia seperti belut.
Alena terkejut mendengar pengakuan kak Dirga. Tidak disangka dibalik wajah humoris yang dikenalnya selama ini ternyata menyimpan luka yang begitu dalam.
"Kak maaf," ujarnya bersalah.
"Gak apa-apa pesan gue cuma satu, seberat apapun cobaan yang loe alami jangan sekali-kali kepikiran bunuh diri. Masih banyak yang sayang sama loe terlebih kakak loe. Jangan bikin kakak loe merasa gagal menjaga adiknya dengan keputusan yang lo ambil."
Alena terdiam pikirannya kembali menerawang jauh, bayangannya kembali kepada saat dirinya sedang terguncang dan melakukan percobaan bunuh diri. Bahkan kakaknya terlihat mengurung diri dan menyalahkan dirinya sendiri.
Sekarang dia merasa bersalah kepada kakaknya tersebut, dia yakin sekali kalau bukan hanya dirinya sendiri yang hancur melainkan Satya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keheningan menyelimuti dua insan yang memiliki permasalahan hampir sama. Sedari tadi botol minuman ditangan Alena belum berkurang sama sekali. Hingga suara telepon berdering mengagetkan mereka.
Drtttt drttttt
Getar handphone di tasnya mengalihkan perhatiannya sejenak.
"Sebentar kak."
__ADS_1
Dengan perlahan dia merogoh mencari benda pipih tersebut.
Tenggorokannya tercekat ketika melihat nama kakaknya rasa bersalah itu kembali datang. Dengan menarik nafas dia mengangkat panggilan tersebut.
"Halo kak."
"Dek kamu dimana? Kamu gak kenapa-kenapa 'kan? Terus dimana Dirga kenapa dia juga gak ada?"
Alena dapat mendengar kepanikan dari nada bicara kakaknya dan itu membuatnya tersentuh.
"Alena gak apa-apa kak. Kakak gak usah khawatir ada kak Dirga yang temenin Alena. Sebentar lagi kita pulang kok."
"Syukurlah kamu gak apa-apa. Yasudah jangan lama-lama, kakak tunggu di rumah."
"Iya kak."
Setelah itu Alena memutuskan panggilannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Merasa Alena sudah tenang Dirga mengajaknya kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan tertunda mereka.
Keheningan kembali mewarnai perjalanan mereka baik Alena maupun Dirga sama-sama terdiam dengan pikiran masing masing.
Alena masih setia memandangi setiap sudut jalan yang mereka lewati terlihat para pedagang yang menjajakan dagangannya ada juga beberapa pengamen yang mengais rezeki di jalanan.
"Ternyata kesusahan yang aku alami tidak lebih berat dari yang mereka rasakan," gumamnya tanpa sadar.
"Tidak selamanya kesusahan itu membawa keburukan. Di luar sana ada yang lebih menderita dari yang loe alami sekarang, Al."
Perkataan Dirga sontak membuat gadis berambut ikal itu menoleh.
"Tapi, lihatlah apakah mereka bersedih?" tunjuk nya pada salah satu pedagang di seberang jalan.
"Tidak, justru mereka menjadikan kekurangan yang dimiliki sebagai cambuk untuk usaha menjadi yang lebih baik."
"Sama seperti loe, Al. Jalan hidup yang loe alami sekarang mungkin terlihat berat bahkan gue sendiri belum tentu sanggup ngejalaninnya, tapi sebisa mungkin tanamkan dalam diri loe bahwa semua rasa sakit yang loe alami sekarang suatu saat nanti akan menjadi indah. Segala ujian serta rasa sakit itu akan usai dan berganti menjadi kebahagiaan yang berlipat-lipat."
Alena membenarkan perkataan Dirga selama ini dia selalu mengeluh atas peristiwa yang menimpanya sehingga dia lupa bahwa diluar sana masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih menderita.
"Terimakasih, Kak."
"Terimakasih untuk apa? Gue gak ngelakuin apa-apa selain modal ngomong doang," dirga terkekeh geli.
"Terimakasih untuk waktunya selama ini. Kakak orang yang baik, aku berharap semoga nanti orang yang menjadi pasangan kakak adalah orang yang terbaik juga."
"Cuma satu saja permintaanku. Jangan pernah sakiti pasangan kakak siapapun nanti," ujarnya sungguh-sungguh.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Bersambung....