Air Mata Alena

Air Mata Alena
3. Firasat Buruk.


__ADS_3

Satya tak kalah emosi mengetahui teleponnya mati, padahal dia sangat penasaran siapa orang yang menelponnya malam-malam seperti ini.


"Sial! Kenapa mati sih," umpatnya kesal.


"Ck lo kenapa sih, Sat? Malem malem teriak kagak jelas, kesambet baru tau rasa lo."


Dirga terkejut mendengar teriakan Satya padahal dia baru saja tertidur.


"Hp gue mati."


"E ileh Hp doang yang mati udah segitu frustasi nya gimana ntar kalo ditinggal kawin lo," sewot Dirga.


Mendengar ucapan Dirga membuat Satya kesal bukan main, dia merasa harga dirinya jatuh karena disamakan dengan hewan yang suka kawin.


"Woii oncom!!" teriak Satya kesal.


"Lo pikir gue kucing apa! Enak bener kalo ngomong main kawin kawin aja nikah dulu kampret."


Satya begitu kesal ketika Dirga berbicara seperti itu untuk melampiaskan kekesalannya dia melempar pulpen ke arah Dirga.


Tuk.


Tepat sasaran, pulpen tersebut mendarat tepat di kening Dirga membuat sang empunya mengumpat kesal.


"Dasar bang Sat! Temen sendiri di lempar pulpen."


"Biar bener otak lo."


"Bodo amat, dah ah gue mau tidur lagi. Kalo mau kerja ... sono gih!! Gak usah gangguin gue."


"Hari ini gue mau mewujudkan mimpi terindah gue selama ini," sambung Dirga.


Satya merasa penasaran dengan impian lelaki itu. Dengan kening berkerut dia bertanya, "Emang mimpi loe apa?" tanya Satya jangan lupakan dengan ekspresi meledeknya.


"Ketemu kakek Sug*on* puas loe! Gue mau berguru sama dia buat taklukin kaum hawa."


Dirga sangat kesal dengan pertanyaan Satya yang seolah-olah meledeknya jomblo padahal dia sendiri juga jomblo akut.


"Bhuahahahaha ... Dasar otak loe emang perlu di servis Dir biar gak konslet lagi."


Benar dugaan Satya pasti laki-laki itu sedang memikirkan yang tidak-tidak.


Merasa tidak terima Dirga mengambil bantal disampingnya lalu melemparkannya tepat diwajah Satya.


"Sana loe, gak usah ganggu gue mau tidur," usir Dirga.


Tanpa menunggu respon Satya dia langsung berbaring membelakangi temannya itu dan tidak perlu waktu lama Dirga sudah terlelap.


Satya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dirga yang kebo, setelah itu dia kembali ke meja tempatnya bekerja tadi dan berkutat dengan pekerjaannya yang tertunda, perdebatannya dengan Dirga barusan membuatnya lupa dengan orang misterius tadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sekian lama duduk membuat tubuh Satya merasa pegal-pegal. Dia melihat ke arah jam dinding ternyata sudah menunjukkan pukul dua belas malam


"Pantesan udah berat banget nih mata. Lanjutin besok aja deh," gumamnya.


Satya membereskan laptop serta berberapa kertas yang sedari tadi menemaninya, setelah rapi dia beranjak tidur sebelum itu handphone nya dia charger terlebih dahulu.

__ADS_1


Pandangan matanya menatap kearah Dirga yang sudah tertidur, lelaki itu bahkan menguasai tempat tidurnya seorang diri.


"Dir bangun," ujar Satya.


Pria itu terus mengguncang tubuh Dirga yang sudah terlelap ke alam mimpi.


Merasa tidurnya terganggu Dirga menjadi kesal. "Apaan sih Sat! Ganggu aja lagi enak tidur juga," sewotnya.


"Gak ada niatan pindah gitu. Di sebelah kan masih kosong."


"Gak deh gue udah ngantuk banget. Lo aja pindah, hari ini gue minjem kamar lo," ujarnya setengah sadar.


"Ck yaudah deh gue aja yang keluar. Loe pake deh sepuas-puasnya."


Satya keluar kamar tersebut lalu berpindah ke kamar sebelah yang masih kosong. Sebelumnya dia mengambil handphone nya untuk dia charge di kamar tersebut meskipun mereka berteman Satya tidak mungkin meninggalkan Handphone nya bersama Dirga. Bukannya dia tidak percaya dengan temannya itu hanya saja handphone merupakan sebuah benda yang bersifat privasi dan tidak semua orang boleh mengetahui isinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam semakin larut Alena yang tidak tahan menunggu akhirnya pergi dari halte dan melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki. Seandainya saja motor nya tidak rusak pasti Alena tidak akan bersusah-susah dengan jalan kaki.


Pandangan mata Alena menyapu, suasana sekitar yang sepi tidak ada seorangpun yang mau lewat di jalan tersebut terlebih lagi area itu merupakan area rawan preman dan begal. Tentu hal tersebut tidak di ketahui oleh Alena, kalau saja dia tahu mungkin dia lebih memilih berdiam diri di halte.


Punggungnya sudah mulai terasa pegal-pegal, akhirnya dia memilih menurunkan tas ranselnya dan menenteng nya.


Udara dingin mulai menerpa kulit Alena, meskipun sudah memakai jaket tetap saja hawa itu mampu menembus pori-pori nya.


Beberapa meter dari Alena berada, ada segerombol pemuda yang tengah berpesta miras. Mereka semua merupakan sekelompok preman yang selalu meresahkan warga sekitar.


Jalan ini adalah wilayah kekuasaan mereka, jadi siapapun yang lewat disini harus membayar kepada sekelompok tersebut.


Mereka semua tengah asik meminum minuman haram itu sambil bermain judi kartu. Tak sengaja salah satu diantara mereka melihat keberadaan seorang gadis tak jauh dari tempat mereka.


"Jangan bohong lu Kring, mana ada cewek jam segini lewat palingan juga kunti," sahut Parjo tanpa mengalihkan pandangannya dari kartu ditangannya.


Dengan kesal Cungkring memegang wajah Parjo dan mengarahkannya ke arah gadis itu berdiri. "Dibilangin, noh buka mata lo lebar-lebar beneran cewek itu Jo. Lo lihat, kakinya aja napak tanah."


Begitu Parjo melihat ke arah Alena berdiri dia terpaku melihat kecantikan gadis itu, saking terpesonanya tanpa sadar membuat senjata miliknya menegang. Gadis itu telah membangunkan sesuatu miliknya tanpa diketahui oleh sang calon korban tentunya, hasrat Parjo yang belum tersalurkan karena belum menemukan sarang yang tepat dan saat ini adiknya itu menginginkan gadis itu.


Perlu diketahui Parjo sendiri merupakan preman yang memiliki otak mes*m melebihi rekan-rekannya. Maka tak jarang siapapun korbannya asalkan dia perempuan dan masih muda pasti menjadi sasaran pelampiasan bir*hi nya.


"Wah barang bagus nih, bolehlah kita make dia bareng-bareng," ujar Parjo menyeringai.


"Woii Jo lu jangan gila!! Itu anak orang mau lu gr*pe-grep*," teriak pemuda satunya lagi yang bernama Narto.


"Bodo amat!! Kalo kalian gak mau gua ambil sendiri."


Tanpa menunggu rekan-rekannya Parjo pergi menghampiri gadis tersebut. Pandangan matanya sudah berkabut pikirannya sudah dipenuhi dengan fantasi gila.


Cungkring melirik ke arah Narto dan Jaja yang sedari tadi sibuk dengan botol dihadapannya. Paham dengan kode rekannya itu Jaja mengangguk antusias, Narto yang tadi menentang Parjo akhirnya menuruti setan yang bersarang di otaknya. Setelah sepakat akhirnya merekapun menyusul Parjo yang sudah pergi terlebih dahulu.


Sedangkan di sisi Alena entah kenapa dia merasa terancam perasaannya mendadak gelisah. Pandangannya menyapu ke segala arah hingga tak sengaja matanya menangkap segerombolan orang yang sepertinya tengah berpesta miras.


Alena menajamkan penglihatannya karena merasa tidak ada yang beres dengan mereka. Matanya membola tatkala mereka menunjuk kearahnya dengan pandangan lapar. Salah seorang diantara mereka berjalan mendekat ke arah Alena kemudian disusul yang lainnya.


Alena semakin panik dan ketakutan ketika melihat mereka semua menatap lapar padanya layaknya singa yang tengah memburu kelinci.


Dia tidak pernah berpikir jika rencana kabur dari rumah akan membawanya ke dalam jeratan bahaya makhluk biadab seperti mereka.

__ADS_1


"Gawat sepertinya aku salah jalan," gumam Alena bergetar ketakutan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Disebuah rumah kosong terlihat ada seorang gadis yang sedang meringkuk ketakutan dia dikelilingi oleh sekelompok orang berwajah sangar mereka memandangi gadis itu dengan pandangan mes*m.


Salah satu diantara mereka memaksa gadis tersebut melayaninya. Dengan sekuat tenaga gadis tersebut meronta-ronta beberapa kali dia memanggil ayah serta kakaknya supaya menolongnya dari laki-laki bejat itu. Namun, perlawanannya itu sia-sia mereka semua sudah dipengaruhi oleh setan.


Mereka secara bergiliran menggagahi tubuh gadis tersebut, terlihat dengan jelas bagaimana mereka memaksanya dengan kekerasan dengan memar-memar ditubuhnya. Setelah puas mereka pergi meninggalkannya ditempat itu.


Terlihat penampilannya sudah berantakan jangan lupakan dengan tanda merah di sekujur tubuhnya membuat gadis itu semakin menyedihkan.


"Kakak ... Tolong," ujarnya lirih air matanya mengalir deras di pipinya.


Tak lama setelah itu mata gadis malang terpejam.


"Tidak!!"


Satya terbangun dari tidurnya dengan terengah-engah, tubuhnya berkeringat dingin. Mimpi yang baru saja dialaminya terlalu nyata.


Dia melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 02:30. Satya menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan kegelisahan yang datang tiba-tiba.


"Alena, ada apa denganmu? Semoga saja ini hanya mimpi."


Entah kenapa perasaan nya mendadak tidak enak, seperti telah terjadi sesuatu dengan adiknya. Pikirannya melayang membayangkan yang tidak-tidak.


"Gue harus cari tahu sendiri."


Lelaki itu pergi ke kamarnya untuk mengambil jaket serta kunci motornya. Dia membangunkan Dirga untuk menemani mencari adiknya karena perasaannya tidak tenang, awalnya Dirga menolak dengan alasan masih ngantuk akan tetapi karena setelah Satya bercerita mengenai mimpi yang dia alami membuatnya mau ikut mencari adiknya tersebut.


"Lo mau pake motor, Sat?" tanya Dirga saat mereka didepan pintu.


"Iya, emang kenapa?"


"Kelamaan pake mobil gue aja."


"Kenapa sih ... Biasanya juga make motor," decak Satya.


Dirga memutar bola matanya malas. "Sat, loe itu ganteng tapi kenapa bodoh banget sih!"


"Tau lah, emang kenapa sih!"


Satya menjadi gemas sendiri dengan ucapan Dirga yang berputar-putar.


"Gini ya sekarang gue tanya sama loe. Emang loe tahu dimana adek loe sekarang?"


"Enggak makanya ini gue mau nyari dia."


"Nih ya denger baik baik. Kita gak tau dimana adik loe sekarang dan gimana keadaannya amit-amit kalau mimpi loe itu beneran jiwanya pasti terguncang. Kita gak mungkin bawa dia pulang dalam keadaan seperti itu. Emangnya loe mau kita boncengan bertiga? Mau cosplay jadi cabe keriting loe," terang Dirga dan mendapat hadiah toyoran dari Satya.


"Si*lan loe yaudah mana kunci mobil," ujarnya kesal.


"Okey bentar."


Dirga pun berlari kedalam untuk mengambil kunci mobilnya yang berada dikamar. Setelah mendapatkan benda itu mereka bergegas keluar, kemudian tancap gas membelah jalan raya di malam hari.


Bersambung....

__ADS_1


Hallo gaess author datang menyapa kalian semua. Selamat merayakan hari raya idul Fitri 1443H bagi yang merayakan. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT dan kita bisa berjumpa ramadan tahun selanjutnya.


Minal aidzin wal faidzin.


__ADS_2