
"Ekhem, sudah puas pelukannya."
Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi acara temu kangen keduanya, bahkan Alena secara spontan melepaskan pelukan keduanya. Gadis itu menyeka air matanya lalu menoleh ke arah pelaku.
Di depan sana Satya sedang menyandar dengan tangan bersedekap dada sambil terus menatap ke arah mereka. Ditatap seperti itu Alena menelan ludahnya paksa, dia sangat takut jika kakaknya salah paham dengannya.
"Al, dia siapa? Ganteng banget," ucap Rere.
"Ekhem, dia kakak ku."
"What Lo punya kakak? Sejak kapan?"
Rere berteriak kaget, dia tidak pernah menyangka jika sahabatnya punya kakak apalagi setampan itu.
Wajar saja jika Rere terkejut seperti itu pasalnya selama bekerja di sini Alena tidak pernah bercerita tentang keluarganya kecuali keada pak yoga dan Denis. Itupun jika tidak dipaksa oleh pak yoga Alena tidak akan pernah menceritakan keluarganya.
"Re,iler mu netes."
Perkataan Alena sukses membuat Rere gelagapan refleks dia mengelap bibirnya. Dia menatap sebal sahabatnya yang sedang menahan tawa karena kebodohannya.
"Sialan Lo," sungutnya.
Pertemuan pertama dia udah dibikin tengsin sama sahabat gak ada akhlak macam Alena, untung sayang kalau enggak udah Rere ceburin ke rawa-rawa biar ketemu sama sodaranya Bu Aya.
Satya hanya menggeleng melihat perdebatan itu, dia bersyukur adiknya bisa bergaul seperti itu. Sebelumnya dia sempat khawatir kalau kejadian itu membuat Alena trauma dengan orang lain, ternyata dugaannya salah besar.
"Denis, bapak ada di rumah gak? Aku mau samperin ke rumah mu?" Tanya Alena mengabaikan tingkah absurd Rere.
"Ada, Kak. Tadi katanya mau di rumah saja dan nyuruh aku ke sini," jawab Denis.
"Oke deh. Yuk, Kak kita ke rumah denis." Alena mengajak sang kakak keluar ruangan itu di ikuti oleh Denis dari belakangnya.
Rere yang merasa diabaikan pun berteriak memanggil sahabatnya, gadis itu bergegas menyusulnya. Padahal dia ingin kenalan sama kakaknya yang gantengnya gak ada obat itu.
"Alena, jangan tinggalin gue!"
Teriakan gadis itu sontak membuat perhatian pengunjung terfokus padanya, gadis itu menunduk malu merutuki kebodohannya kali ini.
Alena menepuk dahi melihat kelakuan sahabatnya yang tidak ada rem nya sama sekali jika sudah bersangkutan dengan cowok, dia bisa menebak penyebab teriakan Rere yang menggelegar itu pasti ada kaitannya dengan kakaknya Satya.
"Re, bisa gak sih jangan teriak. Aku belum tuli," ujar Alena jengah.
"Hehe sorry, Al. Gue kilap."
"Dasar, yaudah Denis biarin Rere ikut ke rumah biar itu anak gak resek," putus Alena.
"Eh ta tapi—"
__ADS_1
"Gak ada tapi tapian atau aku tinggal di sini. Aku tau kalau kamu penasaran sama kak Satya, mumpung hari ini mood ku baik dengan senang hati aku bolehin ikut."
"Love you Alena tayang! Tau aja Lo," gadis itu berteriak girang.
Setelah drama Rere usai mereka berempat memutuskan ke rumah Denis dengan Alena dibonceng Satya dan Rere dibonceng oleh Denis. Awalnya Rere segan dengan anak bos nya itu dan meminta tukeran, namun Alena dengan tegas menolak permintaan konyol sahabatnya. Meskipun Rere sahabatnya tapi dia gak akan biarin kakaknya boncengan sama Rere bisa-bisa nanti Satya ketularan sablengnya itu anak.
"Dek, itu tadi siapa?" Tanya Satya di sela-sela perjalanan menuju rumah pak yoga.
"Yang mana kak?"
"Itu loh yang cewek, yang kamu bilang dia penasaran sama kakak," terang Satya.
"Oh dia itu temen Alena kak, dia emang gitu anaknya tiap ada yang bening dikit langsung heboh aslinya baik kok cuma ya itu minusnya bikin orang senewen," ujar Alena.
"Kenapa kakak tanya dia? Jangan bilang kalau kak Satya suka sama Rere?" Tuduh Alena.
"Mana ada kakak suka sama dia, lha wong baru ketemu aja kali ini. Ada ada aja kamu, dek."
"Ya siapa tau 'kan jatuh cinta pada pandangan pertama gitu," timpal Alena terkikik geli.
Satya tersenyum menanggapi perkataan Alena, jatuh cinta? Bahkan dia tidak pernah berpikiran untuk mempunyai pasangan, seluruh hidupnya selalu dipenuhi dengan kerja keras dan usaha membahagiakan adiknya.
Alena duduk dengan tenang dibelakang Satya tangannya setia memegangi perut sang kakak supaya tidak terjatuh, jika orang tidak tahu pasti akan beranggapan jika mereka adalah sepasang kekasih yang sedang berkencan.
******
Beberapa saat kemudian motor yang dikendarai Satya dan Denis sampai di tujuannya, Alena terlebih dahulu turun di susul oleh sang kakak. Gadis itu memandangi rumah di depannya dengan seksama, sudah lama dia tidak pernah menginjakkan kaki di sini. Dulu dia sering ke sini walau hanya sekedar main atau bertemu dengan pemilik rumah.
Denis lebih dulu masuk rumah meninggalkan ke tiga orang itu. Lalu berniat mencari keberadaan sang ayah.
"Ayah ayah di mana?" Teriak Denis.
"Ayah di belakang, Denis."
Setelah mendapat sahutan dari sang ayah Denis pun langsung menyusul sang ayah, entah apa yang dilakukannya saat ini hingga berada di belakang rumah. Padahal biasanya sang ayah ada di teras rumah.
Setelah mendapati sang ayah Denis pun langsung menghampirinya lalu memberitahukan kedatangan kakaknya.
"Ayah ikut Denis yuk. Ada kejutan buat ayah," ujarnya.
"Ada apa Denis? Bukannya ayah udah minta kamu ke kafe, terus kenapa balik lagi."
"Udah nanti aja jelasinnya sekarang ayah ikut Denis ke depan, orangnya udah nunggu."
Laki-laki itu menarik pelan tangan sang ayah membuat sang ayah mau tidak mau menuruti keinginan Denis.
****
__ADS_1
Sedangkan di ruang tamu.
Rere, Satya dan Alena sedang duduk di kursi tamu menunggu tuan rumah datang menemui mereka. Sedari tadi Alena merasa gelisah antara senang, gugup, bahagia semuanya menjadi satu. Hatinya bimbang antara menceritakan kebenarannya atau menyembunyikannya, tadi dia sempat bertanya dengan kakaknya meminta pendapat tentang hal ini dan Satya tidak berkata banyak selain menyerahkan semua keputusan kepadanya karena ini menyangkut dirinya.
Satya yang berada tepat di samping Alena mengerti kegelisahan sang adik, diapun lantas menyentuh tangan sang adik yang sedari tadi meremas sofa untuk mengurangi kegelisahannya.
"Tenanglah semua akan baik-baik saja. Jangan takut ada kakak," ujar Satya.
"Makasih," Alena memaksakan senyumnya.
Sumpah demi apapun saat ini dia benar-benar takut kalau mereka akan marah jika tahu kebenarannya.
Rere dibuat bingung dengan interaksi ke duanya, terlebih lagi Alena yang sedari tadi menunduk gelisah seperti ada yang ditutup-tutupi. Dia ingin menanyakan sesuatu, namun belum sempat membuka mulut suara Denis sudah terdengar.
"Ayah, lihatlah siapa yang datang." Suara laki-laki itu terdengar antusias.
Perlahan-lahan munculah Denis dengan menggandeng Pak Yoga dengan raut wajah bahagia. Pak yoga yang belum menyadari situasi pun masih pasrah ketika sang anak menariknya ke sini tanpa penjelasan apapun.
Suara Denis itu sontak membuyarkan lamunan Alena, dia terpaku melihat sosok disampingnya. Sosok yang selama ini mensupport nya tanpa melihat siapa dirinya dan latar belakangnya, sosok yang selama ini menjadi pengganti ayahnya yang telah tiada dan menjadi orangtua angkatnya.
"Pak Yoga," ucap Alena lirih.
"Nak, benarkah ini kamu?" Tanya Pak Yoga tak kalah lirih.
"Benar, Pak ini Alena. Lena datang nemuin bapak," jawabnya.
Bahkan saat ini gadis itu sudah terisak-isak.
Pria tua itu mempercepat langkahnya menuju sang anak, lalu memeluknya erat. Meskipun gadis ini bukan anak kandungnya dia sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri.
"Kamu kemana saja, Nak. Bapak sudah cari dimana-mana tidak ada."
"Maafin Lena. Alena gak bermaksud ninggalin bapak."
Gadis itu merasa bersalah karena sudah meninggalkan orang sebaik mereka, padahal kalau bukan karena mereka mungkin Alena sudah nyerah dengan hidupnya.
Satya memandang mereka dengan haru, dia kembali teringat dengan almarhum ayahnya, Wijaya yang sudah meninggal. Seandainya sang ayah masih ada di sini pasti hidupnya tidak akan seperti ini.
"Seandainya ayah ada di sini, pasti Satya sama Alena gak akan kesepian seperti ini. Tapi aku bersyukur masih ada orang baik seperti mereka," batinnya.
Dia membiarkan adiknya melepas rindu dengan ayah angkatnya.
Pertemuan ayah dan anak itu cukup mengharukan bahkan Rere sendiri sampai meneteskan air matanya, wajar saja mereka sudah berbulan-bulan tidak bertemu dan pasti kerinduan itu sangat terasa. Meskipun Rere juga tahu bahwa Alena bukan anak Pak Yoga tapi kasih sayang yang diberikan oleh keluarga pak yoga itu menyamai kasih sayang seorang ayah kepada anak perempuannya.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung ....