
Ke esokan harinya.
Hari ini Satya sedang menunggu Alena di ruang tamu, sesuai rencana mereka sebelumnya bahwa hari ini mereka berniat mengunjungi orang yang dianggap penting bagi sang adik. Satya menyetujui permintaan adiknya karena tidak mau adiknya dicap sebagai orang yang tidak tahu terimakasih, terlebih lagi mereka sudah cukup membantu adiknya selama ini.
Satya duduk di sofa sambil memperhatikan jam di tangannya, sudah setengah jam dari perjanjian awal dan adiknya itu tidak kunjung turun entah apa yang dia lakukan di kamar.
"Dek cepat, nanti keburu siang."
"Bentar, Kak!"
Tak lama kemudian munculah seorang perempuan memakai pakaian berwarna abu-abu dengan celana jeans serta memakai sneaker, rambut di kuncir serta tas kecil yang selalu dia bawa setiap pergi. Wajahnya terlihat lebih berseri-seri, dan perubahan ini cukup membuat Satya merasa senang karena perlahan-lahan adiknya sudah mulai membuka diri dan menerima peristiwa kelam itu.
Mendengar langkah kaki menuruni anak tangga Satya melangkahkan kakinya menghampiri sang adik.
"Kamu ngapain saja sih dek di kamar?"
"Gak ngapa-ngapain, Kak. Maaf udah nunggu lama, kita berangkat sekarang?"
"Yaudah, ayok sebelum siang." Ajak Satya menyambar kunci motornya, dompet serta hape yang sudah tergeletak rapi di meja.
Mereka pun keluar secara beriringan dengan Satya di depan sedangkan sang adik di belakangnya. Pria itu mengambil motornya di garasi sementara Alena menunggunya di depan rumah. Gadis itu sesekali mengecek hapenya seperti menunggu seseorang.
Tak lama kemudian munculah Satya dengan motor sportnya dan beruntung kali ini Alena memakai jeans jadi tidak perlu khawatir.
"Naik," perintah Satya.
Tanpa menunggu lama Alena pun naik di belakang Satya, tangannya memeluk erat pinggang sang kakak agar tidak terjatuh. Setelah merasa sang adik sudah siap Satya pun melajukan motornya membelah jalan raya.
"Dek kita ke rumahnya langsung atau gimana?" Teriak Satya.
"Kita ke kafe dulu kak, Alena mau nyapa temen-temen dulu," jawabnya.
"Baiklah, pegangan dek."
********
Seperti biasa hari ini adalah weekend jadi pak Yoga berada dirumah, sedangkan urusan kafe akan diserahkan kepada manajer nya doni sementara pak yoga bersantai-santai di rumah.
Sedangkan Denis pria itu sedikit demi sedikit mulai belajar bisnis mengembangkan kafe ayahnya, dia berencana ingin membuka cabang di kota lain. Dia tidak mau menjadi beban sang ayah terlebih lagi dia anak laki-laki satu-satunya dia harus bisa membantu sedikit demi sedikit.
"Denis," panggil seorang pria paruh baya.
__ADS_1
"Iya, Yah. Ada apa?" sahut sang anak.
"Pergilah ke kafe minta kepada Doni untuk mengajarimu," pinta pak yoga.
"Ayah gak ke kafe?" tanya Denis mengerutkan keningnya.
"Tidak, hari ini ayah ingin di rumah menikmati hidup. Ini weekend jadi biarkan yang muda yang bekerja sedangkan ayah istirahat di rumah," ujar pak yoga.
Denis hanya menggeleng mendengar ucapan malas sang ayah, padahal dia hanya ingin bermalas-malasan di rumah. Awalnya dia juga ingin bermalas-malasan di rumah, namun ternyata sang ayah sudah memberikan perintah mau tidak mau pria itu pergi ke kafe.
Mengingat kafe itu Denis kembali mengingat sosok Alena gadis yang dia anggap saudaranya sendiri sekarang kakaknya itu menghilang tanpa jejak padahal dia sudah berusaha mencarinya selama ini namun belum membuahkan hasil sama sekali.
Denis keluar rumah mengendarai motor sport nya menuju ke kafe hitung-hitung sambil mencari jejak kakaknya, siapa tahu saat di sana tanpa sengaja bertemu.
Tanpa menunggu waktu lama pria itu sudah sampai di kafe sang ayah yang sudah bertahun-tahun dibangunnya, kafe itu semakin hari semakin ramai pengunjungnya terlebih lagi kafe itu mempunyai dekorasi yang cocok untuk anak muda masa kini.
Denis turun dari motornya memasuki kafe tersebut, banyak sapaan dari karyawan yang bekerja di sana dan hanya ditanggapi dengan senyum oleh pria itu.
*******
Tak berselang lama Alena sampai di kafe tersebut bersama sang kakak, gadis itu merasakan jejak nostalgia ketika menginjakkan kakinya kembali di tempat itu.
"Dek," panggilnya.
"Ah iya kak. Ayo kita masuk." Gadis itu menggandeng tangan kakaknya memasuki kafe tersebut.
Mereka masuk beriringan dengan tangan Alena yang setia menggandeng sang kakak seolah-olah jika tidak dipegang Satya akan kabur.
Satya mengagumi dekorasi kafe tersebut, cukup keren untuk ukuran anak muda pantas saja menurut Alena kafe ini selalu ramai.
Kedatangannya itu disadari oleh salah satu karyawan yang cukup mengenal Alena. Gadis itu berteriak heboh melihat orang yang dikabarkan menghilang itu mendatangi mereka.
"Alena!! Akhirnya setelah sekian purnama Lo muncul lagi. Kemana aja, tuh dicariin pak Denis sama pak yoga terus."
"Sttt ... Rere jangan heboh seperti itu bisa gak? Malu dilihatin banyak orang." Matanya melirik kesana-kemari takut ada orang yang memperhatikan mereka.
Alena sejenak melupakan keberadaan kakaknya, dia menarik tangan gadis itu ke ruangan khusus karyawan.
"Aduh, Al. Kenapa Lo tarik tarik gue sih," gerutu Rere.
"Sttt diem," Jawab Alena singkat.
__ADS_1
Setelah sampai diruangan khusus karyawan Alena melepaskan genggaman tangan Rere. Gadis cantik dengan rambut sebahu itu menatap aneh sahabatnya yang sedari tadi celingak-celinguk ke sana kemari.
Alena terus memperhatikan sekitarnya takut-takut jika ibunya tahu dia ada di sini dan mengacaukan harinya. Gadis itu terus melirik kesana-kemari tanpa sadar Rere sudah berada di puncak emosi karena sahabatnya mengabaikannya.
"Al, Alena! Hellow Alena. Ck sudahlah gue mau pergi panggil denis dulu mau kasih tahu kalau kakaknya di sini." Dengan menghentakkan kakinya sebal.
Rere semakin sebal ketika tidak mendapat respon sama sekali dari Alena. Sungguh sahabatnya itu tidak peka sama sekali, padahal dia cukup merindukannya tapi ketika bertemu malah dicuekin kaya gini makin kesal lah itu sih Rere.
Menyadari kekesalan sahabatnya Alena mengalihkan pandangannya ke arah Rere yang wajahnya sudah tidak berbentuk alias lecek kaya cucian numpuk.
"Utututu jangan ngambek gitu dong bestie kuh," ujar Alena membujuknya.
"Au ah." Gadis itu semakin ngambek.
"Ada apa ini?" Tanya seseorang tiba-tiba.
Mereka berdua terkejut mendengar suara tersebut terlebih Alena yang mengetahui dengan betul siapa pemilik suara itu.
"Rere, kenapa kamu di sini? Ini belum saatnya jam istirahat."
Laki-laki itu berjalan mendekati ke dua orang tersebut. Sesaat dia membeku mengetahui siapa yang bersama karyawan nya.
"Kakak ini beneran kakak?" Ujarnya dengan menahan tangis.
"Iya, Denis. Ini kakak, maaf sudah pergi dari kalian."
Air mata gadis itu tumpah saat dia mengetahui adik angkatnya masih mengingatnya. Dengan segera dia memeluk sang adik yang disambut dengan isakan tangis Denis.
Laki-laki itu bahagia sekaligus terharu karena kakaknya kembali setelah sebelumnya menghilang tanpa jejak, bahkan Denis sudah hampir putus asa dan menyerah.
Merekapun melepaskan rindu satu sama lain dengan berpelukan.
Alena tidak sadar jika interaksinya itu terpantau sedari tadi oleh seseorang.
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1