
Keheningan menyelimuti mobil yang dikendarai oleh Dirga, hanya terdengar suara deru mobil. Satya tertidur di jok belakang dengan tangan menggenggam erat tangan Alena sedangkan Dirga masih setia mengemudikan mobilnya.
Rasa kantuknya mendadak hilang ketika didatangi oleh sahabatnya itu dan meminta dirinya untuk membantu mencari keberadaan Alena meskipun awalnya sempat ragu, namun setelah melihat wajah khawatir yang tercetak jelas di wajahnya membuatnya percaya.
Dirga sekali lagi melirik kaca spion di depannya, pandangannya tertuju pada gadis yang tengah memejamkan matanya di pangkuan Satya. Dirga menarik nafas dalam-dalam dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Satya saat ini, jika dirinya ada diposisi sahabatnya itu belum tentu dia bisa setegar laki-laki tersebut.
"Sat, gue yakin lo bisa kuat ngadepin ini semua demi adek loe," gumamnya.
"Al, gue yakin loe perempuan yang tegar bisa melewati ini semua. Gue janji walaupun nanti banyak orang yang bakalan menjauh dan jelek-jelekin loe gue adalah orang yang mendukung dan percaya seperti halnya Satya yang selama ini selalu percaya sama gue," sambungnya.
Dirga masih asik dengan pikirannya sendiri dia tidak sadar jika gumamannya terdengar oleh Satya.
"Makasih Dir loe sudah banyak bantu gue selama ini, makasih juga loe mau bantuin gue nyari Alena," ucap Satya mengagetkan.
Dirga berjingkat kaget mendengar nya dia kira Satya sudah tidur dan tidak mengetahui gumamannya. Dia mengelus-elus dadanya untuk mengurangi keterkejutannya.
"Kirain udah tidur Sat." Sambil mengelus dadanya.
"Gak bisa tidur gue banyak banget yang berseliweran di otak gue," jawab Satya.
"Emang lagi mikirin apa? Adek loe."
Satya mengangguk membenarkan lelaki itu menghela nafas. "Seandainya saja gue gak pergi ninggalin dia di rumah, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Gue gak akan biarin mereka hidup tenang diatas penderitaan adek gue."
Satya tidak berbohong, saat ini pikirannya dipenuhi dengan peristiwa yang barusan menimpa adiknya, dia mencari cara bagaimana menjebloskan mereka ke penjara. Mengetahui adik yang dia sayangi selama ini dinodai oleh orang yang tidak bertanggungjawab membuatnya tidak bisa berdiam diri begitu saja, ia sangat yakin jika pelakunya adalah orang yang sama dengan perampok itu, Satya bersumpah tidak akan membiarkan mereka hidup tenang sementara adiknya menderita karena ulah mereka.
"Sat dengerin gue, untuk preman-preman itu lo serahin ke gue biar itu jadi urusan gue. Sekarang fokus aja sama adek loe, sepertinya dia gak baik-baik saja dilihat dari ceritanya pasti adek loe tertekan banget ditambah lagi ngalamin hal kaya gitu pasti makin nambah bebannya."
"Loe ada benernya juga. Thanks ya, Dir udah mau bantuin gue," ujar Satya tulus.
__ADS_1
"Sama sama Sat, sudah sono loe tidur lagi biar gue yang nyetir."
"Sekali lagi terimakasih," ujarnya lirih.
Setelah berkata Satya memejamkan mata dengan tangan yang masih setia menggenggam tangan Alena, karena tubuhnya sudah cukup lelah jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk Satya terlelap.
Dirga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya rumah keluarga Wijaya.
Hari ini Ibu Amira tengah panik mencari Alena di semua sudut ruangan sudah dia cari, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan putrinya itu.
Saat itu sang ibu ingin melihat keadaan Alena secara diam-diam saat sampai di lantai dua dia terkejut melihat kamarnya yang sudah rapi tapi yang jadi masalahnya bukan itu melainkan kamarnya sudah kosong melompong, dengan panik ibu Amira mencari kesegala penjuru rumah namun nihil Alena seperti hilang ditelan bumi.
Ibu Amira sudah mencoba menelpon Alena untuk mengetahui keberadaannya akan tetapi nomornya sudah tidak bisa dihubungi. Tidak punya pilihan lain akhirnya dia memutuskan untuk mencari di tempat Pak Yoga karena dia melihat anak gadisnya itu cukup dekat dengan lelaki tersebut.
Dia langkahkan kakinya menuju tempat laki-laki tersebut tinggal, rumahnya lumayan jauh dari tempat tinggal Alena harus melewati beberapa gang terlebih dahulu.
Tok tok tok.
"Permisi Pak Yoga," panggil Ibu Amira.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya sang pemilik rumah keluar membukakan pintu ibu Amira tersenyum mengetahui jika Pak Yoga belum pergi ke kafe.
"Eh ada ibu Amira, silahkan masuk bu," ujarnya mempersilahkan.
Pria tersebut membuka pintu semakin lebar untuk memberikan jalan, ibu Amira tersenyum sekilas dan melangkahkan kakinya ke dalam.
__ADS_1
Ibu Amira mengamati tempat tinggal Pak Yoga, menurutnya rumah tersebut cukup nyaman meskipun tidak sebesar rumah peninggalan suaminya.
"Ada apa ibu pagi-pagi sekali mengunjungi rumah sederhana ku?" sindir Pak Yoga.
Dia cukup tau jika orang dihadapannya ini tidak cukup baik tabiatnya. Terlihat dari sudut matanya yang memandang rumahnya seperti menilai sesuatu.
Pak Yoga merupakan pemilik kafe tempat Alena bekerja selama ini, tanpa sepengetahuan ibunya. Pernah sekali Pak Yoga bertanya apa alasan gadis itu sembunyi-sembunyi seperti ini dan hanya dijawab ingin hidup mandiri tanpa bantuan siapapun. Meskipun begitu Pak Yoga tidak lantas percaya seratus persen perkataan Alena pasalnya lelaki tersebut pernah melihat gadis tersebut menangis ketika sendirian sambil menyebut ibunya.
Semenjak saat itu Pak Yoga menaruh perhatian lebih kepada Alena hingga lambat laun gadis tersebut merasa nyaman dan mau terbuka dengannya. Dia menceritakan segala yang dialaminya tanpa disembunyikan satu pun.
Mengetahui hal tersebut Pak Yoga ikut merasa geram, dia ingin membungkam mulut mereka semua namun Alena mencegahnya. Menurutnya itu tidak akan berguna jika kita membalas dendam kepada mereka biarkan Tuhan yang akan membalasnya karena menurut Alena balasan Tuhan itu lebih menyakitkan daripada kita yang membalasnya sendiri.
Lelaki paruh baya itu mengepalkan tangannya geram tatkala bayangan gadis itu bercerita mengenai kemalangan yang menimpanya sambil menangis. Dia tidak menyangka jika gadis yang sudah dia anggap seperti anak sendiri telah mengalami kekerasan psikis hingga membuat gadis itu hampir depresi.
Kembali ke Ibu Amira saat ini dia merasa ucapan Pak Yoga itu begitu menohoknya. Entah ada dendam apa laki-laki dihadapannya ini dengannya. Dengan menahan perasaan dongkolnya perempuan itu tersenyum simpul.
"Jadi begini pak, saya mau tanya apakah anak saya ada disini? Soalnya dari kemarin anak saya tidak pulang," ujarnya berbohong.
Ibu Amira tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya mengenai hilangnya Alena kepada orang lain. Jika, dia berkata jujur yang ada dia akan menjadi bahan olok-olok lagi.
Ibu Amira tidak mau citranya jatuh dihadapan orang ini, dia tau jika orang tersebut sangat dihormati anaknya. Karena itulah dia menurunkan egonya untuk mendatangi lelaki tersebut.
"Benarkah, bukannya kemarin Alena sudah pamitan pulang kepada saya?" ujarnya heran.
"Tidak mungkin gadis sebaik Alena berbohong kepada saya."
"M maksud bapak pamitan? Kenapa anak saya harus berpamitan kepada anda?"
Bersambung....
__ADS_1