Air Mata Alena

Air Mata Alena
Part. 13


__ADS_3

Suara tenang Alena tersebut mengalihkan fokus Dirga. Dia menatap gadis itu dengan seksama, meskipun terdengar wajar berkata seperti itu tapi dia merasa ada sesuatu terlebih nada bicara gadis itu yang terdengar lirih dan menunduk.


"Kenapa ngomong seperti itu, Al?"


Alena menatap lurus jalanan yang mereka lewati. Menghembuskan nafas berat.


"Kak, bukannya Alena mau menggurui kakak yang umurnya jauh di atas Alena. Hanya saja Alena mewanti-wanti kakak agar jangan sampai membuat pasangan kakak nanti bersedih."


"Kebahagiaan seseorang perempuan itu terletak pada kehormatannya. Tanpa Alena ngomong kakak pasti sudah tahu kemana arahnya."


Dirga paham betul dengan yang diucapkan oleh gadis di sebelahnya ini. Dia menepikan mobilnya sejenak, lalu ditatapnya manik mata jernih Alena yang sudah mengembun. Mungkin saat ini Alena mengira bahwa dirinya akan melakukan hal seperti itu.


"Al, loe tahu 'kan adek gue meninggalnya karena apa? Kalaupun gue amit amit sampai ngelakuin hal begituan itu sama saja membuat peluang akan ada seira seira lain yang akan memilih jalan pintas. Gue gak mau jadi sumber kesedihan orang lain, Al."


Dirga menghembuskan nafas berat, kematian sang adik yang tragis kembali memenuhi pikirannya. Dia sangat menyayangkan keputusan yang Seira ambil serta Dirga menyalahkan dirinya sendiri karena tidak becus menjaga sang adik dari malapetaka itu.


Dirga mencoba mengusir bayangan sang adik sejenak, matanya fokus kepada Alena yang terdiam kaku.


"Al, gue minta sama loe jangan putus asa dengan hidup Lo ya. Please banget jangan pernah kepikiran hal itu lagi, kematian bukan solusi yang tepat melainkan akan menambah masalah baru buat Lo kedepannya."


Dirga menyentuh pergelangan tangan Alena yang terdapat sedikit bekas luka. Gadis ini pasti mencoba melakukan lagi.


"Al tangan loe?"


"Tidak kenapa-kenapa, Kak. Hanya luka kecil." Alena menyahut sambil menarik tangannya lalu menutupi bekas luka itu. Dia tidak ingin membuat laki-laki itu khawatir dengannya.


"Jalan, Kak. Kasihan kak Satya udah nungguin lama," pinta gadis itu mengalihkan pembicaraan.


Sadar gadis itu mengelak dia pun hanya menghela nafas lalu kembali melakukan mobilnya membelah jalan raya.


****************


Suara deru mobil terdengar memasuki gerbang rumah.


Di dalam sana Satya yang tengah duduk di ruang tamu keluar rumah melihat siapa yang datang. Dia merasa lega ketika mengetahui siapa yang datang. Saat sang adik keluar dengan segera dia mengecek adiknya dengan memutar tubuh Alena hingga membuatnya pusing.


"Kakak! Stop." teriak Alena menghentikan tingkah kakaknya yang terus memutar tubuhnya.


"Berhenti, Sat. Lo mau bikin Alena tambah sakit."


Mendapat teguran dan teriakan protes dari sahabat serta sang adik lantas membuat Satya menghentikan perbuatannya dengan senyum tanpa dosa membuat Alena mendengus sebal.

__ADS_1


Satya pun menyuruh Alena masuk ke dalam lalu memintanya bersih bersih, karena sudah lelah gadis itu pun menurut.


"Thanks, Ga. Udah bawa balik adek gue."


"Sama-sama. Yaudah gue mau cabut dulu mau ketemuan."


"Cie elah udah ada gebetan aja nih," ledek Satya.


"Gebetan gundul mu yang ada malah ketemuan sama klien mana bapak bapak lagi," ujarnya mendengus kesal.


"Dah ah gue mau cabut. Jagain adek lo bener bener jangan biarin dia sendirian bahaya apalagi dia masih agak terguncang seperti itu," nasihatnya.


"Iya, gue bakalan jagain Alena baik baik. Sekali lagi thanks."


"Sama sama."


Dirga kembali masuk ke mobil, lalu melajukan mobilnya meninggalkan pelataran ruma Satya.


Setelah mobil Dirga tidak kelihatan pria tersebut masuk ke rumah menyusul sang adik yang pasti saat ini sedang beristirahat akan tetapi ternyata Satya salah besar saat ini gadis itu duduk termenung di sofa ruang tamu, entah apa yang dipikirkannya saat ini.


Dengan perlahan-lahan Satya memanggil sang adik dengan menepuk pundaknya.


"Eh iya, Kak." Gadis itu menoleh ke arah kakaknya.


"Kenapa masih di sini, sana bersih-bersih dulu setelah itu kamu makan."


"Iya, Kak. Alena mau ke atas dulu," ujarnya.


Gadis itu lantas bergegas menuju lantai dua tempat kamarnya berada meninggalkan Satya di ruang tamu.


Sesampainya di atas gadis itu tidak langsung ke kamar mandi, dia menatap langit-langit kamarnya. Bayangan ibunya saat di minimarket tadi kembali hadir, dia ingin sekali mendengar ibunya menyanjung dirinya di depan orang lain bukan menghinanya terus seperti ini.


Dadanya terasa sesak memikirkan semuanya, air matanya kembali luruh seakan-akan tidak membiarkannya sedih sendirian.


"Al, kamu kuat. Ingat, masih banyak orang yang menyayangi mu dan menunggumu bangkit. Ayo, Alena kamu bukan gadis lemah tunjukin kalo kamu bisa dan kuat," ujarnya menyemangati diri.


Setelah berkata seperti itu gadis itupun melanjutkan langkahnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri serta menjernihkan pikirannya.


Hanya perlu 5 menit gadis itu sudah selesai dengan ritual nya di kamar mandi, setelah mengenakan pakaian gadis itu bergegas turun menyusul kakaknya.


****************

__ADS_1


Sedangkan Satya sibuk sibuk memasak di dapur menunggu adiknya turun. Bertahun-tahun tinggal terpisah dari orangtuanya membuat pria itu mahir mengolah bahan-bahan masakan menjadi hidangan yang menggugah selera, seperti saat ini dia memasak udang dengan bumbu pedas manis yang sangat disukai oleh adiknya. Pria itu dengan cekatan memotong bahan-bahan yang akan dia pakai dalam masakan kali ini.


Setelah siap pria itu segera menata makanan itu di meja makan, aroma khas menguar membuat Alena yang sedang menuruni anak tangga pun memegang perutnya yang tiba-tiba berdemo.


"Wah harum sekali, Kak. Masak apa?" tanya Alena sambil mengambil kursi di dekat sang kakak.


Mendengar suara Alena pria itu menoleh ke sumber suara, dia melihat sang adik sudah terlihat segar tidak seperti tadi yang kusut.


"Hari ini kakak masak makanan kesukaanmu udang pedas manis," ujarnya.


Satya mengambil piring adiknya lalu mengisi dengan nasi lalu mengambilkan olahan udang yang sudah dia masak tadi. Lalu mengisi piringnya sendiri.


Mereka berdua pun akhirnya makan dengan khidmat tanpa bersuara.


Saat ini mereka berada di ruang televisi dengan Alena yang sibuk menonton acara kartun, kebiasaan lama Alena gadis itu lebih suka menonton kartun daripada acara lainnya. Sedangkan di sampingnya Satya saat ini tengah disibukkan dengan ponselnya, entah apa yang dilakukan pria itu hingga membuatnya tidak terpengaruh dengan suara tawa adiknya yang merasa lucu dengan acara televisi.


Sesaat Alena terdiam dari tawanya dia seperti mengingat sesuatu.


"Kakak, besok kosong gak?" tanya Alena.


Laki-laki itu menoleh ke arah sang adik, "Kenapa tanya begitu?" Satya mengernyit heran.


"Emm itu, aku mau minta tolong sama kakak temenin ke rumah pak yoga."


"Pak yoga, siapa itu?"


"Dia itu bos aku dulu, Kak."


Alena pun menceritakan siapa pak yoga sebenarnya kepada sang kakak, kebaikan keluarganya yang selalu memberinya rasa aman dari ibunya. Semenjak dia kabur dari rumah sudah lama tidak bertemu mereka, pasti saat ini khawatir dengannya terlebih lagi dia belum memberikan kabar sama sekali.


Satya pun mendengarkan dengan seksama penuturan adiknya mengenai sosok pak yoga yang bisa dikatakan sebagai penolong itu.


Satya pun bersedia mengantar Alena menemui orang tersebut.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2