
"Karena saya tidak terima saya memutuskan untuk lari masuk kamar. Sempat terlintas di pikiran untuk mengakhiri hidup, namun tuhan masih sayang hingga mengurungkan niat jahat itu. Kemudian saya berniat kabur mencari kakak yang terpisah cukup lama, dengar tekad kuat saya keluar rumah secara diam-diam. Suasana malam yang larut membuat taksi susah didapat, dengan nekat saya berjalan kaki hingga bertemu mereka."
"Ya, ke lima orang pria brandalan yang dengan tanpa belas kasih merenggut harta berharga saya, mahkota seorang perempuan mereka rampas. Mereka dengan kasar menampar, menjambak, bahkan memukuli dan saya dijadikan layaknya piala bergilir oleh mereka."
Tangis Alena pecah, air mata gadis itu tidak berhenti mengalir. Tidak ada yang paling berharga di dunia ini bagi seorang wanita selain mahkotanya, sekarang harta yang harusnya untuk suaminya terenggut secara paksa oleh para makhluk biadab semacam mereka.
Wanita mana yang rela jika hartanya terenggut seperti itu, bahkan karena kejadian itu Alena sering mimpi buruk tentang malam kelam tersebut, namun dia tidak pernah mengatakan apapun kepada kakaknya soal mimpi buruk tersebut dia tidak mau jika sang kakak selalu mengkhawatirkan dirinya.
Hari ini Satya dan Dirga kembali melihat bagaimana terpuruknya gadis itu, ini persis sekali saat mereka membawa Alena pulang pasca kejadian tragis itu.
"Alena Lo kuat gue yakin bisa ngelewatin semua ini. Inget, jangan jadi Seira adek gue. Pliss Al gue mohon bertahan, okey."
Dirga benar-benar tidak bisa melihat Alena seperti ini, bayangan adiknya yang terpuruk sendirian hadir dia tidak ingin gadis itu berpikiran sempit.
"Alena capek, Kak. Alena mau nyusul ayah saja," lirihnya.
"Semuanya sudah hancur, gak ada artinya Alena hidup. Bahkan ibu pun ingin Alena mati," Alena menunduk.
Semua orang terkejut mendengar ucapan Alena, Satya langsung memeluk sang adik dia tidak mau mendengarkan perkataannya. Alena menangis di pelukan kakaknya meluapkan semua rasa sakit yang selama ini dia pendam seorang diri mulutnya terus menggumamkan kalimat " ingin mati" Satya semakin mengeratkan pelukannya.
"No. Jangan dek kakak mohon, cukup kakak kehilangan ayah, kamu jangan seperti ini. Kakak sayang banget sama kamu," lirih Satya.
"Maafin kakak. Seharusnya kakak ikut bawa kamu sekalian gak ninggalin kamu sama ibu, seharusnya sejak lama kakak jengukin kamu di rumah ibu. Kalau saja kakak gak egois pasti kamu gak akan ngalamin hal mengerikan itu, maaf dek maaf."
Bahkan laki-laki tersebut sampai ikut meneteskan air matanya tidak sanggup membayangkan jika hal mengerikan itu benar-benar terjadi.
Suasana haru tersebut ikut dirasakan juga orang-orang yang ada ditempat itu. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana jika berada diposisi dua kakak beradik itu.
"Kak," panggil Denis lirih.
"Maafin kakak, Den. Kalian bebas benci kakak setelah ini, karena ini memang salah kakak yang gak bisa jaga diri," sahut Alena.
"Enggak, ini bukan salah kakak ini salah Denis. Seandainya saja waktu itu Denis gak maksa buat temenin Denis lebih dulu mungkin kakak gak akan kena marah sama ibu dan bikin kejadian makin runyam kaya gini," sahut Denis.
__ADS_1
Semua orang saling menyalahkan dalam kasus ini mereka merasa paling bertanggungjawab atas kejadian yang menimpa Alena. Sementara para pelaku yang seharusnya menjadi tersangka dalam kasus ini tidak pernah merasa bersalah sama sekali.
Dirga melerai mereka yang saling menyalahkan, menurutnya tidak ada gunanya saling menyalahkan toh semua sudah kejadian. Sekarang yang lebih penting adalah bagaimana caranya mereka bisa meringkus mereka secepatnya agar bisa membuat Alena lebih tenang.
Petugas pun menerima laporan tersebut, dan akan mencari bukti tambahan supaya lebih kuat untuk menjerat mereka. Pihak kepolisian juga sudah berjanji akan mengurus kasus ini secepatnya dan menyarankan pihak korban untuk menyewa jasa profesional untuk Alena karena sekarang psikisnya sedang tidak baik-baik saja.
Setelah semua selesai mereka berempat pun keluar dari kantor polisi dengan perasaan lega, setidaknya ada titik terang untuk kasus ini.
Satya berniat langsung membawa adiknya pulang ke rumah, selain itu juga agar memudahkan Denis supaya jika ingin menemui Alena tidak kesulitan.
Satya mempersilahkan Denis serta Rere masuk ke dalam rumah yang selama ini mereka berdua tempati.
"Dek, kamu naik dulu gih bersih-bersih," pinta Satya.
"Iya, Kak. Alena tinggal bentaran ya." Setelah mengatakan itu Alena bergegas naik ke kamarnya lalu bersih-bersih sekaligus menenangkan pikirannya sejenak.
Satya pergi ke dapur sebentar meninggalkan ke tiga orang tersebut untuk membuatkan minuman. Sembari menunggu adiknya selesai bersih-bersih.
Denis seperti orang bodoh kali ini, kejadian sebesar itu menimpa kakaknya dan dia tidak tahu apa-apa. Hal itu juga dirasakan oleh Rere dia tidak pernah mengira jika sahabatnya akan mengalami hal mengerikan seperti itu.
"Boleh, mau tanya apa?" Sahut Dirga.
"Jadi begini kak, waktu itu kan Denis disuruh cari keberadaan kak Alena sama ayah. Nah, tapi belum ketemu sampai kak Alena samperin kita sendiri, bahkan waktu itu orang suruhan ku gak Nemu jejaknya sama sekali," tutur Denis.
"Oh seperti itu. Memang ini sudah direncanakan sejak awal, gue sama Satya memang sengaja nutup akses Alena. Bukan apa-apa kondisi Alena waktu itu cukup memperihatinkan, ditambah dia punya hubungan yang toxic sama ibunya. Takutnya pas dia ketemu orang yang potensi toxic seperti itu bikin mentalnya makin hancur terlebih lagi ini kasusnya bukan main-main," terang Dirga.
Denis pun mengangguk mengerti, dia cukup tahu bagaimana perangai ibunya yang suka mencari-cari kesalahan Alena. Lebih baik menghindari kemungkinan terburuk daripada terjadi hal yang tidak diinginkan.
Beberapa saat kemudian muncul Satya dengan membawa nampan dengan lima gelas teh hangat, kebetulan pembantu mereka sedang pulang kampung, jadi semuanya harus dikerjakan sendiri.
Bersamaan dengan Alena yang baru saja turun dari kamarnya.
"Baru kelar, Dek." Satya menoleh ke arah tangga.
__ADS_1
"Hehe, kelamaan yah? Maaf tadi ketiduran," ujar Alena cengengesan. Gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Semua orang menepuk dahinya tidak habis pikir bagaimana bisa sampai ketiduran seperti itu, sepertinya Alena ini terlalu menikmati acara berendamnya sampai tertidur.
Alena pun ikut bergabung diantara mereka dia duduk persis di sebelah sang kakak.
"Sepertinya kebiasaan kamu yang satu itu tidak pernah berubah," celetuk Satya.
"Bener banget, dulu pas awal-awal bareng gue sampe kaget untung aja gak tenggelem. Hampir aja waktu itu mau gue bawa ke kamar, tapi keburu si curut ini ngamok," timpal Dirga.
"Oncom nih anak." Satya pun melempar bantal tepat di muka Dirga membuat pria itu mengadu kesakitan.
"Apaan sih, Sat. Kan gue gak salah," ujarnya kesal.
Laki-laki itu tidak terima langsung membalas lemparannya namun meleset. Tingkah ke dua manusia itu sontak mengundang gelak tawa, bahkan di sini Denis paling kencang tertawanya.
"Astaga, masa kak Dirga gak tahu sih. Maksudnya tuh kak Dirga belum muhrim, gak boleh sembarangan pegang pegang seperti itu. Pantesan aja kak Satya ngamuk," ujar Denis.
"Tuh dengerin, Denis aja udah paham. Masa elo yang udah gede gak ngerti begituan," kesal Satya.
"Al, sepertinya Lo kudu ati ati sama kak Dirga takutnya dia apa apain Lo," celetuk Rere tiba-tiba.
"Apaan sih kalian kok jadi nyerang gue," ucap Dirga.
Dia benar-benar merasa terpojok kali ini. Padahal tidak serius dengan ucapannya, tapi seolah-olah dia akan ngelakuin hal kaya gitu.
Semua orang tergelak melihat wajah frustasi Dirga bahkan Alena sendiri tertawa sekaligus kasihan melihat Dirga terpojok seperti itu.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung....