
Parjo dan rekan-rekannya semakin dekat dengan posisi Alena berada mereka semua memandangi tubuh Alena dengan tatapan mes*m.
Alena yang mengetahui mereka semakin mendekat bersiap untuk menggunakan langkah seribu nya. Tapi nahas belum sempat dia berlari tangannya sudah dicekal oleh pemuda berambut gondrong.
"Eitt neng cantik mau pergi kemana? Main kuda dulu dong sama A'a Jaja yang terlampau tampan ini," goda salah satu diantara mereka.
Ulah Jaja itu mendapat sorakan preman yang lainnya.
Sambil menoyor kepala lelaki gondrong itu Narto berkata. "Dasar, kelihatannya aja paling diem ternyata lebih mes*m dari kita."
Disaat mereka sibuk menyoraki kelakuan Jaja lain halnya dengan Alena, gadis itu menunduk ketakutan salah satu tangannya meremas ujung baju yang dia kenakan tangannya yang lain berusaha melepaskan dari cekalan preman itu.
"Ja lepasin tangan si eneng lah, kasihan itu dia kesakitan," ujar Parjo.
Jaja terperangah mendengar ucapan temannya itu begitu juga dengan yang lainnya. Bukankah dia tadi yang mengajak mereka semua, akan tetapi kenapa dia meminta dilepas. Dengan terpaksa Jajang melepaskan gadis itu.
Alena merasakan angin segar tatkala laki-laki itu melepaskan tangannya. Sebelumnya, dia berpikir bagaimana caranya bisa lepas dari mereka semua ternyata mereka berbaik hati melepaskannya.
Dengan terburu-buru Alena mengambil tasnya yang terjatuh akibat terkejut dengan pergerakan tiba-tiba tadi.
"Terimakasih sudah baik hati." Alena melangkahkan kaki dari tempat itu.
Baru beberapa langkah tiba-tiba tubuhnya ada yang memeluknya tanpa izin darinya. Ternyata pelakunya adalah Parjo, dia tidak benar-benar melepaskan gadis tersebut melainkan ingin menjadi orang pertamakali yang menikmati tubuh gadis itu.
"Mau kemana gadis manis, jangan terburu-buru. Kita main kuda-kudaan dulu yuk manis," bisik Parjo dengan suara serak.
Otak mes*m nya saat ini sedang berkelana membayangkan keindahan surgawi tubuh gadis itu. Bayangan-bayangan itu semakin membuat adiknya yang dibawah menuntut lebih.
Dengan lancang Parjo menggigit kecil telinga Alena. Membuat sang empunya meremang.
Mendapatkan sinyal kurang baik Alena memberontak, dari cengkeraman Parjo. Bukannya melepaskan justru Parjo semakin erat memeluknya.
"Lepasin!!" Teriak Alena.
Mereka semua tertawa melihat gadis itu teriak ketakutan.
Cungkring berjalan menghampiri Alena. Dia menatap gadis yang akan menjadi mangsa mereka tersebut dengan pandangan nakal.
"Stttt anak baik tidak sopan teriak di depan orang yang lebih tua." Cungkring membungkam Alena dengan jari telunjuknya.
Dia mencondongkan tubuhnya ke arah gadis tersebut dan berbisik. "Kecuali kau mend*sah manja di bawah kami."
__ADS_1
Jangan lupakan dengan kedipan mata nakal cungkring membuat yang lain menatapnya jijik.
Awalnya perlakuan Cungkring itu membuat Alena ketakutan. Dan benar saja apa yang dibisikkan oleh orang berambut gondrong itu membuat nya semakin merinding.
Benar-benar bencana, dirinya merasa telah menjadi seorang jal*ng yang sebenarnya untuk sejenak dia menyesali keputusannya kabur dari rumah dia lebih memilih di hina setiap hari daripada dibawah dan menjad 'mainan' mereka.
Alena merasa terancam dengan orang dihadapannya, dengan berani dia menggigit jari orang tersebut.
Perlawanan tiba-tiba dari Alena sontak membuat Cungkring berteriak kesakitan. Dia mengumpat dengan keras membuat Alena tidak berani menatap orang itu.
"Sialan, Jo lebih baik kita tel*nj*ngi saja gadis ini supaya tidak banyak tingkah."
"Tidak!! Tolong ... Jangan sakiti aku."
"Aku akan memberikan semua barang-barang ku asal kalian mau melepaskan aku ...."
"Kami tidak butuh barang-barang mu nona yang kita inginkan ialah tubuhmu," bisik Narto.
Parjo membuang tas gadis itu supaya tidak mengganggu kegiatan mereka, dilemparnya gadis itu hingga membuat Alena mengadu kesakitan.
Semua pemuda itu berjalan melingkari Alena mereka tidak memberikan celah untuk mangsanya kabur, mata mereka memandang gadis itu liar dan buas seakan-akan ingin menerkam buruannya.
Alena mundur, melihat pemandangan dihadapannya membuat tubuhnya bergetar ketakutan. Dalam hati dia berdoa dan berharap jika ada seseorang yang lewat disini dan menyelamatkannya.
"Jangan harap ada seorang yang datang menyelamatkan mu, tempat ini adalah wilayah kami."
"Sekarang mari kita berpesta, kau juga pasti akan senang dengan kegagahan kami sayang."
Parjo mencoba mencolek dagu Alena, tapi gadis itu menepisnya dengan kasar membuat laki-laki tersebut menggeram marah.
Dengan kasar Parjo meraup bibir Alena dan memaksa menci*mnya. Mata Alena membola sempurna, dia mencoba memberontak melepaskan ciuman orang itu. Tidak pernah disangka jika ciuman pertamanya diambil dengan paksa oleh orang yang tidak dikenalnya dan lebih parahnya lagi adalah preman yang ingin melecehkan dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selama perjalanan Satya tidak henti-hentinya uring-uringan, dia mencoba menghubungi ibunya beberapa tetapi tidak diangkat-angkat juga.
"Sial!" Satya berteriak dengan kesal
"Gimana, diangkat gak sama nyokap loe?"
"Gak diangkat, Dir. Apa udah tidur kali ya? Kita harus cari kemana lagi, sudah hampir sejam kita muter-muter doang disini."
__ADS_1
Mobil mereka berjalan tak tentu arah, sempat berpikir untuk mencari ke rumah tapi menurut mimpinya Satya saat ini adiknya itu tidak berada dirumahnya.
Seperti bola lampu yang menyala Dirga mendapatkan ide. Dia meminta Satya menghubungi nomor tidak dikenal itu siapa tau itu nomor adiknya.
Satya menurut, jarinya menggeser layar benda pipih ditangan. Dicarinya riwayat panggilan setelah menemukan nomor tersebut tanpa membuang-buang waktu Satya langsung menekan tombol panggilan. Tidak lama menunggu dia mendengar suara seorang perempuan diseberang sana.
"Kakak ... Tolong!! Alena takut," ujar gadis itu gemetar ketakutan.
Benar dugaannya jika gadis itu dalam bahaya, belum sempat membuka suara teleponnya sudah dimatikan secara sepihak.
"Dek kam..."
Tut tut tut
Sambungan mereka terputus secara tiba-tiba membuat Satya menggeram marah.
"**** keputus lagi," Satya menggeram marah.
"Dirga, coba loe cek dimana lokasi Alena sekarang," pinta Satya.
"Mudah-mudahan saja GPS nya menyala," sambungnya.
"Siip"
Dirga mengutak-utik hapenya dia menekan aplikasi pelacak miliknya, tidak butuh waktu lama Dirga sudah mendapatkan lokasi adik sahabatnya.
"Ketemu. Adik loe sekarang ada di jalan xxxx."
Seperti menyadari sesuatu, dirga dengan panik berujar. "Gawat Sat, adik loe ada di wilayah sarang preman," panik Dirga.
"Kita kudu cepet-cepet kesana kalo mau adik loe selamet, tau sendiri 'kan gimana tempat itu?"
"Shitt!! Alena kenapa bisa ditempat itu sih, tempat itu bahaya!!"
Satya semakin frustasi mengetahui lokasinya, dia sangat hapal bagaimana kerawanan tempat itu bahkan dulu saja dia hampir dirampok kalau saja tidak ditolong oleh Dirga.
Lima tahun lalu Satya memutuskan untuk pergi dari rumah bertujuan mencari pekerjaan diluar kota, sebagai yang tertua tentu dia memiliki tanggungjawab besar untuk menopang ekonomi keluarganya terlebih lagi setelah ayahnya meninggal ibunya pontang panting mencari uang untuk keluarganya belum lagi adiknya ada yang masih kecil. Dia tidak tega jika harus membiarkan ibunya bekerja sendiri.
Saat itu motor yang dikendarai oleh Satya mogok di tengah jalan. Jalanan saat itu tampak sepi dan tidak ada seorangpun yang lewat.
Saat Satya mendorong motornya ada segerombolan preman berpakaian urakan yang menghadangnya. Mereka memaksa merebut barang bawaannya tak jarang mereka melakukan kekerasan.
__ADS_1
Beruntung saat itu Dirga lewat ditempat itu dan menolongnya serta memberinya tumpangan. Dengan senang hati Satya menerima bantuan Dirga. Semenjak saat itu mereka mulai mengenal hingga akhirnya bersahabat hingga sekarang.
Bersambung....